
Kia mengerjapkan matanya, Ia menatap tangan yang melingkar pada perutnya dengan penuh tanda tanya.
" Kenapa mama tidurnya persis kaya' mas Indra ya.... Jadi geli aku, tapi tunggu, cincin ini... Ah rese' ini mah, mas Indra sama mama kerja sama. Awas kamu mas, akan aku balas dirimu." Ujar Kia dalam hati, setelah tahu kalau itu tangan suaminya.
Kia turun dari ranjang dengan hati hati, Ia tidak mau membuat Indra terbangun. Setelah berhasil, Kia segera menuju kamarnya untuk mandi. Selesai berdandan, Ia segera pergi menggemudikan mobilnya menuju kostan Lia. Kia ingin memberi pelajaran pada suaminya. Katanya biar suaminya uring uringan mencarinya. Setelah sampai di kostan Lia, Kia segera turun dan mengetok pintu.
Tok..tok..tok... Tak lama pintu terbuka dari dalam dan menampilkan Lia yang masih mengucek matanya.
" Kutu busyet.... Lo kira kira donk beb kalau mau bertamu, Jam berapa ini neng." Cerocos Lia. Kia melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
" Sudah jam 6 ogeb, anak perawan gak baik bangun siang siang ntar jauh jodohnya, alamat jadi perawan tua lo." Ujar Kia sambil nyelonong masuk kedalam.
" Sayangnya gue udah gak perawan." Jawab Lia keceplosan.
" What..." Pekik Kia.
" Aku yang sudah nikah aja masih ting ting, kenapa kamu yang gadis palah tong tong." Tanya Kia.
" Kok tong tong sih." Tanya Lia bingung
" Ya tong lah kan udah bolong." Kia menoyor kepala Lia, kemudian duduk di sofa yang berukuran kecil, karna ruangannya sempit.
" Rese' Lo... pala gue nih." protes Lia
" Bodo'." ketus Kia.
" Siapa yang sudah unboxing itu mu." Kia menatap Lia dengan tatapan menyelidik.
" Enggak ada, aku asal ucap tadi." Kilah Lia.
" Jangan boong beb, kita sahabatan dah kaya' saudaraan, jadi lo gak bisa ya bohongin aku." Lia semakin salah tingkah, Ia tidak mau membuka aibnya sendiri di depan sahabatnya ini.
__ADS_1
" Kamu masih mau diem?. It's Ok, gue gak mau ya kalau suatu hari nanti, lo nangis nangis ke gue, terus nyuruh gue cari bapak dari bayi yang lo kandung." Ancam Kia, jika Kia bicara pakai lo gue berarti dalam mode waspada.
" Sialan, kamu nyumpahin aku hamil di luar nikah gitu." Lia melempar bantal sofa ke arah Kia yang di tangkap oleh Kia.
" Makanya cepet katakan donk, Best friend No Screet." Titah Kia.
" Dia... dia..." Ucapan Lia menggantung.
Sedangkan di tempat lain, tepatnya di rumah Indra, Indra sedang uring uringan mencari istrinya yang pergi tanpa pamit. Ia berkali kali menelpon Kia tetapi tidak aktif. Ya Kia memang mematikan ponselnya karna Ia tidak mau ada yang mengganggunya saat ini. Kia masih fokus mendengar nasib buruk yang dialami sahabatnya.
" Say.. kamu dimana... apa kamu benar benar ninggalin aku. Aku mengaku salah tapi aku mohon jangan tinggalin aku..." Pikir Indra dalam hatinya. Ternyata Kia tidak bisa di ajak main main.
" Ndra kamu gak kekantor." Tanya mama saat mereka di meja makan.
" Malas ma, aku mau cari Kia." Jawab Indra.
" Emang Kia kemana." Sahut mama.
" Jangan jangan ..Kia cari pria yang mau di ciumnya lagi." Ucap mama.
Klutik... Indra meletakkan sendoknya dan segera pergi dari sana, mama merasa bersalah melihat Indra yang tidak jadi sarapan karna ucapannya.
" Kia... cepet pulang nak, sebelum rumah ini runtuh karna kemarahan Indra. Sudah lama jiwa tempramennya tidak kambuh." Gumam mama dalam hati.
Prang......prang......
" Astaga, baru di bilang udah meledak duluan tuh emosi, haduh aku harus menghubungi Kia sekarang juga, semoga nomernya sudah aktif." Monolog mama.
Mama segera mengambil ponselnya dan menghubungi Kia, beruntung teleponnya sudah tersambung.
" Halo ma." Sapa Kia setelah mengangkat panggilannya.
__ADS_1
" Gawat Ki, cepet pulang Indra marah besar, mama takut." Ucap mama cemas.
" Aku udah di depan rumah ma." Kia mematikan sambungan teleponnya, Ia segera berlari kedalam menghampiri mama Meri.
" Ada apa ma." Tanya Kia dengan nafas tersengal.
" Lihatlah sendiri di kamar." Ujar mama.
Kia berjalan menaiki tangga menuju kamarnya, Ia terkejut setelah Ia membuka pintu kamarnya, Seisi ruangan kamarnya hancur berantakan. Ia menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
" Kau jahat Kia, mengapa kamu terus membujukku untuk menikahimu, jika pada akhirnya kau meninggalkan aku juga, Apa Kau malu punya suami cacat sepertiku, kau pembohong arghhh." Teriak Indra sambil menyapu barang barang yang ada di meja rias Kia.
Indra duduk di atas ranjang dengan penampilan kacau. Jiwanya kembali minder, Ia berpikir kalau Kia benar benar meninggalkannya. Hati Kia mencelos mendengar dan melihat keterpurukan suaminya. Bagaimana kalau Ia benar benar meninggalkannya?. Lalu Kia segera menghampiri suaminya.
" Mas..." Kia menyentuh pundak Indra.
Indra mendongak, Ia menatap Kia dengan tatapan nanar.
" Kau...kau kembali." Indra berdiri di hadapannya. Ia menangkup wajah Kia.
" Kau tidak pergi meninggalkan aku." Tanya Indra.
" Tidak akan pernah, aku akan selalu bersamamu." Tegas Kia.
Indra segera memeluk Kia dengan erat. Sesekali Ia menciumi pucuk kepala Kia.
" Maafkan aku...Aku mohon, Jangan pernah tinggalkan aku, Aku rapuh tanpamu, Aku tidak bisa hidup tanpamu, A..aku tidak bisa bernafas tanpa kehadiranmu, Aku sangat mencintaimu, sayang..." Oceh Indra masih terus memeluk Kia, seolah olah Kia akan pergi jika Ia melepas pelukannya. Air matanya terus meleleh. Indra tidak malu menunjukkan dirinya yang rapuh.
Mama mengusap air matanya, Mama terharu dengan melihat betapa besarnya cinta putranya untuk menantunya. Tiba tiba...
Brugh....
__ADS_1
TBC.....