Pria Cacat Itu Suamiku

Pria Cacat Itu Suamiku
30. Jalan Jalan


__ADS_3

Keesokan harinya setelah mandi Rea keluar dari kamarnya. Tatapannya tertuju pada Dirga yang masih tidur di sofa di depan kamarnya. Ia menggelengkan kepalanya.


" Astaga Mas Dirga.... Dia tidak tidur di kamar karena aku tidak mengantarnya." Gumam Rea.


" Dari semalam Dirga tidur di situ, bahkan dia tidak makan malam, Ayah sudah menyuruhnya untuk tidur di kamar tapi dia tidak mau, dia hanya mengikuti ucapanmu saja, oh ya apa kalian ada masalah? Kenapa kamu tidak mengantar Dirga ke kamarnya?" Tanya Pak Ruli dari belakang.


" Nggak pa pa Yah, Ayah tenang aja kami baik baik saja kok, semalam aku ngantuk banget jadi aku langsung tidur dan melupakan Mas Dirga." Sahut Rea.


" Baiklah Ayah pergi dulu." Ucap Pak Ruli.


" Ayah tidak sarapan?" Tanya Rea.


" Nanti di sana saja bareng bareng sama teman teman Ayah." Sahut Pak Ruli.


" Baiklah Yah, nanti aku ke sana sama Mas Dirga." Ujar Rea.


Pak Ruli keluar rumah untuk memantau peternakannya.


Rea mengguncang pelan bahu Dirga.


" Mas bangun." Ucap Rea.


Dirga mengucek matanya. Ia duduk menatap Rea, Ia menyentuh pipi Rea dengan lembut.


" Tenanglah aku tidak marah, sekarang aku akan menyiapkan baju untukmu, kamu mandilah." Ucap Rea.


Dirga menganggukkan kepalanya. Ia masuk ke dalam kamar langsung menuju ke kamar mandi.


Seperti biasanya Rea menyiapkan pakaian untuk Dirga setelah itu Ia menuju meja makan.


Sekitar dua puluh menit Dirga menghampiri Rea di meja makan.


" Sini aku sisir dulu." Ujar Rea mengambil sisir yang Ia selipkan di rambutnya.


" Sudah selesai, ternyata kamu ganteng juga Mas." Ucap Rea menatap Dirga. Dirga tersenyum manis ke arah Rea. Rea justru kesal dengan semua itu.


" Sudah ku bilang jangan tersenyum seperti itu." Cebik Rea mengerucutkan bibirnya.


Tanpa Rea duga tiba tiba...


Cup....


Rea membulatkan matanya saat Dirga mengecup bibirnya. Lembut, manis kenyal itulah yang Rea rasakan saat ini. Sadar dengan apa yang di lakukan Dirga, Rea menjauhkan wajahnya dari wajah Dirga.

__ADS_1


" Makanlah nanti aku akan mengajakmu jalan jalan." Ucap Rea dingin.


Tanpa mempedulikan Dirga, Rea makan dengan elegant. Sedangkan Dirga menatap Rea dengan mata nanar.


" Kenapa? Apa kamu tahu kalau aku marah sama kamu? Kamu itu suka semaumu sendiri! Apa kamu tahu kalau saat ini aku sedang berperang dengan perasaanku sendiri? Aku takut jatuh cinta padamu, aku tidak tahu siapa dirimu, bagaimana statusmu, ah kamu membuat aku kesal tahu nggak." Cerocos Rea.


Tiba tiba Dirga berlutut di samping Rea sambil menggenggam tangan Rea. Rea terkejut dengan sikap Dirga yang Ia simpulkan sebagai permintaan maafnya.


" Ya sudah aku memaafkanmu, sekarang makanlah." Ucap Rea. Dirga tersenyum manis, Ia beranjak kembali ke kursinya.


Keduanya makan dengan khidmat tanpa ada yang berbicara. Setelah selesai Rea mengajak Dirga jalan jalan ke peternakan di desa sebelah. Bermodalkan jalan kaki Dirga nampak senang bertemu dengan penduduk setempat. Walaupun Ia tidak bisa berbicara, tapi Ia selalu menampilkan senyum manisnya setiap berpapasan dengan orang.


" Eh Neng Rea tunggu." Panggil bu rt saat Rea melewati kumpulan ibu ibu yang sedang belanja.


" Iya bu ada apa ya?" Tanya Rea.


" Itu calon suaminya apa tidak bisa bicara? Tampan sih tapi buat apa kalau tidak normal Neng, Neng Rea ini kan cantik pasti bisalah dapat yang lebih dari dia." Ujar bu rt menunjuk Dirga.


Rea menatap ke arah Dirga yang nampak menundukkan kepala, Rea kembali menatap bu rt beserta csnya.


" Maaf bu, calon suami saya bukan tidak bisa berbicara, cuma saat ini dia sedang sakit, ada masalah dengan syarafnya, jadi saya mohon jangan asal bicara." Sahut Rea tidak terima.


" Lagian ya bu kalau saya harus memilih, lebih baik saya memilih orang yang tidak bisa bicara daripada orang yang asal bicara, mari ibu ibu saya masih banyak urusan yang lebih penting." Sambung Rea.


" Jangan di pikirkan omongan ibu ibu tadi, dia tidak tahu saja betapa istimewanya dirimu bagiku Mas." Ujar Rea.


Tiba tiba Rea menghentikan langkahnya saat Ia menyadari ucapannya.


" Eh maaf maaf aku hanya asal bicara saja." Ralat Rea menatap Dirga.


" Kamu tahu kan apa yang aku ucapkan? Aku hanya asal bicara jadi jangan di anggap serius." Ucap Rea di balas anggukan kepala oleh Dirga.


Rea dan Dirga melanjutkan tujuan mereka.Tak lama keduanya sampai di peternakan. Di sana ramai dengan pegawai Pak Ruli yang sedang istirahat sambil minum kopi.


" Pagi semuanya." Sapa Rea menyapa bapak bapak di sana.


" Pagi Neng Rea." Sahut Pak Kamil.


" Makin lengket aja Neng." Ujar Bang Ahil. Pegawai Pak Ruli yang paling muda. Umurnya masih dua puluh lima tahun. Ia juga di percaya sebagai kaki tangan Pak Ruli.


" Bisa aja Bang, gimana sapi sapinya pada sehat kan?" Tanya Rea.


" Kok yang di tanyain kabar sapinya? Kali kali tanyain kabar Abang juga donk Neng." Ujar Bang Ahil.

__ADS_1


" Kalau kabar Abang gak perlu di tanyain, kan aku udah lihat kalau Abang baik baik saja." Sahut Rea.


" Bisa aja kamu Neng, sapinya sehat semua Neng." Kekeh Bang Ahil.


" Ya udah Bang aku mau lihat lihat peternakan dulu ya, mari semuanya." Ujar Rea menggandeng Dirga supaya mengikutinya.


Keduanya menuju tempat dimana para sapi sapi berjejer rapi di dalam kandang. Dirga merapatkan tubuhnya ke tubuh Rea tanda Ia takut dengan sapi sapi itu.


" Tidak perlu takut, mereka tidak galak kok, malah galakan aku sama sapinya." Ujar Rea.


Rea mengambil rumput lalu Ia berikan kepada Dirga. Dirga hanya menatapnya saja seolah bertanya untuk apa. Tahu maksud Dirga, Rea memberikan rumput itu kepada sapinya.


" Coba deh, biar kamu nggak takut." Ujar Rea memberikan rumput kepada Dirga lagi.


Dirga menerima rumput itu lalu memberikannya kepada sapi. Saat sapinya membuka mulut, Dirga terlonjak kaget menubruk tubuh Rea. Rea terhuyung ke belakang. Dirga segera menopang tubuh Rea dengan memeluk pinggang Rea.


Keduanya saling menatap. Jantung Rea kembali berdegup kencang menatap sorot mata Dirga yang begitu tajam menurutnya.


" Ya Tuhan apa yang aku rasakan saat ini? Apa aku benar benar jatuh hati dengan Mas Dirga? Bagaimana kalau Mas Dirga sudah punya pasangan? Aku belum siap terluka ya Tuhan." Batin Rea.


Ehm Ehm....


Deheman Pak Ruli membuat keduanya sadar. Rea segera menegakkan tubuhnya. Ia mengedarkan pandangannya ke sembarang arah menetralkan rasa gugup yang Ia rasakan.


" Sedang apa kalian di sini?" Tanya Pak Ruli.


" Memberi makan sapi sapi kita Yah." Sahut Rea.


" Oh memberi makan sapi." Ujar Pak Ruli meninggalkan Rea dan Dirga.


" Maaf ya Mas, dan terima kasih sudah menolongku." Ucap Rea. Dirga menganggukkan kepalanya.


" Kita duduk aja di gazebo sana ya." Ujar Rea menunjuk sebuah gazebo di pertengahan pohon jati.


Keduanya berjalan menuju gazebo itu. Dirga nampak senang di ajak jalan jalan sama Rea. Sedangkan Rea merasa sport jantung setiap berdekatan dengan Dirga.


Jangan lupa like koment dan votenya biar author semangat dan bisa double up ya...


Terima kasih untuk readers yang selalu mensupport author.... semoga sehat selalu...


Miss U All...


TBC.......

__ADS_1


__ADS_2