Pria Cacat Itu Suamiku

Pria Cacat Itu Suamiku
49. Bryan Sadar


__ADS_3

Setelah kepergian semua orang, Vanka segera menghampiri Bryan dengan pelan. Ia duduk di kursi tepi ranjang sambil menggenggam tangan Bryan.


" Mas bangun." Ucap Vanka mencium punggung tangan Bryan.


" Ku mohon sadarlah, aku takut Yoseph akan datang kemari, aku butuh kamu Mas, aku butuh perlindunganmu saat ini, aku takut berada sendirian di sini." Ujar Vanka menatap wajah Bryan.


" Apa kau tidak mau melihat aku yang baik baik saja saat ini? Apa kamu ingin terus memejamkan mata saja? Ku mohon bangunlah Mas! Aku mencintaimu." Ujar Vanka.


Bryan menggerakkan jarinya.


" Mas kamu sadar." Ucap Vanka bahagia.


Perlahan Bryan membuka matanya. Vanka menatap penuh kebahagiaan pada Bryan. Ia tersenyum manis ke arah Bryan yang juga tersenyum kepadanya.


" Mas Bry kamu benar benar sudah sadar?" Pekik Vanka memeluk Bryan.


" Awh sakit Dek." Keluh Bryan lirih.


" Ah maaf Mas, aku bahagia banget karna akhirnya kamu membuka mata, aku takut kamu kenapa napa Mas, aku takut kamu akan pergi meninggalkan aku." Ujar Vanka.


" Aku tidak akan pergi meninggalkan kalian sayang, apapun yang terjadi." Sahut Bryan mengelus pipi Vanka.


" Terima kasih Mas, aku mencintaimu Mas." Ucap Vanka mencium pipi Bryan.


" Mas lebih mencintaimu sayang, terima kasih sudah mengkhawatirkan Mas." Ujar Bryan.


" Kenapa Mas bilang seperti itu? Kamu itu suamiku kalau terjadi sesuatu kepadamu aku pasti khawatir lah Mas, terima kasih sudah berjuang untukku." Sahut Vanka.


" Dedek bayinya gimana? Apa dedeknya baik baik saja?" Tanya Bryan.


" Alhamdulillah dia baik baik saja Mas, begitupun dengan aku." Sahut Vanka.


" Syukurlah kalau begitu." Ujar Bryan.


" Aku panggil Dokter dulu ya Mas." Ucap Vanka.


" Tidak usah sayang, Mas sudah baik baik saja." Ujar Bryan.


" Tapi kamu harus di cek sama Dokter dulu Mas." Ujar Vanka.


" Tenang sayang Mas baik baik saja, nanti siang Dokter juga akan kemari mengunjungi kita sayang." Sahut Bryan.


" Baiklah Mas." Ucap Vanka.


" Sini berbaring di samping Mas." Ujar Bryan menepuk kasur di sisi lainnya.

__ADS_1


" Enggak ah Mas, badanmu masih banyak peralatanyang menempel, nanti ganggu lagi." Ujar Vanka.


" Ya udah Mas lepas dulu." Ucap Bryan mencopot alat medis yang berada di dadanya.


" Eh emang nggak pa pa Mas? Nanti kamu kenapa napa lagi." Ujar Vanka cemas.


" Jangan khawatir sayang, Mas baik baik saja, Mas sudah tidak membutuhkan semua itu, lihatlah Mas sudah normal kan? Sekarang buruan sini kita bobok bareng, Mas kangen ingin meluk kamu." Ujar Bryan.


" Iya Mas, aku juga kangen sama kamu." Sahut Vanka naik ke atas ranjang.


Vanka merebahkan tubuhnya dengan lengan Bryan sebagai bantal.


" Apa Yoseph menyakitimu?" Tanya Bryan merapikan rambut Vanka.


" Tidak Mas." Sahut Vanka.


" Dia marah padaku karna aku mengalahkannya dalam tender hotel di pulau K, perusahaannya gulung tikar karna mengalami kerugian yang besar, dia sudah


membayar para investor untuk memihaknya tapi mereka berbelok memihak Mas, Yoseph tidak terima itu sebabnya dia ingin membuatku menderita dengan menyakitimu." Ujar Bryan.


" Kalah tender? Bukankah karna kamu sendiri yang membuatku sebagai jaminan atas hutang hutangmu Mas?" Tanya Vanka memastikan.


" Hutang? Hutang yang mana?" Bryan balik bertanya.


" Yoseph bilang perusahaanmu bangkrut Mas, terus kamu meminjam uang dengan jumlah banyak kepada perusahaannya, dan karna kamu tidak bisa membayarnya, jadi kamu mengirimkan aku ke sana sebagai jaminan hutangmu." Jelas Vanka.


" Sudahlah Mas sabar aja, yang penting aku nggak kenapa napa, sepertinya anak buah Mas sudah memberinya pelajaran yang setimpal." Ujar Vanka mengelus dada Vanka.


" Ah iya sayang." Sahut Bryan memeluk Vanka.


" Sekarang tidurlah." Ucap Bryan.


" Aku nggak bisa tidur Mas, aku masih pengin ngobrol sama kamu buat mengobati rinduku." Sahut Vanka.


" Baiklah, sekarang kita ngobrol saja, mau ngobrolin apa?" Tanya Bryan mengelus kepala Vanka.


" Mas pasti saat di pukuli Yoseph sakit banget ya Mas, maaf ya Mas aku tidak tahu dan tidak bisa menolongmu." Ucap Vanka.


" Tidak masalah sayang, Mas tidak pa pa kok, kalau sakit ya wajarlah namanya di pukul." Ujar Bryan.


" Wajar gimana? Orang kamu sampai pingsan nggak sadar sadar kok Mas, itu namanya sudah keterlaluan." Sahut Vanka.


" Iya deh iya, keterlaluan si Yoseph emang udah bikin Mas babak belur gini." Ujar Bryan mengalah karna Ia tahu jika wanita itu selalu benar.


" Tapi kamu beneran nggak pa pa kan? Kamu nggak diapa apain kan sama Yoseph gila itu?" Tanya Bryan.

__ADS_1


" Diapa apain gimana maksudmu Mas? Orang aku baik baik saja begini." Ucap Vanka.


" Ya misalnya di pukul, di peluk atau mungkin di cium gitu?" Tanya Bryan.


Glek.....


Vanka menelan kasar ludahnya mendengar pertanyaan Bryan, lidahnya kelu untuk sekedar menjawabnya. Ia takut Bryan menganggap Vanka sudah mengkhianatinya.


" Kok diem sayang? Apa kamu di peluk sama dia? Kamu di cium sama dia? Bagian mana yang dia cium sayang? Mas akan menghapus jejaknya." Ujar Bryan merubah posisi menjadi menindih tubuh Vanka.


" Eh...." Vanka nampak gugup. Ia tidak berani menatap Bryan. Ia lebih memilih memejamkan mata.


" Kenapa tidak berani menatap Mas? Apa Yoseph melakukan sesuatu kepadamu? Jangan membuat Mas berpikiran buruk kepadamu sayang, jawablah Mas tidak pa pa, Mas yakin kamu melakukannya kana terpaksa, bukan keinginan kamu sendiri." Ujar Bryan membuat hati Vanka mencelos.


Vanka merasa bersalah kepada suaminya. Cairan bening menetes begitu saja mengalir di pipinya.


" Sayang kenapa kamu menangis hmm?" Tanya Bryan mengusap air mata Vanka.


" A... Aku...." Ucap Vanka menggantung ucapannya.


" Hei lihat Mas, Mas nggak marah kok jadi kamu jangan takut, Mas hanya ingin tahu aja seberapa jauh yang Yoseph lakukan kepadamu, tapi jika kamu tidak mau mengatakannya Mas tidak pa pa sayang, jangan katakan apapun, maafkan Mas yang telah menyudutkanmu dengan pertanyaan Mas ya, lupakan pertanyaan Mas tadi." Ujar Bryan mencium pipi Vanka.


" Dia menciumku Mas." Ucap Vanka.


" Menciummu?" Tanya Bryan memastikan.


" Dia mengancam akan melenyapkan calon anak kita jika aku berani menolaknya, aku terpaksa melakukannya demi anak kita Mas, maafkan aku yang tidak bisa menjaga diriku dari pria lain." Ucap Vanka.


" Hei kenala ngomong seperti itu hmm? Mas tidak masalah karna yang kamu lakukan sudah benar, sekarang Mas akan menghapus jejak pria brengsek itu." Ucap Bryan.


Bryan mencium kedua pipi Vanka, kening Vanka dan terakhir bibir Vanka. Bryan mencecap bibir Vanka dengan lembut membuat Vanka membuka sedikit mulutnya. Keduanya saling membelitkan lidah meluapkan rasa rindu di dalam hati keduanya. Suara decapan memenuhi ruangan di dalam rumah sakit itu. Sampai....


Ceklek.....


" Ah maaf maaf.....


Hayo kira kira siapa yang datang ya????


Tunggu jawabannya di bab berikutnya...


Jangan lupa like koment vote dan hadiahnya donk biar author semangat...


Terima kasih kepada readers yang sudah mensuport author semoga sehat selalu....


Miss U All....

__ADS_1


TBC.....


__ADS_2