
Tujuh hari setelah kepergian Pak Ruli, Rea kembali ke rumah di jemput oleh Brayen. Setelah masuk ke dalam rumah, Rea berjalan menuju kamarnya. Saat ini Ia sedang duduk termenung di tepi ranjang sambil menatap ke luar jendela. Brayen yang baru masuk ke kamar berjalan menghampiri Rea.
" Sayang kamu belum makan sedari pagi, sekarang ayo kita makan dulu." Ucap Bryan.
" Aku tidak lapar Mas." Sahut Rea lirih.
" Sayang aku tahu kalau saat ini kamu sedang sedih, tapi kamu juga harus memikirkan kondisimu Rea, kamu harus tetap makan dengan teratur sayang, nanti kalau kamu tidak makan terus kamu sakit bagaimana?" Tanya Brayen menatap Rea.
" Kenapa kalau aku sakit? Apa kamu tidak mau merawatku kalau aku sakit?" Rea balik bertanya sambil menatap Brayen.
" Kenapa kamu menanyakan hal seperti itu sayang? Tentu saja aku akan merawatmu sampai sembuh, aku suamimu dan aku juga seorang dokter kalau kamu lupa." Sahut Brayen kesal.
" Ya... Itu sebabnya kamu merawat semua orang sampai melupakan istrimu sendiri." Ucap Rea.
" Apa maksudmu sayang? Apa kamu marah karena aku meninggalkanmu? Aku meninggalkanmu karena memang ada pekerjaan di rumah sakit sayang." Ujar Brayen.
" Ya pekerjaan di rumah sakit, kamu yang seorang Dokter umum tiba tiba beralih menjadi Dokter kandungan untuk Vanka, kamu merawat Vanka kan bukan pasien lainnya." Ucap Rea dengan nada tinggi.
" Apa?" Tanya Brayen menatap Rea.
" Kenapa? Apa kamu kira aku tidak akan tahu soal hal ini?" Tanya Rea menatap Brayen.
" Apa ini sebabnya kamu mematikan ponselmu?" Brayen balik bertanya.
" Ya... Aku memang sengaja mematikan ponselku karena aku tidak mau mengganggu kesenanganmu." Sahut Rea membuang muka.
Ya.. Brayen yang berjanji akan menemani Rea sampai acara tujuh hari Pak Ruli nyatanya Ia harus kembali ke rumah sakit malam itu juga. Brayen di sibukkan dengan pasien yang mengalami kecelakaan di proyek yang sedang mereka bangun. Namun dua hari ini Brayen memang menjaga Vanka karena tiba tiba Bryan mengalami masalah pada paru parunya. Ia harus segera di tangani oleh ahlinya, Papa Indra dan Mama Kia membawa Bryan berobat ke Luar Negeri. Itulah sebabnya Brayen menemani Vanka.
Awalnya Vanka bersikeras mau ikut menemani Bryan selama pengobatan tapi Ia tidak di perbolehkan bepergian jauh oleh Dokter karena kondisinya yang masih lemah. Bahkan sangat lemah.
Brayen sudah mencoba menghubungi Rea untuk meminta izinnya namun nomer Rea tidak aktif.
" Dengarkan penjelasanku dulu sayang, ini tidak seperti yang kamu kira, sebelumnya aku mau bertanya darimana kamu tahu kalau aku menjaga Vanka selama dua hari ini?" Tanya Brayen menatap Rea.
" Darimana aku tahu itu, kamu tidak perlu tahu." Sahut Rea.
" Baiklah yang jelas aku akan menjelaskan semuanya supaya kamu tidak salah paham sayang." Ucap Brayen.
" Dengarkan aku ya.....
__ADS_1
Lalu Brayen menceritakan tentang kondisi Bryan dan Vanka saat ini. Brayen benar benar prihatin dengan kondisi Vanka. Entah bawaan bayi atau karena kondisi Vanka yang tidak stabil, kehamilan kali ini benar benar membuat Vanka terlihat lemah.
" Aku tidak tega melihat keadaan Vanka sayang, usia Vanka masih sangat muda untuk mengandung, masa ngidamnya juga sangat ekstrim, Vanka selalu mengalami mual yang berlebihan hingga tidak ada asupan gizi yang masuk ke dalam tubuhnya, Ia sering tiba tiba pingsan tanpa sebab." Jelas Brayen.
"Namun aku salut dengan janinnya, dengan keadaan Vanka yang seperti itu biasanya janin dalam kandungan akan mengalami keguguran, namun janin Vanka masih tetap kuat, bahkan sama sekali tidak ada masalah pada janinnya sayang, masalahnya ada pada diri Vanka sendiri." Ucap Brayen menggenggam tangan Rea.
" Aku tidak ada maksud apa apa sayang, aku merawatnya sebagai kakak yang peduli kepada adiknya, apalagi saat ini Bryan tidak berada di sisihnya, dia tidak punya siapa siapa lagi, memang kedua orang tuanya masih ada namun mereka tidak pernah peduli dengan Vanka, Vanka bagai hidup sebatang kara apalagi sejak kejadian Vanka hamil anakku, orang tuanya tidak mau mengakuinya sebagai anak mereka lagi, sebenarnya Vanka sendiri juga tidak mau kalau aku ikut andil dalam menjaganya, Ia takut kamu berpikiran buruk kepadanya, tapi ya itu tadi... Aku tidak tega melihat keadaannya, aku memaksa dia untuk menerima kebaikanku." Ujar Brayen.
" Terserah kepadamu sayang, kamu mau percaya ucapanku atau tidak, yang jelas aku sudah jujur sama kamu, dan di sini kamu juga bersalah sayang, kamu mematikan ponselmu tanpa menanyakan kecurigaanmu terlebih dahulu, hal itu membuatku tidak bisa menghubungimu untuk menceritakan ini sebelumnya." Ucap Brayen.
" Maafkan aku Mas, aku merasa kecewa dan marah sama kamu saat mendapat kiriman fotomu sedang menggendong Vanka, pikiran buruk langsung menghantui pikiranku Mas, aku berpikir kalau kamu lebih peduli dengan Vanka padahal aku sendiri sedang dalam keadaan berduka, aku tidak tahu jika begini ceritanya, maafkan aku Mas." Ucap Rea.
" Tidak pa pa sayang yang penting sekarang semuanya sudah jelas kan, saat itu Vanka pingsan jadi aku menggendongnya masuk ke ruang rawatnya, sekarang kamu tidak marah lagi kan?" Tanya Brayen.
" Tidak Mas, aku sudah tidak marah lagi, aku percaya padamu kok, maafkan aku ya Mas." Sahut Rea memeluk Brayen.
" Aku maafkan sayang, oh ya kalau boleh aku tahu, siapa yang mengirimmu foto itu?" Tanya Brayen membuat Rea melepaskan pelukannya.
" Revan." Sahut Rea.
" Oh ternyata dia orangnya." Ujar Brayen.
" Tidak, itu tidak penting." Sahut Brayen.
Drt... Drt.... Drt...
Ponsel Brayen berdering. Ia mengambil ponselnya lalu menatap Id pemanggil.
" Bi Ijah." Gumam Brayen.
Brayen segera mengangkat panggilannya.
" Halo Bi." Sapa Brayen.
" Den Brayen, Non Vanka pingsan lagi." Ucap Bi Ijah khawatir.
" Apa? Pingsan lagi? Astaga Vanka..... Kenapa kamu bisa pingsan lagi sih." Ujar Brayen memijat pelipisnya.
" Baik Bi saya akan ke sana, tunggu saya ya." Ucap Brayen.
__ADS_1
" Baik Den." Sahut Bi Ijah mematikan sambungan ponselnya.
" Kenapa Mas?" Tanya Rea menatap Brayen.
" Vanka pingsan lagi sayang, aku harus ke sana sekarang juga karena di rumah hanya ada Bi Ijah saja, dan Bi Ijah terlihat sangat khawatir." Ujar Brayen.
" Aku ikut Mas." Ucap Rea.
" Apa kamu tidak capek sayang?" Tanya Brayen.
" Tidak Mas, aku ikut ya." Ujar Vanka.
" Baiklah ayo." Sahut Brayen.
Brayen menggandeng tangan Rea menuju mobilnya. Brayen melajukan mobilnya dengan kecepatan sedikit kencang. Lima belas menit kemudian akhirnya Brayen sampai di kediaman keluarga Permana.
" Ayo sayang kita turun." Ucap Brayen.
" Iya Mas." Sahut Rea.
Brayen menggandeng Rea masuk ke dalam rumah Bryan. Di sana Ia sudah di sambut oleh Bi Ijah.
"Syukurlah Den Brayen sudah datang." Ucap Bi Ijah lega.
" Iya Bi, dimana Vanka Bi?" Tanya Brayen.
" Ada di kamarnya Den, tadi saya minta tolong pak satpam untuk membawa Non Vanka ke kamar." Ujar Bi Ijah.
" Ok makasih ya Bi, kalau begitu aku ke kmar dulu." Ucap Brayen.
Brayen dan Rea berjalan menaiki tangga menuju kamar Bryan. Saat Brayen membuka pintu tiba tiba......
Hayooo tiba tiba apa nih?????
Jangan lupa like koment vote dan hadiahnya ya biar author semangat....
Terima kasih untuk readers yang selalu mensuport author semoga sehat selalu...
Miss U All...
__ADS_1
TBC....