
Setelah sampai di ruang makan, Bryan menurunkan Vanka di salah satu kursi yang ada di sana.
" Sekarang kita makan dulu ya, biar Mommy sama dedeknya sehat." Ujar Bryan.
Bryan mengambil nasi, sayur dan lauk untuk Vanka. Setelah piring terisi penuh, Bryan segera menyuapi Vanka.
" A' Sayang." Ucap Bryan menyuapkan sesendok makanan ke mulut Vanka.
Vanka membuka mulutnya menerima suapan Bryan, Ia mengunyah pelan merasakan masakan yang di buat oleh Bryan.
" Gimana? Enak nggak? Apa kamu merasa mual? Dedeknya nggak mau makan masakan Daddy?" Tanya Bryan menebak nebak.
" Enggak Mas, masakanmu enak kok." Sahut Vanka menelan makanannya.
" Alhamdulillah jika dedeknya mau menerimanya, kamu membuat Mas deg deg an sayang, Mas kira kamu tidak menyukainya Dek." Ujar Bryan.
" Suka kok Mas, apapun yang Daddy masakin pasti dedeknya suka." Sahut Vanka.
" Berarti dedeknya lebih mencintai Daddynya dari pada Mommynya sayang, buktinya semenjak Mas pulang kamu udah nggak mual lagi kan?" Ujar Bryan.
" Iya Mas." Sahut Vanka.
" Ayo habisin makanannya, nanti setelah ini Mas ajak jalan jalan." Ujar Bryan kembali menyuapi Vanka.
Bryan dan Vanka makan dengan sendok dan piring yang sama sampai makanannya habis. Sesekali mereka tertawa bersama karena candaan yang Bryan lakukan. Vanka dan Bryan benar benar pasangan yang romantis.
Tanpa mereka sadari Rea melihat kemesraan mereka dengan air mata yang menetes pada pipinya. Rea sengaja ingin menemui Vanka untuk membicarakan soal rasa bersalah Brayen, Ia ingin hidup tenang dengan Brayen tanpa bayang bayang rasa bersalah Brayen kepada Vanka.
Setelah Bryan mencuci piringnya, Ia meletakkan piring bersih itu pada rak piring. Saat Ia ingin kembali menghampiri Vanka tanpa sengaja tatapannya bertemu dengan tatapan Rea yang masih mengeluarkan air matanya.
" Rea." Gumam Bryan.
Vanka menoleh ke arah pintu dapur. Ia mengerutkan keningnya saat melihat Rea yang sedang berdiri di sana.
" Rea? Kamu ke sini? Ada apa?" Tanya Vanka menghampiri Rea.
Grep...
Rea memeluk Vanka dengan erat sambil terisak.
" Hiks..." Isak Rea.
" Hei kamu kenapa? Kenapa nangis Rea?" Tanya Vanka bingung.
" Mas Dirga Van..." Ucap Rea.
__ADS_1
" Kak Brayen? Kak Brayen kenapa? Apa dia terluka?" Tanya Vanka melepas pelukannya.
" Katakan yang benar! Kak Brayen kenapa Rea?" Vanka kembali bertanya.
" Kita duduk di ruang tamu aja Dek, biar Rea lebih enakan ngomongnya." Ujar Bryan.
" Iya Mas, ayo Re kita ke ruang tamu aja, kamu bisa menceritakan apa yang terjadi di sana." Ujar Vanka.
Ketiganya berjalan meninggalkan dapur menuju ruang tamu. Bryan dan Vanka duduk bersebelahan sedangkan Rea duduk di sofa sebrang.
" Sekarang katakan ada apa kamu kemari Re!" Titah Bryan menatap Rea.
" Aku hamil Van, Kak." Ucap Rea.
" Apa? Kamu hamil?" Tanya Vanka memastikan jika pendengarannya tidak salah.
" Iya, aku hamil Van, tapi aku baru test aja belum ke dokter kandungan." Sahut Rea.
" Wah selamat ya Re, akhirnya kamu benar benar menyusulku, kita akan mengasuh babby yang hampir sama besarnya." Ujar Vanka.
" Terima kasih Van." Sahut Rea.
" Kamu hamil kan itu kabar bahagia Re, lalu kenapa kamu malah menangis? Dan sama siapa kamu ke sini?" Tanya Bryan.
" Aku ke sini sendiri Kak, karena aku sengaja ingin berbicara dengan kalian, Vanka khususnya." Sahut Rea.
" Apa terjadi sesuatu? Hal apa yang ingin kamu bicarakan sama kami hingga membuatmu jauh jauh kemari Re?" Tanya Vanka menatap Rea dengan tatapan menyelidik.
" Iya Van, terjadi sesuatu dalam rumah tangga kami, aku sudah tidak punya siapa siapa lagi, jadi aku tidak tahu harus membagi kesedihanku dengan siapa." Ucap Rea.
" Bagilah kesedihanmu dengan kami Re, kami siap untuk mendengar ceritamu dan siap membantu jika di butuhkan." Ucap Vanka.
" Bukankah begitu Mas?" Tanya Vanka menatap Bryan.
" Iya sayang." Sahut Bryan.
" Aku hamil Van, tapi kehadiran calon anakku tidak membuat Mas Dirga bahagia." Ucap Rea membuat Vanka dan Bryan semakin tidak mengerti.
" Apa maksudmu Bray tidak bahagia Re? Katakan yang jelas." Ujar Bryan.
" Mas Dirga masih memendam perasaan bersalahnya kepadamu Van." Ucap Rea sedih.
" Itu lagi? Bukankah aku sudah bilang kalau aku sudah memaafkannya Rea? Aku tidak pernah mau membahas soal itu lagi, ya walaupun jujur, jika mengingat itu aku masih merasa sedih dan terluka, aku kehilangan calon anakku karena perbuatan ayahnya sendiri, tapi aku sudah melupakannya Re, aku sudah happy bersama Mas Bryan, aku sudah bahagia dengan hidupku yang sekarang, bahkan sangat bahagia." Terang Vanka.
" Iya aku tahu Van, masalahnya bukan berada padamu tapi pada diri Mas Dirga sendiri, Mas Dirga merasa tidak adil jika dia bahagia menyambut kehadiran anak kami, sedangkan saat itu Mas Dirga menolak anak kalian." Ujar Rea.
__ADS_1
" Astaga Bray...." Ucap Bryan.
" Istri mana yang tidak akan sedih mendengar suaminya mengucapkan hal seperti itu Van, aku merasa sedih banget, karena kesalahan yang Mas Dirga lakukan sendiri, anakku ikut menanggungnya." Ucap Rea sambil menangis sedih.
" Aku tahu bagaimana perasaanmu saat ini Re, aku pernah merasakannya dalam posisi seperti ini, tapi setidaknya Kak Brayen tidak menolaknya kan? Lalu apa yang kamu khawatirkan saat ini?" Tanya Vanka membuat Rea menatap ke arahnya.
" Aku khawatir kalau Mas Dirga tidak menyayangi anak kami karena terjerat rasa bersalah kepadamu Van, bagaimana jika Mas Dirga tidak menyayangi anak kami setelah anak ini lahir? Aku tidak mau tumbuh kembang anakku terhambat karena hal ini, katakan padaku Van! Aku harus bagaimana?" Tanya Rea meminta pendapat Vanka.
" Tetap optimis Re, aku yakin perlahan rasa bersalah Kak Brayen akan terkikis oleh waktu, saat anak kalian lahir nanti, aku yakin Kak Brayen sudah melupakan rasa bersalahnya kepadaku dan anak kami, pasti dia akan menyayangi anak kalian dengan segenap jiwa dan raganya, dia akan memberikan cinta yang penuh untuk kalian berdua." Ujar Vanka.
" Aku tahu kamu memahami Mas Dirga lebih dari siapapun, tapi aku tidak yakin dengan semua ucapanmu Van, apa aku boleh meminta bantuanmu Van?" Tanya Rea menatap Vanka.
" Bantuan apa Re? Jika aku bisa pasti aku akan membantumu, kamu kan juga sudah membantuku selama ini." Ucap Vanka.
" Aku mohon padamu, tolong beri pengertian kepada Mas Dirga supaya rasa bersalah dan penyesalan dalam hatinya bisa hilang, atau setidaknya bisa berkurang Van, aku mohon... Aku yakin jika kamu yang mengatakannya, dia pasti akan merasa lega." Ucap Rea.
Vanka menatap Bryan yang hanya di balas dengan anggukan kepala saja.
" Baiklah Re, aku akan memberikan pengertian kepada Kak Brayen jika kami bertemu nanti, kamu tenang saja ya, semua pasti akan baik baik saja." Ujar Vanka.
" Terima kasih Van, kau memang saudara terbaik yang aku miliki." Ucap Rea merasa lega setelah bercerita kepada Vanka.
" Sama sama Re." Sahut Vanka.
" Kalau begitu aku permisi ya, aku menengok rumahku dulu." Ujar Rea.
" Apa kalian mau mampir ke rumah sekalian?" Sambung Rea.
" Boleh deh, kita sekalian jalan ya Mas." Ujar Vanka.
" Baiklah sayang, apapun untukmu." Sahut Bryan membuat Rea merasa terharu.
" Ya udah ayo kita berangkat sekarang." Ajak Rea.
" Ayo." Sahut Vanka.
Rea berjalan di depan sedangkan Bryan dan Vanka berjalan di belakang sambil bergandengan tangan. Ketiganya berjalan menuju rumah Rea yang tak jauh dari sana.
TBC .....
Janga lupa like koment vote dan hadiahnya ya....
Terima kasih untuk readers yang selalu mensuport author....
Semoga sehat selalu....
__ADS_1
Miss U All....