
Tak terasa hari hari berlalu dengan damai, Tepat sebulan lebih sejak kejadian Andre kembali dalam keluarganya. Indra memberikan apartemennya kepada Andre karna tidak mungkin jika Andre tinggal bersama Indra dan Kia, Mereka tidak mau ada sesuatu hal yang tidak di inginkan apalagi Andre memiliki perasaan khusus untuk Kia. Rey juga sudah mengetahui semuanya setelah pulang dari bulan madu. Hubungan Rey dan Cindy semakin dekat, Bahkan sekarang Cindy tidak canggung bermanja manja dengan Rey.
Hari ini Kia sedang memasak untuk suami tercintanya, Indra menginginkan rica rica ayam dan rendang masakan istrinya. Setelah selesai, Kia segera menatanya di meja makan.
" Pagi sayang..." Sapa Indra mencium pipi Kia.
" Pagi Mas... Baru saja aku mau manggil kamu." Ujar Kia.
" Kamu udah manggil aku lewat suara hati, Makanya aku sampai sini." Sahut Indra.
" Gombal ah... Aku ambilkan Mas." Ucap Kia mengambilkan makanan untuk Indra.
" Silahkan di makan Mas." Ucap Kia meyajikan makanannya di depan Indra.
" Makasih Sayang." Ucap Indra.
" Perlu aku suapi nggak?" Tanya Kia.
" Nggak ah aku mau mandiri, Aku nggak mau kalah sama Andre." Sahut Indra membuat Kia menggeleng.
Mereka makan dengan khidmat.
" Oh ya Yank... Nanti aku pulangnya agak larut, Ada banyak pekerjaan yang harus aku kerjakan soalnya Rey cuti hari ini." Ujar Indra.
" Tumben Bang Rey cuti Mas." Ucap Kia.
" Iya... Rey lagi nungguin Cindi, Dia lagi masa ngidam, Kamu kapan ya Yank mau ngidam lagi? Aku juga mau merasakan masa masa ngidam kamu yang pengin ini itu" Ucap Indra tanpa sadar sambil terus mengunyah makanannya.
Klutik....
Kia menjatuhkan sendok di tangannya, Hatinya mencelos mendengar Cindy yang sedang mengalami masa ngidam, Padahal Cindy belum lama berhubungan dengan Rey saja sudah hamil, Sedangkan dirinya yang sudah lama berhubungan sama sekali belum hamil lagi. Apa mungkin Ia akan sulit untuk hamil lagi? Atau memang belum di beri kepercayaan lagi oleh yang Maha kuasa? Karena Ia telah lalai menjaganya. Kia begitu khawatir akan hal itu. Ia bahkan pernah memeriksakan dirinya ke Dokter kandungan dan Alhamdulillah semua dalam kondisi sehat.
" Sayang.... Maaf aku tidak bermaksud menyudutkanmu." Sesal Indra menyentuh bahu Kia.
Kia menjauhkan tangan Indra dari bahunya, Ia berjalan meninggalkan Indra menuju kamarnya.
" Sayang tunggu.... Sayang....." Panggil Indra.
Indra meminum segelas air putih, Setelah itu Ia segera menyusul Kia ke kamarnya.
" Sayang....Buka pintunya donk." Ucap Indra mengetuk pintu kamarnya yang ternyata di kunci dari dalam.
" Sayang.... Maafkan aku... Aku tidak bermaksud membuatmu sedih... Buka pintunya sayang..." Ujar Indra.
" Sayang.... Mas banyak kerjaan hari ini, Kasih semangat donk jangan di kasih lesu gini, Entar pekerjaanku nggak kelar lho... Kasih semangat ya... Sayang....." Ujar Indra membujuk agar Kia mau membuka pintunya.
" Sayang.... Maafkan aku." Ucap Indra.
" Kalau nggak mau buka aku dobrak nih.... Eh enggak ding aku suruh Pak Tarno sama Pak satpam buat dobrak pintunya." Ancam Indra.
Ceklek.....
Kia membuka pintunya, Indra masuk ke dalam mengikuti Kia yang duduk di tepi ranjang.
" Sayang maafkan aku.... Aku tidak sadar dengan ucapanku yang justru membuatmu sedih... Aku nggak masalah kok kamu mau hamil kapan aja, Bahkan seandainya tidak sekalipun aku akan tetap mencintaimu." Ujar Indra menggenggam tangan Kia. Kia menangkup wajah Kia dengan satu tangannya. Kia menatap ke arah suaminya.
" Jangan menangis.... Jangan bersedih lagi, Kita pasrahkan semuanya pada Allah, Sedikasihnya aja ya... Jangan terlalu di pikirkan." Ucap Indra memeluk Kia. Ia mencium pucuk kepala Kia.
" Hiks..Hiks..." Isak Kia.
__ADS_1
" Sudah jangan bersedih lagi, Maafkan aku, Aku tidak akan mengatakannya lagi, Aku berjanji." Ucap Indra.
" Ngomong donk sayang.... Jangan diam aja, Aku nggak tenang ninggalin kamu dalam kondisi terpuruk seperti ini." Ujar Indra.
" Aku hanya sedih Mas... Bagaimana kalau aku tidak bisa hamil lagi karna benturan waktu itu?." Ujar Kia.
" Apapun yang terjadi aku akan tetap mencintaimu, Maafkan aku gara gara aku kita harus kehilangan calon buah hati kita." Sahut Indra.
" Aku sudah memaafkanmu Mas..Apa jika aku tidak bisa hamil kamu tidak akan meninggalkan aku?" Tanya Kia.
" Tidak, Aku tidak akan meninggalkanmu." Tegas Indra.
" Janji?" Ucap Kia.
" Janji sayang.... Bagaimana aku bisa meninggalkanmu jika aku hanya mencintaimu hmm." Ujar Indra.
Indra menatap jam yang melingkar di tangan kanannya.
" Mas berangkat dulu ya...Udah hampir jam delapan." Ujar Indra. Kia melepas pelukannya.
" Iya hati hati." Sahut Kia.
" Jangan bersedih lagi, Kalau mau nanti main ke kantor biar aku semangat kerjanya." Ujar Indra.
" Lihat nanti aja." Sahut Kia sambil menyalami tangan Indra.
" Aku berangkat, Assalamu'alaikum." Ucap Indra mencium kening Kia.
" Wa'alaikumsallam Mas." Sahut Kia.
Indra berjalan keluar menuju mobilnya. Setelah kepergian Indra, Kia segera mengambil tas selempangnya, Ia ingin menemui Mama Meri memastikan apa yang akan terjadi jika kemungkinan buruknya dia tidak bisa hamil lagi. Kia takut seperti di film atau novel yang pernah Ia baca, Keluarga sang suami meminta suaminya menikah lagi demi mendapatkan keturunan. Kia tidak mau sampai itu terjadi, Ia tidak mau berbagi suami.
" Sayang.... Aku buatin susu ya..." Ucap Rey.
" Nggak usah Mas... Percuma pasti balik lagi." Sahut Cindy.
" Tapi kamu entar kehabisan cairan gimana?" Cemas Rey.
" Enggaklah Mas... Ini biasa terjadi sama ibu hamil, Jangan khawatir." Ucap Cindy lemah.
" Ayo Mas bantu tiduran di ranjang." Ujar Rey menuntun Cindy menuju ranjangnya.
" Besok kalau Kia hamil bagaimana ya? Apa Indra bisa merawatnya? Bagaimana kalau Kia sampai pingsan? Siapa yang akan menggendongnya?" Tanya Rey.
" Kenapa kamu memikirkan Kia? Masih ada rasa?" Tanya Cindy menatap tajam ke arah Rey.
" Eh.... E enggak Yank, Cuma kasihan aja sama Indra nantinya." Ujar Rey.
" Itu tugas yang harus di lakukan oleh suami jika istrinya hamil Mas, Lagian siapa yag bikin istri hamil? Suami kan? Jadi jangan mau enaknya saja, Ikut merasakan bagaimana rasanya masa masa ngidam yang begitu me...." Rey menutup mulut Cindy.
" Jangan bilang kalau masa masa ini menyusahkan, Kita syukuri dan nikmati saja." Cegah Rey.
" Iya Mas...Maaf." Sahut Cindy setelah Rey menjauhkan tanganya.
" Mas....Aku pengin mangga muda." Ucap Cindy tiba tiba. Ia membayangkan bagaimana enaknya makan mangga muda.
" Asem sayang.....Ntar perutnya sakit, Yang matang aja ya." Tawar Rey.
" Nggak mau." Sahut Cindy.
__ADS_1
" Baiklah akan aku belikan." Ujar Rey.
" Aku mau metik sendiri." Ucap Cindy.
" Di mana metiknya?" Tanya Rey.
" Di belakang rumah Indra." Sahut Cindy.
" Aku telepon Indra dulu ya." Ucap Rey. Cindy mengangguk.
Rey segera mengampil ponselnya lalu menelepon Indra. Tak berapa lama sambungan pun terhubung.
" Hallo." Sapa Indra.
" Hallo Ndra, Cindy ngidam mangga muda yang ada di belakang rumahmu, Bolehkah aku memetiknya?" Tanya Rey to the point.
" Bukannya aku nggak mau ngasih Rey, Tapi kalau bisa jangan ya." Ujar Indra.
" Emang kenapa?" Tanya Rey.
" Kia Rey...." Sahut Indra.
" Kenapa dengan Kia? Apa tidak boleh olehnya?" Tanya Rey.
" Saat ini hati Kia sensitif jika mendengar soal kehamilan, Tadi pagi dia nangis nangis saat aku memberi tahu kalau Cindy lagi hamil... Dia sedih karna dia takut kalau dia tidak bisa hamil lagi.... Aku sedih melihatnya seperti itu Rey." Jelas Indra.
" Kasihan sekali Kia... Jika waktu bisa di putar kembali pasti saat ini Kia sudah melahirkan Ndra." Sahut Rey.
" Aku juga sangat menyesalinya Rey... Semua terjadi karna diriku, Karena kebodohanku, Kini Kia yang harus menanggung semua kesedihannya." Ujar Indra.
" Ya sudah kuatkan hatimu Ndra... " Ucap Rey.
" Maaf ya Rey... Sampaikan maafku pada calon bayimu." Ucap Indra.
" Iya tidak masalah, Aku akan mencari yang lainnya saja." Sahut Rey mematikan sambungan teleponnya.
" Kenapa Mas? Nggak boleh ya?" Tanya Cindy.
" Bukannya nggak boleh sayang.... Tapi situasinya yang tidak tepat." Jawab Rey.
"Tidak tepat gimana?" Tanya Cindy.
" Saat ini Kia sedang bersedih sayang, Kia sedih karna mengetahui jika kamu sudah hamil, Sedangkan dirinya belum hamil juga, Kia takut kalau kejadian tempo dulu akan membuatnya sulit hamil lagi, Kita cari mangga yang lainnya saja ya... Kamu memakluminya kan?" Jelas Rey menatap Cindy.
" Iya Mas... Semoga tidak lama lagi Kia bisa hamil lagi." Ucap Cindy.
" Amien.. Makasih sayang" Sahut Rey.
" Anak Papa... Maaf ya kita belum bisa metik mangga milik Om Indra, Lain kali saja ya kalau hati Aunti Kia sudah membaik." Ujar Rey mengelus perut Cindy.
" Baik Papa." Sahut Cindy menirukan suara anak kecil.
Rey memeluk Cindy dengan perasaan bahagia. Ia tidak menyangka jika hatinya bisa move on dari Kia. Saat ini nama Kia benar benar sudah tergeser oleh nama Cindy, Walau masih ada namanya di bagian pojok yang paling dalam. Karna bagaimanapun Kia adalah cinta pertamanya. Kata orang cinta pertama tidak akan mati, Mungkin itulah yang di rasakan Rey sampai saat ini.
TBC.....
Ayo donk DUKUNG author dengan LIKE KOMENT VOTE dan HADIAH agar cerita ini tidak turun popularitasnya...
Author mohon dengan sangat ya... Baca juga karya author dengan cerita lainnya... Makasih atas suport yang kalian berikan...
__ADS_1
...MISS U ALL...