
Pagi hari selesai sarapan, Bryan membawakan sarapan untuk Vanka ke kamarnya. Tubuh Vanka masih lemas dan saat ini hanya terbaring di atas ranjang bersandar pada head board.
" Waktunya sarapan sayang." Ucap Bryan duduk di tepi ranjang sambil memangku nampan makanan.
" Iya Mas." Sahut Vanka tersenyum bahagia karena bisa melihat suaminya lagi.
" Mas suapi ya." Ujar Bryan menyodorkan sesendok makanan ke mulut Vanka. Vanka menganggukkan kepalanya.
Vanka menerima suapan dari Bryan. Anehnya perutnya tidak merasakan mual. Bahkan rasanya makanan itu begitu enak di lidahnya. Vanka mengunyah dengan pelan.
" Kenapa sayang? Apa mual lagi?" Tanya Bryan.
" Enggak Mas, malahan rasanya enak banget." Sahut Vanka heran.
Bryan tersenyum manis menatap Vanka.
" Itu karena dedeknya di suapi Daddynya, kaya'nya dedek kangen banget ya sama Daddy makanya kemarin kemarin tidak mau makan saat di tinggal Daddy berobat ya." Ujar Bryan.
" Sepertinya begitu Mas." Sahut Vanka terus mengunyah makanannya.
" Maaf ya sayang." Ucap Bryan merapikan anak rambut Vanka, Ia selipkan di telinga kanan Vanka.
" Maaf untuk apa Mas?" Tanya Vanka mengerutkan keningnya.
" Mas sudah meninggalkanmu satu bulan ini, Mas merasa bersalah karena Mas tidak ada di sampingmu saat kamu mengalami masa ngidam seperti ini." Ujar Bryan.
" Tidak pa pa Mas, ada Kak Brayen yang menjagaku Mas." Sahut Vanka.
" Tapi tetap aja, Mas merasa bersalah sama kamu Dek." Ucap Bryan.
" Kan sudah aku maafkan Mas, jadi kamu tidak perlu merasa bersalah, lagian kan semua ini juga demi kebaikan kita kan, oh ya Mas, apa kamu sudah sembuh total?" Tanya Vanka di balas senyuman oleh Bryan.
" Sudah sayang, jangan khawatirkan soal itu, sekarang Mas sudah sembuh dan sehat seperti semula, dan jangan lupakan kalau Mas sudah siap membuatmu hamil lagi." Ucap Bryan.
" Apa sih Mas." Ucap Vanka malu malu.
" Bener lhoh Dek, Mas siap...
" Yang ini aja belum lahir masa' udah di suruh hamil lagi." Sahut Vanka memotong ucapan Bryan.
" Iya deh iya, sekarang lanjutin makan lagi biar cepet sehat dan kuat, dan siap Mas buat capek di atas...
" Massss." Ucap Vanka kembali memotong ucapan Bryan yang semakin ngawur.
" Ah iya sayang maaf." Ujar Bryan kembali menyuapi Vanka.
Setelah makanannya habis, Vanka segera meminum obatnya.
Tok tok tok
Pintu di ketuk dari luar. Bryan segera membuka pintunya.
"Eh Mama." Ucap Bryan saat melihat Mamanya berdiri di depan pintu.
" Apa Mama mengganggu kalian?" Tanya Mama Kia.
__ADS_1
" Tidak Ma, silahkan masuk." Ucap Bryan.
Mama Kia masuk ke dalam menghampiri Vanka di ranjang.
" Sayang Mama kangen banget sama kamu." Ucap Mama Kia memeluk Vanka.
" Aku juga Ma, aku kangen sama Mama." Sahut Vanka.
Mama Kia melepas pelukannya. Ia duduk serong di tepi ranjang menatap menantunya.
" Sayang sekarang kamu kurusan, cucu Mama merepotkanmu ya karena jauh dari Daddynya." Ujar Mama Kia.
" Iya Ma, buktinya Vanka selalu mual tiap hari, tapi pagi ini Vanka sama sekali tidak merasakan mual, bahkan Vanka makan sepiring full Ma." Sahut Bryan antusias.
" Beneran? Wah itu baik malahan, cepet pulih ya sayang, cucu Oma sekarang sudah ada Daddy, kamu jangan nakal lagi ya." Ujar Mama Kia mengelus perut rata Vanka.
" Iya Oma." Sahut Vanka.
" Mama tidak bisa bayangin pasti kamu begitu berat menjalani hari hari tanpa Bry ya sayang." Ujar Mama Kia.
" Iya Ma, aku bahkan tidak kuat menahan rindu sama Mas Bry, aku sering kepikiran Mas Bry Ma, aku malah berpikir kalau penyakit Mas Bry sangat parah, aku takut Mas Bry tidak bisa tertolong, aku takut Mas Bry akan meninggalkan aku selamanya." Ucap Vanka cemberut.
" Ya nggak mungkin lah sayang, Bry tidak akan meninggalkanmu." Kekeh Mama Kia.
" Ya gimana nggak kepikiran buruk Ma, Mas Bry, Mama maupun Papa tidak ada yang ngasih kabar ke Vanka." Ujar Vanka.
" Iya maaf sayang, Bryan melarang kami karena Bry tidak mau mendengar suaramu, Bry takut tidak bisa menahan dirinya untuk pulang kalau sampai mendengar suaramu, tapi Bry selalu memantaumu lewat Bray kok." Terang Mama Kia.
Vanka menatap Bryan dengan tajam. Bukankah tidak adil kalau Bryan berbuat seperti itu.
" Mas Bry nggak adil." Cebik Vanka membuat Mama Kia dan Bryan menatap ke arahnya.
" Ya mau adil gimana? Aku tidak tahu kabarmu tapi kamu tahu kabar aku Mas, kamu curang, aku marah sama kamu." Ucap Vanka cemberut.
" Eh ya jangan donk sayang, jangan marah sama Mas, Mas minta maaf deh." Ujar Bryan mendekati Vanka. Ia duduk di tepi ranjang sisi lainnya.
" Bodo'" Ketus Vanka.
" Sayang jangan marah donk Dek, Mas salah deh maafin ya." Ujar Bryan menggenggam tangan Vanka. Vanka tidak bergeming, Ia diam seribu bahasa.
" Sayang." Ucap Bryan mencium tangan Vanka.
Melihat semua itu Mama beringsut.
" Sayang Mama keluar dulu ya." Ucap Mama Kia di jawab anggukan kepala oleh Vanka.
" Ma jangan kabur donk Ma, Mama harus tanggung jawab, Vanka ngambek nih Ma." Ujar Bryan.
" Kamu bisa mengatasinya sayang." Sahut Mama Kia keluar dari kamar Vanka.
Kini tinggal Bryan dan Vanka yang masih diam diaman. Bryan bingung mau ngomong apa sedangkan Vanka merasa kesal dengan sikap Bryan yang tidak adil menurutnya.
" Sayang jangan marah ya, maafkan Mas, kamu boleh deh minta apapun sama Mas asal kamu mau memaafkan kesalahan Mas satu itu." Ujar Bryan.
" Beneran ya apa aja?" Tanya Vanka memastikan dengan mata berbinar mbuat hati Bryan sedikit was was.
__ADS_1
" Iya sayang." Sahut Bryan akhirnya.
" Aku mau jalan jalan." Ucap Vanka.
" Kemana?" Tanya Bryan.
" Kenama aja Mas membawaku." Ucap Vanka.
" Baiklah tapi tunggu kamu sehat dulu ya." Ujar Bryan.
" Iya Mas." Sahut Vanka.
" Gimana kalau Mas ajak kamu ke villa? Di sana kan udaranya sejuk, baik untuk kandunganmu sayang, mau nggak?" Tanya Bryan.
" Iya Mas aku mau." Sahut Vanka.
" Berarti udah nggak marah lagi ya sama Mas?" Tanya Bryan memastikan.
" Iya Mas." Sahut Vanka.
" Makasih sayang." Sahut Bryan memeluk Vanka.
" Ehmm ehmm."
Suara deheman membuat Bryan dan Vanka menoleh ke arah pintu.
" Boleh aku masuk?" Tanya Rea.
" Silahkan." Sahut Bryan.
Rea berjalan masuk menghampiri Vanka di ranjang. Ia duduk di tepi ranjang bekas Mama Kia duduk tadi.
" Vanka, aku ke sini mau minta maaf sama kamu, karena semalam aku sudah berkata sinis dan sedikit kasar sama kamu, maaf ya." Ucap Rea menggenggan tangan Vanka.
" Aku maafin nggak ya." Gumam Vanka.
" Ya harusnya di maafin lah Van, aku kan cuma mengikuti rencana Kak Bryan saja." Ucap Rea.
" Apa? Jadi yang terjadi tadi malam adalah rencana Mas Bry yang sengaja membuat aku kelimpungan?" Tanya Vanka menatap Bryan dan Rea bergantian.
Bryan memejamkan matanya, baru saja Ia di maafin sekarang udah dapat masalah lagi.
" Iya." Sahut Rea.
" Baiklah aku maafin kamu, sekarang pergilah ada urusan yang harus aku selesaikan dengan Mas Bry." Ujar Vanka.
" Baiklah, terima kasih... Dah Kak Bryan." Ucap Rea keluar kamar Bryan menyisakan Bryan yang sedang ketakutan.
" Hukuman apa yang kamu mau dariku Mas?" Tanya Vanka menatap tajam ke arah Bryan.
" E... E....
Hayo hukuman apa ya????
Jangan lupa like koment vote dan hadiahnya ya... Biar author semangat nulisnya...
__ADS_1
Terima kasih untuk readers yang sudah mensuport author selama ini, semoga sehat selalu...
Miss U All...