Pria Cacat Itu Suamiku

Pria Cacat Itu Suamiku
12. Ujian Cinta


__ADS_3

" Kamu... Ngapain kamu ke sini?" Tanya Bryan menatap Brayen.


" Mau jenguk calon istri gue." Sahut Brayen nyelonong masuk menghampiri Vanka.


Brayen duduk di kursi samping ranjang. Sedangkan Bryan berdiri di belakangnya.


" Sayang aku turut prihatin atas apa yang menimpa padamu, maafkan aku yang sudah menyebabkan masalah ini, aku sedih karna telah kehilangan anak kita." Ucap Brayen menggenggam tangan Vanka.


Vanka menarik tangannya.


" Bukankah dari awal kamu memang menolaknya? Kenapa sekarang kamu sedih? Tidak usah berpura pura karna aku tidak akan termakan oleh bualanmu Kak." Ujar Vanka.


" Aku akui aku memang pernah menolaknya, tapi kamu tahu kan kalau akhir akhir ini aku menginginkan kalian berdua? Aku tidak membual Vanka, aku benar benar merasa kehilangannya, aku menyesal karna pernah menolaknya, andai saja aku bisa memutar waktu, saat itu juga aku akan menikahimu." Ucap Brayen.


" Baiklah aku percaya padamu, sekarang pergilah Kak aku mau istirahat." Sahut Vanka.


" Vanka aku ingin mengatakan sesuatu pada kalian berdua." Ucap Brayen menatap Vanka dan Bryan bergantian.


" Katakanlah setelah itu segeralah pergi dari sini." Ujar Vanka.


" Aku ingin kamu kembali padaku Van, aku akan menerimamu apa adanya, aku sudah tidak peduli dengan gelar profesional lagi, aku bisa hidup hanya dengan menjadi Dokter umum, tapi aku tidak bisa hidup tanpamu." Ucap Brayen menatap Vanka dengan penuh cinta. Dan Vanka bisa merasakan itu.


Deg....


Jantung Bryan berdetak dengan kencang. Ia menatap Vanka menanti jawaban apa yang akan Vanka berikan pada Brayen.


" Bry... Ku mohon lepaskanlah Vanka untukku, janin yang kau pertanggung jawabkan kini sudah tiada, kau tidak perlu lagi bertanggung jawab atas anak itu dan Vanka, kembalikan Vanka kepadaku dan biarkanlah kami hidup bahagia, kau sangat tahu kalau aku sangat mencintai Vanka melebihi apapun, hanya saja waktu itu aku khilaf, aku gila akan jabatan sehingga membuatku menolak anak kami, tapi kamu tahu kalau aku tidak pernah menolak Vanka, aku sangat mencintai Vanka." Ujar Brayen mengusap air mata yang membasahi pipinya.


" Berikan aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya, aku tidak bisa hidup tanpa Vanka, bukankah setiap orang berhak mendapatkan kesempatan kedua? Aku mohon padamu Bry lepaskan Vanka untukku, aku yakin kau pasti akan mendapatkan wanita yang sama baiknya denganmu, tapi aku.... Tidak akan ada wanita yang mau mendampingi pria brengsek sepertiku, aku mohon Bry kembalikan Vanka kepadaku, Vanka tidak akan meninggalkanmu sebelum kamu melepasnya karna Vanka merasa berhutang budi padamu jadi dia menunggu kamu yang melepasnya dan mengembalikannya padaku." Sambung Brayen mengatupkan kedua tangannya sambil menatap Bryan. Entah darimana Brayen mendapatkan pemikiran seperti itu.


Vanka menatap Bryan begitupun sebaliknya. Jantung Vanka berdetak tak karuan menanti jawaban Bryan. Apakah Bryan akan melepaskannya? Apakah Bryan menikahinya hanya karna rasa tanggung jawabnya kepada anak yang di kandungnya? Lalu bagaimana dengan sekarang setelah anak itu tiada?


" Aku akan melepas Vanka." Ucap Bryan melirik Vanka.


Deg....


Jantung Vanka terasa berhenti berdetak. Dunia seakan terasa berhenti berputar. Hatinya nyeri terasa di remas remas mendengar ucapan Bryan. Apakah selama ini perhatian yang Bryan berikan kepadanya tidak ada artinya? Apakah Bryan hanya memberikan harapan palsu saja kepadanya? Vanka berpikir mana mungkin Bryan mau dengan wanita kotor sepertinya. Ia harus sadar diri.


" Benarkah?" Tanya Brayen dengan mata berbinar.

__ADS_1


" Tapi jika Vanka menginginkannya, jika tidak maka jangan harap kau akan mendapatkan Vanka karna dia milikku dan selamanya hanya akan menjadi milikku." Sahut Bryan menatap Vanka yang sedang menunduk.


Vanka mendongak menatap Bryan dengan binar mata yang memperlihatkan kebahagiaan karna Bryan masih mempertahankannya.


" Bagaimana Vanka, apa kamu mau kembali menerimaku lagi? Aku berjanji aku akan selalu membuatmu bahagia." Ujar Brayen menatap Vanka.


Vanka menghela nafasnya dalam. Ia menatap Brayen dan Bryan secara bergantian berharap keputusan yang akan dia ambil adalah keputusan yang benar.


" Kau sudah terlalu banyak bicara Kak, semua yang kau pikirkan tentang aku hanya omong kosong saja, kau salah menilaiku, bukankah dari awal aku sudah bilang kalau aku tidak akan kembali pada orang yang sudah membuangku, jadi buang jauh jauh keinginanmu untuk kembali padaku, aku sudah hidup bahagia bersama suamiku saat ini dan nanti." Ucap Vanka.


" Tapi kau tidak mencintainya? Kau hanya mencintaiku Vanka, jangan sampai rasa hutang budimu membuatmu mengorbankan cinta kita." Ujar Brayen tak tahu malu.


" Cinta atau tidaknya itu bukan urusanmu, lagian untuk apa bercinta jika membuat kita menderita seperti cinta yang kau berikan padaku, yang hanya membuat kesengsaraan untukku saja, aku yakin kau bisa membayangkan apa yang akan terjadi padaku, jika saat itu Mas Bryan tidak menikahiku, mungkin saat itu juga aku akan melenyapkan diriku sendiri." Sahut Vanka.


" Satu lagi, aku menerima Mas Bryan bukan karna hutang budiku padanya, tapi karna cinta, perhatian dan kasih sayang yang dia berikan kepadaku mampu membuatku nyaman dan merasa terlindungi, dan aku merasa semua yang Mas Bryan berikan padaku adalah ketulusan bukan kepalsuan seperti cintamu padaku selama ini, kau paham kan maksudku? Jadi sekarang pergilah! Jangan menganggu waktu istirahatku." Usir Vanka.


Brayen merasa kalah, ucapan Vanka merupakan kekalahan telak baginya. Ia mengepalkan tangannya menahan emosi yang merasuk ke dalam jiwanya.


" Aku tidak akan menyerah begitu saja Vanka, aku akan memperjuangkanmu sampai kau kembali kepadaku, apapun caranya." Kesal Brayen beranjak menuju pintu.


" Kak." Panggil Vanka saat Brayen hendak memutar gagang pintu, suara Vanka menghentikan langkahnya. Ia menoleh ke arah Vanka.


Brayen keluar ruangan menutup pintu dengan keras.


Brakkk...


" Astaga." Ucap Vanka menyentuh dadanya.


Bryan menghampiri Vanka, Ia menatap wajah Vanka yang sedikit sembab akibat menangis.


" Kau menangisi pria itu?" Tanya Bryan menghapus air mata Vanka menggunakan jempolnya. Vanka menggelengkan kepalanya.


" Lalu?" Tanya Bryan menangkup wajah Vanka.


" Bukankah kamu sendiri yang bilang kalau aku hanya boleh meneteskan air mata kebahagiaan?" Ujar Vanka membuat Bryan mengerutkan keningnya.


" Aku merasa bahagia karna kamu masih mempertahankan aku Mas, padahal ini kesempatan untukmu melepasku dan mencari wanita yang jauh lebih baik dariku." Ujar Vanka.


" Stt." Bryan meletakkan telunjuknya di bibir Vanka.

__ADS_1


" Jangan pernah berpikir kalau kau bukan wanita baik untukku, kaulah wanita terbaik untuk mendampingiku karna kaulah wanita pilihan hatiku, apapun yang terjadi kepadamu di masa lalu itu hanya musibah, bukan kesalahan yang sengaja kau lakukan, jadi jangan pernah berpikir Mas akan melepaskanmu, sekali kau terikat padaku maka selamanya kau akan terikat denganku melalui pernikahan ini." Ujar Bryan.


" Hiks... Hiks...." Isak Vanka memeluk Bryan.


" Apa ini air mata kebahagiaan?" Tanya Bryan.


Vanka menganggukkan kepalanya. Bryan melepas pelukannya, Ia kembalu mengusap air mata Vanka.


" Jangan menangis lagi, kau membuatku sedih." Ucap Bryan.


" Maaf Mas." Ujar Vanka.


Vanka turun dari ranjang menuju kamar mandi. Ia membasuh mukanya yang sembab. Setelah selesai Ia kembali ke ranjangnya.


" Mas mau tidur?" Tanya Vanka saat melihat Bryan tiduran di atas ranjang.


" Kamu yang harus istirahat, Mas akan memelukmu." Sahut Bryan.


" Nanti kalau Dokter....


" Dokter barusan udah ke sini, tapi Mas suruh kembali nanti setelah jam makan siang, atau kamu mau makan dulu." Ujar Bryan memotong ucapan Vanka.


" Nanti aja Mas, aku mau di peluk sama kamu." Sahut Vanka naik ke atas ranjang.


" Manjanya istriku." Ujar Bryan.


" Mumpung punya suami baik hati harus aku manfaatin." Sahut Vanka.


" Kamu ini." Ujar Bryan.


Vanka masuk ke dalam pelukan Bryan yang menurutnya sangat nyaman. Keduanya memejamkan mata menuju alam mimpi di siang hari.


Bab bab berikutnya masih banyak konflik yang menguji cinta mereka ya....


Jangan lupa tekan like, koment, Vote dan hadiahnya buat author ya biar semangat ngehalunya.....


Terima kasih untuk para reader yang sudah mensuport author, semoga sehat selalu...


Miss U All...

__ADS_1


TBC....


__ADS_2