Pria Cacat Itu Suamiku

Pria Cacat Itu Suamiku
Dimas Sadar


__ADS_3

Sesampainya di rumah Kia segera memasak untuk makan malam nanti, Setelah selesai Ia kembali ke kamar untuk mandi. Saat Ia keluar kamar mandi ternyata Indra sudah pulang, Ia duduk di tepi ranjang dengan wajah di tekuk.


" Kenapa Mas?" Kia menghampiri Indra.


" Lagi kangen sama kamu aja, Seharian sibuk nggak kasih kabar ke suaminya." Sahut Indra.


" Lebay." Decak Kia.


Kia mulai membantu Indra membuka kemejanya, Setelah itu Ia menyiapkan air hangat untuk suaminya.


" Udah siap Mas, Mandi gih." Ucap Kia. Indra berdiri di depan Kia.


" Makasih Say kamu udah mau maafin aku, Love U." Indra mencium kening Kia lalu segera masuk ke dalam kamar mandi.


Kia menuju almari pakaian untuk menyiapkan baju ganti Indra. Kalau celana dan cd nya sudah Kia siapkan di ruang ganti, Nggak mungkin kan Kia membantu memakaikannya?Walau Indra suaminya tapi Kia malu untuk melakukannya. Tak lama Indra keluar dari kamar mandi, Ia kembali duduk di tepi ranjang. Kia menghampirinya dengan kemeja di tangannya.


" Sini Mas." Ucap Kia. Kia memakaikan kemeja Indra dengan hati hati.


" Apa masih sakit?" Tanya Kia menyentuh tangan Indra yang masih di perban.


" Sakitnya tidak sebanding dengan apa yang aku lakukan padamu Say, Maafkan aku." Sahut Indra.


" Nggak perlu di bahas lagi Mas, Semua itu hanya membuat emosi yang sudah aku redam kembali muncul ke permukaan." Ucap Kia


" Baiklah maafkan aku, Aku berjanji tidak akan mengulanginya." Ujar Indra.


" Ya udah ayo makan malam dulu." Ajak Kia.


Mereka berjalan berdampingan menuju ruang makan, Sesampainya di sana Kia meladeni Indra dengan baik. Walau sikap Kia masih dingin kepadanya, Tapi Indra begitu bahagia setidaknya Kia masih peduli padanya dan menganggapnya sebagai suaminya. Karna luka butuh waktu lama untuk sembuh bukan? Indra menyadari semua itu. Ia akan bersabar menanti sikap hangat Kia kembali.


Selesai makan malam mereka duduk berdua di ruang tamu sambil menonton chanel tv. Biasanya Kia akan merebahkan kepalanya ke bahu Indra tapi sekarang tidak lagi, Jujur Indra merindukan moment moment seperti itu. Sampai tiba tiba...


Drt drt drt


Ponsel Kia berdering tanda panggilan masuk, Kia segera membukanya dan melihat ID pemanggil...


Chandra is calling


Kia menatap Indra, Ia bangun lalu mengangkat panggilannya.


" Hallo Bang Candra... Ada apa?" Tanya Kia. Candra meminta Kia memanggilnya Abang supaya lebih akrab.


" Dimas Ki..." Ucap Candra.


" Dimas kenapa Bang?" Tanya Kia cemas. Indra langsung menatap tidak suka mendengar Kia mencemaskan Dimas.


" Dimas coleps... Sepertinya dia tidakk akan tertolong lagi." Lirih Candra.


" Ya Allah Bang... Jangan seperti itu, Aku akan kesana." Kia mematikan panggilan teleponnya.


Kia berlari menuju kamar mengganti pakaiannya. Indra mengepalkan tangannya melihat Kia yang mencemaskan orang lain. Kia berlari lari menuruni tangga.


" Hati hati Say jangan lari gitu." Ucap Indra.

__ADS_1


" Mas aku harus ke rumah sakit sekarang, Dimas coleps, Aku pamit ya." Ucap Kia.


" Aku ikut." Sahut Indra.


" Baiklah ayo." Ajak Kia.


Setelah memasuki mobil, Kia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Tak berapa lama mereka sampai ke rumah sakit yang di tuju. Kia segera masuk ke dalam menuju ruangan Dimas di rawat di ikuti Indra dari belakang.


Di depan ruangan nampak Candra sedang mondar mandir dengan cemas.


" Gimana keadaannya Bang?" Tanya Kia.


" Kritis Ki... Dia sempat kejang kejang, Dokter masih memeriksanya." Jawab Candra.


Tak lama Dokter keluar ruangan.


" Bagaimana keadaannya Dok?" Tanya Candra.


" Detak jantungnya melemah, Sepertinya sudah tidak ada harapan lagi, Kita hanya menunggu saja." Sahut Dokter.


" Tidak Dok... Tidak mungkin, Dimas pasti bisa tertolong.... Aku mau menemuinya." Ujar Kia.


Kia masuk ke ruangan dimana semua alat medis yang tadi menempel pada tubuh Dimas sudah di lepas. Candra sudah pasrah dengan keadaan Dimas saat ini.


" Dim bangun Dim...." Kia mengguncang bahu Dimas. Candra dan Indra menatapnya dari belakang.


" Dim jangan seperti ini... Bukankah kita sudah berjanji akan menjadi teman, Bangunlah ku mohon." Kia menggenggam tangan Dimas dan menempelkan pada pipinya. Hati Indra bergemuruh menahan sesak di dadanya.


" Dimas... Kau bilang kau menyayangiku kan? Sayangi aku sebagai temanmu... Aku tidak mau kehilanganmu... Bangunlah Dim... Ku mohon.. Hiks.... Hiks...Bangunlah..." Isak Kia.


" Tadi siang kau menggenggam tanganku bukan? Kau tidak mau kehilangan aku? Bangunlah... Aku akan menemanimu sampai kondisimu pulih.. Aku janji... Sekarang bangunlah ha..aaa.." Kia menangis sesegukan melihat keadaan Dimas yang tidak berdaya. Dimas memang pernah berbuat jahat kepadanya, Tapi bukankah Kia sudah membalasnya? Bukankah terakhir mereka berpisah dengan baik pula? Kia tak kuasa menahan sedih jika harus kehilangan temannya.


Indra mengepalkan tangannya melihat Kia menangisi pria lain di depannya.


" Aku merasakan apa yang kamu rasakan saat aku bersama Gea... Tanpa kau sadari kau sudah membalas rasa sakitmu kepadaku sayang." Batin Indra.


" Dimas... Bangunlah... Aku akan membencimu jika kau masih setia menutup matamu... Aku akan membencimu..." Teriak Kia.


" Dimas.... Bangunlah... Buktikan jika kau menyayangiku." Lirih Kia masih memeluk tubuh Dimas.


Tanpa di sangka Dimas menggerakkan jarinya. Ia mulai mengerjapkan matanya dengan perlahan, Dimas mengelus rambut Kia.


" Kiki.." Lirih Dimas.


Kia mendongak menatap wajah Dimas.


" Dimas??" Kia mengusap air matanya. Candra dan Indra menatap ke arah Dimas.


" Dimas kau sudah sadar?" Candra mendekati ranjang Dimas.


" Ki Dimas sudah sadar... Aku panggilkan Dokter." Ucap Candra.


Candra segera berlari memanggil Dokter. Sedang di dalam ruangan,

__ADS_1


" Ki..ki.." Lirih Dimas.


" Iya... Kau butuh sesuatu?" Tanya Kia.


" Ha...uss" Sahut Dimas.


Kia segera mengambil segelas air putih di atas nakas, Ia membantu Dimas untuk minum. Kia mengembalikan gelasnya di atas nakas kembali.


Candra masuk ke ruangan bersama dengan Dokter. Dokter mulai memeriksa Dimas. Kia menjauh dari ranjang ingin mendekati Indra,


" Tetaplah... di ....sini." Lirih Dimas mencekal lemah tangan Kia. Kia menoleh ke arah Dimas.


" Baiklah." Pasrah Kia. Ia duduk di kursi samping ranjang. Kia menatap Indra yang juga sedang menatapnya, Ada perasaan bersalah di hati Kia karna mengabaikan suaminya.


" Bagaimana Dok?" Tanya Candra.


" Kondisinya mulai stabil, Tetap semangati pasien agar bisa menerima keadaannya, Istirahat cukup dan rutin minum obat dapat membantunya cepat pulih." Jelas Dokter.


" Baik Dok." Sahut Candra.


" Sungguh saya tidak menyangka, Ini suatu keajaiban yang pernah saya lihat dengan mata kepala saya sendiri, Sungguh kekuatan cinta mengalahkan segalanya, Ternyata Tuan Dimas begitu mencintai kekasihnya." Ucap Dokter.


" Dia istri saya Dok." Sahut Indra. Dokter memicingkan matanya.


" Istri anda?" Tanya Dokter bingung. Pasalnya bagaimana bisa Dimas mencintai istri orang?


" Ya dia istri saya dan bukan kekasih Dimas." Ketus Indra.


" Oh maaf saya kira Nona ini kekasihnya Tuan Dimas, Sekali lagi saya mohon maaf." Ucap Dokter.


" Tidak masalah Dok." Sahut Kia mencairkan suasana.


" Kalau begitu saya permisi Tuan Candra... Mari." Pamit Dokter.


" Silahkan, Terima kasih Dok." Sahut Candra.


Setelah kepergian Dokter Indra duduk di sofa di ikuti oleh Candra.


" Maafkan saya Tuan Indra, Saya telah melakukan kesalahan fatal karna menyebabkan keluarga anda hancur berantakan, Saya menyesalinya Tuan, Sekali lagi saya mohon maaf." Ucap Candra. Indra menatap tajam ke arah Candra.


" Begitu mudahnya kau meminta maaf Tuan Candra, Sedangkan hubunganku dengan istriku masih tetap berjarak sampai saat ini, Apa yang harus aku lakukan untuk menghukummu?" Tanya Indra.


" Aku akan melakukan apapun untukmu Tuan." Ucap Candra.


" Tanggung jawab atas semua perbuatanmu, Buat Cinta istriku kembali padaku, Segera bawa pergi Dimas dari sini, Aku tidak mau istriku semakin menjauh dariku." Ujar Indra.


Candra melongo Ia tidak tahu harus menjawab apa, Karna tidak mungkin dia menjauhkan Dimas dengan Kia sedangkan Dimas masih membutuhkan suport dari Kia untuk menerima kondisinya...


TBC......


Dukung terus karya author donk biar semangat nulisnya... Like di setiap babnya ya... Hhhh author maksa nih.. Makasih atas dukungannya.


Miss U All...

__ADS_1


__ADS_2