
Rea mengerjapkan matanya kala sinar matahari menyorot ke matanya. Rupanya Brayen membuka tirai kamarnya.
" Jam berapa ini Mas?" Tanya Rea mengucek matanya.
" Jam delapan sayang." Sahut Brayen.
" Apa? Jam delapan?" Pekik Rea langsung duduk spontan.
" Awh." Keluh Rea saat perutnya terasa nyeri.
" Kenapa sayang?" Tanya Brayen duduk di samping Rea.
" Perutku seperti kram Mas." Sahut Rea.
" Sini aku elus." Ujar Brayen.
Saat Brayen mengelus perut Rea tiba tiba...
" Hmpt... " Rea membekap mulutnya karena tiba tiba Ia merasa mual.
" Kenapa sayang?" Tanya Brayen.
Rea turun dari ranjang lalu Ia berlari menuju kamar mandi di ikuti Brayen dari belakang.
Huek.... Huek....
Rea memuntahkan cairan bening dari dalam mulutnya.
" Sayang kamu kenapa?" Tanya Brayen cemas sambil memijat tengkuk Rea dengan pelan.
Huek... Huek....
" Sayang...." Ucap Brayen.
" Aku nggak tahu Mas, tiba tiba aja perutku terasa mual dan ingin muntah." Sahut Rea.
Rea mencuci mulutnya dengan air bersih. Rasanya tubuhnya terasa sangat lemas tak bertenaga.
" Mas gendong aja." Ucap Brayen menggendong Rea ala Bridal style.
Brayen merebahkan tubuh Rea dengan pelan di atas ranjang.
" Coba Mas periksa kamu." Ucap Brayen memeriksa denyut nadi Rea.
Brayen mengerutkan keningnya saat mendapati seperti ada dua denyut nadi, lalu Ia sedikit menekan perut Rea untuk memastikannya.
" Kenapa Mas? Aku sakit apa?" Tanya Rea cemas.
" Kapan terakhir kamu datang bulan sayang?" Tanya Brayen membuat Rea mengerutkan keningnya.
" Kenapa Mas?" Rea balik bertanya.
" Hanya untuk memastikan saja." Sahut Brayen.
Rea mencoba mengingat ingat kapan terakhir kali Ia mendapat tamu bulanan.
" Bulan kemarin aku dapat di tanggal lima Mas, tapi bulan ini sampai tanggal sembilan aku belum dapat lagi, apa mungkin siklus haidku mundur ya Mas." Ujar Rea membuat Brayen tersenyum.
" Ya memang ada dua kemungkinan sih sayang, bisa karena siklus haidmu mundur dan bisa aja kamu hamil." Sahut Brayen.
" Hamil Mas? Yang bener? Ah seandainya itu benar aku pasti akan bahagia banget Mas, akhirnya aku akan menjadi seorang ibu Mas, aku dan Vanka bisa sama sama mengasuh anak yang umurnya tidak jauh berbeda." Ucap Rea dengan mata berbinar.
" Semoga ya sayang, nanti aku beliin tespack buat memastikan ya." Ujar Brayen.
" Iya Mas, oh ya kamu ada jadwal kan pagi ini?" Tanya Rea.
" Iya, aku udah cuti selama sebulan lebih, sekarang gantian aku yang menggantikan jadwal Dokter Burhan untuk menghandle semuanya." Sahut Brayen.
Ya... Bryan bisa cuti karena bantuan Dokter Burhan. Dokter Burhan lah yang menggantikan Brayen selama ini. Dan sekarang waktunya Brayen bekerja lagi dan sesekali akan menggantikan jadwal jaga Dokter Burhan.
" Tapi kamu sedang sakit gini, nanti kalau aku tinggal terus kamu ada apa apa gimana?" Tanya Brayen.
__ADS_1
" Aku nggak pa pa kok Mas, lagian aku merasa ngantuk banget, aku mau tidur lagi kalau kamu nungguin aku kan percuma Mas, dari pada nungguin orang tidur kan mending buat kerja, kalau terjadi sesuatu denganku akan pasti akan meneleponmu." Ucap Rea.
" Ah iya kamu benar, oh ya jangan jangan kamu ngantuk karena bawaan bayi kita sayang." Ujar Brayen.
" Mas Dirga... Semuanya belum pasti jadi jangan terlalu berharap, entar yang ada kita malah kecewa jika hasilnya tidak sesuai dugaan kita." Ujar Rea.
" Baiklah sayang, sekarang kamu istirahatlah aku mau bersiap pergi ke rumah sakit, atau kamu mau makan dulu biar aku masakin?" Tanya Brayen.
" Enggak Mas aku mau tidur aja, nanti kalau aku mau makan aku delivery aja ya Mas." Ujar Rea.
" Tapi cari resto yang higienis ya." Ucap Brayen.
" Tentu Mas, eh tapi kamu makannya gimana?" Tanya Rea sedikit memejamkan matanya karena memang sudah mengantuk.
" Kamu jangan khawatir, nanti aku makan di kantin saja." Sahut Brayen.
Tidak ada sahutan lagi dari Rea, Brayen menatap Rea yang sudah memejamkan matanya menuju alam mimpi. Brayen semakin yakin jika Rea memang sedang hamil saat ini.
" Tidurlah sayang, sehat sehat calon anak Papa di dalam sini ya." Ucap Brayen mencium perut Rea.
Brayen masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Di tempat lain, tepatnya di dalam kamar Vanka, saat ini Ia sedang berdandan. Ia ingin ikut Bryan mengantar Mama Kia dan Papa Indra ke Bandara. Pagi ini kedua mertuanya akan kembali ke kampung halaman mereka. Kemarin penerbangan di batalkan karena cuaca yang tidak mendukung, alhasil penerbangan di lakukan hari ini.
" Sayang kamu sudah siap?" Tanya Bryan menghampiri Vanka.
" Bentar lagi Mas." Sahut Vanka mengoleskan lipstik pada bibirnya.
" Kamu cantik banget Dek, Mas jadi nggak rela kalau kecantikanmu di lihat banyak orang di luar sana, besok besok lagi nggak isah dandan ya." Ujar Bryan menatap Vanka.
" Apa sih Mas, walupun para laki laki di luar sana terpesona sama aku, tapi aku hanya terpesona denganmu saja Mas, dan yang paling pentingkan hati ini cuma buat Mas Bry tersayang." Sahut Vanka.
" Makasih sayang, hati Mas juga cuma buat Adek seorang." Ucap Bryan mengalungkan tanganya ke leher Vanka.
" Mas bahagia banget sayang punya istri sepertimu, Mas yakin anak anak kita juga akan bangga memiliki Mommy sepertimu." Ucap Bryan mencium pipi Vanka.
" Aku juga bahagia Mas memiliki suami sebaik dirimu, terima kasih kamu sudah menyayangi dan mencintaiku sepenuh hatimu tanpa melihat kekurangan dan keburukanku selama ini." Sahut Vanka.
" Love you too Mas." Sahut Vanka membalas ciuman di pipi Bryan.
" Ah kalau begini Mas jadi ingin kita di kamar saja, nggak usah kemana mana, Mas kangen moment moment bahagia kita yang terlewatkan beberapa bulan ini sayang." Ucap Bryan.
" Sama aku juga Mas, tapi Papa sama Mama gimana?" Ujar Vanka menyadarkan Bryan kalau Papa da Mamanya sudah menunggu di bawah.
" Sekarang ayo kita turun, Mama sama Papa udah menunggu dari tadi." Ujar Bryan.
" Iya Mas." Sahut Vanka beranjak.
Bryan menggandeng tangan Vanka keluar kamar. Mereka berjalan pelan menuruni tangga menghampiri Mama Kia dan Papa Indra yang sedang duduk di ruang tamu menunggu mereka.
" Maaf Ma sudah menunggu lama." Ucap Vanka merasa tidak enak.
" Tidak apa sayang, kami juga tidak keburu buru kok." Sahut Mama Kia.
" Ma sebenarnya aku ingin Mama sama Papa di sini saja, aku sama Mas Bry pasti akan kesepian kalau hanya tinggal berdua." Ujar Vanka.
" Kalau Papa tidak ada kerjaan di sana, Papa sama Mama pasti mau sayang tinggal di sini, tapi mau gimana lagi? Papa punya tanggung jawab di sana kan?" Ujar Papa Indra.
" Iya sih Pa, ya udah yang penting kita bisa calling callingan ya Pa." Ujar Vanka.
" Tentu donk sayang." Sahut Mama Kia.
" Mas kapan kapan kita ke kampung Mama ya." Sambung Vanka menatap Bryan.
" Siap sayang, tapi nanti nunggu anak kita lahir dan udah gedean dikit, saat itu tiba Mas pasti akan mengajakmu ke sana." Sahut Bryan.
" Janji ya." Ucap Vanka.
" Mas janji sayang." Sahut Bryan.
" Aku akan menagih janjimu nanti Mas." Ujar Vanka.
__ADS_1
" Ok." Sahut Bryan.
" Baiklah sekarang ayo kita berangkat keburu siang nanti." Ucap Papa Indra.
" Ayo Pa." Sahut semua orang.
Bryan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju Bandara.
Setelah mengantar Mama dan Papanya, Bryan melajukan mobilnya menuju ke villa keluarga yang berada di puncak tempat mereka bulan madu waktu itu.
" Kalau kamu ngantuk, bobok aja sayang." Ujar Bryan masih fokus dengan stirnya.
" Iya Mas, kena angin gini memang bikin aku ngantuk." Sahut Vanka karena memang Vanka membuka kaca mobilnya.
" Kamu kuat kan duduk selama dua jam?" Tanya Bryan.
" Insyaallah kuat Mas." Sahut Vanka.
Bryan terus melajukan mobilnya sampai ke villa keluarganya. Ia menoleh ke arah Vanka yang ternyata memejamkan matanya.
" Sayang udah sampai." Ucap Bryan.
" Engh.... " Lenguh Vanka membuka matanya. Ia mengedarkan pandangannya ke hamparan perkebunan teh di sana.
" Duh dingin banget ya Mas." Ucap Vanka memeluk tubuhnya sendiri.
" Iya sayang, mau turun atau mau pulang aja? Kita ke sininya nanti aja kalau musim panas biar nggak dingin gini." Tawar Bryan.
" Bukannya Mas seneng ya yang dingin dingin gini?" Tanya Vanka mengerlingkan matanya membuat Bryan tersenyum.
" Kode nih ceritanya?" Tanya Bryan.
" Ya kalau Mas nggak mau ya nggak pa pa, malah beruntung banget aku." Ujar Vanka.
" Eh ya mau lah sayang, kan udah puasa selama sebulan lebih, tapi emang kamu sudah kuat nggak lemas lagi? Udah sehat?" Tanya Bryan memastikan.
" Udah Mas." Sahut Vanka.
" Ya udah turun, kita lakukan sekarang juga di dalam." Ucap Bryan.
" Apa sih Mas." Ujar Vanka tersenyum malu.
Bryan menggandeng tangan Vanka masuk ke dalam villa dengan perasaan bahagia.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Malam setelah pulang dari rumah sakit, Brayen segera masuk ke dalam kamarnya. Ia menatap Rea yang sedang melakukan ritual malamnya. Apa lagi kalau bukan mengoleskan krim malam pada pipinya. Kata Rea sih biar mulus seperti pipi Vanka. Ada ada aja...
" Mas udah pulang, capek banget ya Mas." Ucap Rea menghampiri Brayen.
" Enggak kok, nih coba di tes dulu sayang, yang satunya di pakai besok pagi ya." Ujar Brayen memberikan dua alat tespack berbeda merk kepada Rea.
" Iya Mas, tunggu di sini ya." Sahut Rea masuk ke dalam kamar mandi.
Sepuluh menit kemudian Rea keluar dari kamar mandi sambil memegang alat tes yang Brayen berikan tadi.
" Gimana sayang? Apa hasilnya?" Tanya Brayen penasaran.
" E......
Bantu Rea jawab donk....
Jangan lupa like koment vote dan hadiahnya ya biar author semangat melanjutkan ceritanya... Kalau sepi author tamatin nih.... hhhh author mengancam nih???
Terima kasih untuk readers yang selalu mensuport author
Semoga sehat selalu.....
Miss U All....
TBC....
__ADS_1