Pria Cacat Itu Suamiku

Pria Cacat Itu Suamiku
Tersinggung


__ADS_3

Kia menjeda ucapannya, Ia menatap netra Indra dan menggenggam tangannya.


" Sebenarnya aku ingin kamu yang melamarku Mas." Ucap Kia.


Indra refleks melepaskan genggaman tangan Kia. Ia menghembuskan nafasnya pelan.


" Maaf aku tidak bisa Ki... Rey sangat mencintaimu jadi menikahlah dengannya, kau pasti akan bahagia hidup bersama Rey, Rey bisa menjagamu dengan baik, lagi pula aku sudah mencintai wanita lain." Ujar Indra sambil memalingkan tatapannya.


" Ku mohon Mas jangan keras kepala, menikahlah denganku agar semuanya menjadi mudah." Ujar Kia menggenggam kembali tangan Indra.


Kia merasa harus membujuk Indra, agar tidak melibatkan Rey terlalu jauh. Kia bukan wanita bodoh, yang tidak tahu tentang perasaan Rey. Ia tidak mau membuat Rey jatuh terlalu dalam dengan perasaannya. Karna bagaimanapun Ia tidak bisa membalas perasaan Rey. Kia tidak mau mempermainkan perasaan orang lain. Mama Meri memintanya untuk mendampingi Indra... hanya Indra dan bukan Rey.


" Apa kau yakin, kau tidak tertarik padaku?" Tanya Kia mencengkram lembut dagu Indra agar Indra mau menatapnya.


" Jujur aku lebih tertarik padamu daripada Rey, aku lebih suka menjadi istrimu daripada menjadi istri Rey, aku akan mencintaimu setulus hatiku, aku berjanji akan mbuatmu bahagia hidup bersamaku." Ujar Kia.


" Jadi menikahlah denganku dan kita akan hidup bahagia selamanya, percayalah kalau aku mau menerimamu apa adanya." Sambung Kia. Indra menepis tangan Kia dengan kasar.


" Aku tidak menyangka ternyata kau begitu murahan." Cebik Indra.


Jeduarrrr......


Bagai di sambar petir tubuh Kia terasa kaku mendengar ucapan Indra. Murahan? Benarkah dirinya seperti wanita murahan?


" Ternyata kau sama dengan wanita lainnya yang rela melakukan apapun demi mencapai tujuannya, kau bahkan mampu menggoda kami berdua dalam waktu yang bersamaan Zaskia Azzahra." Bentak Indra membuat Kia berjingkrak kaget.


Kia memundurkan tubuhnya menjauh dari Indra. Hatinya perih... sakit... terluka ... ya dia terluka karna kata kata Indra. Ia menatap Indra dengan tajam.


" Ya... aku.. aku memang murahan... aku menggodamu supaya kau mau menikahiku, aku melakukan berbagai cara agar kau mau menikahiku." Ucap Kia.


" Aku menjadi murahan seperti ini karena apa?" Kia menjeda Ucapannya.


" Semua ini karenamu Indra Permana." Teriak Kia.


Kia menahan sesak di dadanya. Ia tidak tahan menanggung semua ini. Hanya karna untuk kebahagiaan Indra, Ia menyakiti perasaan pria lain. Yang tak lain adalah Rey saudaranya Indra sendiri.


" Aku membencimu Indra permana, kau membuatku terjerumus dalam lingkaran ini, kau menganggapku sebagai wanita murahan kan? baiklah akan aku tunjukkan bagaimana murahannya diriku yang sesungguhnya kepadamu." Ucap Kia menekan dada Indra.

__ADS_1


Kia pindah ke kursi depan. Cairan bening yang Ia tahan sedari tadi lolos begitu saja. Indra merasa sangat bersalah telah menyakiti hati Kia. Ia melirik dari arah kaca depan, Ia menatap Kia yang saat ini sedang menangis karena ulahnya.


" Ki, kamu kenapa?" Tanya Rey di luar mobil.


Kia menoleh ke arah Rey, Ia berdiri dan langsung menubruk tubub Rey, kebetulan memang pintu depan belum di tutup. Rey membalas pelukan Kia dengan tangan bergetar


" Hiks....Hiks...Hiks..." Isak Kia di dalam pelukan Rey.


" Hey tenanglah! Katakan ada apa? Apa yang terjadi?" Tanya Rey mengelus punggung Kia. Kia tidak bergeming. Ia masih menangis dalam pelukan Rey.


Mama Meri yang baru tiba merasa kaget melihat Kia memeluk Rey. Ada apa dengan Kia? Apa terjadi sesuatu dengan mereka? Mama Meri menatap kearah Indra, terlihat Indra sedang melihat ke arah Kia dengan mata berkaca kaca. Apa yang sebenarnya terjadi dengan mereka?


" Sayang kamu kenapa nak?" Tanya Mama Meri yang berdiri disamping Kia.


Kia tak bergeming, Ia masih berada di pelukan Rey, sepertinya Kia terlalu nyaman berada di sana. Semua itu membuat hati Indra menahan gemuruh di dadanya. Saat ini Kia berusaha lebih tenang.


" Aku gak papa Ma, jangan khawatir, Ma gantian aku yang di depan ya Ma, aku merasa pusing." Ujar Kia setelah melepas pelukannya. Ia masuk ke mobil dan segera menutup pintunya. Mama Meri heran dengan tingkah Kia, sebenarnya Ia mau bertanya tapi takut salah ucap.


Setelah semua masuk mobil, Rey segera melajukan mobilnya melanjutkan perjalanan kembali.


Hening..... Semuanya mendadak bisu tidak ada yang mengeluarkan kata katanya.


Drt...Drt....Drt....


Ponsel Kia bergetar, tanda ada panggilan masuk. Ia segera melihat ID pemanggilnya.


" Ya Li." Ucap Kia setelah menerima panggilannya yang ternyata dari Lia.


" Hmm." Gumam Kia.


" Katakan pada Dimas setelah kembali dari sini, aku akan segera menemuinya, kamu tinggal atur saja waktunya."Jawab Kia lagi. Ketiga orang lainnya hanya mendengarkan saja.


" ya..ya... Kalau dia serius denganku aku akan mencoba menerimanya." Sahut Kia mematikan sambungan teleponnya.


Ternyata Lia memberitahu kalau Dimas mengajaknya bertemu untuk meminta maaf atas sikapnya waktu itu. Sebenarnya Kia malas menanggapinya, tapi demi membuat Indra panas dingin Ia terpaksa menerimanya.


" Kenapa? Dimas mau menemuimu lagi?" Tanya Rey, mewakili pertanyaan Indra tentunya.

__ADS_1


" Kenapa? Apa ada masalah jika Dimas menemuiku?" Ketus Kia balik bertanya.


" Tidak ada, tapi kenapa kamu mau menemuinya?" Ujar Rey.


" Aku bebas menemui siapapun sebelum kita menikah, ataupun setelah menikah kau juga tidak bisa membatasi lingkup pertemananku, kalau kau tidak suka, atau menganggap aku sebagai cewek murahan, batalkan saja pertunangan ini, kita kembali ke kota saja." Sarkas Kia dengan ketus.


Ckiiiittttttt......


Rey menginjak rem dengan mendadak, membuat semua orang terpental kedepan. Lalu Rey segera menepikan mobilnya.


" Sialan lo Bang, kalau mau mati, mati aja sendiri, jangan ajak ajak gue, gue baru mau ketemu jodoh gue." Kia berdecak kesal sambil mengusap usap keningnya.


" Rey kamu membahayakan nyawa kita semua." Timpal Mama Meri. Rey tak mengindahkannya, Ia kesal dengan ucapan Kia. Sebenarnya ada apa sih dengan Kia. Kenapa Kia bisa berkata seperti itu?


" Maksudmu apa ngomong gitu?" Tanya Rey menatap tajam kearah Kia.


" Kamu mau pergi dariku, lalu berpaling ke Dimas begitu maksudmu?" Sambungnya.


" Kalau bisa kenapa enggak? dengan Siapapun itu, kurasa bukan urusanmu." Ketus Kia.


" Apa apaan ini Kia? Apa kau lupa bagaimana rencana awal kita?" Tanya Rey Geram.


" Rey sabar nak, tenanglah jangan emosi." Timpal mama Meri.


" Entahlah Bang aku jadi ragu untuk melakukannya, aku pusing mau tidur, aku lelah badan dan pikiran Bang, jangan ganggu aku kalau tidak mau aku terkam." Sinis Kia menyenderkan tubuhnya ke kursi.


Kia mencoba memejamkan matanya. Ia sempat lupa rencana awal mereka, kenapa harus menyerah hanya dengan kata "Murahan" yang keluar dari bibir Indra.


Sedangkan Mama Meri pikirannya berkecamuk. Sebenarnya apa yang terjadi? Ia tidak mau semua rencananya gagal. Ia menatap tajam kearah Indra.


" Maaf Ma." Ucap Indra yang mengerti arti tatapan mamanya.


" Minta maaflah dengannya nanti." Ucap Mama Meri sambil tersenyum.


" Baik Ma." Jawab Indra.


Mobilpun terus melaju hingga berjam jam lamanya. Beberapakali mereka sempat berhenti, hanya untuk sekedar istirahat. Kia masih bersikap sama yaitu diam mengunci mulutnya rapat rapat. Bahkan Saat mama Meri dan Rey sengaja meninggalkan mereka, Kia justru pura pura tidur untuk menghindari Indra. Indra hanya pasrah dan tersenyum getir, merutuki kebodohannya.

__ADS_1


TBC.......


__ADS_2