Pria Cacat Itu Suamiku

Pria Cacat Itu Suamiku
41. Malam Pengantin Baru VS Pengantin Lawas


__ADS_3

Brayen menuntun Rea masuk ke kamar hotel yang sudah di pesan oleh Vanka. Keduanya mengedarkan pandangannya menatap ke seluruh penjuru kamar pengantin mereka. Kelopak bunga mawar merah membentuk hati di atas ranjang. Handuk berbentuk angsa bertengger di tepi ranjang dan jangan lupakan lilin lilin menyala menerangi kamar mereka. Aroma theraphy dari lilin itu menyeruak ke dalam hidung mereka.


" Mas aku mau ganti baju dulu ya." Ucap Rea sedikit gugup.


" Iya." Sahut Brayen.


Rea masuk ke dalam kamar mandi. Ia segera membuka kebayanya lalu mandi dengan air hangat. Setelah selesai, Ia hendak memakai baju yang sudah tersedia di sana dan....


" Baju apa ini? Kenapa tipisnya minta ampun gini?" Monolog Rea membolak balik lingerie yang Vanka siapkan untuknya.


" Vanka....... Aku akan menjewer telingamu saat kita bertemu nanti." Geram Rea.


" Duh gimana nih? Mana nggak ada ganti yang lainnya lagi." Gumam Rea.


Tok tok...


" Sayang.... Kenapa kamu lama sekali? Apa terjadi sesuatu denganmu?" Tanya Brayen di depan pintu.


" Eng.... Enggak Mas." Sahut Rea.


" Lalu kenapa? Sekarang buka pintunya! Mas kebelet nih." Ujar Brayen.


" I... Iya bentar Mas." Sahut Rea.


" Duh gimana ini? Masa' cuma pakai handuk doank sih." Guma Rea.


" Buruan Rea." Ucap Brayen.


" Iya Mas." Sahut Rea.


Ceklek.....


Rea membuka pintu kamar mandi.


" Kenapa belum ganti baju?" Tanya Brayen menatap Rea yang hanya memakai handuk saja.


" Tidak ada baju di sini Mas, yang ada hanya kain tipis kurang bahan." Sahut Rea.


" Kurang bahan gimana? Kalau kurang bahan tidak akan di jual sayang, kamu ini ada ada aja." Sahut Brayen mencubit pelan hidung Rea.


" Eh nggak percaya kamu Mas, kamu bisa lihat sendiri baju itu." Ujar Rea.


Brayen masuk ke dalam kamar mandi. Di samping wastafel Ia menemukan seonggon kain tipis seperti jala ikan.


" Ini namanya lingerie Yank, setiap pengantin memakainya saat malam pertama mereka." Ucap Brayen memberikan lingerie itu pada Rea.


" Sekarang pakailah! Kau akan terlihat sangat cantik dengan pakaian ini." Ujar Brayen.


" Aku malu Mas, ini akan mengekspos seluruh tubuhku di depanmu." Sahut Rea.


" Memangnya kenapa? Kita sudah halal untuk melihat semua itu, bahkan tanpa pakaian sekalipun." Ujar Brayen membuat pipi Rea memerah semerah kepiting rebus.


" Tidak perlu malu sayang, pakailah itu untuk suami tercintamu." Saambung Brayen menyentuh dagu Rea.


Brayen menatap bibir tipis milik Rea, Ia memajukan wajahnya lalu...

__ADS_1


Cup....


Brayen mencium bibir Rea. Ia menggigit pelan bibir bawah Rea membuat Rea membuka sedikit mulutnya. Brayen menyusupkan lidahnya ke dalam mulut Rea, Ia menahan tengkuk Rea memperdalam ciumannya. Suara decapan memenuhi ruangan kamar pengantin mereka.


Ciuman Brayen turun ke leher Rea. Dengan perlahan Brayen merebahkan tubuh Rea ke atas ranjang mempermudah dirinya untuk bermain main di leher Rea.


" Shh.." Desis Rea saat Brayen menyesap kulit lehernya meninggalkan bekas kemerahan. Tangan Brayen bergerilya kemana mana membuat Rea terhanyut dengan setiap sentuhannya. Tanpa mereka sadari kini keduanya sudah polos.


" Aku datang sayang, jika sakit cengkeram punggungku ya." Bisik Brayen di telinga Rea. Rea menganggukkan kepalanya.


Brayen mencoba permainannya dengan sangat lembut membuat Rea seakan terbang ke atas awan.Tidak ada rintihan ataupun keluhan dari Rea karena Brayen benar benar membuatnya terhanyut mengikuti irama yang Brayen mainkan.


Malam ini benar benar menjadi malam pertama yang sangat mengesankan bagi kedua pengantin baru itu.


Sedangkan di tempat lain, tepatnya di kamar Bryan. Vanka sedang duduk bersandar pada headboard sambil memainkan ponselnya. Bryan naik ke atas ranjang duduk di samping Vanka.


" Sayang." Ucap Bryan menggenggam tangan Vanka.


Vanka mengalihkan pandangannya dari ponselnya. Ia menatap Bryan.


" Ada apa Mas?" Tanya Vanka.


" Mas ingin Dek." Ucap Bryan.


" Ingin? Ingin apaan?" Tanya Vanka mengernyitkan dahinya.


" Ingin kamu." Sahut Bryan.


" Aku lagi malas Mas, gimana?" Tanya Vanka.


" Kamu menolak Mas?" Bryan balik bertanya.


" Mas nggak tahu ada apa denganmu? Akhir akhir ini kamu sering menolak dan menghindari Mas, apa Mas ada salah sama kamu? Apa kamu udah nggak sayang lagi sama Mas?" Tanya Bryan mengeluarkan semua pertanyaan yang mengganjal di hatinya selama ini.


Vanka meletakkan ponselnya di atas nakas. Ia kemudian menatap Bryan dengan seksama.


" Bukan aku tidak sayang lagi sama kamu Mas, rasa sayang dan cintaku masih utuh untukmu Mas, tapi aku jujur, entah mengapa akhir akhir ini aku malas dekat dekat denganmu Mas, kalau dekat sama kamu itu bawaannya kesal melulu." Terang Vanka.


" Kamu jangan salah paham, aku sendiri juga tidak mengerti apa yang terjadi dengan diriku Mas." Sambung Vanka.


Bryan menghela nafasnya.


" Dalam percintaan ada kalanya rasa bosan melanda, dan mungkin itu yang kamu rasakan saat ini sayang, tidak apa Mas akan menerima semua perlakuan baik dan ataupun buruk sekalipun yang kamu tanam kepada Mas, maafkan jika Mas banyak salah padamu, lebih baik untuk sementara waktu Mas menjauh darimu." Ucap Bryan turun dari ranjang.


" Mas mau kemana?" Vanka turun dari ranjang menghampiri Bryan.


" Mas mau ke ruang kerja, Mas tambah pusing kalau dekat samakamu, Mas takut tidak bisa mengendalikan diri Mas kepadamu." Sahut Bryan.


Hati Vanka mencelos mendengar ucapan Bryan. Ia memejamkan matanya dan mengatur nafasnya untuk meredamkan emosinya.


" Kamu tidak boleh pergi kemana mana Mas, ayo kita lakukan apa yang kamu inginkan." Ucap Vanka menuntun Bryan ke tepi ranjang.


" Kalau tidak suka jangan di paksakan sayang, Mas tidak pa pa kok." Ujar Bryan.


Vanka mendorong pelang tubuh Bryan hingga terlentang. Vanka menindih tubuh kekar suaminya sambil menatap wajah tampan dan teduh suaminya. Vaka memajukan wajahnya dan....

__ADS_1


Cup....


Vanka mengecup bibir Bryan. Bryan menyusupkan tangannya ke leher belakang Vanka. Ia menahan tengkuk Vanka lalu mencium bibir Vanka dengan lembut. Vanka membalas ciuman Bryan dengan membelitkan lidahnya. Yang terdengar kini suara decapan dari ciuman keduanya.


Bryan membalikkan posisi, ciumannya turun ke leher Vanka. Ia banyak membuat jejak di sana. Entah siapa yang memulai kini keduanya melakukan penyatuan cinta mereka. Suara des**** dan erangan memenuhi ruangan kamar mereka. Bryan begitu memanjakan Vanka hingga mbuat Vanka terlena.


Setelah hampir dua jam lamanya akhirnya keduanya mencapai puncak nirwana, Bryan merebahkan dirinya di samping Vanka.


" Terima kasih sayang." Ucap Bryan mencium kening Vanka.


"Hmm." Gumam Vanka.


Tiba tiba perut Vanka merasa begitu mual.


Huek...


Vanka menutup mulutnya. Ia melilitkan selimut pada tubuhnya lalu berlari menuju kamar mandi.


Huek....


Bryan segera memakai bajunya kembali dengan asal. Ia menyusul Vanka ke dalam kamar mandi.


" Sayang kamu kenapa? Mual ya?" Tanya Bryan memijat pelan tengkuk Vanka.


Huek.....


Vanka kembali memuntahkan seisi perutnya hingga perutnya menjadi kosong.


" Sayang kita ke dokter ya." Ucap Bryan yang di balas gelengan kepala oleh Vanka.


Vanka membasuh mulutnya dengan air bersih lalu mengusapnya dengan tisu. Tubuhnya semakin lemas tak bertenaga, tiba tiba....


Brugh....


" Sayang." Pekik Bryan menopang tubuh Vanka yang tiba riba tak sadarkan diri.


Bryan menggendong Vanka menuju ranjangnya, Ia merebahkan tubuh Vanka dengan pelan.


" Sayang kamu kenapa? Jangan membuat Mas cemas sayang..." Ujar Bryan.


" Sayang bangunlah! Maafkan Mas yang memaksakan dirimu untuk melayani Mas, Mas mohon bangunlah sayang." Sambung Bryan memeluk Vanka.


Bryan segera memakaikan baju Vanka dengan lengkap. Ia turun ke bawah untuk membuatkan minuman hangat untuk Vanka. Setelah selesai Ia kembali ke kamarnya. Vanka masih belum sadar membuat Bryan semakin khawatir. Ia ingin membangunkan Mamanya namun Ia tidak enak hati karena hari sudah larut malam.


" Sayang sadarlah." Ucap Bryan memeluk Vanka di atas ranjang.


" Apa yang terjadi denganmu sayang?" Tanya Bryan.


Apa hayoooo yang terjadi dengan Vanka?


Kita akan lihat jawabannya di bab selanjutnya...


Jangan lupa like vote koment dan hadiahnya nih biar author semangat meneruskan ceritanya....


Terima kasih untuk readers yang selalu mensuport author... Semoga sehat selalu...

__ADS_1


Miss U All....


TBC......


__ADS_2