
Pagi menyingsing membuat Dirga mengerjapkan matanya. Ia segera turun dari ranjang menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Lima belas menit kemudian, Dirga keluar kamar mandi hanya menggunakan handuk yang menutupi bagian bawahnya saja.
" Aaaaaa." Teriak Rea menutup matanya saat tiba tiba Ia menyelonong masuk ke kamar Dirga.
Bukannya masuk ke kamar mandi, Dirga justru hanya menatap Rea saja. Walaupun rumah Rea terlihat sederhana tapi fasilitas kamar mandi ada di dalam setiap kamar. Nggak kalah lah sama rumah rumah elite. Rea mengintip Dirga dari celah celah tangannya.
" Kenapa kamu mandinya lebih awal? aku belum menyiapkan pakaian untukmu, besok jangan lakukan lagi, kalau kamu mandi duluan sebelum aku menyiapkan baju nanti kamu bisa kedinginan karena terlalu lama menungguku menyiapkan bajumu, kamu membuat mataku ternoda saja dengan melihat tubuhmu yang begitu sempurna itu." Omel Rea.
" Eh dia tahu nggak ya maksud ucapanku? Haduh malu banget kalau dia tahu apa maksudku, Ah bodo' amatlah aku nggak peduli." Batin Rea.
" Sekarang cepat masuk ke dalam kamar mandi lagi dan jangan keluar sebelum aku memanggilmu." Sambung Rea tanpa melihat Dirga.
Dirga segera masuk ke dalam kamar mandi, sedangkan Rea berjalan menuju almari pakaian yang menyimpan baju baju Dirga. Ya walaupun hanya beberapa baju saja sih. Rea menyiapkan baju untuk Dirga, lalu Ia letakkan di atas ranjang.
" Berasa jadi seorang istri beneran yang nyiapin segala keperluan suami kalau begini, dari pakaian sampai makanan bahkan pakaian dalam juga... Oh my god... Sampai kapan aku akan terus begini? Segera sembuhkan Mas Dirga agar kegalauan dalam hatiku segera berakhir, aku tidak mau mencintai pria yang tidak jelas statusnya.... Hah perasaan ini begitu menyiksaku Tuhan." Gerutu Rea sambil melipat selimut yang di gunakan Dirga semalam. Ia membereskan ranjang Dirga dengan cepat karna khawatir Dirga akan kedinginan.
" Pakai bajunya dengan benar, aku tunggu di meja makan untuk sarapan." Teriak Rea di depan kamar mandi.
Ceklek...
Mendengar pintu kamar mandi di buka, Rea segera berlari keluar kamar. Dirga keluar dari kamar mandi lalu Ia segera memakai bajunya. Ya memakai baju saja awalnya Dirga di ajari oleh Pak Ruli. Setelah selesai Ia berjalan menuju meja makan.
" Pagi Dirga." Sapa Pak Ruli yang di balas senyuman oleh Dirga.
" Ya ampun Mas.... Kenapa kamu juga tidak bisa menyisir rambut sih! Kamu itu manusia atau alien yang nyasar ke bumi?" Cebik Rea menatap rambut Dirga yang acak acakkan. Dirga hanya menggelengkan kepalanya saja.
" Rea nggak boleh gitu sayang, Dirga manusialah buktinya dia memiliki darah yang sama dengan kita." Ujar Pak Ruli.
" Iya Yah maaf." Sahut Rea.
" Sebentar aku ambil sisir dulu." Sambung Rea berjalan menuju kamar Dirga.
Tak lama Rea kembali dengan membawa sisir ditangannya.
" Sini rapiin dulu rambutnya." Ucap Rea menyisir rambut Dirga.
Dirga menatap wajah Rea yang cantik alami.
" Dah selesai, kalau begini kan jadi kelihatan gantengnya." Ujar Rea menatap Dirga.
Untuk beberapa saat keduanya saling tatap.
Deg... deg.... deg....
Jantung Rea berdebar dengan kencang seperti genderang mau perang.
" Oh my god jantungku.... " Batin Rea.
Ehm.... ehm......
__ADS_1
Deheman Pak Ruli menyadarkan Rea dari lamunannya. Ia segera meletakkan sisirnya di atas meja lalu mengambilkan makanan untuk Dirga.
" Sekarang makanlah nanti aku akan mengajakmu jalan jalan." Ucap Rea.
Dirga menganggukkan kepalanya.
Rea, Dirga dan Pak Ruli makan dengan khidmat. Setelah selesai Pak Ruli berangkat ke peternakan. Kali ini Pak Ruli tidak hanya menjual susu tapi juga menjual sapi. Ia memanfaatkan peluang yang mendekati lebaran haji.
Rea mencuci piring di dapur sedangkan Dirga terus mengikuti di belakangnya.
" Mas kamu duduk aja, nggak usah mengikuti aku terus, aku nggak bisa bergerak bebas Mas." Ujar Rea mendudukkan Dirga di kursi yang ada di meja makan.
" Rea.... Andrea." Teriak seorang pria dari depan.
Rea segera berlari menghampiri pria itu di ikuti Dirga dari belakang. Pria yang menyukai Rea selama beberapa tahun ini. Ia bernama Revan, seorang manager di sebuah pabrik sparepart di kota J.
" Ngapain teriak teriak di rumah orang." Ucap Rea tidak suka.
Revan menatap Dirga dengan tatapan kebencian.
" Kenapa kamu lebih memiih pria gagu ini untuk menjadi calon suamimu daripada aku yang jelas jelas sempurna dan punya segalanya." Ucap Revan sombong.
Revan baru saja pulang dari ibukota, Ia tidak terima mendengar wanita yang Ia cintai selama ini memiliki calon suami. Apalagi pria itu dalam keadaan tidak normal.
" Terserah aku donk mau pilih siapa, yang jelas Mas Dirga jauh lebih baik daripada kamu, pria kasar yang suka memaksa dan semaunya sendiri." Cebik Rea.
" Lepaskan! Aku tidak mau, lagian ayahku tidak akan mau menjadi walinya, dia tidak sudi punya menantu sepertimu." Ujar Rea membuat emosi Revan memuncak.
" Aku akan memaksa ayahmu untuk menikahkan kita sekarang juga, jangan kau pikir aku tidak bisa melakukannya Andrea sayang." Tekan Revan.
" Ayo." Ucap Revan kembali menarik Rea, namun Rea mencoba memberontak hingga tubuhnya terhuyung ke belakang.
" Awh." Pekik Rea saat dirinya terjerembab ke lantai dan keningnya terpentok ujung meja hingga mengeluarkan sedikit darah.
Melihat itu Dirga mengepalkan erat tangannya. Ia mendekati Revan dan...
Bugh....
Dirga memukul wajah Revan dengan keras hingga menimbulkan lebam di pipinya.
" Sialan kau." Teriak Revan menghampiri Dirga.
Bugh... Bugh... Bugh....
" Dirga..... " Teriak Rea menghampiri Dirga yang tersungkur di lantai setelah di pukuli oleh Revan.
" Tolong.... Tolong...." Teriak Rea berharap ada tetangga yang mau menolongnya.
Tidak mau mengambil resiko, Revan segera pergi meninggalkan rumah Rea.
__ADS_1
" Mas Hiks...." Isak Rea menangkup wajah Dirga yang mengeluarkan darah di sudut bibirnya.
Dirga mengusap air mata Rea sambil menggelengkan kepalanya.
" Maafkan aku, karena aku kamu jadi terluka seperti ini." Ucap Rea mengusap darah di sudut bibir Dirga. Dirga menganggukkan kepalanya.
" Aku akan membalas perbuatan Revan kepadamu nanti, aku tidak akan melepaskan Revan begitu saja." Ujar Rea.
Dirga menangkup wajah Rea, Ia memajukan wajahnya membuat tubuh Rea mematung.
Cup.....
Dirga menempelkan bibirnya di kening Rea yang terluka dengan lama. Rea memejamkan matanya. Entah mengapa kecupan Dirga begitu menghangatkan hatinya.
Setelah hampir lima menit Dirga menjauhkan bibirnya dari kening Rea, Ia menatap wajah Rea lalu memeluk tubuh Rea dengan erat. Untuk sesaat mereka saling memeluk dengan perasaan masing masing. Rea melepas pelukannya lalu mengelus pipi Dirga yang lebam.
" Apa ini sakit?" Tanya Rea. Dirga menggelengkan kepalanya.
" Tidak mungkin kalau ini tidak sakit, kamu bohong." Ujar Rea.
Dirga kembali menggelengkan kepalanya. Dirga mengusap lembut kening Rea seolah bertanya sakit atau tidak.
" Jangan khawatir ini juga tidak sakit kok." Ucap Rea.
" Sekarang duduklah di sana, aku akan mengompres lukamu." Ujar Rea membantu Dirga berdiri lalu Ia mendudukkan Dirga di sofa.
" Aku ambil es batu dulu ya, jangan kemana mana." Ujar Rea yang di balas anggukan kepala oleh Dirga.
Rea berjalan ke dapur untuk mengambil es batu. Setelah itu Ia kembali menghampiri Dirga. Rea membungkus es batu dengan sebuah sapu tangan. Setelah itu Ia tempelkan di pipi Dirga dengan pelan.
Dirga menatap wajah Rea, Ia mengambil es batu dari tangan Rea, lalu menempelkannya di kening Rea. Rea menatap ke arah Dirga yang saat ini juga menatapnya. Sadar akan perasaannya yang tidak menentu, Rea segera meminta kembali bungkusan es batu yang sudah mulai mencair.
" Jangan terlalu perhatian padaku Mas, aku takut tidak bisa menahan perasaan yang ada di hatiku, bersikaplah layaknya orang asing." Ucap Rea meninggalkan Dirga menuju kamarnya.
Dirga menatap bingung kepergian Rea. Ingin sekali Dirga menyusul Rea, namun Ia mengurungkan niatnya. Ia terus menatap pintu kamar Rea yang tertutup. Ia berharap Rea akan segera membukanya.
Baper nggak sih????? Baper donkkkk
Kita masih akan melihat kehidupan Dirga dan Rea sebelum bertemu dengan keluarganya ya...
Biar nanti nggak penasaran dirga itu Brayen atau bukan hhhhh
Jangan lupa like koment vote dan hadiahnya biar author tambah semangat ya....
Terima kasih untuk readers yang sudah mensuport author... Semoga sehat selalu...
Miss U All
TBC ....
__ADS_1