Pria Cacat Itu Suamiku

Pria Cacat Itu Suamiku
Menghabiskan Waktu Berdua


__ADS_3

Malam hari sebelum tidur, Indra memanggil Kia untuk duduk di sampingnya. Indra menyandarkan tubuhnya pada headboard, Sedang Kia bersandar di bahunya. Indra menggenggam tangan Kia sambil mengelus pucuk kepala Kia.


" Say... Aku mau bilang sesuatu padamu, Apa kamu mau mendengarku?" Ucap Indra menunduk.


" Apa Mas?" Tanya Kia.


" Sayang.... Kalau aku melarangmu untuk tidak merawat Dimas gimana?" Tanya Indra lembut takut Kia marah.


" Mas... Aku nggak merawat Dimas... Yang merawat Dimas itu suster Mas, Aku hanya menemaninya saja dan memberi semangat supaya dia punya semangat untuk melanjutkan hidupnya." Ujar Kia.


" Mas tahu sayang tapi itu berarti kamulah penyemangat hidupnya, Aku tidak mau dia bergantung padamu, Aku keberatan akan hal itu Sayang."Ucap Indra.


" Hhh Seperti nyanyian ya Mas... Bojomu semangatku... " Canda Kia.


" Iya ya lagu lagu itu." Ujar Indra.


" Emang Mas tahu lagunya?" Tanya Kia.


" Enggak." Sahut Indra.


" Heh kirain." Ucap Kia.


" Yang jelas Mas nggak suka kamu ada di dekatnya Say, Bagaimanapun dia itu punya rasa spesial untukmu, Aku takut semua itu justru membuat dirinya kembali mengharapkanmu." Ujar Indra.


"Apa Mas tidak ridho jika aku menemuinya bahkan hanya menemaninya saja?" Tanya Kia mendongak, Ia menatap mata Indra.


" Hmmm Mas nggak rela kalau kamu dekat dengan pria lain, Dia bukan muhrimmu, Kemarin kemarin Mas masih meridhoinya, Tapi sekarang udah enggak, Dosa lhoh kalau Mas nggak meridhoinya, Kamu nggak akan mencium bau surga." Sahut Indra.


" Baiklah Mas sesuai keinginanmu, Aku tidak akan menemani Dimas lagi, Tapi ijinkan sesekali aku menengoknya ya Mas, Itupun bersamamu." Ucap Kia.


"Hmmm.. Terima kasih sayang kamu memang istri terbaik." Ucap Indra mengecup kening Kia.


" Maafkan aku Mas yang sudah membuatmu tersakiti, Aku tidak bermaksud melukaimu aku hanya ingin membantunya saja." Ujar Kia.


" Aku yang seharusnya minta maaf sayang, Karna akulah yang sudah melukai hatimu." Sahut Indra. Kia menganggukkan kepalanya.


" Mas..." Kia mendongak menatap Indra.


" Hmm Ada apa?" Tanya Indra.


" Kalau aku mencari ganti untuk menemani Dimas di saat seperti ini gimana?" Ucap Kia.


" Ya nggak pa pa yang penting bukan kamu, Emang siapa yang jagain Dimas?" Tanya Indra.


" Sepupuku... Anggun.... Dia mau kesini cari pekerjaan, Untuk sementara aku suruh dia merawat Dimas gimana?" Tanya Kia meminta pendapat Indra.


" Ya nggak pa pa kalau Anggunnya mau." Sahut Indra.

__ADS_1


" Ta...tapi.... Aku harus ngasih uang jajan kepadanya he he." Ucap Kia sambil cengengesan.


" Terserah kamu saja Say.... Kan uangku ada di kamu semua, Aku cuma kerja doank gak nerima bayaran." Gurau Indra mencubit hidung Kia.


" Ih Massss kok gitu sih... Aku juga gak pake semua uang kamu, Cuma ambil jatah bulanan aja lho." Sahut Kia mengerucutkan bibirnya.


" Iya sayang kamu ambil semua juga boleh kok, Aku kerja juga buat kamu, Aku hanya bercanda." Ucap Indra mengelus kepala Kia.


" Buat aku semua Apanya? Saat Gea di sini kamu udah menghabiskan berapa juta aja." Cebik Kia.


" Ya maaf Say... Aku nganggep dia sebagai adek, Adek yang aku sayangi.... Biasa juga aku selalu memanjakannya, E... nggak tahunya justru buat bencana buat rumah tangga kita, Maaf Say." Ujar Indra.


" Nggak usah di pikirkan lagi Mas, Aku udah maafin kamu." Sahut Kia


" Mulai sekarang lupakan masa lalu, Kita buka lembaran baru... Tapi inget jangan ulangi hal yang sama lagi." Ujar Kia.


" Baik sayang aku tidak akan mengulanginya, Kenapa kamu terlihat begitu peduli dengan Dimas?" Tanya Indra.


" Karna rasa kemanusiaan saja Mas, Dia juga sahabatmu kan? Perbaiki hubungan sahabat itu mulai dari sekarang biar kita bisa hidup aman dan tentram Mas, Seperti aku memperbaiki hubungan kita." Ujar Kia.


" Makasih sayang kamu mau memberikan aku kesempatan untuk selalu bersamamu, Terima kasih udah mau melupakan rasa sakit yang pernah aku torehkan di hatimu... I Love U." Ucap Indra mencium pucuk kepala Kia.


" Love U too Mas, Semoga kita bisa segera dapat gantinya." Sahut Kia membenamkan wajahnya ke dada bidang suaminya.


" Amien... Kita akan berusaha lebih giat, Kalau perlu siang malam kita buat adonannya biar cepat jadi." Ucap Indra.


"Begini akan jauh lebih baik, Aku nggak mau hubunganku dengan Mas Indra semakin jauh, Aku harus melawan hatiku aku harus berdamai demi masa depan bahagia." Gumam Kia dalam hatinya.


" Sayang... " Panggil Indra.


" Iya Mas." Sahut Kia.


"Kangen..." Rengek Indra.


" Apasih Mas aku belum bisa." Jawab Kia.


" Belum bisa apa?" Tanya Indra.


" Eh..." Kia kebingungan mau jawab apa.


" Belum bisa apa hmm?" Indra menyentuh bahu Kia membuat Kia bebalik menghadapnya.


Indra menangkup wajah Kia. Ia menatap wajah cantik istrinya. Indra memajukan wajahnya, Ia mengecup mesra bibir Kia. Kia memejamkan matanya. Indra menggigit pelan bibir bawah Kia, Kia membuka mulutnya membuat lidah Indra menyusup ke dalam mulutnya. Ia mengekspos setiap inchinya. Indra me***** lembut bibir manis milik Kia. Keduanya menikmati sensasi yang memabukkan. Setelah di rasa keduanya kehabisan pasokan oksigen, Indra melepas pagutannya. Ia mengusap pelan bibir Kia dengan jempolnya.


" Manis." Ucap Indra.


" Apasih Mas." Sahut Kia.

__ADS_1


" Bibir kamu manis Sayang..." Ujar Indra.


" Udah ah aku mau telepon Anggun dulu." Kia segera beranjak, Ia mengambil ponselnya di atas nakas.


Kia mencari kontak Anggun lalu meneleponnya. Ia duduk di tepi ranjang menunggu Anggun mengangkat panggilannya. Indra berbaring di belakang Kia sambil memeluk perutnya dari belakang.


" Massss..." Ucap Kia.


" Hmmm." Gumam Indra.


" Minggir dulu ih aku mau telepon." Ujar Kia.


" Ya tinggal telepon aja Say..." Sahut Indra.


Kia menghela nafasnya membiarkan sikap manja bayi besarnya kembali. Panggilan tak terjawab, Kia mencoba mengulangi lagi. Tak selang berapa lama Anggun mengangkat teleponnya.


" Halo Ya." Sapa Anggun. Ingat kan kalau saudara Kia memanggilnya dengan panggilan 'Ya' di ambil dari nama belakang Ki A.


" Hallo Nggun... Kapan kamu kesini?" Tanya Kia.


" Besok pagi aku langsung otw dari sini." Sahut Anggun.


" OK aku tunggu, Aku punya kerjaan buat kamu." Ucap Kia.


" Siap bosss... Aku segera ke sana tapi nunggu besok ya." Ujar Anggun.


" Ya udah hati hati ya... Bye.." Kia memutus sambungan teleponnya. Sedang Indra tangannya sudah berkelana kemana mana.


" Mas udah ih... Geli tahu." Ucap Kia.


" Pengin nyentuh aja Say.... Dah lama juga." Sahut Indra.


" Nanti ada yang tegang.... Belum genap empat puluh hari Mas, Aku nggak bisa tanggung jawab lho." Ujar Kia.


" Kurang berapa hari lagi Say?" Tanya Indra tanpa menghentikan aktifitas tangannya.


" Semingguan lagi, Ya udah bobok aja ya Mas." Ujar Kia.


" Hmm Baiklah." Sahut Indra.


Indra membenarkan posisinya, Kia berbaring di membelakangi Indra, Seperti biasa Indra akan memeluknya dari belakang. Posisi inilah yang membuat Indra nyaman. Ia sangat bahagia akhirnya Indra bisa merasakan moment moment seperti ini lagi. Ia sangat merindukan sikap Kia yang manis, Penyayang, Penyabar seperti ini. Indra sangat berharap agar Ia tidak melakukan kesalahan yang membuat Kia menjauhinya lagi. Mereka terlelap bersama di dalam ruangan bersuhu sejuk karna AC ini.


TBC......


Maaf kalau author salah menafsirkan ya.. setahu author kalau keguguran sama dengan lahiran ada masa nifasnya...


Jangan lupa like di setiap babnya ya...

__ADS_1


Miss U All makasih atas suport yang kalian berikan, Tanpa suport dari readers author bukan siapa siapa...


__ADS_2