
Hari hari berlalu tak terasa lima tahun sudah kehidupan Bryan dan Brayen sama sama bahagia bersama pasangan masing masing. Kini usia Rayyan dan Dira menginjak lima tahun.
Hari ini adalah hari acara ulang tahun Rayyan, keluarga Permana berkumpul di rumah Bryan. Mama Kia, Papa Indra, Bryan, Brayen, Rea, Oma Meri, Opa Anton dan Vanka duduk di sofa ruang tamu. Sedangkan Rayyan dan Dira bergabung dengan teman temannya.
" Vanka sekarang Ray udah besar, apa nggak kepikiran gitu mau memberikan seorang adik untuk Rayyan?" Tanya Mama Kia menatap Vanka. Vanka menatap ke arah Bryan mencoba meminta bantuan untuk menjawab pertanyaan Mamanya.
" Begini Ma, Vanka merasa sedikit trauma dengan masa kehamilan, karena Mama tahu kan bagaimana tersiksanya Vanka saat mengandung Rayyan dulu, jadi sampau sekarang kami sengaja menundanya Ma." Sahut Bryan membuat Vanka menghela nafasnya lega.
" Baiklah tidak masalah, tapi jangan terlalu lama jaraknya sayang, itu akan lebih menyiksa lagi kalau kamu hamil nanti." Ujar Mama Kia.
" Iya Ma, kalau aku penginnya sih nanti saat Rayyan berumur tujuh tahunan, biar Ray bisa main sendiri dulu Ma." Sahut Vanka.
" Ya udah terserah kamu aja, yang jelas setiap anak itu beda beda sayang, tidak semua masa kehamilan sama, siapa tahu nanti yang kedua tidak seperti saat kamu hamil Rayyan." Ucap Mama Kia.
" Semoga ya Ma." Sahut Vanka.
" Kalau kamu gimana Re?" Tanya Mama Kia beralih menatap Rea.
" Sepertinya aku juga sama seperti Vanka Ma, Rea nunggu Dira berusia tujuh tahunan juga biar Dira sedikit mandiri dulu." Sahut Rea.
" Hah.... Kalian ini kompak sekali, padahal Mama sudah tidak sabar menimang babby lagi." Sahut Mama Kia.
" Harus donk Ma." Sahut Vanka dan Rea bersamaan.
" Mama minta aja babby dari Papa." Ucap Brayen.
" Minta gimana? Apa Papa harus buat dengan wanita lainnya?" Tanya Papa Indra mendapat pelototan dari Mama Kia.
" Boleh juga tuh Pa idenya." Sahut Brayen.
" Kalian mau Mama hukum?" Tanya Mama Kia.
" Papa aja Ma, kan Papa yang punya niat dan idenya, Bray cuma jadi pendukung aja." Ujar Bray.
" Ya nggak bisa donk, pemain sama suporternya harus sama sama di hukum." Sahut Papa Indra.
" Ya benar, kalian harus sama sama di hukum titik." Ucap Mama Kia.
" Tunggu Bry koment dulu Ma, kalau dia dukung Papa dia juga harus di hukum." Ujar Papa Indra.
" Bry nggak ikut ikutan Pa, Bry setia sama pasangan selamanya." Sahut Bryan membuat Papa indra kalah telak.
" Ah lo nggak sohib Bry." Ujar Brayen.
" Ya emang gue nggak suport pria yang mau menduakan istrinya." Cebik Bryan.
" Bry benar benar anak Mama." Ucap Mama Kia.
" Terus Bray anak siapa Ma?" Tanya Brayen.
" Kamu anak Papa." Sahut Mama Kia.
" Ya udah Ma, hukum aja mereka berdua karena telah membuat Mama sedih." Ucap Bryan.
__ADS_1
" Rese' lo Bry." Ucap Brayen.
" Tunggu hukuman Mama setelah acara ini selesai." Sahut Mama Kia.
" Jangan donk Ma, Papa kan hanya bercanda saja, maafin Papa ya Ma." Ucap Papa Indra.
" Nggak bisa, Papa udah keterlaluan sama Mama." Ucap Mama Kia cemberut.
" Jangan cemberut gitu donk Yank, nanti kalau aku khilaf gimana?" Tanya Papa Indra menaik turunkan alisnya.
" Ih ganjennya nggak hilang hilang sampai tua." Sahut Mama Kia.
" Ya biar di kata romantis gitu Yank." Ujar Papa Indra.
" Sadar sama umur Pa." Ucap Brayen.
" Kamu ini kubu Papa, kenapa malah memprotes Papa ha?" Ujar Papa Indra.
" Iya deh maaf, Bray diam." Sahut Brayen.
" Ma... Maafin ya.. Jangan di hukum." Ucap Papa Indra memelas.
" Nggak bisa, kalian berdua harus di hukum." Sahut Mama Kia menunjuk Brayen dan Papa Indra.
Brayen dan Papa Indra hanya bisa menghela nafasnya saja. Begitulah keluarga Permana jika berkumpul. Mereka akan saling mengejek, menertawakan dan saling mendukung satu sama lain.
Rayyan berlari menghampiri Vanka.
" Mommy aku mau kado seperti Jian." Ucap Rayyan menarik tangan Vanka.
" Ray mau dedek bayi yang imut." Sahut Rayyan memegang kedua pipi gembulnya.
Vanka menatap Bryan yang di balas senyuman manis oleh Bryan.
" Mom kok diam aja, Ray mau kado dedek bayi imut Mom seperti dedek bayinya Jian." Ucap Rayyan.
" Daddy bilang sama Mommy kalau Ray mau dedek bayi seperti dedeknya Jian sekarang juga." Sambung Rayyan mendekati Bryan.
" Iya sayang pasti Dad sama Mom berikan.... Tapi tidak bisa langsung sekarang, semua kan ada prosesnya sayang." Ujar Bryan memangku Rayyan.
" Memang prosesnya gimana Dad?" Tanya Rayyan menoleh ke belakang.
" Mommy harus hamil dulu mengandung dedek bayinya, setelah itu dedek bayi akan lahir dari perut Mommy." Ucap Bryan.
" Ah aku tahu Dad, waktu itu Mamanya Jian juga perutnya besar banget, lalu sekarang dedek bayinya udah keluar, Mommy cepet hamil donk Mom biar Ray bisa punya dedek bayi imut seperti dedeknya Jian." Ujar Rayyan.
" Insyaallah sayang, berdoa saja ya biar Mommy cepet mengandung dedek bayi buat Rayyan, itu akan menjadi kado ulang tahunmu yang ke enam, gimana." Ucap Bryan.
" Iya nggak pa apa Dad, tapi janji ya Dad, Mom kalian akan memberikan dedek bayi sama Ray tahun depan." Ucap Rayyan.
" Insyaallah sayang." Sahut Vanka.
" Ya sudah, Ray mau main lagi ya Dad." Ujar Rayyan.
__ADS_1
" Silahkan sayang, hati hati ya mainnya, jangan sampai terluka." Ucap Bryan mencium pipi Rayyan.
" Aku sayang Dad." Ucap Rayyan mencium pipi Bryan.
" Kalau sama Mommy?" Tanya Bryan menunjuk Vanka.
Rayyan menghampiri Vanja lalu mencium pipi Vanka dengan lembut.
" Ray juga sayang Mommy." Ucap Rayyan.
" Mommy lebih sayang sama Ray." Ucap Vanka mencium pipi Rayyan.
" Sama Papa juga donk." Ujar Brayen.
Rayyan mendekati Brayen.
" Ray sayang Papa." Ucap Rayyan mencium pipi Brayen.
" Papa lebih menyayangimu sayang, selamat ulang tahun ya, semoga panjang umur, sehat selalu, jadi anak sholeh, makin pintar dan semakin menyayangi Papa, Mama, Mommy sama Daddy." Ujar Brayen.
" Sama Opa dan Oma juga donk." Sahut Opa Anton.
" Tentu Opa." Sahut Rayyan.
" Ray mau kado apa dari Papa?" Tanya Brayen menatap Rayyan.
" Emmm apa ya Pa?" Ujar Rayyan sambil berpikir.
" Apa hayo.... Coba katakan aja biar nanti Papa belikan." Ujar Brayen.
" Aku juga mau dedek bayi dari Papa sama Mama." Ucap Rayyan membuat Brayen melongo.
" Boleh kan Pa, Papa sama Daddy harus cepat cepatan memberikan Ray adik, siapa yang lebih cepat memberikan Ray dedek bayi, itu yang akan Ray sayang." Ujar Rayyan.
Keempat orang yang berkaitan dengan ucapan Rayyan saling melempar pandangan.
" Ok Daddy setuju." Sahut Bryan.
" Ok Papa juga setuju." Sahut Brayen tidak mau kalah.
" Aku tidak setuju."
Ucap Vanka dan Rea bersamaan membuat Oma Meri, Opa Anton, Mama Kia dan Papa Indra tertawa.
Mereka semua merasa sangat bahagia.
...THE END...
Terima kasih Author ucapkan kepada Readers semua karena telah mensuport author selama ini....
Semoga sehat selalu dan di lancarkan segala urusannya....
Miss U All....
__ADS_1
Yang mau Bhonchap tulis di kolom komentar ya....
Miss Miss Love Love untuk kalian semua....