Pria Cacat Itu Suamiku

Pria Cacat Itu Suamiku
35. Kejutan Untuk MaPa


__ADS_3

Hari ini Mama Kia dan Papa Indra bertolak dari Jawa ke kota J atas keinginan Vanka dan Bryan. Mereka membuat drama yang begitu menyakinkan untuk membuat kedua orang tuanya kembali ke rumah. Saat ini Mama Kia dan Papa Indra sedang dalam perjalan dari Bandara menuju rumah dengan menggunakan mobil jemputan yang di kirim oleh Bryan.


" Pa sebenarnya Bry sakit apa sih Pa? Mama sangat khawatir." Ucap Mama Kia.


Ya Vanka menelepon dan mengabarkan jika Bryan sakit keras. Ia tidak mau berobat ke rumah sakit jika kedua orang tuanya tidak datang untuk mengantarnya. Untuk itu Mama Kia dan Papa Indra kembali ke rumah untuk membujuk Bryan supaya mau berobat.


" Tenanglah sayang, kita berdoa saja semoga semuanya baik baik saja." Ujar Papa Indra.


" Gimana Mama nggak khawatir Pa, anak kita tinggal satu yaitu Bry, Mama tidak mau kehilangan anak Mama lagi." Ujar Mama Kia.


" Insyaallah itu tidak akan terjadi sayang." Sahut Papa Indra menarik tubuh Mama Kia bersandar pada pundaknya.


Mobil terus melaju menuju rumah utama.


Sedangkan di dalam rumah utama, Vanka sedang bersiap untuk menyambut kedua mertuanya. Ia sedang memoles wajahnya yang cantik paripurna.


" Sayang cantik banget sih istrinya Mas." Ucap Bryan mengalungkan tangannya ke leher Vanka dari belakang.


" Baru sadar Mas kalau aku cantik." Sahut Vanka menatap Bryan lewat pantulan cermin.


" Kamu mengacaukan suasana aja Dek, kan Mas mau romantis romantisan sama kamu, malah kamu jawabnya gitu." Ujar Bryan mencium pipi Vanka.


" Ah so sweet banget Mas, aku terharu dengan pujianmu." Ucap Vanka tersenyum manis.


" Apanya? Udah nggak sweetlah orang kamunya nggak peka." Sahut Bryan.


" Iya maaf jangan marah donk." Vanka beranjak menghadap Bryan.


Bryan dan Vanka saling melempar tatapan. Bryan memajukan wajahnya, Ia mencium bibir Vanka. Vanka memejamkan matanya. Bryan melum** lembut bibir Vanka sambil menahan tengkuk Vanka dan terus memperdalam ciumannya. Suara decapan memenuhi ruangan kamar mereka. Keduanya saling menikmati sensasi yang membuat aliran darah mereka terpacu. Ciuman Bryan turun ke leher.


" Shhh Mas...." Desis Vanka saat Bryan membuat tanda merah pada lehernya.


" Mas udah, Mama sama Papa udah dekat nanti kita terlambat menyambut mereka Mas." Ujar Vanka.


Bryan menatap Vanka dengan mata memerah. Vanka paham akan situasi yang di hadapi Bryan saat ini. Vanka menangkup wajah Bryan.


" Lakukanlah Mas tapi sebentar saja, karena kita harus menyambut Mama sama Papa, belum lagi aku harus mandi lagi nanti." Ucap Vanka.


" Terima kasih sayang." Sahut Bryan mendorong pelan tubuh Vanka ke atas ranjang.


Brayen segera menutup pintu kamar Bryan kembali.Tanpa mereka sadari jika sedari tadi Brayen berdiri di depan pintu kamarnya. Niat Brayen ingin memanggil mereka namun Ia malah di suguhi sesuatu hal yang membuat hatinya sakit.


" Sebentar.... Kenapa hatiku tidak sesakit dulu ya? Kenapa hatiku rasanya biasa aja saat melihat Bry dan Vanka berciuman, apa mungkin di dalam hatiku sudah tidak ada cinta untuk Vanka lagi? Apa mungkin hatiku sudah berpaling kepada Rea?.... Ya Andrea gadis manis yang merawatku dengan sabar dan telaten selama ini, ah aku jadi kangen sama Rea." Guman Brayen dalam hatinya.


Brayen meninggalkan kamar Bryan yang di dalamnya kedua insan sedang memadu kasih.


Bryan memanjakan tubuh Vanka dengan lembut. Setiap sentuhan yang Bryan berikan membuat Vanka begitu terlena. Keduanya seakan terbang ke atas nirwana bersama sama. Setelah selesai dengan permainannya, Vanka dan Bryan kembali bersiap.


...****************...


Setelah sampai rumah, Mama Kia dan Papa Indra segera masuk ke dalam rumah.


" Assalamu'alaikum." Ucap Mama Kia.

__ADS_1


" Kok sepi Pa?" Tanya Mama Kia setelah tidak ada sahutan.


" Bryan.... Vanka..." Panggil Mama Kia.


Tap... Tap... Tap.....


Mama Kia dan Papa Indra menoleh ke arah tangga dimana Vanka sedang menggandeng Bryan menuruni tangga.


" Sayang Bry katanya kamu sakit? Kamu sakit apa sayang?" Tanya Mama Kia setelah Vanka dan Bryan sampai di depan mereka.


Mama Kia menangkup wajah Bryan, Ia menatap wajah Bryan dengan seksama.


" Bryan..." Ucap Mama Kia mengelus pipi Bryan.


Deg.....


Jantung Mama Kia berdegup dengan begitu kencang. Matanya nanar hendak mengeluarkan air mata. Papa Indra heran melihat istrinya seperti itu.


" Kenapa Ma?" Tanya Papa Indra menatap Mama Kia.


Tes....


Bukannya menjawab Mama Kia justru mengeluarkan air matanya membuat Papa Indra semakin heran.


" Ma kenapa kamu menangis? Apa ada yang salah dengan anak kita?" Tanya Papa Indra.


" Hiks.. Apa Papa tidak menyadari siapa yang saat ini sedang berdiri di depan kita?" Tanya Mama Kia sambil terisak.


" Bry..... Dia Bryan anak kita Ma, lalu kenapa?" Tanya Papa Indra.


" Bukan gimana? Dia Bryan anak kita Ma." Sahut Papa Indra.


" Dia bukan Bry Pa, tapi Bray.... Bray anak kita." Ucap Mama Kia.


" Bray???? Brayen maksud Mama? Mama jangan mengada ada Ma, kita sudah mengikhlaskan kepergian Bray Ma, jangan ungkit masalah itu lagi, Bray sudah tenang di sana." Ujar Papa Indra.


" Bray..." Mama Kia memeluk Brayen.


" Hiks.. Mama tidak menyangka kamu masih hidup sayang, Mama tidak menyangka akan mendapat kejutan yang luar biasa seperti ini, hiks... Kamu kemana saja sayang? Apa kamu tidak merindukan Mama sehingga membuat kamu tidak mau menemui kami? Atau kamu marah sama Mama karena tidak mendukung keputusanmu untuk kembali bersama Vanka?" Tanya Mama Kia dalam pelukan Brayen.


" Sayang jangan seperti ini, kendalikan dirimu! Dia Bry bukan Bray." Ucap Papa Indra menarik Mama Kia hingga pelukannya terlepas.


" Apa Papa tidak bisa membedakan mereka berdua?" Tanya Mama Kia menatap Papa Indra.


" Dia Bry Ma, lihatlah yang dia pakai semuanya milik Bry bukan Bray." Ujar Papa Indra mencoba menyadarkan Mama Kia.


" Walaupun Bray hanya memakai pakaian dalam Bry sekalipun Mama tetap bisa membedakannya Pa, ah sayang kau terlalu identik dengan Bry makanya Papamu tidak bisa membedakanmu dengan adikmu." Ujar Mama Kia.


" Sayang ku mohon jangan seperti ini, ini mungkin efek karena kamu merindukan Bray, tapi sadarlah sayang Bray sudah tiada." Ucap Papa Indra.


" Jangan katakan itu lagi Mas." Bentak Mama Kia tidak terima. Ia melepas sebutan Papa dan kembali menggantikannya dengan sebutan Mas .


" Jangan pernah mengatakan kalau Bray sudah tiada, dia masih hidup... Dia ada di depan kita saat ini Mas, bukalah matamu dan lihatlah jika dia Bray bukan Bry." Ucap Mama Kia menarik Bray ke hadapan Papa Indra.

__ADS_1


" Aku tidak mengerti sayang.... Jika memang benar dia Bray, lalu dimana Bry sekarang? Dia tidak ada kan? Dan jika dia Bray kenapa Vanka menggandengnya dengan mesra? Apa mungkin Bry akan membiarkan Vanka menggandeng Bray seintim itu sayang?" Tanya Papa Indra.


Ya benar... Bry tidak akan melakukannya. Mama Kia mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Bry. Kosong....


Mama Kia melepaskan pegangan tangannya pada tangan Brayen. Ia menatap Brayen dengan seksama.


" Tidak mungkin aku salah mengenali anakku sendiri Mas, aku yakin dia Brayen Dirga bukan Bryan Dika." Ucap Mama Kia.


" Sayang Bray katakan sesuatu pada Papamu Nak, jangan biarkan Papamu berpikir kalau Mamamu ini mulai gila." Ujar Mama Kia menangkup wajah Brayen. Brayen tidak bergeming.


" Bryan..... Kamu dimana sayang? Keluarlah tunjukkan pada Papamu, jangan membuat Papamu berpikir kalau Mama sudah kehilangan kewarasan sayang, Bry.... kamu dimana?" Teriak Mama Kia.


" Aku di sini Ma." Sahut Bryan dari atas tangga.


Mama Kia dan Papa Indra menoleh ke atas. Papa Indra menatap Bryan yang berada di atas tangga dengan Bryan yang berdiri di depan Mama Kia.


Mama Kia tersenyum lebar, Ia kembali memeluk Brayen dengan erat.


" Brayen....." Ucap Mama Kia.


" Iya Ma ini aku." Sahut Brayen.


" Anak nakal, kenapa dari tadi diam saja." Ucap Mama Kia mencubit hidung Brayen.


" Ini bagian dari rencana Ma." Sahut Brayen.


Papa Indra melongo belum menyadari semuanya.


" Pa, apa Papa tidak mau memelukku?" Tanya Brayen merentangkan kedua tangannya.


Papa Indra langsung masuk ke dalam pelukan Brayen.


" Ternyata kamu masih hidup Nak... Maafkan Papa yang tidak bisa mengenalimu, kamu begitu mirip Bry dengan dandanan seperti ini... Hiks... Papa bahagia sayang, Alhamdulillah ya Allah engkau telah mengembalikan putra kami, Papa bahagia Bray, sangat bahagia." Ucap Papa Indra.


" Aku juga Pa, aku sangat bahagia akhirnya aku bisa berkumpul bersama kalian lagi." Ucap Bray.


" Kejutan yang luar biasa dari anak anak nakal seperti kalian, Mama tidak menyangka kalau ternyata kalian benar benar sangat nakal dan sepertinya harus Mama hukum." Ucap Mama Kia.


" Maafkan kami Ma, kalau Mama mau marah, marah saja sama menantu Mama yang cantik ini, Vanka yang merencanakan semuanya." Ucap Bryan.


" Egh.... " Gumam Vanka.


" Sini anak anak Mama yang sangat Mama sayangi, hari ini adalah hari yang sangat membahagiakan buat Mama dan Papa." Ucap Mama Kia.


Mama Kia, Papa Indra, Brayen, Bryan dan Vanka akhirnya saling berpelukan. Hari ini merupakan hari kebahagiaan untuk keluarga mereka. Dimana Tuhan menunjukkan sesuatu yang hilang jika itu masih menjadi rizki kita pasti dia akan kembali kepada kita.


TBC.....


Jangan lupa like koment vote dan hadiahnya ya...


Terima kasih untuk readers yang selalu mensuport author.....


Semoga sehat selalu.....

__ADS_1


Miss U All....


__ADS_2