Pria Cacat Itu Suamiku

Pria Cacat Itu Suamiku
Babby Arsya


__ADS_3

Acara tujuh bulanan Kia berlangsung malam ini, Setelah acara pengajian keluarga inti berkumpul di ruang keluarga. Mereka berbincang hangat membicarakan apa saja yang menurut mereka pantas di obrolkan.


" Nak Cindi berapa usia kehamilanmu sekarang? Kok sepertinya udah mau lahiran, Keningnya udah mulus gitu kalau kata orang kampung saya mah menis menis." Ujar Mama Ria.


"Udah sembilan bulan Tan, Hplnya kurang dari satu minggu lagi." Sahut Cindi.


" Semoga lancar persalinannya ibu dan anak sehat semua." Doa Mama Ria.


" Amien." Ucap mereka serempak.


"Ki kalau aku lihat lihat perutmu lebih besar dari ukuran normal lainnya, Apa mungkin kamu hamil bayi kembar?" Tanya Cindi membandingkan perutnya dengan Kia yang hampir sama.


Mendengar pertanyaan Cindi semua orang menatap ke arah Kia. Yang di tatap nampak biasa aja.


" Apa benar Nak? Apa mungkin di dalam sana ada si kembar?" Kali ini Mama Meri yang bertanya.


Kia dan Indra saling melempar senyumnya.


" Kalau orang tua nanya itu di jawab sayang jangan diam aja nggak baik." Ujar Mama Ria.


" Maaf Ma." Ucap Kia.


" Jadi?" Tanya Papa Anton.


" Iya mereka kembar." Sahut Kia.


" Apa? Kembar? Laki laki semua atau perempuan semua?" Tanya Rey kaget.


" Emang mau apa nanya nanya segala." Ujar Indra.


" Ya pengin tahulah." Sahut Rey.


" Cowok semua." Sahut Indra.


" Alhamdulillah akhirnya ada penerus Mama, Selamat sayang semoga lancar, Sehat dan bisa lahiran dengan normal." Ucap Mama Meri.


" Amien makasih Ma." Sahut Kia.


" Apa kalian udah menyiapkan nama untuk mereka?" Tanya Papa Anton.


" Belum Pa." Jawab Indra.


" Yang penting keduanya ada marga Permana di belakangnya." Sahut Mama Meri.


" Ada Yusufnya juga." Ucap Mama Ria tak mau kalah.


" Siapapun namanya yang penting akhlak dan budi pekertinya, Jangan debatkan nama biarkan mereka berdua yang memberi nama kepada anak anak mereka yang penting di beri nama yang baik." Sahut Papa Miko membuka suara.


" Iya Pa." Sahut Mama Ria.


" Iya deh Mama serahkan pada kalian berdua saja." Ujar Mama Meri.


Saat mereka asyik berbincang tiba tiba Cindi mengaduh.


" Awh..." Pekik Cindi memegangi perutnya.


" Kenapa sayang?" Tanya Rey.


" Sakit Mas." Ucap Cindi.


" Sepertinya Cindi mau melahirkan Bang." Ucap Kia.


" Segera bawa dia ke rumah sakit." Titah Papa Anton.


Rey segera menggendong Cindi ala bridal style menuju mobilnya.


" Papa sama Mama mau menemani Rey ke rumah sakit kalian di rumah saja." Ujar Mama Meri.


" Baik Ma." Sahut Indra dan Kia bersamaan.


" Saya tinggal dulu Pak Besan." Ucap Papa Anton.


" Silahkan." Sahut Papa Miko.


Papa Anton dan Mama Meri segera menyusul Rey.


" Istirahatlah sayang jangan sampai kamu kecapekan." Ucap Mama Ria.


" Iya Ma aku ke kamar dulu, Ayo Mas." Sahut Kia.

__ADS_1


Indra menuntun Kia menuju kamarnya, Indra memindah kamar mereka di bawah di sebelah ruang kerjanya. Ia tidak mau kalau Kia sampai kecapekan karena naik turun tangga apalagi Kia menyangga dua putranya.


" Berbaringlah sayang." Ucap Indra menata bantal untuk sandaran Kia.


Indra ikut berbaring dengan paha Kia sebagai bantalannya. Wajah Indra menghadap perut Kia yang sudah terlihat membesar.


" Sayangnya Daddy lagi apa ya di dalam? Udah makan belum nih? Sekarang udah besar ya? Sebentar lagi mau ketemu Daddy sama Mommy." Ujar Indra mengelus perut Kia. Ia menempelkan telinganya ke perut Kia. Indra menikmati setiap tendangan yang putranya berikan.


" Aw aw Mas." Pekik Kia saat tendangan dari dalam terasa kuat.


" Sakit ya Yank?" Tanya Indra.


" Kalau sakit enggak si Mas cuma kenceng aja." Sahut Kia.


" Ah Daddy udah nggak sabar pengin gendong kalian tapi..." Lagi lagi Indra merasa sedih saat ingat jika Ia tidak bisa menggendong putranya.


" Jangan bersedih Mas kamu pasti bisa menggendong mereka secara bergantian." Ucap Kia memberi semangat.


" Lagian jaman sekarang bayi jarang di gendong Mas, Tinggal pakai stroller bayi praktis kan kita kan bawa satu satu, Jadi adil." Ucap Kia.


" Ah iya kau benar sayang, Sekarang tidurlah besok kita jenguk Babbynya Rey." Ujar Indra.


" Baiklah." Sahut Kia.


Indra membenarkan posisinya, Ia memeluk tubuh Kia dari belakang sambil mengelus perutnya.


Pagi harinya Kia dan Indra sudah bersiap menuju rumah sakit setelah mengantar Papa dan Mamanya ke statiun. Sesampainya di rumah sakit Indra menggandeng Kia berjalan menuju ruang rawat ibu dan anak.


Ceklek.....


Keduanya masuk ke dalam menghampiri Cindy yang sedang terbaring lemah di atas ranjang.


" Eh kalian datang?" Tanya Rey yang baru keluar dari kamar mandi.


" Iya selamat atas kelahiran babby kalian Bqng semoga menjadi anak yang berbakti kepada orang tua." Sahut Kia.


" Makasih Ki." Ucap Rey.


" Selamat Broo akhirnya hari ini di panggil Papa." Ucap Indra memeluk Rey.


" Makasih Rey kamu juga sebentar lagi di panggil Daddy." Ujar Rey.


Ki menghampiri box bayi di sebelah ranjang Cindi memunggungi brankar.


" Biar aku yang menghapusnya, Kau sedih karena aku jadi aku yang harus menhapusnya." Ucap Indra sambil menghapus air mata Kia.


" Maaf Mas..." Ucap Kia memeluk tubuh Indra.


" Hiks... hiks." Kia sesegukan dalam pelukan Indra membuat Cindi membuka matanya. Rey memberi kode pada Cindy dengan jarinya.


" Maafkan aku sayang.... Aku tahu saat ini kamu sedang mengingat anak kita, Yakinlah dia sudah tenang di atas sana, Jangan sesali kepergiannya karena itu akan menjadi beban untuknya sayang, Bukankah sekarang Allah telah memberi gantinya dengan dua sekaligus? Jangan bersedih lagi dia tidak akan tenang melihat Mommynya meratapi kepergiannya, Jika kamu seperti ini terus Mas akan hidup dalam rasa bersalah sayang karena bagaimanapun akulah yang menyebabkan dia tiada." Tutur Indra dengan mata berkaca kaca.


Kia mulai menghentikan tangisnya, Ia mencoba mengatur emosinya dan mengusap air matanya. Ia tidak mau sampai Indra kembali terpuruk menyalahkan dirinya.


" Bukan aku meratapi atau menyesalinya Mas tapi aku hanya sedih jika mengingatnya, Dia pergi sebelum aku mengetahuinya, Entah naluri seorang ibu atau memang aku yang berlebihan tapi jika mengingatnya aku selalu merasa merindukannya." Ucap Kia.


" Kau tidak mau mencoba untuk menggendongnya Ki?" Rey menghampiri keduanya mengalihkan kesedihan keduanya.


" Aku nggak berani Bang, Dia masih terlalu kecil aku takut dia kenapa napa." Sahut Kia.


" Lhah bagaimana nanti jika kamu sudah lahiran? Kamu juga tidak akan menggendongnya?" Tanya Rey.


" Kalau anakku sendiri mah InsyaAllah aku berani Bang, Kalau ini kan anak Bang Rey." Ujar Kia.


" Ok Ok terserah padamu saja." Sahut Rey.


" Cewek apa cowok Bang?" Tanya Kia.


" Cowok." Jawab Rey.


" Tapi kok nggak mirip sama kamu Bang? Lebih mirip ke Cindi ini mah." Ujar Kia memperhatikan wajah bayi munggil itu.


" Ya nggak pa pa, Indra aja nggak mirip sama Om Doni." Sahut Rey.


" Mau di kasih nama siapa Bang?" Kia terus mengelus pipi Bayinya Cindi.


" Tanya aja sama Cindi." Ujar Rey.


Kia menoleh ke arah ranjang dimana Cindi sedang tersenyum padanya.

__ADS_1


" Kamu udah bangun." Ucap Kia.


" Hmmm denger ada yang nangis nangis aku bangun deh." Sahut Cindi.


" Maaf ya." Ucap Kia.


" Nggak pa pa." Sahut Cindi.


" Siapa nama Babby Boy tampan ini?" Tanya Kia.


" Arsya... Arsya Herpavi." Sahut Cindi.


" Nama yang bagus." Ujar Kia.


Menjelang siang Indra dan Kia pun pamit pulang. Kia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, Mereka mampir ke resto untuk makan siang.


" A' Sayang." Ucap Indra menyodorkan sesendok makanan ke mulut Kia.


" Aku bisa sendiri Mas ini tempat umum, Malu tahu." Ujar Kia.


" Baiklah tapi kalau di rumah Mas suapin ya." Ucap Indra.


" OK." Sahut Kia.


" Indra." Tiba tiba ada seorang wanita yang menghampirinya.


Indra mendongak menatap wajah gadis itu.


" Masih ingat aku? Yang dulu kamu deketin tapi aku tolak." Ucap gadis itu.


Indra melirik Kia yang sedang menatap tajam ke arahnya.


" Siapa sih aku nggak kenal ya." Ucap Indra.


" Mauli... Teman SD mu, Yang dulu sering main bareng sama kamu sampai kamu nembak aku, Masa' nggak inget sih atau pura pura nggak inget?" Tanya Mauli.


" Ini????"


" Istriku, Kia namanya." Sahut Indra.


" Hai aku Mauli teman kecil Indra." Ucap Mauli mengulurkan tangannya.


" Kia." Sahut Kia.


Tanpa bertanya Mauli ikut nergabung dengan mereka.


" Aku dengar sekarang kamu udah sukses nerusin perusahaan Om Doni." Ucap Mauli.


" Hmm." Gumam Indra.


" Kia orang mana?" Tanya Mauli menatap Kia.


" Aku orang jawa, Kalau kamu?" Kia balik bertanya.


" Sebenarnya aku.. Aku orang hilang yang sedang mencari kekasih kecilnya sampai ke jakarta." Seloroh Mauli.


Kia menatapnya dengan tatapan menyelidik.


" Jangan menatapku seperti itu aku hanya bercanda, Aku tidak punya perasaan apa apa sama Indra, Tapi kalau Indra sendiri aku tidak tahu." Ujar Mauli.


" Kau salah dulu aku mendekatimu karena kamu itu tomboy, Kamu di takuti sama teman teman jadi itung itung aku berlindung di belakangmu." Jelas Indra.


" Wah pelanggaran... Ternyata aku hanya di manfaatkan." Ketus Mauli.


" Aku lihat lihat sepertinya kamu sedang hamil Kia, Berapa bulan?" Tanya Mauli.


" Tujuh bulan." Sahut Kia.


" Tinggal nunggu dua bulan lagi, Kalau udah lahiran calling aku ya, Aku ingin lihat cetakan Indra tampan atau tidak." Ujar Mauli.


" Sialan Lo ngejek mulu." Ujar Indra.


Mereka saling ngobrol dan pada akhirnya Kia dan Mauli menjadi teman. Kia merasa jika mauli wanita yang baik tidak ada sorot bau bau pelakor di matanya. Hingga sore hari akhirnya Kia dan Indra pulang ke rumahnya.


Tbc....


*Siapa yang mau nyumbang nama buat anak kembar Kia dan Indra? Tulis di kolom komentar ya nanti author pilih...


Rencananya setelah Kia melahirkan novel ini tamat ya..

__ADS_1


Makasih atas suport yang kalian berikan kepada author selama ini


Miss U All*


__ADS_2