
Sudah satu bulan setelah kepergian Brayen, pihak kepolisian dan tim sar menyerah karna tidak bisa menemukan Brayen dalam kondisi selamat ataupun tidak bernyawa sama sekali. Hingga membuat pihak kepolisian mengambil kesimpulan jika Brayen sudah tiada. Awalnya Keluarga Permana histeris mendengar keputusan pihak kepolisian, tapi sekarang keluarga Permana sudah menerimanya dengan ikhlas.
Saat ini Mama Kia sedang berada di kamar Brayen. Ia menatap foto Brayen yang terpasang di dinding tepat mengarah ke ranjang. Mama Kia duduk di tepi ranjang sambil terus menatap foto Brayen.
" Pagi sayang, Mama merindukanmu, apa kau tidak merindukan Mama? Mama ingin sekali memelukmu, tapi apalah daya Mama yang tidak bisa berbuat apa apa, Mama hanya pasrah pada takdir yang Tuhan berikan untukmu sayang, semoga kau tenang di alam sana." Sapa Mama Kia.
" Hiks.... Bray sayang, Mama tidak menyangka kepergian yang Mama inginkan justru membuatmu pergi untuk selamanya, Mama masih belum percaya jika kamu sudah tiada, entah mengapa Mama merasa kalau kamu masih hidup Nak, tapi kamu dimana sayang? Jika dugaan Mama benar, maka segera pulanglah ke rumah, Mama sangat merindukanmu, Mama ingin kau kembali sayang, Mama janji jika kamu pulang Mama tidak akan menyuruhmu pergi lagi Bray.... Hiks.... Pulanglah Bray maafkan Mama sayang... " Isak Mama Kia tak kuasa menahan pilu di hatinya.
" Mama sudah mencoba untuk mengikhlaskan kepergianmu tapi hati Mama masih berat melakukannya sayang, masih terbayang di ingatan Mama anak bandel yang Mama timang timang dua puluh dua tahun yang lalu kini telah meninggalkan Mamanya dan Mamanya menangis, hiks.... " Mama Kia mengusap air matanya.
" Hari ini Mama dan Papa memutuskan untuk pulang ke kampung halaman Papa, Mama ingin menenangkan diri sana sayang, Mama ingin mencoba untuk benar benar ikhlas melepas kepergianmu, Mama akan selalu mendoakan untuk kebaikanmu di akhirat sayang." Ujar Mama Kia.
" Sayang kamu di sini?" Tanya Papa Indra menghampiri Mama Kia. Mama Kia segera menghapus air matanya.
" Kamu meratapi kepergian Bray lagi?" Tanya Papa Indra menatap Mama Kia.
" Tidak Mas, aku hanya ingin berpamitan sama Bray saja, kita tidak punya pusara Bray jadi aku ke kamarnya dan berbicara pada fotonya." Sahut Mama Kia.
" Sayang ikhlaskan Bray supaya dia tenang di sana, kalau kamu terus meratapi kepergiannya, sama saja kamu memberatkannya sayang." Ujar Papa Indra mengusap rambut Mama Kia yang masih terlihat hitam pekat.
" Mas juga sedih atas kepergiannya, begitupun dengan Bry dan Vanka sayang, tapi kami semua mengikhlaskan kepergiannya dengan lapang dada, kami sudah mengikhlaskannya lahir dan batin, sekarang jangan bersedih lagi ya, ayo kita berangkat! Bry sama Vanka sudah menunggu kita di mobil." Ujar Papa Indra.
" Iya Mas." Ucap Mama Kia.
" Jangan membawa apapun milik Bray! Itu akan membuatmu semakin sulit untuk mengikhlaskannya." Ucap Papa Indra saat Mama Kia hendak mengambil figura di samping nakas Brayen.
" Baiklah Mas." Sahut Mama Kia.
Papa Indra menggandeng tangan Mama Kia menggunakan tangan kirinya, keduanya berjalan menuruni anak tangga menuju ke mobil Bryan.
" Sudah siap Pa, Ma?" Tanya Bryan.
" Sudah Bry." Sahut Papa Indra.
__ADS_1
Bryan melajukan mobilnya menuju Bandara. Tiga puluh menit kemudian mobil Bryan sampai di Bandara. Bryan dan Vanka mengantar kedua orang tuanya hanya sampai di parkiran Bandara. Mereka turun dari mobil.
" Vanka sayang Mama titip Bry ya, dampingi Bry dengan penuh kasih sayang dan bersabarlah dalam menghadapi sikap Bry, kalau ada masalah bicarakan dengan baik baik, dan jangan mengambil keputusan dalam keadaan emosi." Tutur Mama Kia.
" Iya Ma, terima kasih atas nasehat Mama, dan Mama jangan khawatirkan akan hal itu, aku akan berusaha sebisa mungkin untuk menjaga suamiku yang sangat mencintaiku ini Ma." Sahut Vanka menyentuh lengan Bryan.
" Bry, Papa berangkat dulu, segera beri kabar baik untuk kami ya, kami menginginkan seorang cucu untuk menghibur rasa sepi kami." Ucap Papa Indra.
" Insyaallah Pa, doakan saja supaya apa yang kita semua inginkan segera menjadi kenyataan." Sahut Bryan.
" Amien." Sahut Papa Indra.
" Oh ya kapan kalian mau berangkat honeymoonnya?" Tanya Mama Kia.
" Besok pagi Ma." Sahut Bryan.
" Baiklah hati hati ya, Mama doakan semoga kalian segera mendapat momongan." Ujar Mama Kia.
" Terima kasih Ma, Mama dan Papa juga harus hati hati, selamat sampai tujuan Ma, Pa." Sahut Bryan.
" Iya Pa." Sahut Bryan.
" Baik Pa." Sahut Vanka.
Mama Kia dan Papa Indra masuk ke dalam Bandara untuk chek in. Sedangkan Bryan dan Vanka kembali ke mobilnya.
" Mau jalan dulu apa mau langsung pulang Dek?" Tanya Bryan menatap Vanka.
" Pulang aja Mas aku mau istirahat, lagian besok Mas juga harus nyetir sampai ke puncak kan, aku nggak mau kalau Mas sampai kecapekan." Ujar Vanka.
Ya keduanya berencana bulan madu di puncak, yang dekat dekat aja. Lagian nggak bulan madu juga bisa di rumah kan, orang di rumah cuma tinggal berdua.
" Tidak masalah sayang apapun untukmu, sekarang mari kita pulang." Sahut Bryan.
__ADS_1
Bryan melajukan mobilnya menuju rumahnya.
Sesampainya di rumah keduanya rebahan di atas ranjang. Vanka bersandar pada lengan Bryan sambil memeluk perut Bryan.
" Mas apa nggak pa pa kita bulan madu di saat keluarga kita mengalami musibah seperti sekarang ini?" Tanya Vanka mengusap dada Bryan.
" Tidak masalah sayang, lagian kita juga harus melanjutkan hidup kan? Biarlah Bray menjadi kenangan untuk kita, semoga dia tenang di alam sana, sekarang kita fokus saja ke program kehamilanmu, Mas ingin kita segera memiliki momongan, Mas sudah pengin jadi seorang ayah." Sahut Bryan mengelus rambut Vanka.
" Iya Mas, aku juga berharap begitu." Sahut Vanka.
" Apa kamu sudah memaafkan atas apa yang Bray lakukan padamu?" Tanya Bryan.
" Kalau memaafkan sudah Mas, tapi jujur kalau melupakan aku belum bisa, hatiku masih terasa sakit jika mengingat penolakan yang dia berikan kepadaku dulu Mas, maafkan aku." Sahut Vanka.
" Mas tahu sayang apa yang kamu rasakan, Mas tidak memaksamu untuk melupakan, tapi coba ikhlaskan dengan begitu kamu pasti akan lupa dengan sendirinya." Ujar Bryan.
" Iya Mas, aku akan mencoba untuk ikhlas, lagian aku bersyukur di balik semua itu ada hikmah yang Tuhan berikan kepadaku, aku bahagia mempunyai suami sepertimu." Ucap Vanka mencium pipi Bryan.
" Eh mulai nakal ya." Ujar Bryan.
" Nakal sama suami sendiri nggak pa pa kan Mas, daripada nakal sama suami orang lain." Sahut Vanka.
" Udah bisa ngejawab sekarang ya, dulu aja mirip siput, kalau lihat orang langsung masuk ke cangkangnya." Sindir Bryan.
" Massss." Rengek Vanka.
" Sekarang istirahatlah Mas akan memelukmu, nanti Mas bangunkan saat sore hari." Ujar Bryan.
" Iya Mas." Sahut Vanka memejamkan matanya.
Jangan lupa like dan komentnya ya....
Terima kasih atas suport yang para reader berikan kepada author semoga sehat selalu....
__ADS_1
Miss U All....
TBC.....