
Bryan melajukan mobilnya menuju puncak. Tiga jam kemudian mobil Bryan sampai di Villa keluarga milik Bryan. Bryan memarkirkan mobilnya di halaman depan villa tersebut.
" Mas kita menginap di sini?" Tanya Vanka menatap sekitarnya.
" Iya, kenapa? Ini villa keluarga kita lhoh Dek." Bryan balik bertanya.
" Sepi nggak ada rumah lainnya." Ujar Vanka.
Sebuah Villa di tengah tengah perkebunan teh tanpa ada rumah lain di sekitarnya.
" Ya kan kalau bulan madu yang di tuju yang sepi sepi Dek, biar kita bisa berduaan gimana sih." Ujar Bryan.
" Ya aku takut kali Mas, masih siang gini aja sepi apalagi kalau malam, ih ngeri deh! Nanti kalau tiba tiba ada binatang buas atau maling gimana? Mana nggak ada tetangga sama sekali." Sahut Vanka.
" Tenang sayang Mas akan menjagamu, jadi jangan khawatir ya, kita nikmati saja acara bulan madu kita di sini selama satu minggu." Ujar Bryan mengelus rambut Vanka membuat Vanka menatap Bryan.
" Iya Mas." Sahut Vanka.
Nampak seorang pria seumuran Bryan menghampiri mobil mereka.
" Siapa Mas?" Tanya Vanka.
" Itu Asep, anaknya Mang Udin yang menjaga villa ini dan pengawas perkebunan teh di sini." Sahut Bryan.
" Oh." Gumam Vanka.
" Ya udah ayo turun." Ucap Bryan membuka pintu mobil.
Keduanya turun dari mobil di sambut oleh Asep.
" Pagi Den Bryan, selamat datang kembali ke villa ini." Sapa Asep.
" Pagi Sep, kenalin bini gue." Ucap Bryan.
Ya Asep bukan hanya pekerja di sini, Ia juga teman Bryan saat berkunjung ke villa. Mereka teman sejak kecil.
" Pagi Nona, saya Asep pekerja di sini." Ucap Asep menyalami Vanka.
" Vanka." Sahut Vanka.
" Oh namanya Nona Vanka, nama yang cantik secantik orangnya." Ujar Asep.
" Terima kasih Bang." Sahut Vanka.
" Ya udah mari masuk." Ucap Asep.
" Ayo sayang." Ajak Bryan.
Bryan menggandeng tangan Vanka berjalan masuk ke dalam Villa mengikuti Asep dari belakang.
" Bu.... Den Bryan udah datang nih." Teriak Asep memanggil Ibunya yang sedang menata bahan bahan makanan di dapur.
" Iya sebentar." Sahut Bi Liyah dari dapur.
" Duduk dulu, apa mau langsung ke atas Den?" Tanya Asep.
" Langsung ke atas aja Sep, mau rebahan sebentar sebelum berkeliling." Sahut Bryan.
" Baiklah Den, setelah Ibu selesai menata bahan makanan kami pamit pulang Den." Ujar Asep.
" Ok hati hati, makasih ya." Sahut Bryan.
" Sama sama Den." Sahut Asep.
Bryan menggandeng Vanka berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya.
Ceklek...
Bryan membuka pintu kamarnya. Terlihat kamar berukuran besar dengan jendela yang menghadap ke perkebunan, jadi mereka bisa melihat indahnya pemandangan hamparan perkebunan teh yang luasnya mencapai beberatus hektar dari kamar mereka.
" Mas indah banget pemandangannya." Ujar Vanka menghampiri jendela kamarnya.
" Iya sayang, seindah dirimu dan cinta kita." Sahut Bryan memeluk Vanka dari belakang.
" Udaranya sejuk banget Mas, suasananya terasa begitu tenang, jadi pengin deh tinggal di sini." Ujar Vanka menatap ke depan.
__ADS_1
" Shhh Mas...." Cebik Vanka saat Bryan menyesap tengkuknya.
" Apa sayang?" Tanya Bryan lembut.
" Mas ngapain?" Tanya Vanka.
" Mas cuma buat tanda doank sayang, tanda kepemilikan Mas." Sahut Vanka.
" Masih pagi Mas, nggak usah aneh aneh deh." Ucap Vanka.
" Emangnya kenapa? Udah halal ini, Mas mau ngapain aja bebas donk sayang, ini tubuh kan milik Mas." Ujar Bryan mencium pipi Vanka.
" Aku mau jalan jalan ke perkebunan dulu Mas." Ucap Vanka.
" Mas udah on sayang masa' di tinggalin gitu aja." Ujar Bryan.
Vanka membalikkan badannya menatap Bryan.
" Nanti malam aja ya Mas, sekarang kita jalan jalan lihat pemandangan biar aku nggak penasaran." Ucap Vanka mengalungkan tangannya ke leher Vanka.
Bryan menghela nafasnya lalu menghirup oksigen sebanyak banyaknya untuk menetralkan tubuhnya.
" Baiklah, tapi nanti malam nggak cuma sekali dua kali lhoh Mas melakukannya, dan ingat jangan protes." Ucap Bryan.
Glek.....
Vanka menelan kasar ludahnya. Nggak cuma sekali dua kali? Lalu mau berapa kali? Alamat nggak bisa jalan besok pagi.
" Iya deh aku nurut Mas aja." Sahut Vanka pasrah. Ia akan memikirkan hal itu nanti. Yang jelas saat ini Ia ingin jalan jalan menikmati pemandangan sekitar.
" Ayo." Ajak Bryan menggandeng Vanka.
Bryan dan Vanka berjalan menuruni tangga. Vanka mengedarkan pandangannya ke sekitar.
" Mas kok sepi?" Tanya Vanka.
" Lha kan cuma ada kita berdua sayang." Sahut Bryan.
" Bang Asep sama Ibunya kemana?" Vanka bertanya lagi.
" Lagian masa' bulan madu ada orang lain di rumah kan nggak asyik, nanti kalau Mas pengin di mana nggak bisa bebas donk." Ujar Bryan sambil cekikikan.
" Apa sih Mas, ngaco deh ngomongnya." Sahut Vanka membuat Bryan terkekeh dengan sikap malu malu istrinya.
Keduanya mulai berjalan menyusuri perkebunan.
" Mas apa di sana nggak ada ularnya? Rimbun pohon teh semua." Ujar Vanka bergidik membayangkan jika ada ular di antara pohon satu dan yang lainnya.
" Ya enggaklah sayang, kan setiap hari di siangi jadi di bawah nggak ada rumput luar yang tumbuh." Ucap Bryan.
" Oh." Sahut Vanka.
Keduanya melanjutkan perjalanan semakin menjauh dari villa.
" Kita istirahat di gubug itu Mas." Ucap Vanka menunjuk sebuah gubug.
" Baiklah sayang." Sahut Bryan.
Bryan dan Vanka istirahat di gubug yang biasa di gunakan para pekerja untuk makan siang.
" Mas foto dulu yuk." Ujar Vanka mengaktifkan kamera pada ponselnya.
" Cari gaya yang bagus donk Dek." Ujar Bryan.
" Gimana?" Tanya Vanka.
" Gini." Bryan merangkul pundak Vanka, lalu Ia mencium pipi Vanka.
Cekrek....
" Gimana bagus nggak?" Tanya Bryan.
Vanka melihat hasil jepretannya.
" Bagus Mas, ini akan menjadi kenangan pertama kita." Ujar Vanka.
__ADS_1
" Ayo foto lagi." Ajak Bryan.
Keduanya berselfi ria. Padahal selama ini Bryan sangat anti dengan kamera, tapi demi menyenangkan istrinya Ia berpura pura seolah suka mengabadikan fotonya.
Setelah lelah berjalan jalan, Vanka dan Bryan berjalan untuk kembali ke villa. Vanka mengedarkan pandangannya ke kanan jalan. Di tengah pohon teh ada pohon pinus yang tumbuh. Vanka menatap pohon itu dan...
Deg....
Jantung Vanka terasa berhenti berdetak, langkahnya terhenti seketika saat matanya menatap pria yang sangat Ia kenal. Pria bertubuh atletis dan tampan paripurna yang sedang berdiri di bawah pohon pines yang saat ini juga sedang menatap ke arahnya.
" Kenapa sayang?" Tanya Bryan.
" Mas Brayen." Ucap Vanka tanpa sadar.
" Apa? Kamu memanggil Bray?" Tanya Bryan tak percaya.
Tanpa menghiraukan ucapan Bryan, Vanka berlari menuju pria itu.
" Mas Brayen." Panggil Vanka sambil terus berlari.
" Vanka tunggu." Panggil Bryan mengejar Vanka.
Cukup jauh Vanka berlari hingga sampai ke pohon itu. Vanka menghentikan langkahnya, Ia mengedarkan pandangannya ke kanan dan ke kiri berharap bisa menemukan Brayen. Tapi sayang di sana justru tidak ada siapa siapa.
" Sayang sebenarnya apa yang kamu lihat?" Tanya Bryan dengan nafas ngos ngossan.
" Aku melihat Mas Brayen berdiri di sini Mas." Sahut Vanka.
Bryan menatap ke arahnya.
" Ah maaf maksudku Kak Brayen." Ralat Vanka.
" Bagaimana kamu bisa tahu kalau itu Bray sayang? Bray sudah tiada, mungkin kamu salah lihat aja." Ujar Bryan.
" Aku nggak mungkin salah lihat Mas, aku tahu betul bagaimana Kak Brayen, aku bersamanya lebih dari satu tahun Mas, aku nggak mungkin salah lihat." Ucap Vanka tanpa sadar jika ucapannya membuat Bryan sakit hati.
" Aku yakin itu Kak Brayen, tapi kemana dia?" Ujar Vanka mengedarkan pandangannya.
" Yah kau benar, kau lebih mengenal Brayen daripada Mas, kamu tahu betul bagaimana Brayen melebihi Mas." Ucap Bryan.
Vanka menatap Bryan, sorot mata Bryan menggambarkan rasa kecewa dan luka.
" Mas bukan maksudku begitu, aku....
" Sudahlah Mas mau pulang." Sahut Bryan memotong ucapan Vanka.
" Mas tunggu dulu Mas, percayalah padaku kalau aku tadi melihat Kak Brayen Mas, setidaknya kita cari dia dulu, aku yakin dia belum jauh dari sini." Ujar Vanka menahan Bryan yang hendak melangkah.
" Di sini tidak ada siapa siapa, mungkin kamu hanya salah lihat, kalau kamu mau mencarinya silahkan, Mas mau kembali ke villa dan kita pulang saja nanti sore." Ucap Bryan meninggalkan Vanka.
Entah mengapa hati Bryan terasa sakit melihat sikap Vanka yang begitu mempedulikan Brayen. Padahal Brayen sudah tiada.
" Mas tunggu dulu." Ucap Vanka mencekal tangan Bryan.
" Mas kita semua tahu kalau jasad Kak Brayen tidak di temukan, dan kita semua merasa kalau Kak Brayen masih hidup kan? Ku mohon Mas kita cari tahu dulu kebenarannya, bantu aku menemukan orang itu Mas, percayalah Mas kalau itu Kak Brayen." Kukuh Vankaenvoba membujuk Bryan.
" Lalu bagaimana jika itu bukan Bray? Apa kamu mau bertanggung jawab karena sudah memberikan harapan palsu tentang Brayen? Apa kamu tahu bagaimana perasaan Mas saat kamu mengatakan semua itu?" Ucap Bryan menatap Vanka.
" Mas...
" Sudahlah kita pulang saja, tidak ada gunanya kita lanjutkan bulan madu kita, karna Mas yakin saat ini pikiranmu di penuhi oleh Brayen." Kesal Bryan melanjutkan langkahnya.
" Kenapa aku sangat yakin kalau itu kamu Kak, kamu masih hidup, aku akan menyelidiki semua ini tanpa sepengetahuan Mas Bry, aku akan meminta bantuan kenalanku." Batin Vanka mengejar langkah Bryan.
Brayen bukan ya??????
Tunggu jawabannya di part selanjutnya....
Jangan lupa like koment vote dan hadiahnya ya biar author semangat....
Terima kasih untuk readers yang selalu mensuport author, semoa sehat selalu...
Miss U All....
TBC.....
__ADS_1
Miss U All....