
" Gimana Yank?" Tanya Indra menghampiri Kia.
Kia menunjukkan kedua tespack itu kepada Indra. Indra mengambilnya lalu menatap tidak percaya ke arah benda kecil itu...
" Ini......
" Maaf Mas..." Ucap Kia.
" Maaf untuk apa Yank?" Indra mengerutkan keningnya.
" Maaf karna aku akan sering merepotkanmu, Apalagi selama kehamilanku Mas." Ujar Kia.
" Astaga Yank... Aku kira kenapa." Sahut Indra.
" Eh bentar..... Kehamilanmu? Jadi artinya garis dua itu kamu hamil?" Tanya Indra memastikan. Kia menganggukkan kepalanya.
" Kamu positif hamil Yank?" Tanya Indra tidak percaya.
" Iya Mas..." Jawab Kia.
" Aaaaaaaaaaa Aku bahagia banget sayang... Akhirnya aku akan jadi seorang Daddy." Pekik Indra memeluk Kia dengan satu tangannya.
" Makasih sayang.... Akhirnya kita di beri kepercayaan lagi." Ujar Indra melepas pelukannya, Ia menatap wajah Kia.
Cup cup cup
Indra menciumi wajah Kia dengan perasaan bahagia yang membuncah dalam hatinya. Indra berlutut di depan Kia.
" Sayang.... Sehat sehat di dalam perut Mommy ya... Daddy sudah tidak sabar menanti kelahiranmu... Muah..." Ucap Indra mencium perut Kia.
" Sayang..... Apa dia sudah berwujud seperti bayi?" Tanya Indra.
" Ya belum lah Mas, Baru juga beberapa minggu." Sahut Kia.
" Mulai sekarang kamu tidak boleh kecapekkan, Jangan melakukan pekerjaan apapun, Biar aku yang mengerjakan semuanya." Semangat Indra.
" Kalau aku nggak boleh ngapa ngapain lalu siapa yang akan masak untuk kamu Mas, Emang kamu bisa masak sendiri?" Tanya Kia. Indra menggelengkan kepalanya.
"Boro boro aku bisa masak Yank, Pegang pisau aja di larang sama Mama, Aku merasa jadi suami yang tidak berguna sekarang." Sahut Indra.
" Hei jangan bersedih Mas..... Aku kan masih bisa masak Mas, Orang yang ngidam kamu, Yang mual mutah kan kamu jadi aku bebas ngelakuin apa aja, Termasuk masak." Ujar Kia.
" Tapi kalau kamu capek kasihan babynya Yank, Mulai besok aku akan cari art biar kamu nggak kecapekan." Ucap Indra.
" Baiklah terserah kamu saja Mas... Ayo kita tidur." Ujar Kia.
" Aku mandi dulu." Ujar Indra mencium kening Kia.
Setelah Indra masuk ke kamar mandi, Kia segera menyiapkan baju ganti untuk suaminya. Tak berapa lama Indra keluar dari kamar mandi, Ia segera menghampiri Kia yang sudah siap dengan baju di tangannya. Kia segera memakaikan pakaian suaminya.
" Selesai sekarang tinggal tidur nyenyak." Ucap Kia.
" Yank.." Ucap Indra memeluk Kia.
" Apa Mas?" Tanya Kia.
" Dedeknya pengin bakso...." Ujar Indra manja.
" Udah malam Mas." Ujar Kia.
" Pengin banget Yank..." Rengek Indra.
" Tadi aja nyuruh aku istirahat nggak boleh kecapekan, Sekarang minta bakso." Ujar Kia.
" Maaf Yank..." Ucap Indra dengan raut muka sedih. Ia membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Ia menutup matanya dengan tangan kanannya.
Kia menghela nafasnya Ia tidak tega melihat suaminya bersedih. Kia duduk di tepi ranjang di samping Indra. Ia melihat jam dinding yang menunjukkan jam sebelas malam.
" Mas... Pengin banget ya?" Tanya Kia menyentuh bahu Indra.
" Hmm." Gumam Indra.
" Ayo kita beli." Ajak Kia.
" Beneran?" Tanya Indra dengan mata berbinar. Ia duduk sambil menatap ke arah Kia.
" Iya... Ayo pakai dulu jaketmu." Ujar Kia.
" Tapi udah malam Yank, Entar kamu capek nyetirnya." Ujar Indra.
" Enggaklah Mas kita cari yang deket aja gimana?" Ucap Kia.
" Baiklah ayo." Sahut Indra.
Indra menggandeng Kia berjalan menuju mobilnya, Kia segera melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju kedai bakso terdekat dari rumahnya. Tak berselang lama akhirnya mereka sampai di kedai yang di tuju.
" Sudah tutup Mas." Ujar Kia menatap orang di depan kedai yang hendak menutup pintunya.
Kia segera turun dari mobil berlari menghampiri pria di depan kedai tersebut.
__ADS_1
" Malam Mas... Saya mau beli bakso." Ujar Kia.
" Saya udah tutup Mbak.. Besok aja ya.." Sahut Masnya.
" Tolong lah Mas saya....
" Sayang kenapa kamu lari lari? Kalau ada apa apa sama babynya gimana?" Ucap Indra menghampiri Kia membuat Kia dan Mas penjual bakso menoleh ke arahnya.
" Mbak nya lagi hamil?"Tanya Mas nya.
" Iya Mas... Saya lagi...." Kia menjeda ucapannya, Ia malu kalau harus mengatakan kalau suaminya lagi ngidam.
" Mbaknya lagi ngidam... Baiklah mari akan saya buatkan bakso khusus buat Mbak dan Masnya." Ujar Mas penjual bakso membuka kembali pintunya.
Akhirnya Indra keturutan makan bakso di malam ini. Ia bahkan menghabiskan empat mangkok bakso kosong, (Tanpa mie maksudnya bukan mangkoknya doank).
Setelah puas makan bakso, Kia dan Indra kembali pulang ke rumah mereka.
...****************...
Huek... Huek....
Kia mengerjapkan matanya mendengar Indra mutah, Ia segera turun dari ranjang menghampiri Indra di dalam kamar mandi.
" Mass..." Ucap Kia hendak menghampiri Indra.
" Jangan ke sini Yank.... Jorok." Cegah Indra sambil membasuh mulutnya dengan air.
" Nggak pa pa Mas... Lagian mutahnya juga hanya cairan doank." Sahut Kia.
Kia menghampiri Indra lalu memijat tengkuknya. Setelah Indra baikan Kia memapah Indra menuju ranjang. Ia merebahkan tubuh Indra di atas ranjang bersandar pada headboard.
" Aku bikinin teh hangat ya Mas." Ucap Kia. Indra menganggukkan kepalanya.
Kia membuatkan teh untuk Indra di dapur, Setelah selesai Ia membawanya ke kamar.
" Ini tehnya Mas." Ucap Kia menyodorkan segelas teh hangat ke arah Indra. Indra langsung menutup hidungnya.
" Jauhkan tehnya Yank." Ucap Indra.
" Mas mual bau teh?" Tanya Kia memastikan.
" Iya... Buruan bawa pergi Yank." Titah Indra.
" Baiklah." Sahut Kia membawa tehnya kembali ke dapur.
" Kemana sih Yank kok lama amat." Gerutu Indra.
" Bikin bubur buat kamu Mas.. Siapa tahu nggak mual kalau makan bubur." Sahut Kia.
Kia duduk di sebelah Indra, Ia mulai menyendok buburnya lalu menyodorkan ke mulut Indra.
" Ayo di makan Mas." Ujar Kia.
Indra menerima suapan dari Kia, Ia mengunyah buburnya dengan pelan.
Huek....
Indra memutahkan buburnya hingga mengenai baju Kia. Kia memejamkan matanya, Rasanya Ia bener bener pengin marah tapi melihat kondisi Indra yang seperti itu Ia jadi tidak tega.
" Maaf Yank.." Lirih Indra.
" Nggak pa pa Mas nanti aku sekalian mandi, Aku mandi dulu ya." Ucap Kia.
" Yank.." Panggil Indra saat Kia hendak melangkah.
" Iya Mas." Sahut Kia.
" Pengin duku...." Ucap Indra.
Kia menghela nafasnya mengumpulkan kesabarannya.
"Sabar Ki.... Sabar.... Nggak ngidam aja manja apalagi ngidam.. Ya Robb berikan aku kesabaran." Batin Kia
" Yank... Beliin ya." Ucap Indra menatap Ke atah Kia.
" Nanti ya Mas aku mandi dulu." Sahut Kia meletakkan mangkok buburnya ke atas meja, Ia segera berjalan menuju kamar mandi membersihkan dirinya.
Selang beberapa lama Kia keluar kamar mandi dengan badan yang lebih fresh. Ia menuju ruang ganti untuk memakai bajunya. Setelah selesai Kia berjalan menghampiri Indra yang masih tergolek lemah di atas kasur.
" Tidurlah Mas biar nggak lemas lagi." Ucap Kia.
" Beliin duku dulu." Ujar Indra.
" Baiklah Mas... Kamu tunggu di sini, Aku beli dulu ya." Ujar Kia mencoba menjaga kesabarannya.
" Baiklah tapi jangan lama lama ya." Sahut Indra. Kia menganggukkan kepalanya.
" Aku ambil ember dulu, Nanti kalau mau mutah di ember aja ya Mas." Ujar Kia berjalan ke kamar mandi mengambil ember lalu meletakkannya di samping ranjang.
__ADS_1
Cup.... Kia mencium pipi Indra.
" Aku pergi dulu." Ucap Kia.
Kia berjalan keluar meninggalkan Indra. Saat hendak membuka pintu, Kia kaget karna di depan pintu sudah ada Andre.
" Pagi Ki." Sapa Andre.
" Pagi Mas.." Sahut Kia
" Aku dengar Indra sedang sakit, Aku mau menjenguknya." Ucap Andre.
" Masuklah Mas aku mau pergi sebentar." Ujar Kia.
" Mau kemana pagi pagi gini? " Tanya Andre.
" Mau beli duku." Sahut Kia.
" Duku?????" Tanya Andre.
" Iya Mas Indra lagi ngidam duku." Jawab Kia
" Ngidam??? Kamu hamil?" Andre bertanya lagi.
" Kamu kaya' w*rtaw*n aja Mas banyak banget pertanyaannya, Iya aku hamil tapi Mas Indra yang ngidam." Sahut Kia.
" Aaaaaaaaa Selamat Ki.... Selamat akhirnya aku akan menjadi seorang Ayah." Pekik Andre memeluk Kia.
" Lepasin bini gue..." Ucap Indra menepis tangan Andre agar melepas pelukannya. Dengan sedikit sempoyongan Ia memaksa menghampiri mereka setelah melihat Andre memeluk istrinya.
" Ah iya maaf maaf.. Gue hanya senang aja akhirnya gue akan menjadi seorang Ayah." Ucap Andre.
" Apaan orang dia anak gue." Cebik Indra. Kia menuntun Indra kembali berjalan menuju ranjangnya di ikuti Andre dari belakang.
" Kita itu kembar Brooo.... Anak Lo ya anak gue juga.. Gue nggak mau di panggil Om, Gue maunya di panggil Ayah." Ucap Andre.
" Nggak bisa... Dia anak gue.. Dan harus manggil Lo Om... Lagian kamu juga Yank, Di peluk peluk Andre mau aja." Ucap Indra manyun.
"Ya aku kan nggak tahu kalau Mas Andre mau meluk aku Mas... Aku cuma kaget aja." Sahut Kia.
" Katanya mau beli duku Ki, Ayo aku antar." Ujar Andre mengalihkan pembicaraan supaya kedua insan di depannya tidak jadi ribut.
" Nggak jadi... Daripada di anter Lo mending Kia di rumah aja." Sahut Indra.
Kia hanya menghela nafas dengan pelan.
" Kamu nggak jadi mau makan duku?" Tanya Kia.
" Aku maunya kamu beli sendiri jangan sama Andre." Ujar Indra.
" Baiklah... Aku beli sendiri biar Mas Andre menemanimu di sini." Ucap Kia.
" Hati hati." Ujar Indra.
Kia berjalan menuju pintu,
" Yank." Panggil Indra menghentikan langkah Kia.
" iya Mas." Sahut Kia menoleh ke arah Indra.
" Sama beli manggis juga." Ujar Indra.
" Nanti kalau ada." Sahut Kia.
" Yank." Ucap Indra saat Kia hendak keluar.
" Apalagi Mas?..." Tanya Kia.
" Aku mau makan soto." Ucap Indra.
" Iya nanti aku beliin sekalian." Sahut Kia.
" Yank." Panggil Indra.
" Apalagi sih Mas." Bentak Kia tanpa sadar.
" Nggak jadi kamu marah sama aku, Kamu dah nggak sayang sama aku." Ketus Indra menutup seluruh tubuhnya dengan selimut. Tiba tiba...
Jenggleng.... Brak...(Anggap aja suara pintunya)
Kia menutup pintu dengan sangat kencang hingga menimbulkan suara yang sangat keras membuat kedua pria di dalam berjingkrak kaget.
TBC.....
*Gimana ceritanya? Mbosenin nggak sih? Ayo kasih like koment vote dan hadiahnya donk biar author semangat ya.... Author udah mulai lesu nih nulis ceritanya...
Makasih atas suport yang para readers berikan
...MISS U ALL*...
__ADS_1