
Keesokan harinya, setelah seharian lelah karna melakukan pekerjaannya, Kia masuk ke dalam kamarnya. Sekarang waktunya Kia rebahan meluruskan punggungnya di atas ranjang, sambil guling guling kekanan dan kekiri. Ia bingung memikirkan siapa yang ingin menemuinya pada weekend ini, apa tujuannya sebenarnya orang itu mengajaknya bertemu? dan mengapa pak Reyhan merahasiakannya. Apakah ada sesuatu buruk yang akan terjadi padanya? Pikir Kia.
Drt drt drt
suara ponsel Kia berdering tanda panggilan masuk. Di ambilnya ponsel yang sedari tadi tergeletak di kasur dan di lihatnya ID pemanggil yang tak lain adalah Lia sang sahabat karibnya.
" Halo." Sapa Kia sambil menempelkan ponsel ke telinganya, masih dengan rebahan bahkan sekarang Kia terlentang menatap langit langit kamarnya.
" Hai best friend, apakah aku mengganggumu? Aku rasa tidaklah ya." Ujar Lia di sebrang sana, membuat Kia memutar bola matanya malas.
" Kamu gimana sih? Nanya kok di jawab sendiri, harusnya gue yang jawablah." Cebik Kia.
" Ah iya iya... Aku ulangi, Helo Besti apakah aku mengganggumu?" Lia mengulangi pertanyaannya membuatnya terkekeh sendiri.
" Tidak Besti.." Sahut Kia.
" Ya iyalah jelas ganggu banget, Lo liat sekarang jam berapa?" Ketus Kia seolah malas menanggapi telepon Lia.
" Masih jam 10 Beb... Masih sore untuk ukuran jomblo sepertimu, apalagi ini kan malem minggu, gue temenin lo begadang deh." Jawab Lia biasa saja, karna dia tahu kalo sahabatnya itu tidak akan mudah marah.
" Sindiran Lo apa gak kebalik hah? Ini terlalu malam untuk ukuran jomblo seperti gue, harusnya gue sudah berada di alam mimpi, bertemu dengan seorang pangeran tampan berkuda Lamborgini gimana sih." Ucap Kia sambil berkhayal. Kalau lo gue sudah keluar berarti Kia dalam mode on.
" Sadar woy sadar... Zaman apa sekarang ini? kamu mau disamperin pangeran kodok yang ada di sawah dekat rumahmu yang di kampung itu? hhhh... Lo berkhayal ketinggian Besti, mana ada pangeran berkuda Lamborghini, yang ada itu pangeran berkuda putih." Ejek Lia sambil tertawa.
" Rese' loe, awas aja ya kalau gue nemuin pangeran berkuda Lamborghini, gue pecat lo jadi temen gue ." Ucap Kia kesal.
" Hhhh santai Beb, gitu aja marah, ingat ya di antara kita tidak ada pecat memecat, yang ada sahabat selamanya." Sahut Lia masih terkikik di balik teleponnya.
__ADS_1
" Hmm." Gumam Kia.
" Oh ya gimana besok? ada acarakah dengan dirimu?" Tanya Lia.
" Aku ada janji sam pak Rey." Ucap Kia sambil merenung lagi kira kira siapa ya, yang mau bertemu dengannya, sepertinya sangat penting.
" What??? Pak Rey." Pekik Lia sedikit berteriak, sehingga Kia harus menjauhkan ponsel dari telinganya.
Lia benar benar terkejut pasalnya ada kepentingan apa Kia janjian dengan pak Rey.
" Ada hubungan apa kamu dengan pak Rey? Apa kalian pacaran? Apa aku melewatkan sesuatu? Katakan Kia buruan..." Lanjut Lia penasaran.
" Idih keponya mulai ngambang ke permukaan deh... " Ujar Kia.
" Serius nih gue Beb.... Buruan jelasin sekarang biar jiwa kepo gue gak melayang layang... jangan bikin gue mati penasaran deh, Ada apa lo sama Pak Rey." Desak Lia ingin tahu, karna selama ini yang dia tahu, pak Rey orangnya dingin dan pendiam gak banyak bergaul ma karyawannya masa' tiba tiba mengajak Kia ketemuan.
"Katanya sih ada yang mau bertemu denganku di sana gitu " Lanjut Kia. Yang di sebrang sana hanya manggut manggut mendengar penjelasan Kia.
" Atau... jangan jangan.... " Ucap Lia sambil berpikir serta mengetuk ngetukkan telunjuknya pada dahinya.
" Jangan jangan apa? Jangan nakut nakutin gue deh." Ujar Kia.
" Jangan jangan.... " Lia menjeda ucapannya.
" Iya jangan jangan apa dodol? Jangan gori maksud lo." Cebik Kia.
Orang jawa pasti tahukan jangan gori, kalau bahasa Indonesianya mah Sayur Nangka.
__ADS_1
"Jangan jangan, orang tua Pak Rey mau melamarmu untuk di jadikan menantunya hhhhh." Terang Lia sambil terus ketawa.
Kia beranjak dari rebahannya mencoba duduk bersila di atas kasurnya, Dia sedikit terusik dengan perkataan Lia barusan. Benarkah demikian atau.. ah pusing deh kalau di pikir pikir, mending jalanin aja.
" Jangan ngada ngada deh kamu, kali ini lo yang mengkhayal ketinggian Beb, gue sama Pak Rey kenal juga kagak masa' main lamar lamaran nggak mungkin lah." Sahut Kia. Gak mungkin kan tiba tiba Pak Rey melamarnya. Kenal aja hanya saat di kantor.
" Yei siapa tahu kan... Wah gercep juga nih babang Rey, baru kenal beberapa bulan aja, udah main lamar lamaran, jangan lupa undangannya, Gue yang jadi pagar ayunya ya, entar di sana Gue bisa makan sepuasnya, dan ingat jangan tanyakan amplopnya, kalau gue di suruh nyumbang, Gue nyumbang lagu aja sama nyumbang doa hhhh" Ucap Lia semakin ngawur dengan pemikirannya sendiri.
"Lo nelepon gue hanya untuk mengejek gue saja, apa gak ada kerjaan lain? Malmingan sama gebetan lo itu misalnya." Ucap Kia membalas ejekan Lia saat ingat dengan doi sahabatnya.
" Kalau aku jalan sama gebetan aku, gak mungkinlah aku telepon kamu gimana sih, berhubung Doi lagi sibuk makanya aku kesepian, dan untuk menghilangkan rasa sepiku aku calling kamu deh, masa' gitu aja harus di jelasin, dasar gak peka". Jelas Lia.
" Fellingku emang dari tadi mengatakan kalau aku hanya jadi pelarian saja ogeb, mana ada kamu inget sama aku kalau udah sama gebetanmu itu." Sungut Kia kesal, karna dia selalu jadi pelarian sahabatnya. Kalau ada si David pasti Kia di cuekin, giliran gak ada aja cari cari Kia.
" Iya iya deh maafin sahabatmu yang baik hati ini ya Beb.... Aku sayang kamu Bebi Zaskia Azzahra dan gak akan pernah ngekhianatin kamu, janji." Canda Lia yang membuat Kia justru semakin kesal.
" Idih naj**, yaudah lah aku mo bobok dulu, mimpi indah agar besok pagi lebih fres dalam menghadapi hidup yang berliku liku dan terjal ini, apalagi menghadapi sahabat yang tidak ada akhlak seperti dirimu." Kata Kia sebelum mematikan sambungan teleponnya.
" Ok good night, jangan lupa kasih info soal pertemuan dengan babang Rey ya, aku doakan sukses sampai ke pelaminan, sampai jumpa hari Senin di kantor, Bye..." Sahut Lia.
" Hmmm." Gumam Kia.
Kia langsung memutuskan sambungan teleponnya, tanpa menghiraukan ocehan sahabatnya. Kalau di ladeni sahabat satu itu bisa ngoceh sampai pagi.
Setelah memencet tombol merah pada ponselnya, Kia merebahkan tubuhnya lagi pada kasur busa yang hanya beberapa centi saja. Dia mencoba memejamkan mata berharap bisa tidur dengan lelap dan mimpi indah seindah indahnya tentang masa depannya. Tak berapa lama akhirnya Ia terlelap pulas seperti tanpa beban.
TBC...
__ADS_1