Pria Cacat Itu Suamiku

Pria Cacat Itu Suamiku
33. Kamulah Penyembuhku


__ADS_3

" Kak Brayen." Ucap Vanka menatap Brayen yang kini sedang menatapnya juga. Bibir Brayen bergetar seolah ingin mengeluarkan suaranya, Ia menatap wajah Vanka dengan seksama.


Dan......


" Vanka sayang." Ucap Dirga memeluk tubuh Vanka dengan erat.


Deg....


Jantung Rea serasa berhenti berdetak. Nafasnya tercekat membuat dadanya merasa sesak saat mendengar ucapan pertama yang Dirga keluarkan dari bibirnya.


" Vanka sayang???? Apakah dia pacar Mas Dirga? Atau apakah dia istri Mas Dirga? Oh Ya Tuhan... Kenapa rasanya dadaku begitu sakit? Sekarang aku yakin kalau aku memang sudah jatuh cinta dengan Mas Dirga." Gumam Rea dalam hatinya.


Rea menatap Bryan yang hanya menatap Vanka dan Dirga saja. Ia mengerutkan keningnya kala melihat wajah yang sama dengan Dirga.


" Apakah mereka kembar? Kok wajahnya mirip ya?" Tanya Rea dalam hatinya lagi.


" Kak Brayen... Hiks... Hiks... Kamu masih hidup Kak, aku sangat bahagia melihatmu masih bisa berdiri di sini Kak, aku tidak menyangka kalau kita akan bertemu lagi." Isak Vanka dalam pelukan Brayen.


Untuk sesaat Vanka lupa dengan suaminya. Mungkin karena terlalu bahagianya Vanka melihat Brayen masih hidup. Walaupun sebenarnya hati Bryan memanas dan ingin memukuli wajah Brayen namun Ia menahannya. Ia tidak mau merusak moment bahagia yang Ia dan Vanka rasakan.


" Aku kangen sama kamu Van, hiks... aku yakin cintaku mampu menuntunmu untuk menemukan aku di sini.... Cintaku menunjukkan jalannya padamu." Ucap Dirga yang ternyata memang Brayen.


Entah bagaimana Tuhan memberikan keajaiban dan mukjizatnya kepada Brayen sehingga dengan mudah Ia bisa berbicara kembali setelah bertemu dengan Vanka. Ia sangat bahagia bisa bertemu dengan Vanka lagi.


Bryan mendekati Brayen dan Vanka yang masih saling melepaskan kerinduan yang mendalam lewat pelukan mereka.


" Bray." Ucap Bryan menepuk pundak Brayen.


Brayen dan Vanka melepas pelukan mereka. Brayen menoleh ke arah Bryan. Ia segera memeluk Bryan seperti Ia memeluk Vanka.


" Ini benar benar kamu Bray? Aku tidak menyangka ternyata kau masih hidup, kau selamat dari maut Bray... Aku bahagia untukmu Bray..." Ucap Bryan dengan hati yang berbunga bunga.


" Aku juga sangat bahagia akhirnya aku bisa bertemu lagi denganmu Bry." Sahut Brayen.


" Aku akan memberikan kejutan untuk Pap dan Mama Bry." Sambung Brayen.


" Kejutan apa?" Tanya Bryan.


" Nanti lo akan tahu sendiri." Sahut Brayen.


" Ehm ehm." Dehem Rea.


Bray melepas pelukannya. Brayen, Bryan dan Vanka menatap ke arah Rea yang berdiri tak jauh dari mereka.


Brayen mendekati Rea.


" Rea kenalkan ini Bryan saudara kembarku dan ini Vanka istrinya." Ucap Brayen memperkenalkan mereka kepada Rea.


" Aku Rea." Ucap Rea mengulurkan tangannya kepada Bryan.


" Bryan." Sahut Bryan.


" Rea." Ucap Rea bergantian menyalami Vanka.

__ADS_1


" Aku Vanka, terima kasih sudah menyelamatkan dan merawat Kak Brayen selama ini, kami mohon maaf jika kami memberikan beban kepadamu." Ujar Vanka.


" Tidak masalah, bukankah sudah kewajiban kita untuk saling menolong sesama." Sahut Rea.


" Aku ikut bahagia atas kebahagiaan kalian semua, aku tidak menyangka kalau Mas Dirga langsung bisa bicara saat bertemu denganmu Nona Vanka, entah mengapa aku merasa kalau kamu wanita yang begitu istimewa untuknya, kamu penyembuh bagi sakit yang di derita Mas Dirga selama ini." Ucap Rea menatap Vanka.


Vanka menoleh ke arah Brayen dan Bryan, lalu Ia menatap Rea dan tersenyum kepadanya.


" Aku memang wanita istimewa untuk Kak Brayen, namun saat ini semua itu sudah menjadi masa lalu, sekarang aku hanya sebagai adik iparnya saja." Sahut Vanka tidak kaget dengan penyakit yang di ucapkan Rea karena Ia sudah tahu sebelumnya.


" Tapi sepertinya Mas Dirga masih sangat menyayangimu." Ujar Rea.


" Mungkin, aku sendiri juga tidak yakin." Sahut Vanka mengedikkan bahunya.


" Mas Dirga aku ucapkan selamat untukmu, selamat karena kamu sudah bertemu dengan keluargamu dan selamat karena kamu sudah bisa berbicara lagi, maafkan aku jika selama ini aku sering memarahi dan menghujatmu, tapi aku tidak bermaksud untuk melukai perasaanmu." Ucap Rea menatap Brayen.


" Terima kasih atas bantuanmu Rea, aku doakan semoga Tuhan membalas semua kebaikanmu dengan suatu kebahagiaan." Ucap Brayen.


"Kebahagiaanku ada bersamamu Mas." Batin Vanka.


" Semoga saja Mas, kalau begitu aku permisi." Sahut Rea hendak melangkah tapi Brayen mencekal tangannya.


" Jangan pergi." Ucap Brayen menatap Rea. Begitupun sebaliknya.


" Kenapa? Kamu sudah menemukan keluargamu, kamu sudah tidak bisa tinggal di sini lagi, sekarang pulanglah bersama mereka, aku akan pulang ke rumah." Ujar Rea melepaskan cekalan Brayen. Sebenarnya hati Rea begitu perih dengan ucapannya sendiri. Namun Ia harus menahannya karena Ia tidak mau berharap banyak dengan perasaannya.


Rea berjalan meninggalkan Brayen dengan perasaan yang benar benar tak menentu. Tiba tiba ...


Grep....


Bryan dan Vanka saling melempar pandangannya. Bryan tersenyum ke arah Vanka yang di balas senyuman oleh Vanka.


" Apa kau mengusirku? Apa kau tidak mau mengurusku lagi karena aku telah menemukan keluargaku? Kau mau aku pergi dari sini?" Tanya Brayen. Rea menggelengkan kepalanya.


" Lalu? Kenapa kau menyuruhku pulang?" Tanya Brayen membalikkan badan Rea.


Brayen menatap Rea dalam dalam, Ia merapikan anak rambut Rea. Jantung Rea berdegup dengan sangat kencang seperti mau lepas dari tempatnya.


" Aku akan pulang bersama mereka...


" Ya silahkan, pulanglah dengan mereka dan hati hati di jalan, semoga selamat sampai tujuan." Sahut Rea memotong ucapan Brayen.


" Hei aku belum selesai bicara." Ujar Brayen.


" Aku akan pulang dengan mereka, tapi kau harus ikut denganku." Sambung Brayen.


" Aku harus ikut denganmu? Kenapa?" Tanya Rea mengernyitkan dahinya.


" Ya kau harus ikut denganku, karena aku tidak mau berpisah denganmu." Sahut Brayen.


" Kita tidak ada hubungan apa apa, jadi aku tidak bisa ikut denganmu Mas." Ujar Rea.


" Kalau begitu jadilah istriku, dengan begitu kita akan memiliki hubungan selamanya kan." Ucap Brayen.

__ADS_1


" Jadi istrimu? Lalu bagaimana dengan perasaanmu kepada Vanka? Kau mencintai Vanka bukan mencintaiku Mas." Ujar Rea.


" Kalau begitu buatlah aku jatuh cinta padamu, maka semua akan menjadi lebih mudah bukan." Sahut Brayen.


" Mas Dirga kamu...." Ucap Rea.


" Ya, aku akan menikahimu setelah aku bertemu dengan orang tuaku, untuk itu kau harus ikut bersamaku, kita akan temui mereka bersama sama." Ucap Brayen.


" Kamu mau kan? Kalau kamu mau aku akan meminta ijin kepada Ayah." Sambung Brayen.


" Tapi...


" Aku tahu kalau kamu pasti mau, aku sering mendengarmu mengatakan kalau kau menyukaiku dan tidak rela jauh dariku." Ucap Brayen.


Blushhh....


Pipi Rea memerah menahan malu karena ternyata Brayen memahami semua yang di ucapakannya.


" Tidak perlu malu begitu donk, sekarang ayo kita pulang! Kita tunggu kedatangan Ayah untuk membicarakan semua ini." Ujar Brayen.


" Baiklah Mas ayo." Sahut Rea.


" Oh ya Kak Bry dan....


" Vanka aja." Sahut Vanka seolah mengerti apa yang Rea resahkan.


" Ah baiklah, Kak Bryan dan Vanka ikut mampir ke rumah ya, aku akan mengenalkan kalian pada Ayahku." Ucap Rea.


" Tentu saja." Sahut Bryan dan Vanka serempak.


" Kami juga ingin berterima kasih kepada Ayahmu." Sambung Vanka.


" Kalau begitu mari." Ucap Rea.


Mereka berempat berjalan menuju rumah Rea. Brayen dan Rea di depan, sedangkan Bryan dan Vanka mengikuti dari belakang. Di dalam perjalanan Bryan terus menggenggam tangan Vanka.


" Terima kasih sayang kau telah berhasil menemukan saudaraku, ternyata instingmu begitu kuat di bandingkan aku." Ucap Bryan mencium tangan Vanka.


" Sama sama Mas, dan maaf kalau tadi aku membuatmu terluka karna tanpa sadar aku memeluk Kak Brayen lama." Ujar Vanka.


" Tidak masalah sayang, anggap saja itu kesempatan terakhir yang Mas berikan kepadamu." Tutur Bryan.


" Baiklah aku akan mengingatnya." Sahut Vanka.


TBC....


Readers mau Brayen bahagia atau tunggu nanti dulu nih??


Tulis di kolom komentar ya....


Jangan lupa untuk selalu like koment vote dan hadiahnya ya biar author semangat nulisnya....


Terima kasih untuk readers yang selalu mensuport author...

__ADS_1


Semoga sehat selalu.....


Miss U All...


__ADS_2