
" Gimana sayang? Apa hasilnya?" Tanya Brayen penasaran.
" E......" Rea menggantung ucapannya.
" Katakan saja sayang, apapun hasilnya aku tidak akan kecewa." Ujar Brayen seolah tahu jika istrinya merasa was was takut Ia kecewa karena sudah berharap lebih.
Rea menyodorkan alat tes itu kepada Brayen. Brayen segera melihatnya dan hasilnya adalah.....
Brayen membulatkan matanya, refleks Ia langsung memeluk Rea dengan erat.
" Ah selamat sayang, akhirnya keinginanmu untuk menjadi seorang ibu terkabul, selamat sayang, terima kasih sudah mau mengandung anakku." Ucap Brayen menciumi pipi Rea lalu memeluk Rea lagi.
" Selamat juga untukmu Mas, kamu akan menjadi seorang ayah, jadilah ayah yang baik untuk anak anakmu nanti Mas." Ujar Rea.
Deg.....
Tiba tiba jantung Brayen seperti di tikam sembilu. Ia melepas pelukannya, wajahnya nampak murung membuat Rea mengerutkan keningnya.
" Kenapa Mas? Apa kamu tidak bahagia dengan semua ini?" Tanya Rea menatap Brayen.
" Aku senang Rea tapi aku merasa tidak bahagia." Sahut Brayen duduk di tepi ranjang.
" Kau tidak bahagia? Kenapa?" Tanya Rea duduk di samping Brayen.
" Hiks.... Hiks...." Tiba tiba Brayen terisak membuat Rea semakin bingung.
" Kamu kenapa Mas?" Tanya Rea.
" Entah mengapa rasanya tidak adil jika aku bahagia menyambut kedatangan anak kita sekarang Rea, sedangkan aku dengan terang terangan menolak anakku yang pertama hiks... Rasa bersalah ini kembali muncul di dalam hatiku Rea hiks.... Aku berdosa.. Aku berdosa pada anakku dengan Vanka hiks...." Isak Brayen memukul dadanya sendiri yang terasa sesak.
Rea pun ikut merasakan hal yang sama. Ia merasa sesak saat mendengar ucapan Brayen yang tidak bahagia menyambut kehadiran calon anaknya karena rasa bersalah yang menghantui Brayen selama ini.
" Lalu aku harus apa Mas? Aku harus bagaimana untuk membantu menghilangkan rasa bersalahmu itu?" Tanya Rea.
" Selama satu bulan lebih kamu mengurus Vanka, kamu turuti apa kemauan bayinya, kamu selalu ada untuknya, apa itu tidak membuat rasa bersalahmu berkurang? Anggap saja semua yang kamu lakukan kemarin sebagai tebusan rasa bersalahmu Mas, apa itu tidak bisa kamu lakukan?" Tanya Rea menatap Brayen.
" Tidak bisa Rea, awalnya aku menolak kehadirannya, lalu aku ingin merebutnya kembali, dan yang terakhir aku membuatnya meninggalkan ibunya... Anakku pergi karena rencana busukku... Aku ayah yang jahat kepada darah dagingku sendiri Rea, aku tidah bisa menjadi ayah yang baik, aku bukan ayah yang baik hiks... hiks..." Brayen terus menyalahkan dirinya sendiri.
" Apakah ini karma yang harus aku tanggung selama hidupku? Mungkin anakku mengikat rasa bersalah ini di dalam darahku yang terus ikut mengalir di dalam tubuhku Rea, rasa bersalah dan penyesalan ini bagaikan sudah mendarah daging dalam denyut nadiku, aku tersiksa Rea..." Sambung Brayen.
" Lalu harus bagaimana Mas? Dengan cara apa supaya kamu bisa terlepas dari rasa bersalah itu? Apakah aku harus membuang anak ini supaya adil untukku dan Vanka?" Tanya Rea.
Brayen menatap tajam ke arah Rea.
" Jangan pernah berpikir seperti itu Rea, aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama lagi dalam hidupku, kamu cukup berbahagia dengan menjaga kandunganmu, biarkan aku yang menanggung semua beban kesalahanku ini, kamu tidak perlu melakukan apapun." Tegas Brayen meninggalkan Rea di kamar sendirian.
Rea menatap kepergian Brayen dengan mata nanar. Tak terasa air mata menetes di pipinya.
__ADS_1
" Ya Tuhan mendengar Mas Brayen mengatakan jika dia tidak bahagia saja membuat hatiku terasa begitu sakit... Sakit banget... Bagaimana dengan Vanka yang mendengar Mas Brayen menolak calon anaknya? Apalagi sampai meminta Vanka untuk menggug*** kandungannya rasanya seperti apa Ya Tuhan? Aku yakin pasti sakitnya seribu kali lebih sakit dari apa yang aku rasakan saat ini, Vanka kamu memang wanita kuat dan beruntung sekarang kamu punya Kak Bryan, laki laki yang selalu menyanyangimu dan rela melakukan apapun demi dirimu, semoga Tuhan memberikan kebahagiaan untuk keluarga kecil kita, semoga Mas Brayen bisa melupakan rasa bersalahnya." Monolog Rea mengusap air matanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Matahari menyingsing menerangi perkebunan teh. Vanka mengerjapkan matanya menatap ke segala penjuru kamarnya. Ia mencari sosok yang sangat Ia cintai, tapi sepertinya Bryan sedang tidak ada di dalam kamarnya.
Pagi ini suasana memang sangat dingin membuat wanita hamil seperti Vanka hanya ingin bergelung di dalam selimut. Vanka menatap jam yang menempel pada dinding yang menunjukkan pukul tujuh pagi.
" Hah mau mandi tapi rasanya malas sekali, dingin banget gila." Monolog Vanka duduk bersandar pada headboard.
Ceklek....
Pintu terbuka membuat Vanka menatap ke arah di mana Bryan sedang berjalan menghampirinya.
" Kamu sudah bangun?" Tanya Bryan.
" Mas darimana?" Vanka balik bertanya.
" Mas baru saja menyiapkan sarapan, sekarang kamu mandi dulu ya, Mas siapkan air hangatnya dulu." Ujar Bryan masuk ke dalam kamar mandi untuk menyiapkan air hangat.
" Sudah sayang, kamu mandi ya setelah mandi Mas akan menyuapimu." Ujar Bryan membuat Vanka tersenyum bahagia dengan perhatian Bryan selama ini.
" Iya Mas." Sahut Vanka.
Vanka turun dari ranjang lalu beranjak menuju kamar mandi. Sedangkan Bryan merapikan tempat tidur saksi bisu perbuatannya malam tadi.
" Sini Mas keringin rambutnya." Ucap Bryan menuntun Vanka ke meja rias.
Bryan menyalakan hair dryer, Lalu Ia membuka handuk yang Vanka lilitkan di kepalanya. Dengan perlahan Bryan mengeringkan rambut Vanka sedikit demi sedikit.
" Aku berasa jadi ratu Mas yang apa apa di layani sama kamu." Ucap Vanka menatap Bryan melalui pantulan cermin.
" Ya memang kamu ratu Dek, ratu di hatiku." Sahut Bryan.
Blush....
Pipi Vanka memerah, hatinya terasa tersiram air es. Ia merasa sangat bahagia dan tiada hentinya Ia mengucap syukur kepada Tuhan karena telah menciptakan Bryan untuknya.
" Kau adalah ratu dalam hatiku dan kamu adalah bidadari cintaku sayang." Ucap Bryan mengalungkan tangannya ke leher Vanka.
" Mas kamu membuatku mau terbang aja, terima kasih sudah menjadikanku ratu, bidadari dan istrimu." Ucap Vanka.
" Jadilah istriku sampai jannah nanti, dan jadilah ibu yang baik untuk anak anak kita nanti sayang, I love you." Ucap Bryan mencium pipi Vanka.
" Love you too Mas, jangan pernah berubah Mas, tetaplah seperti ini selamanya, aku tidak mau kehilanganmu, dan aku juga tidak mau kehilangan cintamu, tetaplah bersamaku, tetaplah mencintaiku selamanya." Ujar Vanka.
" Tentu sayang, sekarang kita turun ya untuk sarapan, kasihan dedeknya udah kelaparan, apalagi semalam di guncang gempa sampai pagi." Ucap Bryan.
__ADS_1
" Apa sih Mas, ucapanmu itu lhoh bikin aku merinding." Ujar Vanka.
" Masa'?" Tanya Bryan.
" Iya." Sahut Vanka.
" Bukannya kamu malah seneng sama yang buat merinding, kamu begitu menikmatinya sayang." Seloroh Bryan.
" Mas." Pekik Vanka cemberut.
" Apa sayang?" Tanya Bryan lembut.
" Aku marah nih." Ancam Vanka.
" Eh jangan donk... Ya udah Mas minta maaf deh... Maafin Mas ya." Ujar Bryan.
" Nggak mau." Ketus Vanka.
" Ya jangan gitu donk Dek, maafin Mas ya, nanti Mas turuti apa mau kamu deh." Bujuk Bryan.
" Semua ya?" Ucap Vanka.
" Iya deh." Sahut Bryan.
" Ya udah sekarang ayo kita sarapan." Ajak Bryan.
" Gendong." Rengek Vanka mengulurkan kedua tangannya.
Bryan menghela nafasnya. Ia menggendong Vanka ala Brydal style membuat Vanka mengalungkan tangannya ke leher Bryan. Dengan perlahan Bryan menuruni satu persatu anak tangga. Vanka terus menatap wajah sempurna milik suaminya.
" Terima kasih atas kebahagiaan yang telah Engkau berikan Ya Rob... Aku berharap kebahagiaan ini akan abadi sampai aku menutup mata kembali kepadamu." Batin Vanka.
TBC......
Baper nggak nih????
Jangan lupa like koment vote dan hadiahnya ya... Biar author semangat nulisnya...
Terima kasih untuk readers yang selalu mensupport author... Semoga sehat selalu....
Miss U All....
Author Mengucapkan......
...Selamat Hari Raya Idul Adha...
Semoga kita semua mendapatkan BerkahNya
__ADS_1
Amin......