Pria Cacat Itu Suamiku

Pria Cacat Itu Suamiku
7. Meja Makan


__ADS_3

Bryan menggandeng tangan Vanka menuju meja makan. Di sana sudah ada Mama Kia, Papa Indra dan satu makhluk yang tidak ingin di temui Vanka. Siapa lagi kalau bukan Brayen.


Deg...


Vanka menghentikan langkahnya saat melihat Brayen di meja makan. Bryan menggenggam erat tangan Vanka membuat Vanka menoleh ke arahnya. Bryan menganggukkan kepala memberi isyarat semua akan baik baik saja.


" Pagi semua." Sapa Bryan.


" Pagi sayang." Sahut Mama Kia.


" Duduk sini sayang." Bryan menarik kursi untuk Vanka.


" Makasih Mas." Ucap Vanka tersenyum manis ke arah Bryan. Bryan duduk di samping Vanka.


" Sayang kamu mau makan apa? Biar aku ambilkan." Ucap Brayen menatap Vanka.


" Tidak perlu repot repot Bray, ada suaminya di sini yang siap melayani Vanka kapan saja." Sahut Bryan menatap Brayen.


" Kau tidak tahu makanan kesukaan Vanka Bry, biar aku yang mengambilkan makanan untuknya." Ujar Brayen hendak menuang nasi ke piring Vanka, dengan cepat Bryan mencegahnya.


" Tidak perlu, sekarang kamu kakak iparnya jadi bersikaplah seperti kakak ipar pada umumnya." Tegas Bryan.


Brayen menurunkan tangannya. Ia menatap Vanka dengan mata nanar.


" Vanka kau suka rica rica daging kan? Akan aku ambilkan." Ucap Brayen menatap Vanka.


" Tidak Kak, seleraku sudah berubah mengikuti selera suamiku." Sahut Vanka.


" Bray, Bry tenanglah, saat ini kita mau makan jangan ribut." Ucap Papa Indra.


" Maaf Pa." Ucap Bryan.


" Kamu mau makan apa Mas? biar aku ambilkan." Ucap Vanka menatap Bryan. Bryan tersenyum padanya.


" Ayam lada hitam Yank." Sahut Bryan.


Vanka mengambil makanan untuk Bryan.


" Ini Mas." Ucap Vanka meletakkan piring berisi makanan di depan Bryan.


" Makasih sayang." Ucap Bryan. Vanka menganggukkan kepalanya.


Bryan mulai menyuapkan makanan ke mulutnya begitupun dengan Vanka. Saat Vanka hendak mengunyah makanan tiba tiba perutnya merasa mual.


" Mmhh." Vanka menutup mulutnya dengan tangannya.


" Kenapa sayang? Kamu mual?" Tanya Bryan menyentuh pundak Vanka.


Vanka menganggukkan kepalanya.


" Ayo." Bryan menggandeng Vanka menuju kamar mandi dapur.


" Sekarang muntahlah tidak perlu di tahan." Ujar Bryan.

__ADS_1


Huek... Huek..


Vanka memuntahkan makanannya. Bryan memijat tengkuk Vanka dengan pelan.


Huek...


" Anaknya Papa sayang, udahan ya protesnya kasihan Mama nih pagi pagi udah lemes, nanti Papa suapi deh makannya sekarang tenang dulu ya." Ujar Bryan.


Vanka membasuh mulutnya lalu mengelapnya dengan tisu.


" Udah?" Tanya Bryan.


" Udah Mas." Lirih Vanka.


" Nanti setelah dari rumah sakit, kita mampir minimarket buat beli susu hamil yang khusus untuk mual ya." Ujar Bryan.


" Iya Mas." Sahut Vanka.


" Ayo." Bryan merangkul pundak Vanka. Keduanya kembali ke meja makan.


" Kenapa? Apa kamu mual sayang?" Tanya Brayen.


Sebenarnya tadi Brayen hendak menyusul Vanka dan Bryan tapi Papa Indra mencegahnya.


" Berhentilah memanggilnya sayang, seperti Vanka berhenti memanggilmu Mas." Ucap Bryan tidak terima.


" Tapi aku masih sayang sama Vanka Bry, dan aku akan merebutnya kembali darimu." Sahut Brayen.


" Kamu memang tidak tahu malu Bray." Cebik Bryan.


" Baiklah sayang, sini Mas suapi." Ucap Bryan.


" Hmm." Gumam Vanka menganggukkan kepalanya.


" A'." Bryan menyuapkan makanan ke mulut Vanka. Vanka mulai mengunyah makanannya dan ajaibnya Vanka tidak merasakan mual.


" Mual nggak Dek?" Tanya Bryan.


" Enggak Mas." Sahut Vanka.


" Hubungan ayah dan anak mulai terjalin rupanya." Ucap Mama Kia membuat Brayen mendengus kesal.


" Iya anak Papa pinter rupanya, makannya pengin di suapi Papa ya, baiklah mulai sekarang Papa akan selalu menyuapi Mamamu." Ujar Bryan.


" Maaf Mas merepotkanmu." Ucap Vanka.


" Ngomong apa sih kamu, Mas memang harus ikut andil dalam hal ini sayang, sekarang makan lagi yang banyak biar sehat." Sahut Bryan sambil menyuapkan makanan ke mulutnya sendiri.


" Iya Mas." Sahut Vanka.


" Ma mulai besok masak menu khusus untuk ibu hamil ya." Ujar Bryan.


" Nggak usah Mas, nanti akan merepotkan Mama." Ujar Vanka.

__ADS_1


" Tidak masalah sayang, Mama akan menyuruh Bibi untuk memasaknya untukmu." Sahut Mama Kia.


" Pa, Ma, setelah ini aku sama Vanka mau ke rumah sakit untuk memeriksakan kandungan Vanka." Ucap Bryan.


" Baguslah kalau gitu, nanti aku akan buatkan janji dengan dokter obgyn." Sahut Brayen.


" Tidak perlu repot repot mengurusi anak dan istriku Bray, aku bisa sendiri, aku juga sudah membuat janji dengan dokter Reni." Ujar Bryan.


" Jangan lupakan Bry kalau aku...


" Aku ayah kandungnya." Bentak Bryan menggebrak meja membuat semua orang berjingkrak kaget.


" Mass." Lirih Vanka.


" Kamu sendiri yang menolak kehadiran mereka Bray, jadi sejak aku menikahi Vanka mereka bukan lagi siapa siapa kamu, Vanka dan anaknya adalah milikku, hanya milikku seorang tidak ada yang lain." Tekan Bryan menunjuk Brayen.


" Aku sangat mencintai Vanka Bry, untuk saat ini aku membiarkanmu memiliki mereka, tapi setelah aku mendapat gelarku, aku akan mengambil mereka kembali karna aku tahu kalau cinta Vanka hanya untukku, anak itu bukti dari buah dari cinta kami." Ucap Brayen.


" Heh... Apa kau yakin Vanka mau menerimamu kembali setelah apa yang kamu lakukan padanya? Tanya sajakan padanya dan kau akan mendengar jawaban dari bibirnya sendiri." Sahut Bryan.


" Mungkin untuk saat ini dia akan mengatakan tidak, tapi aku yakin dia akan menerimaku karna dia tidak akan tega memisahkan anak dari ayah kandungnya." Ucap Brayen membuat keyakinan Bryan kepada Vanka sedikit goyah.


Benarkah? Bagaimana jika itu benar? Bagaimanapun ikatan darah lebih kental dari segalanya kan? Lau bagaimana dengan dirinya? Pikir Bryan.


" Berhentilah berbicara omong kosong Kak Brayen." Ucap Vanka angkat bicara.


Bryan menatap ke arah Vanka begitupun dengan yang lainnya.


" Kenapa kau percaya diri sekali Kak? Aku bukan barang yang bisa sesuka hatimu kau buang dan kau ambil kembali, sesuatu yang sudah kau lepaskan tidak akan pernah kembali lagi ke tanganmu, bagiku tidak ada kesempatan kedua dan kau telah membuang kesempatan itu." Sambung Vanka.


" Dan ingat, sejak kau tidak mau menerima kami sejak itu juga kau kehilangan hak atas kami, baik diriku ataupun anak ini, kau begitu bangga dengan gelarmu itu hingga membuatmu melupakan kami kan, maka aku katakan jika suatu saat nanti gelar itulah yang akan menghancurkan dirimu." Tegas Vanka.


" Ayo Mas kita berangkat, aku sudah kenyang." Ajak Vanka.


" Baiklah sayang, Ma Pa kami pergi dulu." Ucap Bryan.


" Hati hati sayang, semua semuanya baik baik saja." Ucap Mama Kia.


" Terima kasih Ma." Ucap Vanka.


Bryan menggandeng tangan Vanka meninggalkan meja makan. Brayen mematung menatap kepergian mereka memikirkan ucapan Vanka.


" Ma... Apa aku terlalu egois hingga aku mencampakkan Vanka dan anakku?" Lirih Brayen.


" Sangat... Kau sangat egois sekali, seperti kata Vanka suatu saat nanti gelar yang kau banggakan akan menghancurkan dirimu, kau menolak kebahagiaan yang Tuhan berikan kepadamu Bray, kau akan hancur setelah mendengar anakmu memanggil Papa kepada orang lain, jika saat itu tiba kau tidak boleh menyesalinya." Tutur Mama Kia.


" Ayo Pa kita pergi." Ucap Mama Kia menarik tangan Papa Indra meninggalkan Bray sendiri.


TBC......


Jangan lupa like dan koment di setiap babnya...


Terima kasih untuk para readers yang sudah mensuport author semoga sehat selalu...

__ADS_1


Miss U All.....


__ADS_2