
Hari hari berlalu begitu saja. Tak terasa usia kandungan Vanka menginjak sembilan bulan. Kesehatan Vanka benar benar sehat sejak kepulangan Bryan. Bryan merawatnya dengan baik dan penuh kasih sayang.
Saat ini Vanka sedang berjalan jalan di taman di temani oleh Bryan.
Vanka mencoba mengatur nafasnya dengan menarik nafas pelan lalu menghembuskannya lewat mulut.
" Capek nggak sayang? Kalau capek kita istirahat aja dulu." Ucap Bryan.
" Iya Mas, kita duduk dulu aja aku capek banget." Ucap Vanka.
" Ya udah ayo." Ucap Bryan menuntun Vanka menuju kursi taman.
" Duduklah sayang." Sambung Bryan.
Vanka duduk di kursi di samping Bryan. Bryan mengelus perut Vanka yang sudah membesar.
" Anaknya Daddy capek ya, kita istirahat dulu ya di sini, nanti kita lanjut lagi." Ucap Bryan.
" Punggung kamu pegel nggak Dek? Sini Mas usap biar pegelnya hilang." Ujar Bryan beralih mengelus punggung Vanka.
Para pejalan kaki yang melihatnya merasa iri melihat perhatian Bryan kepada Vanka. Mereka merasa kalau Bryan adalah sosok lelaki yang sempurna.
" Duh jeng... Lihat deh tuh suaminya perhatian bener, udah ganteng lagi jadi pengin punya suami kaya' dia"
" Iya Jeng jadi pengin hamil lagi kalau punya suami seperti itu."
" Kamu dengar kan Mas? Ibu ibu aja pada respect sama kamu, apalagi yang muda coba, ah aku tidak mau kehilangan kamu Mas, aku tidak mau pokoknya apapun yang terjadi kamu tetap harus menjadi milikku." Ucap Vanka memeluk Bryan.
" Iya sayang... Kamu tenanglah jangan berpikiran yang tidak tidak begini, kasihan kan dedeknya kalau ikutan tertekan, Mas tidak akan pernah meninggalkanmu sayang, Mas sangat mencintaimu dan menyayangimu Dek, Mas tidak akan kemana mana, Mas akan tetap di sampingmu selamanya." Ucap Bryan mencium pucuk kepala Vanka.
" Terima kasih Mas." Ucap Vanka.
" Sama sama sayang, kamu mau minum?" Ucap Bryan melepas pelukannya.
" Sedikit Mas." Sahut Vanka.
Bryan memberikan air minum kepada Vanka, air matang tentunya yang sudah Ia rebus sendiri. Selama kehamilan Bryan benar benar mengutamakan kesehatan untuk Vanka dan calon bayinya. Ia tidak mau ceroboh memberikan makanan ataupun minuman kepada istri tercintanya.
Vanka memberikan minumnya kembali kepada Bryan.
" Kalau capek Mas gendong ya." Ujar Bryan.
" Nggak usah Mas, namanya jalan jalan masa' di gendong sih." Ucap Vanka.
" Ya kalau kamu capek nggak masalah sayang." Ujar Bryan.
" Nggak ah Mas, aku mau jalan lagi aja." Ujar Vanka.
" Baiklah ayo." Ucap Bryan mengulurkan tangannya yang langsung di sambut oleh Vanka.
Bryan menggandeng tangan Vanka, kedunya kembali berjalan mengitari taman. Keringat dingin menetes pada dahi Vanka membuat Bryan sedikit cemas.
" Sayang kamu kenapa?" Tanya Bryan cemas.
" Mas... Perutku rasanya mulas, dan rasanya bikin badanku nggak karuan Mas." Sahut Vanka menghentikan langkahnya.
" Ya udah kita pulang aja ya, Mas gendong." Ujar Bryan.
__ADS_1
" Nggak usah Mas, aku jalan aja." Ujar Vanka.
" Apa kamu masih kuat jalan Dek? Kalau nggak kuat jangan di paksain, Mas gendong aja sayang." Ucap Bryan.
" Awh Mas..." Pekik Vanka saat merasakan sakit pada perutnya.
" Kenapa sayang?" Tanya Bryan.
" Mana yang sakit hmm?" Sambung Bryan.
" Mas perutku rasanya sakit banget." Keluh Vanka.
Tanpa banyak berkata Bryan langsung menggendong Vanka menuju mobilnya yang Ia parkir lumayan jauh dari sana. Vanka memejamkan matanya menahan rasa sakit yang sedang Ia rasakan.
Setelah keduanya masuk mobil, Bryan segera melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju rumah sakit. Di dalam perjalanan sesekali Vanka mendesis merasakan perutnya yang semakin sakit.
Di tempat lain tepatnya di rumah Brayen, Ia sedang menyiapkan sarapan untuk Rea. Semenjak Vanka menemuinya dan memintanya melupakan masa lalunya, perlahan Brayen bisa menata kembali hidupnya. Ia tidak lagi di bayang bayangi rasa bersalahnya.
Rea nampak bahagia menatap Brayen yang sedang berkutat di dapurnya. Dengan perut yang sudah terlihat membuncit, Rea duduk di meja makan sambil menunggu Brayen menyelesaikan masakannya.
" Jangan menatapku gitu donk sayang, aku jadi nggak fokus masaknya." Ucap Brayen.
" Biasanya juga aku lihatin kan Mas? Nggak pernah protes tuh." Sahut Rea.
" Ya udah deh terserah kamu aja, tapi nanti kalau makin cinta aku nggak tanggung jawab ya." Ujar Brayen.
" Iya deh paling yang ada kamu yang ngejar ngejar aku buat dapetin perhatianku Mas." Ucap Rea.
" Iya kamu benar, aku akan membuat perhatianmu hanya tercurahkan kepadaku." Sahut Brayen.
" Sekarang makanlah, atau mau aku suapi?" Tanya Brayen.
" Aku lebih nyaman makan sendiri Mas." Sahut Rea.
" Baiklah sayang, sekarang makanlah aku juga mau makan sendiri." Sahut Brayen mengambil makanan untuk dirinya sendiri.
Keduanya makan dengan khidmat.
Drt.... Drt....
Ponsel Brayen berdering tanda panggilan masuk. Ia menatap Id pemanggil yang tak lain adalah Bryan. Ia segera mengangkatnya.
" Halo Bry, ada apa?" Tanya Brayen.
" Gue cuma mau mengabarkan kalau putra gue udah lahir Bro." Ucap Bryan di seberang sana.
" Apa? Anak lo udah lahir? Vanka udah melahirkan? Kapan?" Tanya Brayen beruntun.
" Baru saja, sekarang kami masih di rumah sakit." Sahut Bryan sambil menimang Babbynya.
" Lo sedang menggendong anak gue?" Tanya Brayen.
" Ralat! Anak gue bro." Ujar Bryan.
" Sama aja, anak lo juga akan jadi anak gue." Sahut Brayen.
" Iya, nih gue lagi gendong." Ucap Bryan.
__ADS_1
" Video call bro, udah penasaran pengin lihat my babby." Ujar Brayen mengalihkan panggilan ke video call.
" Halo babbynya Papa sayang." Ucap Brayen menatap baby mungil pada layar ponselnya.
" Lihat anak kita sayang." Ucap Brayen duduk di samping Rea.
" Ih imut banget Mas." Ujar Rea.
" Iya mirip Bry ya." Ucap Brayen.
" Mirip kamu juga." Sahut Rea.
" Ya iyalah Yank, kan kami kembar." Ucap Brayen.
" Ah iya aku lupa Mas." Sahut Rea.
Ya... Ke empat anak Mama Kia sepakat akan menganggap keponakan mereka anak mereka sendiri. Jadi anaknya Bryan akan memanggil Brayen Papa, begitupun sebaliknya anaknya Brayen nanti akan memanggil Bryan dengan sebutan Daddy.
" Gue ke sana bro." Ucap Brayen.
" Ok gue tunggu." Sahut Bryan.
" Ya udah jagain anak gue dulu ya, gue mau langsung otw." Ujar Brayen.
" Ok." Sahut Bryan mematikan ponselnya.
Bryan menciumi pipi babbynya dengan lembut. Setelah melihat perjuangan Vanka melahirkan putranya, akhirnya Bryan bisa bernafas lega melihat putra dan istrinya selamat dan baik baik saja. Ketegangan sempat menghampiri dirinya beberapa waktu lalu. Rasanya Ia ingin kabur karena tak tega melihat perjuangan Vanka.
" Dedek sayang, Daddy sangat menyayangimu sayang." Ucap Bryan kembali menciumi babbynya.
" Udah Mas, kasihan dedeknya sampai merah gitu pipinya." Ujar Vanka yang terbaring lemah di atas ranjang.
" Habisnya gemes sayang, lihat deh pipinya mirip bakpao gini, ganteng mirip Daddy ya sayang." Ujar Bryan.
" Terima kasih sayang atas perjuanganmu menyempurnakan hidupku." Sambung Bryan mencium kening Vanka.
" Sama sama Mas, ini semua juga berkat dirimu Mas, aku tidak akan bisa menjalani sampai detik ini tanpa dukungan dari kamu Mas, terima kasih sudah menemaniku selama ini." Ujar Vanka.
" Semoga kita akan mendapatkan kebahagiaan yang abadi sayang." Ujar Bryan.
" Amin." Sahut Vanka.
" Mau kamu kasih nama siapa sayang untuk anak kita?" Tanya Bryan menatap Vanka.
Kira kira siapa ya?????
Bantu jawab donk....
Bab bab selanjutnya detik detik tamat ya....
Jangan lupa like koment vote dan hadiahnya ya....
Terima kasih untuk readers yang selalu mensuport author... Semoga sehat selalu...
Miss U All...
TBC.....
__ADS_1