Pria Cacat Itu Suamiku

Pria Cacat Itu Suamiku
16. Pembalasan


__ADS_3

Setelah hampir empat menunggu akhirnya....


Ceklek.....


Tim Dokter keluar dari ruangan. Bryan segera menghampiri Dokter yang menangani Vanka.


" Bagaimana kondisinya Dok?" Tanya Bryan.


" Operasi berjalan dengan lancar, Nona Devanka berhasil melalui masa kritisnya, tapi maaf Tuan Bryan karna terlalu banyak darah yang membasahi otak membuat Nona Devanka mengalami koma." Jelas Dokter.


Jeduarrrr......


Tubuh Bryan terhuyung ke belakang, beruntung Brayen mampu menopang tubuh Bryan. Tulang belulang Bryan terasa menjadi lunak.


" Vanka.... Hiks... Hiks...." Isak Bryan.


" Kami turut prihatin atas keadaan Nona Devanka Tuan, berdoa saja semoga Nona Devanka cepat sadar dari komanya." Ujar Dokter.


" Kapan menantu akan sadar Dok?" Tanya Mama Kia.


" Kami tidak bisa memprediksinya Nyonya, benturan yang Nona Devanka sangat keras, kami tim Dokter berharap semoga tidak ada kerusakan pada syaraf syarafnya, kami permisi." Ucap Dokter meninggalkan mereka.


Brayen menuntun Bryan untuk duduk di kursi tunggu. Begitupun dengan Papa dan Mamanya.


" Ya Tuhan...... Cobaan yang kau berikan terasa begitu berat untukku, kenapa harus istriku yang mengalami semua ini, andai saja aku bisa menggantikannya, biarkan aku saja yang terbaring di dalam sana." Ujar Bryan.


Tiba tiba Bryan teringat dengan sherly. Ia segera mengusap air matanya.


" Fadlan seret Sherly ke markas, aku akan memberikannya pelajaran." Ucap Bryan kepada Fadlan.


" Baik Tuan." Sahut Fadlan undur diri.


Bryan beranjak berdiri hendak melangkah.


" Kau mau kemana? Aku ikut." Ucap Brayen.


" Aku tidak sudi di ikuti bajingan licik sepertimu, aku akan memberikan pelajaran pada partnermu, dan tunggu apa yang akan aku lakukan kepadamu Brayen Permana." Tegas Bryan.


Bryan pergi meninggalkan mereka semua. Brayen hendak mengejar Bryan tapi Papa Indra menahannya.


" Sudah cukup kau mencampuri urusan adikmu Bray, sekarang lebih baik kau mengobati luka lukamu." Ucap Papa Indra.


" Baiklah Pa." Sahut Brayen mengalah.


Bryan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju markas yang biasa Ia gunakan untuk menghukum seseorang yang bersalah di dalam perusahaannya.


Sesampainya di sana Ia segera masuk ke dalam.


" Malam Bos."


" Malam Bos."


" Selamat datang Bos." Sapa para anak buah Bryan.


" Apa dia sudah berada di sini?" Tanya Bryan.


" Sudah Bos, Fadlan sudah membawanya ke ruang eksekusi." Sahut anak buah Bryan.

__ADS_1


Bryan berjalan menuju ruang yang di maksud anak buahnya.


Brakkkk....


Bryan membuka pintu dengan kasar. Sherly menoleh ke arahnya.


" Bry... Bryan.... Kau menyelamatkanku? Tolong aku Bry, mereka menculikku, mereka ingin menghabisiku." Ujar Sherly menatap Bryan.


" Ya... Aku datang untuk menyelamatkanmu dari kehidupan lalu mengirimkanmu kepada kematian." Sahut Bryan menatap nyalang.


" A.... Apa maksudmu Bryan?" Tanya Sherly gugup.


Bryan membungkukkan tubuhnya menatap wajah Sherly yang saat ini sedang menatpnya dan....


Plak.....


" Awh." Pekik Sherly memegangi pipinya.


Bryan menampar keras pipi kanan Sherly.


Plak....


" Awh." Pekik Sherly lagi.


Kali ini Bryan menampar keras pipi kiri Sherly.


" Seandainya kau bukan wanita, aku pasti sudah menghabisimu saat ini juga." Bentak Bryan. Sherly berjingkrak kaget mendengar bentakan Bryan.


" Apa kesalahanku kepadamu Bryan? Kenapa kau menamparku?" Tanya Sherly.


" Awh sakit Bry." Ucap Sherly memegangi rambutnya.


" Aku hanya menarik rambutmu kamu sudah kesakitan, lalu bagaimana dengan istriku yang sudah kau tabrak menggunakan mobilmu Sherly?" Tekan Bryan menarik lagi rambut Sherly.


" Ma... Maafkan aku Bryan, aku mengaku salah, aku merasa cemburu karna kamu lebih memilihnya daripada aku." Ucap Sherly.


" Awh." Pekik Sherly saat Bryan menarik rambutnya lagi. Rasanya rambutnya mau lepas dari kepalanya.


Sherly tidak pernah menyangka jika pria yang terlihat kalem dan lemah lembut seperti Bryan bisa melakukan hal sekasar ini padanya.


" Maaf?... Kamu meminta maaf padaku?" Tanya Bryan.


" Iya." Sahut Sherly menganggukkan kepalanya.


" Apa kata maafmu bisa membuat istriku kembali seperti dulu hah." Bentak Bryan.


" Istriku koma, dia sedang berjuang melawan maut saat ini, apa maafmu bisa menyadarkan dirinya dari komanya?" Tanya Bryan.


" Hiks.... Hiks.... Bryan ku mohon lepaskan aku." Ucap Sherly.


" Aku akan melepaskanmu dalam kondisi tidak bernyawa Sherly, tapi sebeluk itu akan aku buat dirimu merasakan seperti apa yang istriku rasakan, aku akan memberikan pelajaran yang tidak akan pernah kamu lupakan, bahkan kamu akan meminta kematian dariku daripada hidup di bawah siksaanku." Ucap Bryan mendorong tubuh Sherly.


" Awh." Sherly kesakitan karna kepalanya membentur meja.


" Fadlan berikan dia pelajaran yang membuatnya menginginkan kematiannya sendiri." Ucap Bryan membuat Fadlan mengerutkan keningnya. Pasalnya Ia tidak pernah menghukuk perempuan seperti ini.


" Bilang pada anak buahmu, kalau mulai sekarang mereka tidak perlu ke club malam untuk mencari kepuasan, aku berikan Sherly pada kalian, bersenang senanglah kalian di sini." Ucap Bryan.

__ADS_1


" Tidak... Tidak.... Jangan lakukan itu kepadaku Bryan, aku mohon maafkan aku." Ucap Sherly.


" Kalau kalian sudah merasa bosan, buang dia ke tengah laut untuk santapan para hiu tanpa ada yang curiga." Ucap Bryan.


" Baik Tuan, kami ucapkan terima kasih." Sahut Fadlan.


Bryan keluar ruangan menuju pintu keluar.


Fadlan segera memanggil ke enam anak buahnya untuk memberikan pelajaran kepada Sherly. Tentunya pelajaran yang membuat mereka senang.


Srekkk....


" Jangan.... Ku mohon jangan." Teriak Sherly ketakutan.


Srek....


" Jangan ku mohon.... Kasihanilah aku, aku tidak mau melakukan ini." Kembali terdengar teriakan Sherly.


" Ahhh." Teriak Sherly kesakitan.


Bryan tidak terpengaruh dengan suara Sherly. Ia kembali melajukan mobilnya menuju rumah sakit. Biarlah Sherly menjadi urusan anak buahnya.


Tiga puluh menit Bryan sampai di rumah sakit. Ia berjalan menuju ruang VIP tempat Vanka di rawat.


Ceklek....


Bryan membuka pintunya. Papa Indra dan Mama Kia menoleh ke arahnya.


" Kamu darimana Bry?" Tanya Mama Kia.


Bryan menghampiri kedua orang tuanya, lalu Ia duduk di sofa sebelah Mamanya.


" Aku baru menyelesaikan urusan penting Ma." Sahut Bryan.


" Uru....


Mama Kia menjeda ucapannya kala Papa Indra memberikan kode kepadanya untuk tidak menanyakan hal lebih pada Bryan saat ini. Mama Kia paham akan maksud Papa Indra.


" Baiklah maafkan Mama yang banyak bertanya, sekarang kamu istirahatlah di samping Vanka, Papa sengaja menyewa bed yang besar supaya muat untuk kalian berdua." Ujar Mama Kia.


" Terima kasih Ma, Pa." Ucap Bryan.


" Istirahatlah dan sering seringlah ajak istrimu berbicara, Oma sama Opa akan datang kemari besok pagi." Ucap Mama Kia.


" Iya Ma, aku istirahat dulu." Sahut Bryan.


Bryan berjalan menuju ranjang dimana Vanka sedang terbaring lemah dengan alat alat medis menempel pada tubuhnya. Lagi lagi air mata Bryan mengalir membasahi pipinya. Ia naik ke atas ranjang menatap wajah pucat istrinya yang masih ada sedikit darah kering menempel pada keningnya. Rambut indah Vanka kini hanya separuh saja karna yang lainnya di cukur saat operasi di lakukan.


" Sadarlah sayang, Mas selalu menunggumu, berjuanglah untuk Mas yang selalu mencintaimu, aku menyayangimu sayang." Gumam Bryan dalam hatinya.


Jangan lupa like koment vote dan hadiahnya ya.... Biar author tambah semangat...


Terima kasih untuk readers yang selalu mensuport author semoga sehat selalu....


Miss U All....


TBC.....

__ADS_1


__ADS_2