Pria Cacat Itu Suamiku

Pria Cacat Itu Suamiku
21. Kenangan


__ADS_3

Setelah pulang dari rumah sakit, Brayen membawa Vanka ke kamarnya. Tentunya dengan perjanjian kalau Brayen tidak akan berbuat lebih. Bryan dan kedua orang tuanya tidak bisa berbuat apa apa, lagi lagi karena kondisi Vanka yang masih lemah saat ini.


Ceklek.....


Brayen membuka pintu kamarnya.


" Silahkan masuk sayang." Ucap Brayen menggandeng tangan Vanka masuk ke dalam.


Valen menatap kamar yang sangat asing baginya. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kamar. Entah mengapa Vanka merasa belum pernah masuk ke dalam sebelumnya.


" Ingat gue udah masang cctv di setiap sudut kamar lo, jadi jangan pernah lo berbuat macam macam sama istri gue." Bisik Bryan di telinga Brayen.


" Tenang saja, gue akan menggunakan cara sehat buat dapetin Vanka lagi." Sahut Brayen.


" lo harus tidur di sofa." Ucap Bryan.


" Hmm." Gumam Brayen.


" Mas ini kamar kita?" Tanya Vanka menatap Brayen.


" Iya sayang, kenapa?" Tanya Brayen mendekati Vanka.


" Kok rasanya sangat asing Mas, kalau sebelumnya aku tinggal di sini harusnya aku sedikit mengingatnya kan?" Tanya Vanka.


" Karna ini bukan kamarmu sayang, Mas berharap kamu cepat mengingat Mas sayang." Batin Bryan.


" Ya namanya lupa ingatan sayang, sekarang istirahatlah." Sahut Brayen.


" Baiklah Mas." Sahut Vanka.


" Bry biarkan Vanka istirahat, sekarang kita keluar." Ajak Brayen keluar kamar.


" Selamat tidur Vanka." Ucap Bryan.


Vanka menatap Bryan begitupun sebaliknya.


Selamat malam sayang semoga mimpi indah, Mas akan memelukmu di sini


Vanka seperti mendengar kata itu dari Bryan. Vanka menatap punggung Bryan yang keluar dari kamarnya.


"Kenapa rasanya begitu hampa masuk ke dalam kamar ini? Apa benar ini kamarku?" Monolog Vanka.


Vanka rebahan di atas ranjang sambil memainkan ponsel yang di berikan oleh Brayen.


Kamu mau main ponsel? Nih ponsel Mas


" Aku yakin ada yang salah dengan semua ini, ingatlah Vanka.... Ingatlah sesuatu yang bisa menjadi petunjuk kebenaran." Ujar Vanka.


" Sayang makan siang sudah siap, ayo turunlah kita makan dulu." Ucap Brayen menghampiri Vanka.


" Iya Mas, ayo." Sahut Vanka.


Brayen menggandeng tangan Vanka menuju meja makan. Di sana sudah ada Mama Kia dan Bryan, sedangkan Papa Indra masih di kantor.


" Silahkan makan sayang." Ucap Mama Kia.


" Makasih Ma." Sahut Vanka.


Vanka mengambilkan makanan untuk Brayen lalu meletakkannya di depan meja Brayen.


" Sayang kok ayam lada hitam? Aku sukanya rica rica sayang." Ujar Brayen kesal karna Vanka mengingat makanan kesukaan Bryan.


Vanka menatap heran ke arah Brayen. Padahal dalam ingatannya Ia selalu mengambilkan ayam lada hitam untuk suaminya. Vanka menatap piring Bryan yang isinya ayam lada hitam. Vanka semakin yakin ada yang Ia lewatkan.


" Maaf Mas, aku ambilkan lagi yang itu biar buat aku saja." Ujar Vanka mengambilkan makanan untuk Brayen. Nasi putih dengan rica rica ayam.

__ADS_1


" Ini Mas." Ucap Vanka.


" Hmm." Gumam Brayen kesal.


Mereka makan dengan khidmat. Sesekali Vanka melirik ke arah Bryan.


Mas suapi ya sayang


Bayangan Vanka makan di suapi seorang pria melintas dalam pikirannya.


" *Kenapa aku merasa ada hubungan dengan Kak Bryan? Aku harus mencari bukti kalau aku tidak ada hubungan dengan Kak Bryan, aku harus masuk ke dalam kamarnya*." Batin Vanka.


...****************...


Satu bulan berlalu Vanka masih belum bisa mengingat Bryan. Vanka tidak bisa mencari bukti apapun karena Brayen selalu mengawasinya. Kedua mertuanya sudah pindah ke kampung beberapa hari lalu.


Malam ini Brayen lembur di rumah sakit karena ada beberapa pasien yang menjalani operasi jadi dia harus memantaunya. Vanka merasa haus, Ia turun ke dapur untuk mengambil minum. Di sana Ia bertemu dengan Bi Ijah yang sedang memasak makanan.


" Bi malam malam gini kok memasak?" Tanya Vanka menatap Bi Ijah.


" Tuan Bryan hendak pindah ke kampung pagi pagi Non, jadi saya harus menyiapkan sarapan untuknya." Sahut Bi Ijah.


" Pulang kampung?" Tanya Vanka memastikan.


" Iya menyusul Tuan dan Nyonya, Tuan Bryan mau menetap di sana." Sahut Bi Ijah.


Sekarang Bryan sudah menikah, Papa sama Mama akan pulang kampung setelah Brayen menikah


Rumah ini milik Bryan karna dia yang melanjutkan perusahaan Papanya


Vanka memegangi kepalanya yang terasa sakit.


" Non Vanka kenapa Non?" Tanya Bi Ijah mendekati Vanka yang duduk di kursi.


" Kepalaku sakit banget Bi." Sahut Vanka.


Bi Ijah segera menuju kamar Bryan untuk meminta pertolongannya. Tak lama Bi Ijah kembali bersama Bryan ke dapur.


" Vanka." Pekik Bryan saat melihat Vanka tak sadarkan diri di lantai.


" Vanka sadarlah sayang, apa yang terjadi denganmu?" Bryan menepuk pelan pipi Vanka.


Bryan segera membopong Vanka menuju kamarnya. Ia membaringkan Vanka di atas ranjang.


" Vanka bangun sayang." Ucap Bryan memeluk Vanka.


Bryan merapikan anak rambut Vanka dengan perasaan sedihnya.


" Mas kalah sayang, Mas kalah dengan cinta Mas sendiri, cinta yang Mas miliki tidak mampu membuatmu mengingat Mas, Mas harus ikhlas melepasmu untuk Bray.... Hiks.. Hiks.... Mungkin benar jika kamu bukan jodoh Mas, jika ini yang terbaik untuk kita Mas ikhlas menerimanya sayang, berbahagialah hidup bersama Bray sayang, jika suatu hari nanti kamu mengingat Mas maka jangan menyalahkan dirimu sendiri, ini semua salah Mas yang tidak bisa menyakinkanmu, maafkan Mas yang telah mengambil keputusan tanpa meminta pendapatmu terlebih dulu, sejujurnya Mas masih sangat mencintaimu sayang, Mas mencintaimu sampai kapan pun, Mas sudah menyiapkan surat perpisahan kita, Mas harus pergi besok pagi, jadi ijinkan Mas memelukmu untuk yang terakhir kali Hiks...." Isak Bryan memeluk Vanka.


Tak berapa lama Bryan tertidur sambil memeluk Vanka. Vanka mengerjapkan matanya. Ia mengedarkan pandangannya ke kamar yang tak asing menurutnya. Ia menoleh ke samping menatap pria yang sedang memeluknya.


" Aku menemukanmu Mas, aku menemukan kehangatan dari pelukanmu, kamarmu dan senyumanmu, sedikit lagi aku yakin bisa mengingat semuanya." Batin Vanka.


Vanka sudah menemukan kepingan kepingan kenangannya dengan Bryan seperti pazel. Ia tinggal menyusunnya dengan benar maka Ia akan mengingat semuanya. Vanka memeluk Bryan, Ia kembali terlelap dalam pelukan Bryan.


Pagi hari, Vanka mengerjapkan matanya. Ia menoleh ke samping yang sudah kosong. Vanka segera masuk ke dalam kamar mandi untuk mencuci mukanya. Setelah selesai Ia keluar, matanya tertuju pada sebuah map di atas nakas. Ia menghampirinya lalu membukanya.


" Surat gugatan cerai Bryan untuk Vanka." Ucap Vanka membaca kertas itu.


" Aku harus menemukan bukti lainnya." Ujar Vanka.


Vanka membuka laci laci yang ada di almari Bryan.


Deg.....

__ADS_1


" Akta nikah." Guma Vanka.


Vanka membuka akta nikah itu, di sana tertulis nama Bryan dan nama dirinya.


" Apa mungkin yang Mas Brayen tunjukkan itu palsu?" Monolog Vanka.


Vanka membuka buka lagi laci yang tersisa. Vanka menemukan kertas usg dan laporan dokter.


Deg....


Jantung Vanka berdebar kencang. Ia mengamati kertas hasil usg itu.


" Keguguran." Ucap Vanka.


Mas aku hamil, aku mau meminta pertanggung jawaban darimu


Tidak bisa, aku masih mau mengejar gelar spesialisku, aku memang mencintaimu Vanka, tanpa aku menolak bayi itu


Biar aku saja yang bertanggung jawab


Aku akan menikahinya


Sayang bolehkah aku menyentuh perutmu untuk menyapanya?


Halo anak Papa, sedang apa kamu di dalam sana?


Dia anak kita sayang, anak kita berdua tidak ada yang lainnya


Mas mencintaimu sayang, sangat mencintaimu


Tes.... Tes.....


Air mata mengalir deras di pipi Vanka.


Vanka berlari keluar mencari Bryan. Ia berpapasan dengan Brayen di depan pintu.


" Mas kamu melihat Kak Bryan?" Tanya Vanka menatap Brayen membuat Brayen mengerutkan keningnya.


" Dia ada di depan, mau berangkat ke bandara." Sahut Brayen masuk ke dalam rumahnya. Hari ini Ia benar benar merasa sangat capek.


Tanpa membuang waktu, Vanka berlari menuju halaman rumah. Bryan menyalakan mobilnya, Vanka langsung menghampiri mobil Bryan.


" Kak Bryan... Kak Bryan." Panggil Vanka mengetuk kaca mobil Bryan.


Mendengar namanya di panggil, Bryan membuka pintu mobilnya. Ia keluar dari mobil berdiri di depan Vanka.


" Ada ap....


Belum selesai Bryan bertanya, Vanka sudah membungkam mulutnya dengan bibirnya.


Ya Vanka mencium bibir Bryan dengan lembut. Bryan memejamkan matanya membiarkan Vanka menikmati bibir manisnya untuk yang terakhir kalinya, itung itung sebagai salam perpisahan, pikir Bryan.


Tak tahan dengan semua ini, Bryan membalas ciuman Vanka. Ia melum** lembut bibir Vanka. Untuk beberapa saat keduanya menikmati sensasi yang luar biasa. Di rasa keduanya kehabisan oksigen, Bryan melepas pagutannya. Ia menguspa lembut bibir Vanka dengan jempolnya.


" Kenapa kamu lakukan ini?" Tanya Bryan Menangkup wajah Vanka.


Kira kira Vanka mau menjawab apa ya?????


Tunggu jawabannya di bab selanjunya ya....


Jangan lupa like koment vote dan hadiahnya ya....


Terima kasih untuk readers yang selalu mensupport author ...


Semoga sehat selalu....

__ADS_1


Miss U All...


TBC......


__ADS_2