
" Hukuman apa yang kamu mau dariku Mas?" Tanya Vanka menatap tajam ke arah Bryan.
" E... E.... Sun aja Dek." Sahut Bryan.
" Itu namanya bukan hukuman, tapi hadiah." Cebik Vanka.
" Ya udah deh Mas nurut aja sama kamu, mau di kasih hukuman apa Mas terima." Ujar Bryan.
" Akan aku pikirkan hukuman apa yang akan aku berikan kepadamu Mas." Sahut Vanka.
" Asal jangan suruh Mas tidur sendiri, Mas tidak bisa." Ujar Bryan.
" Bohong, buktinya selama sebulan lebih juga bisa tidur sendiri." Sahut Vanka.
" Ya kan terpaksa sayang, Mas udah sebulan lebih tidur sendiri masa' kamu tega mau nyuruh Mas tidur sendiri sih, lagian Mas yakin pasti kamu akan mual lagi kalau jauh jauh dari Mas." Ucap Bryan percaya diri.
" Kamu nyumpahin aku Mas?" Tanya Vanka.
" Ya enggak sayang, Mas cuma bilang aja sama kamu." Sahut Bryan.
" Ya udah lupakan masalah hukuman, mending kita kangen kangenan aja." Ucap Bryan naik ke atas ranjang.
Bryan duduk bersandar pada head board.
" Sini sayang." Ucap Bryan menepuk bahunya.
Vanka menjadikan lengan Bryan sebagai bantalan, tangan kanannya memeluk perut Bryan dengan mesra.
" Anaknya Daddy gimana? Sehat kan?" Tanya Bryan mengecup pucuk kepala Vanka.
" Saat di tinggal Daddy dedek rewel Dad, tapi sekarang sudah lebih baik lagi." Sahut Vanka.
" Maafin Dad ya udah ninggalin dedek sama Mommy selama ini." Ucap Bryan.
" Dedek maafin Dad." Sahut Vanka.
Tok tok tok...
" Siapa Mas?" Tanya Vanka.
" Nggak tahu, Mas coba buka dulu ya." Sahut Bryan turun dari ranjang.
Ceklek....
Bryan membuka pintunya.
" Bray, ada apa?" Tanya Bryan menatap Brayen.
" Gue cuma mau pamit sama lo." Sahut Brayen.
" Pamit? Emang mau kemana?" Tanya Bryan.
" Gue mau pulang ke rumah gue lah Bry." Ujar Brayen.
" Apa kamu sama Vanka bisa turun ke bawah, kita berkumpul dulu di ruang keluarga." Sambung Brayen.
" Oh ya bentar." Sahut Bryan menghampiri Vanka.
__ADS_1
" Ada apa Mas?" Tanya Vanka.
" Bray sama Vanka hendak pamit pulang, apa kamu bisa turun ke bawah?" Tanya Bryan menatap Vanka.
" Bisa Mas." Sahut Vanka turun dari ranjang.
" Pelan sayang, sini Mas gandeng." Ujar Bryan.
" Iya Mas." Sahut Vanka.
Bryan menggandeng tangan Vanka keluar dari kamarnya. Dengan perlahan Vanka menuruni satu persatu anak tangga.
" Sayang, apa perlu kita pindah kamar di bawah saja supaya kamu tidak capek harus naik turun tangga?" Tanya Bryan.
" Tidak usah Mas, aku nyaman di kamar kita yang sekarang." Sahut Vanka.
" Baiklah kamar kita tetap di sana." Sahut Bryan.
" Duduk sini sayang." Ucap Mama Kia setelah Vanka sampai di ruang keluarga.
" Sini aja Ma sama aku." Sahut Bryan.
" Pa, bagaimana kabar Papa?" Tanya Vanka menyalami Papa Indra.
" Alhamdulillah baik sayang, kamu sendiri udah sehat kan? Kan obatnya udah pulang." Ucap Papa Indra.
" Udah agak mendingan Pa." Sahut Vanka duduk di sebelah Bryan.
" Syukurlah." Ucap Papa Indra.
" Pa, Ma, Bry dan Vanka, aku sama Rea mau pamit pulang ke rumah kami." Ucap Brayen.
" Kami kan mau dua duaan juga sama seperti kalian, kami ingin segera menyusul kalian untuk memberikan cucu kepada Mama dan Papa juga." Sahut Brayen membuat Rea tersipu malu.
" Ah iya... Aku ucapkan terima kasih kepadamu Kak da kepada Rea yang telah membantuku selama ini, maafkan aku karena aku merepotkan kalian dan membuat waktu kebersamaan kalian berkurang." Ucap Vanka.
" Jangan berkata seperti itu Van, ini sudah tugasku menjadi keluarga kalian kan, aku tidak tahu apa yang akan terjadi kepada kami ke depannya, siapa tahu suatu saat nanti kami yang membutuhkan bantuan kalian berdua." Ujar Rea.
" Kami siap membantu Re." Sahut Vanka.
" Mama sama Papa juga mau pamit Van, Bry." Ujar Mama Kia membuat Vanka mengerutkan keningnya.
" Mama sama Papa mau kemana? Kok ikutan pamit?" Tanya Vanka menatap Mama Kia.
" Mama sama Papa mau kembali ke kampung sayang, Papa ada pekerjaan di sana jadi kami harus segera pulang." Sahut Mama Kia.
" Yah aku dan Mas Bry sendiri donk." Ujar Vanka menghela nafasnya.
" Tenang Van, kan rumah kita nggak jauh jauh amat, aku pasti akan sering sering main kemari lah." Ujar Rea.
" Betul kata Rea, sering seringlah untuk saling berkunjung, biar kalian makin dekat jadi saudara." Ujar Mama Kia.
" Iya Ma." Sahut Vanka dan Rea bersamaan.
" Baiklah jika itu keputusan kalian semua, aku mengucapkandan banyak banyak terima kasih kepada Papa, Mama, Bray dan juga Rea, aku juga mengucapkan maaf, maaf yang sebesar besarnya karena sudah merepotkan kalian semua, semoga semua kebaikan kalian akan mendapat pahala yang besar dari Tuhan yang Maha Pengasih." Ucap Bryan.
" Amin." Sahut mereka serempak.
__ADS_1
" Kalau begitu kami pamit ya Bry." Ucap Brayen beranjak.
" Hati hati." Sahut Bryan.
" Van aku pulang dulu ya, jaga kesehatan dan jaga keponakanku tersayang ini." Ucap Rea mengelus perut rata Vanka.
" Siap makasih ya." Ucap Vanka.
" Sama sama." Sahut Rea.
" Ma, Pa kami pamit pulang duluan ya, Mama sama Papa hati hati di jalan, kabari aku kalau sudah sampai di sana." Ujar Brayen.
" Iya sayang, kamu juga hati hati ya." Ucap Mama Kia.
Setelah menyalami kedua orang tuanya, Brayen menggandeng tangan Rea berjalan keluar menuju mobilnya. Mereka memilih pulang ke rumah untuk melanjutkan kehidupan mereka dengan harmonis. Karena jujur selama mengurus Vanka keduanya sedikit renggang, karena tidak ada waktu untuk saling dekat.
Brayen melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju rumahnya.
" Mas kenapa rasanya aku lelah banget ya." Ujar Rea memejamkan matanya.
" Mungkin imun tubuh kamu menurun Yank." Ujar Brayen.
" Mungkin ya Mas, sampai rumah aku mau langsung tidur Mas, kamu udah nyuruh orang buat bersihin kamar kita kan Mas?" Tanya Rea.
" Udah sayang, Mas menyewa tukang bersih bersih untuk selalu membersihkan rumah kita kok, kamu tenang aja rumah kita bersih dan hiegienis kok." Ujar Brayen.
Tidak ada sahutan, Brayen menoleh ke arah Rea yang nampak memejamkan matanya.
" Kamu tidur Yank?" Tanya Brayen.
" Hmm, aku ngantuk Mas." Ujar Rea.
" Bentar lagi nyampe lhoh sayang." Ujar Brayen.
" Tapi udah ngantuk banget Mas, aku bobok dulu ya, nanti kalau udah sampai bangunin aku ya." Ujar Rea.
" Baiklah, sekarang tidurlah nanti Mas gendong kamu." Ucap Brayen.
" Hmm." Gumam Rea.
Brayen terus melajukan mobilnya, sepuluh menit setelah itu mobil Brayen memasuki halaman rumahnya. Brayen memarkirkan mobilnya tepat di depan rumah, Ia menoleh ke samping menatap Rea yang masih memejamkan matanya. Brayen tersenyum menatap Rea.
" Segitu ngantuknya kamu sampai sebentar aja udah pules gini." Ucap Brayen.
Brayen turun dari mobilnya. Ia membuka pintu bagian kiri lalu menggendong Rea ala bridal style memasuki rumahnya.
Brayen membaringkan tubuh Rea di atas ranjang dengan pelan.
" Apa yang sebenarnya terjadi padamu sayang? Tumben banget masih pagi gini kamu udah mengantuk, semoga setelah bangun tidur badanmu udah fresh lagi." Ucap Brayen mencium kening Rea.
Coba tebak sebenarnya Rea kenapa ya????
Jangan lupa like koment vote dan hadiahnya biar author semangat ya....
Terima kasih untuk readers yang sudah mensuport author semoga sehat selalu..
Miss U All...
__ADS_1
TBC.....