Pria Cacat Itu Suamiku

Pria Cacat Itu Suamiku
43. Berita Masa Lalu yang Mengejutkan


__ADS_3

Bryan melajukan mobilnya menuju rumahnya. Di perjalanan tanpa henti hentinya Bryan menggenggam tangan Vanka, sesekali Ia menciuminya.


" Mas lepas ih." Ucap Vanka.


" Kenapa sayang? Akhir akhir ini kamu selalu mencoba menghindar dari Mas." Ujar Bryan masih fokus mengemudi.


" Aku cuma malas aja." Sahut Vanka.


" Apa ini efek kehamilanmu?" Tanya Bryan menoleh ke arah Vanka.


" Aku juga nggak tahu Mas, entah mengapa rasanya aku malas berdekatan denganmu." Sahut Vanka jujur.


Bryan menghela nafasnya pelan. Ia akan menanyakan kepada Mama Kia nanti di rumah. Apakah ini bawaan bayi atau karna dari diri Vanka sendiri.


" Jika Mas ada salah sama kamu, Mas minta maaf ya, tapi Mas mohon jangan menjauh dari Mas Dek, Mas nggak sanggup jauh jauh darimu, apalagi sekarang kamu sedang hamil, Mas penginnya memanjakan kamu supaya kamu dan babby selalu bahagia." Ujar Bryan.


" Maafkan aku Mas, aku akan mencoba mengendalikan diriku." Sahut Vanka.


" Its OK sayang tidak masalah." Ucap Bryan mencium tangan Vanka.


" Oh ya, apa kamu tidak ingin makan sesuatu gitu? Atau pengin ke suatu tempat?" Tanya Bryan.


" Em.... Aku ingin makan es krim coklat gimana Mas." Ujar Vanka.


" Bisa, mau dimana makannya?" Bryan kembali bertanya.


" Di kedai es krim mana ajalah, terserah kamu Mas." Sahut Vanka.


" Baiklah, Mas akan mengantarmu ke kedai es krim paling terkenal di sini." Sahut Bryan.


" Makasih." Sahut Vanka.


Bryan menuruti kemauan Vanka karna Ia yakin kalau babbynya yang mau, karna selama ini Vanka tidak menyukai es krim. Bryan membelokkan mobilnya di kedai es krim yang Vanka minta.


" Ayo turun Dek! Pesanlah es krim sesuka hatimu." Ucap Bryan membuka pintu mobil.


" Beneran ya... Jangan sampai melarangku nanti kalau aku pesan banyak." Ujar Vanka.


" Ya tapi jangan kebanyakan sayang, nanti kalau kamu kenapa napa gimana?" Ujar Bryan.


" Lihat saja nanti Mas." Sahut Vanka.


Keduanya turun dari mobil lalu berjalan bergandengan masuk ke dalam kedai.


" Duduk sini sayang." Ucap Bryan menarik kursi untuk Vanka.


" Makasih Mas." Sahut Vanka.


" Mbak." Panggil Bryan kepada sang pelayan.


" Iya Mas mau pesan apa?" Tanya Pelayan.


" Pesan apa sayang?" Tanya Bryan menatap Vanka.


" Es krim jumbo rasa cokelat Mbak." Ucap Vanka.

__ADS_1


" Masnya mau pesan apa?" Tanya Pelayan.


" Tidak Mbak, cukup itu saja." Sahut Bryan.


" Baiklah di tunggu sebentar ya Mbak pesanannya." Ucap Pelayan undur diri.


" OK." Sahut Vanka.


" Kita harus merayakan kehamilanmu nanti malam, aku akan menelepon Mama untuk memberitahukannya." Ujar Bryan mengambil ponsel di saku kemejanya.


" Jangan Mas!" Ucap Vanka menahan Bryan.


" Kenapa?" Tanya Bryan.


" Nanti saja kalau sudah di rumah, baru kita beritahu langsung." Sahut Vanka.


" Ah iya kau benar sayang." Ucap Bryan.


" Ini pesanannya Mbak." Ucap pelayan meletakkan semangkok Es krim di depan meja Vanka.


" Makasih Mbak." Ucap Vanka.


Setelah itu pelayan meninggalkan keduanya.


" Sini Mas suapi." Ucap Bryan menarik mangkok ke arahnya.


"A' ayo." Ucap Bryan menyodorkan sesendok es krim ke mulut Vanka.


Vanka menerima suapan dari Bryan. Perlahan Ia mengunyah dinginnya es krim yang lumer di dalam mulutnya. Tiba tiba....


" Sayang kenapa? Kamu mual lagi?" Tanya Bryan panik.


Vanka berlari menuju toilet sesuai petunjuk yang ada.


Huek.... Huek...


Vanka memutahkan eskrim yang baru saja Ia telan di wastafel yang tersedia di kedai itu. Bryan menghampirinya lalu memijat tengkuknya dengan pelan.


Huek..... Huek....


" Sayangnya Daddy jangan buat Mommy seperti ini donk! Kasihan Mommynya, kalau mau muntah nanti di rumah aja." Ujar Bryan.


Vanka masih terus merasa mual sampai ada yang tiba tiba datang ingin mencuci tangannya.


" Ada apa dengan Vanka Bry?" Tanya Brayen menghampiri mereka.


" Bray? Kamu ada di sini?" Tanya Bryan.


" Iya aku baru saja datang, niatnya mau ke menemui Mama tapi Rea meminta makan es krim, jadi aku mampir dulu ke sini." Ujar Brayen.


" Vanka lagi masa ngidam Bray, dia ingin makan es krim tapi sepertinya anak kami menolaknya." Ucap Bryan.


" Iya dari dulu kan Vanka tidak suka es krim." Sahut Brayen.


Vanka membasuh mulutnya dengan air bersih lalu mengelapnya dengan tisu.

__ADS_1


" Gimana udah enakan Dek?" Tanya Bryan.


Vanka menggelengkan kepalanya.


" Bajuku basah Mas." Ucap Vanka.


" Apa kamu bawa baju ganti di mobil?" Tanya Bryan.


" Ada di bagasi Mas." Sahut Vanka.


" Baiklah Mas ambilkan dulu ya, Bray titip Vanka bentar ya." Ujar Bryan.


" OK." Sahut Brayen.


Bryan berjalan meninggalkan mereka berdua. Brayen menatap Vanka dengan tatapan sendu.


" Apa pas hamil anak kita kamu juga seperti ini?" Tanya Brayen membuat Vanka menatap tajam ke arahnya.


" Kita sudah sepakat untuk tidak mengungkit masalah anak kita ke depannya bukan?" Ujar Vanka.


" Aku ingin tahu saja, barangkali saat Rea hamil sepertimu jadi aku bisa mengantisipasinya." Sahut Brayen.


" Kamu seorang dokter jadi kamu tahu pasti soal itu Kak." Sahut Vanka.


" Melihatmu seperti ini aku jadi merasa bersalah, dulu aku mengabaikanmu dan calon anak kita Van, rasa itu sangat membekas di dalam hatiku, walaupun kini aku sudah menemukan cinta yang sebenarnya, namun sepertinya aku tidak bisa merasakan kebahagiaan yang sama saat bersamamu dulu, hidupku terasa hampa tanpa ada warna dari dirimu, setiap malam aku selalu di bayang bayangi oleh calon anak kita, dia datang dan menangis dalam gendonganku, mungkin kamu sudah memaafkanku tapi sepertinya anak kita begitu membenciku." Terang Brayen mengusap air matanya.


" Apa benar kau selalu di hantui bayangannya?" Tanya Vanka menatap Brayen dengan tatapan menyelidik.


" Iya." Sahut Brayen.


" Doakan saja untuk ketenangannya di sana Kak, katakan padanya kalau kita sudah lama mengikhlaskannya, dan aku mohon jangan pernah membahas soal ini lagi, kita sudah punya kehidupan sendiri dengan pasangan masing masing, Mas Bryan mau menerima masa laluku dengan lapang dada, tapi Rea... Rea belum tentu menerima masa lalumu seperti Mas Bryan menerimaku Kak." Terang Vanka.


" Entahlah Van, yang jelas rasa bersalah itu selalu menghantuiku, maafkan aku! Maafkan aku yang pernah menyianyiakan kalian berdua, aku ucapkan selamat atas kehamilanmu, jaga dia dengan baik dan penuh kasih sayang karna dia anak Bry, pria yang begitu menyayangimu." Ucap Brayen menangkup wajah Vanka.


" Rea kamu masih di sini? Kenapa tidak masuk saja?" Tanya Bryan hendak masuk ke toilet.


Vanka dan Brayen menoleh ke arah suara dan..


Deg.....


Keduanya saling melempar tatapan dengan jantung yang berdegup kencang. Brayen menurunkan tangannya dari wajah Vanka. Ia berjalan menghampiri Rea dengan gugup.


" Sejak kapan kamu di sini sayang?" Tanya Brayen menatap Rea.


" Saat aku keluar Rea sudah ada di sini." Sahut Bryan.


Jeduar......


Hayooo bagaimana reaksi Rea setelah mengetahui semuanya ya???


Jangan lupa like koment vote dan hadiahnya ya....


Terima kasih untuk readers yang sudah mensuport author semoga sehat selalu...


Miss U All....

__ADS_1


TBC....


__ADS_2