Pria Cacat Itu Suamiku

Pria Cacat Itu Suamiku
55. Surprise


__ADS_3

Jam menunjukkan pukul tujuh malam. Vanka baru saja keluar dari kamar mandi. Ia mengerutkan keningnya karena lampu di kamarnya mati, hanya tersisa cahaya lampu tidur saja. Vanka naik ke atas ranjang, Ia duduk bersandar pada headboard sambil menatap foto Bryan.


" Mas aku kangen banget sama kamu, entah mengapa aku merasa kamu begitu dekat denganku, sepertinya aku tidak bisa menahan rinduku lebih lama lagi, aku merindukanmu Mas, cepatlah kembali, cepat sembuh agar kita bisa sama sama lagi." Monolog Vanka memeluk foto Bryan.


" Sudah hampir dua bulan kamu meninggalkan aku tanpa kabar, apa kamu tidak merindukan aku?" Tanya Vanka.


" Aku merindukanmu sayang." Ucap seseorang tiba tiba.


Vanka menatap orang yang sedang berdiri di tepi ranjang menghadap ke arahnya. Vanka beringsut ketakutan.


" Siapa kamu?" Tanya Vanka.


Pria itu menundukkan wajahnya menatap Vanka. Mata Vanka membulat menatap pria itu.


" Mas Bry? Atau Kak Brayen?" Tanya Vanka.


" Ah nggak mungkin kalau Mas Bry, ini pasti Kak Brayen." Sambung Vanka membuat Brayen tersenyum.


" Kak Brayen ngapain kamu ke sini? Keluar Kak jangan membuat Rea berpikir macam macam tentang kita." Ujar Vanka. Pria itu hanya tersenyum.


" Jangan senyam senyum begitu Kak, sekarang pergilah ku mohon sebelum Rea ke sini." Ucap Vanka menarik tangan Brayen keluar kamar.


Ceklek...


Vanka membuka pintunya, Ia mendorong pelan tubuh Brayen.


" Re... Rea." Lirih Vanka saat melihat Rea berdiri di depan kamarnya. Vanka menatap Brayen yang hanya diam saja.


" Kenapa kamarmu gelap Van?" Tanya Rea.


" A.. Aku tidak tahu, tiba tiba tadi saat aku ke luar dari kamar mandi, lampunya sudah mati." Sahut Vanka gugup.


" Lalu...." Rea menatap ke arah Brayen seolah bertanya kenapa Brayen ada di kamarnya.


" A... Aku nggak tahu kalau Kak Brayen ada di kamarku, kamu jangan berpikir macam macam ya, aku tidak tahu apa apa, dan aku juga tidak ada hubungan apa apa dengan Kak Brayen." Sahut Vanka khawatir Rea akan berprasangka buruk kepadanya.


" Apa aku harus mempercayaimu setelah apa yang aku lihat sekarang ini?" Tanya Rea.


" Kamu harus percaya padaku Rea, aku nggak mungkin melakukan hal hal buruk dengan Kak Brayen." Ujar Vanka.


" Kenapa tidak mungkin? Bahkan selama ini kalian seperti suami istri, apa apa kamu mengandalkan Mas Dirga Kan?" Ucapan Rea membuat Vanka melongo.


Apakah ini sifat asli dari Rea? Atau Rea hanya sedang kesal saja? Pikir Vanka merasa bersalah.


" Maafkan aku Re kalau aku terlalu bergantung dengan Kak Brayen, tapi aku sama sekali tidak ada perasaan apa apa padanya, cintaku hanya untuk Mas Bry seorang." Sahut Vanka.


" Siapa yang bisa menjamin kalau kamu akan tetap setia dengan Kak Bryan dan tidak tertarik dengan Mas Dirga lagi? Apalagi Kak Bryan sampai sekarang belum juga kembali." Ucap Rea.


" Kenapa kau berpikir seperti itu? Serendah itukah aku di matamu?" Tanya Vanka dengan mata nanar.


Sakit... Namun tidak berdarah mendengar hinaan dari mulut iparnya.

__ADS_1


" Segala kemungkinan bisa terjadi Van." Ucap Rea.


" Kak Brayen katakan sesuatu pada Rea kalau kita tidak punya hubungan apa apa." Ucap Vanka menyenggol lengan Brayen. Brayen tidak bergeming.


" Kak Brayen... Ih semua ini karena salahmu, aku sudah bilang keluar dari kamarku kamu malah diam aja." Gerutu Vanka.


" Kenapa kamu membawa bawa namaku?" Tanya Brayen menghampiri mereka.


Vanka membulatkan matanya. Ia menatap Brayen dan pria yang Ia kira Brayen bergantian.


" Kenapa Kak Brayen ada dua? Atau yang itu memang Mas Bry? Atau aku hanya halusinasi saja?" Tanya Vanka dalam hatinya.


" Van kamu kenapa?" Tanya Rea mengguncang pelan bahu Vanka.


Tiba tiba....


Brugh....


" Vanka." Teriak Rea.


" Vanka."


" Sayang." Ucap kedua lelaki itu bersamaan.


Brayen segera membopong Vanka masuk ke dalam kamar, sedangkan Rea menyalakan lampunya.


" Sayang bangunlah Dek, maafkan Mas yang sudah mengagetkanmu, Mas mohon bangunlah, jangan membuat Mas khawatir, sayang.... Mas mohon bangunlah, Mas pulang... Mas kembali hanya untukmu dan anak kita, Mas mohon sadarlah sayang." Ucap Bryan menggenggan tangan Vanka.


" Maafkan Mas, niat Mas ingin membuat kejutan untuk kamu, tapi malah membuatmu seperti ini, sayang bangunlah, maafkan Mas sayang." Sambung Bryan mencium tangan Vanka.


" Aku tidak kenapa napa kok Mas." Ucap Vanka membuka matanya.


Bryan, Brayen dan Rea saling melempar tatapan. Tatapan mereka tertuju kepada Vanka lagi.


" Kenapa menatapku seperti itu?" Tanya Vanka bersandar pada headboard.


" Kamu mengerjai kami?" Tanya Rea menyelidik.


" Tentu saja, bukan hanya kalian yang bisa membuat surprise, aku juga bisa kan." Ucap Vanka melipat kedua tangan di depan dadanya.


" Astaga sayang..... Jadi kamu hanya pura pura tadi? Kamu membuat jantung Mas hampir copot Dek." Ujar Bryan merasa tertipu.


" Kamu juga Mas, salah sendiri ngerjai istei nggak kira kira." Sahut Vanka cemberut.


" Iya deh Mas minta maaf karena mengerjaimu, Mas salah." Ucap Bryan.


" Ya jelas lah Mas yang salah." Sahut Vanka.


" Iya deh Mas salah, Mas minta maaf ya." Ucap Bryan.


" Peluk." Rengek Vanka manja sambil merentangkan kedua tangannya.

__ADS_1


Grep....


Bryan langsung memeluk Vanka dengan erat.


" Aku sangat merindukanmu Mas." Ucap Vanka.


" Mas juga sangat merindukanmu Dek." Sahut Bryan menciumi pucuk kepala Vanka.


Keduanya meluapkan perasaan rindu masing masing lewat pelukan. Sadar jika keduanya butuh waktu berdua, Rea menarik tangan Brayen meninggalkan kamar Bryan. Rea menutup pintunya dengan pelan.


" Aku mencintaimu sayang." Ucap Bryan menangkup wajah Vanka dengan kedua tangannya.


" Aku juga sangat mencintaimu Mas, aku bahagia banget dengan pertemuan ini Mas, aku tidak sabar menanti hari ini, hari dimana kita akan bertemu lagi." Ujar Vanka.


" Maafkan Mas yang telah meninggalkanmu tanpa kabar, bukan maksud Mas menghindari ataupun mengabaikanmu tapi seperti yang tadi kamu dengar, Mas hanya tidak ingin setelah mendengar suaramu Mas semakin merindukanmu dan cepat cepat ingin pulang sebelum Mas sembuh." Terang Bryan.


" Aku memaafkanmu Mas." Sahut Vanka.


Bryan memajukan wajahnya membuat Vanka memejamkan matanya. Bryan mencecap lembut bibir Vanka. Vanka membalas ciuman Bryan tak kalah lembutnya. Keduanya saling menikmati nikmatnya bertukar saliva, suara decapan memenuhi ruang kamar mereka.


Setelah keduanya kehabisan nafas, Bryan melepas pagutannya. Ia mengusap pelan bibir Vanka menggunakan jempolnya.


" Makasih sayang." Ucap Bryan.


" Sama sama Mas." Sahut Vanka kembali memeluk Bryan.


Sebenarnya Bryan menginginkan hal lebih, namun Ia khawatir dengan kondisi Vanka yang masih lemah. Ia akan menahannya sampai Vanka kembali pulih seperti semula.


" Sekarang tidurlah, kita akan lanjutkan mengobrol esok hari." Ujar Bryan mendorong pelan tubuh Vanka ke atas ranjang.


" Iya Mas." Sahut Vanka.


" Good night sayang." Ucap Bryan mencium kening Vanka.


" Night too." Sahut Vanka.


Vanka tidur dalam pelukan Bryan. Pelukan nyaman yang sangat Ia rindukan selama ini. Keduanya memasuki alam mimpi yang indah bersama sama.


Yang minta Bryan pulang udah author pulangin dengan selamat ya....


Kasih hadiah buat author donk... Kan biaya pesawat memulangkan Bryan mahal


Hhhh Canda ya...


Jangan lupa like koment vote dan hadiahnya..


Terima kasih untuk reader yang selalu mensuport author... Semoga sehat selalu...


Miss U All...


TBC.....

__ADS_1


Dukung karya author yang satu ini... Tapi mohon maaf untuk saat ini masih dalam tahap revisi.. Masukin ke favorite dulu ya... Kalau udah selesai revisi author kasih info lagi.. Terima kasih.....



__ADS_2