Pria Cacat Itu Suamiku

Pria Cacat Itu Suamiku
18. Mama Kia Beraksi


__ADS_3

Bryan dan Brayen duduk di kursi depan Dokter Andreas. Keduanya siap menerima penjelasan dari Dokter.


" Begini Tuan Bray dan Bry, sepertinya Nona Devanka hanya amnesia sementara saja, tidak permanen jadi ada kemungkinan Nona Devanka bisa mengingat semuanya, tapi saya minta bersabarlah! Jangan memaksanya untuk mengingat semuanya karna itu bisa menyebabkan hal hal yang tidak di inginkan, saya juga akan melakukan scan untuk memperkuat dugaan saya." Jelas Dokter Andreas.


" Lalu kami harus bagaimana Dok?" Tanya Brayen menatap Dokter Andreas.


" Dengan berat hati saya menyarankan kepada Tuan Tuan semua untuk mengikuti apa yang Nona Devanka ingat dulu." Sahut Dokter Andreas.


" Maksud Dokter aku harus pura pura jadi suaminya?" Tanya Brayen memastikan.


" Iya Tuan, saya tahu kalau ini berat untuk Tuan Bryan, tapi dem kebaikan Nona Devanka, kau harus ikhlas Tuan Bryan." Ujar Dokter Andreas.


Bryan memejamkan matanya. Dokter benar, ini sangat berat untuk Bryan. Bryan menghela nafasnya dalam dalam.


" Aku ikhlas Dok, di sini aku juga ingin menguji cinta Vanka kepadaku, walaupun dia tidak ingat denganku, aku ingin tahu apakah dia bisa merasakan kehadiranku atau tidak." Sahut Bryan.


" Bagaimana kalau ternyata Vanka masih mencintaiku?" Tanya Brayen tiba tiba.


" Jika benar begitu maka aku yang akan melepasnya." Sahut Bryan sedih.


" Baiklah sesuai saran Dokter, aku akan menjadi suami sementara Vanka menggantikan posisimu, sama seperti kamu yang menggantikan posisiku Bry." Ucap Brayen.


" Tapi aku akan selalu mengawasimu, aku akan berada di sekitar kalian, aku tidak mau kau memanfaatkan kelemahan istriku seperti sebelumnya." Sindir Bryan.


" Baiklah kalau begitu Dok, kami permisi." Ucap Brayen.


" Silahkan Tuan." Sahut Dokter.


Brayen dan Bryan meninggalkan ruangan Dokter, keduanya kembali ke ruang rawat Vanka.


Ceklek.....


Brayen membuka pintunya. Keduanya masuk ke dalam menghampiri ranjang Vanka.


" Kau sudah kembali?" Tanya Vanka menatap Brayen.


" Hmm, sesuai keinginanmu." Sahut Brayen duduk di kursi dekat ranjang.


Vanka menatap Bryan yang sedang berdiri di dekat ranjang. Mata mereka lagi lagi bertemu membuat jantung keduanya berdebar.


" Ada apa dengan hatiku? Kenapa mata Kak Bryan begitu teduh, aku merasa nyaman dengan tatapan yang Ia berikan, dan sepertinya tatapan itu sangat familiar untukku." Batin Vanka.


" Tatap aku sepuas hatimu sayang, kau akan mengenali diri dan cintaku melalui tatapan ini." Batin Bryan.


" Sayang kamu mau makan apa?" Tanya Brayen menatap Vanka yang masih menatap Bryan.


Brayen menoleh ke arah Bryan yang sedang menatap Vank.


" Sayang." Ucap Brayen menyenggol lengan Vanka membuat Vanka menoleh ke arahnya.


" Ah iya Mas." Sahut Vanka.


" Kamu mau makan apa hmm? Kamu pasti lapar kan?" Tanya Brayen merapikan anak rambut Vanka membuat Bryan mengepalkan tangannya.


" Aku ingin makan....... " Vanka menggantung ucapannya kala sekelebat bayangan di meja makan melintas di kepalanya.


"Mas kamu mau makan apa?" Vanka bertanya pada seorang pria.

__ADS_1


" Ayam lada hitam saja sayang." Sahut pria itu.


" Vanka kamu suka rica rica ayam." Ucap pria satunya.


" Aku sudah tidak menyukainya Kak, seleraku sudah berubah sejak kau mencampakkan aku." Sahut Vanka.


" Sayang mau makan apa?" Brayen kembali bertanya kepada Vanka.


" Ayam lada hitam Mas." Sahut Vanka menatap Bryan.


Bryan tersenyum ke arahnya mendengar ucapan Vanka.


" Baiklah akan aku belikan, kamu di sini sama Bryan ya." Ujar Brayen.


Vanka menganggukkan kepalanya.


Brayen keluar ruangan meninggalkan mereka berdua. Bryan duduk di kursi samping ranjang menatap Vanka. Ia tersenyum manis ke arah Vanka.


" Apa sebelumnya kita saling mengenal? Kenapa sepertinya senyuman dan tatapanmu sangat familiar untukku?" Tanya Vanka menatap Bryan. Bryan tersenyum lagi kepada Vanka.


" Jika aku katakan kita sangat mengenal satu sama lain, apa kamu akan percaya padaku?" Bryan balik bertanya.


" Tidak." Sahut Vanka menggelengkan kepalanya.


" Aku hanya mengenal satu pria, yaitu Mas Brayen." Sahut Vanka menggelengkan kepalanya.


" Kalau begitu Mas tidak perlu menjawab pertanyaanmu." Ucap Bryan.


" Mas?" Tanya Vanka mengerutkan keningnya.


Lagi lagi ucapan Mas terasa familiar untuk Vanka. Vanka nampak bingung dengan semua ini.


"Ternyata hanya kepalamu yang melupakan Mas sayang, tapi hatimu masih mengenal Mas dengan baik, Ya Tuhan semoga ujian ini cepat berlalu." Gumam Bryan dalam hatinya.


Tak lama setelah itu Brayen masuk ke dalam membawa tiga plastik berisi sterefoam makanan pesanan Vanka.


" Sayang ini makanannya." Ucap Brayen menghampiri Vanka.


" Satu buat lo Bry." Sambung Brayen memberikan makanannya pada Bryan.


" Ini buatmu sayang, aku suapin ya." Sahut Brayen.


" Hmm." Gumam Vanka mengangguk.


Brayen membuka sterefoam makanannya, Ia mulai menyuapkan ke mulut Vanka.


" A' buka mulutmu." Ujar Bryan.


Vanka menerima suapan Brayen tapi entah mengapa tatapan matanya menatap Bryan yang sedang makan di sofa ujung sana.


" Apa kau lebih tertarik kepada Bry daripada aku?" Tanya Brayen membuat Vanka menoleh ke arahnya.


" Maaf." Sahut Vanka.


" Habiskan makanannya lalu setelah itu minum obatnya biar kamu cepat sembuh." Ujar Brayen.


" Iya Mas." Sahut Vanka.

__ADS_1


Ceklek......


Pintu terbuka membuat ketiga orang di dalamnya menoleh ke arah pintu.


" Sayang kamu sudah sadar." Ucap Mama Kia menghampiri Vanka.


Vanka menatap Brayen seolah bertanya tentang siapa wanita yang sedang menghampirinya.


" Ini Mama Kia, Mama mertuamu." Uca Brayen.


" Iya sayang, ini Mama." Sahut Mama Kia.


Bryan menelepon Mama Kia dan menceritakan apa yang terjadi pada istri tercintanya.


" Oh ya sayang, maaf Mama mau merepotkanmu." Ucap Mama Kia menatap Vanka.


" Merepotkan apa Ma?" Tanya Vanka.


" Untuk satu bulan ke depan Brayen akan menggantikan Papa keluar kota untuk menangani proyek yang ada di sana, dan Brayen tidak bisa pulang sebelum proyeknya selesai, kebetulan Mama sama Papa mau pulang kampung karna ada saudara yang hajatan sayang, tapi kamu tenang aja kamu akan di temani sama Bryan di sini." Ujar Mama Kia.


" Apa apaan Mama ini." Ujar Brayen.


" Kenapa? Kamu mau protes? Kamu lupa dengan janjimu sebelumnya?" Tanya Mama Kia menatap Brayen.


Mama Kia mendekati Brayen. Ia membungkukkan badannya.


" Mama tidak mau kau mengambil kesempatan untuk merebut Vanka dari Bry, jangan kamu kira Mama tidak tahu apa rencanamu." Bisik Mama Kia.


Deg....


Jantung Brayen berdetak kencang. Ia menatap ke arah Mamanya yang di balas kerlingan mata saja.


" Gimana Vanka? Kamu tidak keberatan kan kalau di tunggui sama Bryan? Anggap saja dia sebagai Brayen." Ucap Mama Kia melirik Brayen.


" Apa itu tidak merepotkan Kak Bryan Ma?" Tanya Vanka melirik Bryan.


" Tenang saja Bryan tidak keberatan dan merasa di repotkan, Ia malah seneng kok bisa membantumu, bener nggak Bry?" Tanya Mama Kia menoleh ke arah Bryan.


" Iya Ma." Sahut Bryan.


" Kau memang Mama terbaik untukku." Batin Bryan.


" Vanka nanti jangan sungkan kalau mau minta tolong Bryan, kalau belum bisa berjalan dengan benar minta gendong aja sama Bry ya." Ujar Mama Kia.


" Ah Mama nggak perlu gitu juga." Ujar Vanka.


" Tidak masalah, asal kamu tahu aja kalau soal jaga menjaga Bryan jauhhhhh lebih baik dari Brayen." Ucap Mama Kia melirik Brayen.


" Benarkah Ma?" Tanya Vanka.


" Tentu sayang, Bryan akan menjagamu sepenuh hatinya selama tidak ada Brayen di sampingmu." Ucap Mama Kia melirik Brayen.


" Iya Ma, maaf Kak Bryan kalau nanti aku banyak merepotkanmu." Ucap Vanka menatap Bryan.


" Tidak masalah." Sahut Bryan tersenyum manis.


Brayen mengepalkan tangannya, Ia berjalan keluar meninggalkan ruangan yang terasa panas menurutnya. Ia membawa rasa kesal dalam hatinya.

__ADS_1


TBC....


__ADS_2