
Brugh...
Vanka tak sadarkan diri, dengan sigap Brayen menopang tubuh Vanka agar tidak terjatuh ke lantai.
" Sayang bangun sayang." Ucap Brayen menepuk pelan pipi Vanka.
" Bawa ke kamar saja Bray." Ucap Mama Kia.
Brayen membopong tubuh Vanka menuju kamarnya. Sesampainya di kamar Brayen membaringkan tubuh Vanka di atas ranjang.
" Sayang bangunlah, maafkan aku yang egois ini." Ucap Brayen menggosok telapak tangan Vanka dengan telapak tangannya.
" Tenanglah Bray dia akan baik baik saja." Ucap Mama Kia.
" Bagaimana keputusanmu Bray?" Tanya Papa Indra.
" Aku tetap pada keputusanku Pa, aku akan membujuk Vanka untuk....
" Kau memang keras kepala Bray, Mama kecewa sama kamu, Mama merasa gagal dalam mendidikmu." Sahut Mama Kia memotong ucapan Brayen.
" Maafkan aku Ma." Ucap Brayen.
" Jika bersikukuh lebih memilih kariermu maka jangan pernah kamu sesali keputusanmu, biarkan Vanka memilih keputusannya sendiri, jangan paksa dia untuk tetap mencintai dan bertahan dengan pria brengsek sepertimu." Tegas Papa Indra.
" Tidak Pa aku tetap menginginkan Vanka untuk selalu di sisiku." Kukuh Brayen.
" Brengsek lo Bray." Bentak Bryan tersulut emosi dengan ucapan Brayen.
Bryan maju mendekati Brayen dan...
Bugh....
" Gue nggak sudi punya saudara bajing*n seperti lo." Ucap Bryan memukul wajah Brayen.
Bugh....
" Bry hentikan." Teriak Mama Kia.
" Mama tahu kalau kamu marah, Mama dan Papa juga marah sama Bray tapi Mama mohon jangan menggunakan kekerasan, kita cari solusinya bersama sama, Mama akan membujuk Bray untuk menikahi Vanka." Ujar Mama Kia.
" Tidak perlu Ma." Ucap Bryan.
" Apa maksudmu tidak perlu?" Tanya Mama Kia menatap Bryan.
" Karna Bry yang akan menikahinya Ma." Sahut Bryan dengan tegas.
" Apa? Tidak.... Aku tidak akan membiarkanmu menikahi kekasihku." Ucap Brayen menolak usulan Bryan.
" Mantan kekasih, apa lo tidak dengar kalau Vanka sudah memutuskan hubungan dengan lo." Sahut Bryan.
" Tapi gue nggak mau putus dari dia brengsek." Ujar Brayen.
" Terserah lo, yang jelas gue bersedia menikahi Vanka dan jadi ayah dari anak dalam kandungannya." Sahut Bryan.
" Gue bilang jangan lakukan itu Bryan." Bentak Brayen hendak memukul Bryan. Papa Indra yang melihatnya segera mencegahnya.
" Hentikan Bray." Ucap Papa Indra.
Brayen menurunkan tangannya.
" Biarkan Bry menikahi Vanka, itu akan lebih baik daripada Vanka menghilangkan bayinya, Papa setuju dengan keputusanmu Bry." Ucap Papa Indra.
" Tapi Pa." Ucap Bray hendak protes.
__ADS_1
" Papa tidak mau mendengar apapun dari bibirmu lagi, Papa sangat kecewa padamu, Papa menyesal telah membesarkan pria brengsek sepertimu." Ucap Papa Indra.
" Baiklah aku mengijinkanmu menikahi Vanka tapi hanya untuk menutup aib ini saja, jangan pernah sentuh dia, dan setelah aku mendapatkan gelarku kamu harus menceraikannya karna aku akan menikahinya saat itu juga, ku harap kau mengerti apa maksudku Bryan." Ucap Brayen mengalah.
" Jika aku sudah menikahinya maka aku berhak atas dirinya, dia istriku jadi apapun yang akan aku lakukan dengannya itu sudah menjadi kewajibanku sebagai seorang suami." Sahut Bryan tegas.
" Sialan lo." Cebik Brayen hendak menyerang Bryan.
" Bray hentikan." Bentak Papa Indra.
" Bry benar, jika Vanka sudah menikah dengan Bry maka Bry berhak atas dirinya." Sambung Papa Indra.
" Argh... Kalian semua sama saja." Teriak Brayen frustasi. Ia meninggalkan kamarnya meninggalkan adik dan kedua orang tuanya yang sedang menunggu Vanka sadar. Pikirannya terasa buntu. Ia merasa dilema dengan keputusannya. Tapi sekali lagi demi karier.... Ya demi karier, bukankah Vanka hanya mencintainya? Brayen yakin setelah Brayen berhasil mendapatkan kesuksesan maka Vanka mau kembali kepadanya, begitu pikir Brayen.
" Bry bicarakan ini dengan Vanka setelah dia sadar, Papa sama Mama kembali ke kamar, beritahu kami setelah Vanka setuju." Ucap Papa Indra menepuk pundak Bryan.
" Baik Pa." Sahut Bryan.
" Jaga Vanka sayang, semoga keputusanmu akan membawa kebahagiaan untukmu, doa Mama selalu menyertaimu sayang." Ucap Mama Kia menangkup wajah Bryan.
" Terima kasih Ma, Bry ikhlas menerima semua ini, mungkin ini cara Tuhan menyatukan Bry dengan jodoh Bry, doakan semoga Vanka menerima Bry Ma." Ujar Bryan.
" Tentu sayang, semoga sukses." Sahut Mama Kia.
Mama Kia keluar dari kamar Brayen. Ia menutup pintunya meninggalkan Bryan dan Vanka di dalam sana. Mama Kia yakin Bryan bisa mengatasi segalanya.
Di dalam kamar, Bryan duduk di tepi ranjang di sisi Vanka. Ia menatap wajah sembab Vanka. Ia merasa iba dengan gadis cantik di depannya.
" Aku akan menolongmu, aku akan bertanggung jawab atas apa yang Bray lakukan padamu, aku akan menerimamu sebagai istriku dan anak Bray menjadi anakku, ah bukan... Anak kita, semoga kau mau menerimaku sebagai suami dan ayah dari anak anakmu." Monolog Bryan tanpa sadar mengelus pipi Vanka.
Ada perasaan aneh dalam hati Bryan saat menyentuh wajah Vanka. Ada sesuatu yang berdesir dalam hatinya. Ia pria dewasa yang siap dengan kematangan pada dirinya. Hanya menatap wajah Vanka saja membuat hasrat dalam dirinya menguap ke permukaan.
" Ah sial." Umpat Bryan saat menyadari ada yang sesak di bawah sana. Bryan segera menjauh dari Vanka. Ia membuka pintu balkon lalu duduk di sana menunggu Vanka sadar.
Bryan menatap pemandangan luar dengan hati yang bertanya tanya.
" Engh..." Lenguh Vanka mengerjapkan matanya.
Bryan menoleh ke arah ranjang, melihat Vanka yang sudah sadar, Bryan menghampirinya.
" Kamu sudah sadar? Mau minum?" Tanya Bryan menyodorkan segelas air putih kepada Vanka.
Vanka menatap ke arah Bryan dengan seksama. Mungkin sedang membedakan anatara Brayen dan Bryan karna keduanya benar benar mirip.
" Aku Bryan." Ucap Bryan seolah tahu dengan kebingungan Vanka.
" Ah maaf." Ucap Vanka menerima gelas daei Bryan.
Vanka meminum airnya dengan pelan. Ternyata haus juga setelah menangis sambil berteriak.
" Aku akan menikahimu."
Byur.... Uhuk uhuk uhuk...
Ucapan Bryan membuat Vanka menyemburkan air yang sedang Ia minum tepat di wajah Bryan.
" Hati hati." Ucap Bryan mengelus punggung Vanka berharap Vanka merasa mendingan.
" Ah maaf maaf aku tidak sengaja, kamu mengagetkanku." Ucap Vanka merasa bersalah.
" Tidak masalah." Sahut Bryan sambil tersenyum manis kepada Vanka membuat hati Vanka menghangat.
Bryan mengambil tisu di atas nakas untuk mengelap wajahnya. Vanka menatap Bryan dengan tatapan kagumnya. Jika Brayen pasti sudah berteriak kepadanya.
__ADS_1
Bryan duduk di tepi ranjang. Ia menatap ke arah Vanka yang saat ini sedang menatapnya.
" Bray tetap kukuh pada pendiriannya, Ia tetap akan mengejar kariernya, untuk itu akulah yang akan menikahimu, aku akan menerimamu apa adanya dan aku akan menjadi ayah dari anakmu, anak kita maksudnya." Ucap Bryan menggenggam tangan Vanka membuat Vanka sedikit gugup.
" Jangan mengorbankan dirimu demi wanita kotor sepertiku, biarkan aku menanggung ini sendiri, aku tidak mau melibatkanmu dalam masalahku, kau tenang saja aku tidak akan melenyapkan anak ini, aku akan tetap melahirkannya walau tanpa suami di sampingku." Ucap Vanka meneteskan air matanya. Rasanya begitu pilu dalam hatinya.
" Jangan menangis lagi." Ucap Bryan mengusap air mata di pipi Vanka.
" Jangan keluarkan air matamu untuk kesedihan, keluarkan air matamu hanya untuk kebahagiaan saja." Sambung Bryan.
" Aku tidak tahu apakah aku bisa bahagia atau tidak, selama ini kesedihan selalu saja menghampiriku, seolah olah mereka adalah temanku." Sahut Vanka.
" Kamu akan bahagia bersamaku, terimalah aku sebagai suamimu dan ayah dari anak anak kita." Ucap Bryan tulus.
Vanka menatap Bryan dengan mata berkaca kaca.
" Apa kau tidak akan menyesal mengambil keputusan ini? Aku tidak mau kau mengungkit masalah ini dikemudian hari." Ujar Vanka.
" Aku berjanji padamu kalau aku tidak akan mengungkit semua ini suatu hari nanti, kesedihanmu cukup sampai di sini, jika kedepannya kita akan mengalami kesulitan maka biarkan aku yang menanggungnya." Ucap Bryan mengelus pipi Vanka membuat Vanka memejamkan matanya.
" Kau mau kan menerima pinanganku?" Tanya Bryan.
Vanka membuka matanya, Ia menatap Bryan lalu menganggukkan kepalanya. Bryan menarik tubuh Vanka kedalam pelukannya. Entah mengapa Vanka merasa nyaman berada dalam pelukan Bryan. Bukan karna Vanka wanita murahan tapi mungkin karna Vanka butuh dukungan untuk saat ini.
" Terima kasih sudah menjadi malaikat penolongku, aku percayakan hidupku kepadamu dan aku berharap suatu hari nanti kau tidak akan membuatku kecewa, kau tidak akan membuatku menyesali keputusanku karna telah menerimamu sebagai suamiku." Ujar Vanka melepas pelukannya.
" Begitupun denganmu, jangan pernah membuatku menyesal karna telah memilihmu menjadi pendamping hidupku." Ucap Bryan.
" Aku berjanji padamu." Sahut Vanka.
" Ada satu permintaanku padamu." Ucap Bryan.
" Apa itu?" Tanya Vanka sedikit khawatir. Vanka takut Bryan juga memintanya untuk menggug*rkan kandungannya.
" Jangan pernah beritahu orang tuamu jika kamu mengandung anak Brayen, katakan jika dia milikku, aku tidak mau kamu di pandang rendah oleh orang tuamu sendiri, cukup keluargaku dan kamu saja yang tahu tentang masalah ini, sejak kau setuju untuk menikah denganku maka anak itu menjadi milikku, aku ayah kandungnya bukan orang lain." Ucap Bryan.
Vanka langsung memeluk tubuh Bryan. Ia bahkan menangis dalam pelukan Bryan. Adakah pria sebaik Bryan di dunia ini? Adakah pria yang mau mengorbankan dirinya demi wanita seperti Vanka? Siapa Dia? Dialah Bryan malaikat penolong Vanka.
Mama Kia dan Papa Indra mengusap air matanya melihat kesedihan dan kebahagiaan yang putranya alami. Mereka berharap akan ada kebahagiaan setelah badai ini.
TBC....
Sedih nggak sih????
Author sedih sendiri????
Semoga menarik....
Jangan lupa like koment vote dan hadiahnya ya....
Terima kasih untuk readers yang sudah mensuport author....
Miss U All...
Biar nggak sedih author kasih visualnya ya... Semoga lulus review ..
Babang Bryan Nih
Gimana? Klepek klepek nggah nih lihat tatapan matanya... Kalau author sih sampe nggak bisa tidur....
__ADS_1
kalau ini Babang Brayen ya....
Maaf bang fotonya adek pinjem...