
" Bangunlah sayang, Mas sudah di sini untuk menjemputmu sayang, bangunlah! Ayo kita pulang sayang, Mas sangat merindukanmu... Mas sangat sangat merindukanmu sayang." Ujar Bryan memeluk tubuh Vanka.
Tiba tiba.....
" Aku tidak akan membiarkanmu membawanya." Teriak Yoseph menarik tubuh Bryan.
Bugh... Bugh... Bugh...
Yoseph membalas memukul wajah Bryan. Bryan mencoba membalas pukulan Yoseph tapi lagi lagi Yoseph memukulnya hingga tubuhnya terhuyung ke belakang.
Bugh.....
Yoseph menendang perut Bryan hingga Bryan memuntahkan darah dari mulutnya.
Brak....
Tubuh Bryan jatuh terpelanting ke belakang menabrak meja yang ada di sana.
" Awh." Lirih Bryan merasa seluruh tubuhnya remuk redam.
Yoseph berjalan tertatih menghampiri Bryan.
" Rasakan ini." Ucap Yoseph.
" Uhuk uhuk uhuk." Bryan terbatuk batuk saat Yoseph menginjak dadanya.
" Kau pikir kau pria terhebat begitu? Jika kau bisa kasar maka aku jauh lebih bisa melakukannya, aku memang membiarkanmu mengalahkan tenderku tapi aku tidak akan membiarkanmu menang dalam memiliki Devanka." Ucap Yoseph menekan injakannya membuat Bryan memekik kesakitan.
" Ah." Teriak Bryan.
" Kenapa? Sakit? Ini belum seberapa karna aku akan membuatmu merasakan lebih sakit lagi karna kehilangan Devanka, aku akan merebut Devanka darimu Tuan Bryan terhormat." Ucap Yoseph menatap tajam ke arah Bryan.
" Selama aku hidup, aku tidak akan membiarkan semua itu terjadi." Lirih Bryan.
" Itu jika kau masih hidup, sayangnya aku tidak akan membiarkanmu hidup lebih lama lagi." Sahut Yoseph kembali menekan pijakan pada dada Bryan.
" Uhuk.... Uhuk... Uhuk...." Bryan kembali terbatuk batuk.
Bryan merasakan sesak di dadanya. Nafasnya tersengal, pandangannya terasa berputar. Sepertinya Ia tidak bisa bernafas lagi. Ia ingin berubah menjadi kuat untuk menghajar Yoseph namun tubuhnya terasa lemah tak berdaya. Ia menatap Vanka yang masih setia memejamkan matanya di atas ranjang.
" Vanka sayang maafkan Mas yang tidak bisa melindungimu, maafkan Mas yang tidak bisa memenuhi janji Mas untuk selalu menemanimu, maafkan Mas yang tidak bisa membuatmu bahagia, maafkan Mas yang tidak bisa mendampingi tumbuh kembang anak kita, Mas tidak kuat lagi, sepertinya Mas sudah tidak ada umur lagi, Mas bahagia bisa memilikimu sayang walaupun hanya sesaat, berbahagialah walau tanpa Mas sayang.... Sekali lagi maafkan Mas." Gumam Bryan menutup matanya.
" Bangun lo... cuma segini doank kekuatan lo? Ah cemen sekali, gimana lo bisa menjaga Devanka kalau lo lemah seperti ini, memang lebih baik jika Devanka menjadi milik gue." Ucap Yoseph menendang nendang tubuh Bryan.
Saat Yoseph membalikkan badannya tiba tiba...
__ADS_1
Bugh..
" Awh." Pekik Yoseph terhuyung ke belakang hingga tubuhnya jatuh ke lantai.
Bugh.... Bugh.... Bugh.... Bugh ...
Empat anak buah Bryan memukulinya hingga babak belur.
" Ah." Pekik Yoseph.
" Kau telah membuat bos kami terluka, kau harus menerima akibatnya pria brengsek." Teriak Fahmi menendang tubuh Yoseph hingga terpental.
" Kalian bawa baji**** ini ke markas! Dan kau Johan, ikutlah denganku membawa bos dan istrinya ke rumah sakit." Titah Fahmi.
" Baik Bos." Sahut Johan.
Dua anak buah Bryan menyeret tubuh Yoseph keluar kamar. Sekuat tenaga Yoseph memberontak namun sia sia karna tenaganya kalah besar dengan anak buah Bryan.
Fahmi dan Johan membawa Bryan dan Vanka ke rumah sakit kota. Butuh waktu hingga dua jam untuk sampai di sana. Sesampainya di rumah sakit, Bryan dan Vanka mendapatkan perawatan intensif.
Fahmi segera memberi kabar kepada keluarga Bryan. Mama Kia, Papa Indra, Brayen dan Rea segera meluncur menuju rumah sakit.
" Fahmi gimana keadaan Bry dan Vanka?" Tanya Papa Indra menghampiri Fahmi yang sedang duduk di depan ruang ICU.
" Bos dan istrinya sedang di periksa oleh Dokter Tuan." Sahut Fahmi.
" Tidak masalah Fahmi yang penting kamu sudah berusaha, dan terima kasih sudah membawa Bry dan Vanka kemari." Ucap Papa Indra.
" Sudah menjadi tugas saya Tuan." Sahut Fahmi.
Ceklek....
Pintu ruang ICU terbuka menampakkan seorang Dokter yang sedang keluar dari sana.
" Dokter bagaimana keadaan putra dan menantu saya Dok?" Tanya Mama Kia menghampiri Dokter.
" Tuan Bryan sudah melewati masa kritisnya Nyonya dan saat ini kondisinya sudah stabil walaupun masih belum sadar, Nona Devanka juga baik baik saja, bahkan Nona Devanka sudah sadar Nyonya." Sahut Dokter.
" Alhamdulillah." Ucap mereka serempak.
" Bolehkah kami menemuinya Dok?" Tanya Rea.
" Kalian bisa menemuinya setelah keduanya di pindahkan ke ruang rawat, saya permisi." Ucap Dokter undur diri.
" Silahkan Dok terima kasih." Sahut Mama Kia.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Mama Kia, Papa Indra, Brayen dan Rea masuk ke dalam ruang rawat Vanka dan Bryan. Ya Vanka dan Bryan menempati satu ruangan yang sama. Keempat anggota keluarga Permana menghampiri Vanka yang sedang duduk bersandar di atas brankar.
" Sayang kamu baik baik saja?" Tanya Mama Kia menggenggam tangan Vanka.
" Aku baik baik saja Ma, terima kasih sudah datang." Sahut Vanka.
" Kamu ini, Mama ya harus datang lah, masa' Mama mau diam aja anaknya kena musibah, babbynya gimana? Nggak kenapa napa kan?" Tanya Mama Kia.
" Alhamdulillah tidak Ma, dedeknya baik baik saja." Sahut Vanka mengelus perut ratanya.
" Maafkan anak Mama ya yang nggak bisa jagain kamu." Ujar Mama Kia.
" Jangan seperti itu Ma, semua yang terjadi karna kehendak Tuhan Ma." Sahut Vanka.
" Kamu memang anak yang baik sayang, cepat pulih ya." Ucap Mama Kia.
" Iya Ma." Sahut Vanka.
" Vanka aku ikut prihatin ya atas apa yang menimpamu, semoga kamu cepat pulih dan Bryan cepat sadar." Ucap Rea.
" Terima kasih Rea." Sahut Vanka.
" Vanka cepat sembuh ya, dan semoga setelah ini tidak akan ada lagi yang menghalangi kebahagiaanmu dengan Bryan." Ucap Brayen.
" Iya Kak, terima kasih." Ucap Vanka.
" Ma apa Mas Bry akan baik baik saja? Aku takut Mas Bry kenapa napa Ma? Kenapa sampai sekarang Mas Bry belum sadar juga." Ujar Vanka menatap Mama Kia.
" Kamu yang sabar sayang, Bry anak yang kuat, dia tidak akan mati hanya karna di pukuli sama Yoseph, dia pasti akan baik baik saja, kamu hanya tinggal menunggu waktu saja." Tutur Mama Kia.
" Iya Ma, doakan Mas Bry cepat sadar Ma." Ujar Vanka menatap Bryan yang sedang berbaring di ranjang sebelahnya. Kepalanya di perban, selang oksigen menempel pada lubang hidungnya, dan alat pendeteksi jantung juga menempel pada dadanya.
Kondisi Bryan benar benar memprihatinkan. Vanka meneteskan air matanya, Ia tidak sanggup melihat suaminya tergeletak tak berdaya seperti itu.
" Jangan menangis sayang, kita berdoa bersama ya demi kesembuhan Bry." Ujar Mama Kia mengusap air mata Vanka dengan tisu.
" Iya Ma." Sahut Vanka menganggukan kepalanya.
TBC....
Jangan lupa like koment vote dan hadiahnya biar author semakin semangat ya....
Terima kasih untuk readers yang selalu mensuport author semoga sehat selalu....
__ADS_1
Miss U All.....