
Sore ini keluarga Permana berkumpul di Masjid terdekat untuk menyelenggarakan pernikahan agama Bryan dan Vanka. Acara ini hanya di hadiri oleh keluarga saja karena mereka tidak mau ada berita miring tentang keluarga mereka jika mengundang tetangga. Hari mulai petang di hiasi rintik hujan yang mengguyur Ibukota, kilat menyambar tapi tidak menyurutkan semangat Bryan untuk mengucapkan ijab qobul.
Setelah dengan lantang Bryan mengucap kalimat ijab qobul, akhirnya kedua saksi menyatakan sah....
" Alhamdulillah, selamat untuk kalian berdua, sekarang kalian berdua sudah resmi menjadi pasangan suami istri secara agama dan negara, semoga kelak akan menjadi keluarga sakinah mawaddah dan warohmah." Ucap Pak Kia yang menikahkan mereka.
" Amien, terima kasih atas doanya Pak Kiai." Sahut Bryan.
Vanka mencium tangan Bryan, sedangkan Bryan mencium kening Vanka. Suara tepuk tangan dari segelintir orang mengiringi kebahagiaan mereka. Pak Kiai menutup acara sakral itu dengan doa untuk kedua mempelai.
Brayen mengepalkan erat tangannya menahan emosi melihat wanita yang sangat Ia cintai bersanding kembali dengan adiknya. Tak tahan melihat senyum kebahagiaan dari Bryan dan Vanka, Ia pergi meninggalkan masjid menuju mobilnya. Brayen melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi di tengah derasnya air hujan.
" Arghhhh." Teriak Brayen memukul stir mobil.
" Kenapa kamu justru memilih Bry sayang daripada aku pria yang dulu sangat kamu cintai? Kenapa kamu tidak bisa memaafkan kesalahanku seperti yang aku lakukan kepadamu saat kita pacaran dulu jika kamu melakukan kesalahan, apakah aku tidak pantas mendapatkan wanita baik sepertimu? Apakah aku tidak pantas untuk di cintai? Apakah aku tidak pantas untuk mendapatkan kesempatan kedua? Hiks.... Vanka sayang aku sangat mencintaimu, aku tidak menyangka satu kesalahanku membuatmu menghapus rasa cinta yang selama ini kita jaga, hiks... maafkan aku." Ucap Brayen terus melajukan mobilnya.
Pikirannya kalut karna Ia kehilangan wanita yang Ia cintai untuk kedua kalinya, padahal Ia sudah mengorbankan kariernya. Ia sudah tidak peduli dengan gelar spesialis yang di impikannya, Ia hanya ingin hidup bahagia bersama Vanka. Tapi angan tinggallah angan, semua itu tidak akan menjadi kenyataan.
" Kau benar sayang, gelar yang aku impikan justru membuatku menyesal karena aku harus kehilangan kamu, andai saja waktu itu aku lebih memilihmu, pasti saat ini kita sudah hidup bahagia menanti kelahiran anak kita, hiks..... Aku menyesal.... Aku menyesalinya sayang.. Aku pria yang tidak bertanggung jawab, aku pria bodoh yang egois, aku egois... Aku egois." Teriak Brayen menambah kecepatan mobilnya.
Hari yang sudah gelap di tambah derasnya air hujan membuat pandangan jalanan di depannya kabur. Brayen terus menancap gasnya hingga di jembatan tiba tiba mobil Brayen hilang kendali dan......
Brak.... Brak..... Brak....
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sepulang dari masjid kedua orang tua Vanka langsung kembali ke rumahnya, sedangkan Keluarga Permana juga kembali ke rumahnya, tanpa Bryan tentunya.
" Bry apa kamu melihat Bray?" Tanya Mama Kia.
" Tidak Ma, mungkin Bray pergi ngumpul sama temen temennya." Sahut Bryan.
" Entah mengapa perasaan Mama tidak enak Bry, Mama takut Bray kenapa napa." Ujar Mama Kia.
" Tenanglah Ma, berdoa saja semoga semuanya baik baik saja." Ucap Bryan.
Sejujurnya Bryan juga merasakan hal yang sama dengan Mamanya, namun Bryan tidak mau menambah beban pikiran Mamanya.
" Ma lebih baik sekarang kita istirahat, Bry sama Vanka juga mau istirahat." Ucap Papa Indra.
" Ah iya Mas" Sahut Mama Kia.
" Kalau begitu kami pamit ke kamar dulu Ma, Pa, selamat malam." Ucap Bryan.
" Malam sayang, jangan lupa buatkan Mama cucu yang lucu ya." Canda Mama Kia.
__ADS_1
" Beres Ma." Sahut Bryan membuat Vanka merasa malu.
Bryan menggandeng tangan Vanka menuju kamarnya.
Ceklek....
Bryan membuka pintu.
" Selamat kembali ke kamar kita sayang." Ucap Bryan.
" Terima kasih Mas." Sahut Vanka.
Vanka masuk ke dalam, Ia menatap kamar Bryan yang sudah di sulap menjadi kamar pengantin. Tapi ada yang berbeda di sini. Biasanya kamar pengantin akan di hias dengan bunga mawar merah, tapi kali ini kamar Bryan di hias dengan bunga mawar putih di sertai lilin lilin aroma therapy yang berjejer menyala di bawah sana.
" Mas ini....." Ucap Vanka menatap Bryan.
" Ini malam pertama kita sayang, Mas sengaja menghiasnya dengan mawar putih karena Mas ingin membuat kenangan yang indah untuk kita berdua lain dari yang lain, kenangan yang tidak akan pernah kamu lupakan seumur hidupmu." Ucap Bryan menangkup wajah Vanka.
" Terima kasih Mas." Sahut Vanka.
" Tapi ada satu hal yang ingin aku katakan padamu Mas." Sambung Vanka.
" Apa itu sayang? Katakan saja Mas siap mendengarkannya." Sahut Bryan menatap wajah Vanka.
" Aku ingin meminta maaf padamu." Ucap Vanka.
" Aku minta maaf karena aku tidak bisa menjadikanmu yang pertama, aku minta maaf karena aku tidak bisa menjaga diriku untuk suamiku, aku minta maaf untuk semua itu Mas." Ujar Vanka.
" Yang pertama atau kedua itu adalah pilihan sayang, tapi yang terakhir itu adalah takdir, aku tidak peduli jika kamu tidak menjadikan aku yang pertama, tapi yang aku mau kamu menjadikanku takdirmu untuk menjadi yang terakhir." Sahut Bryan mencium kening Vanka.
" Terima kasih Mas, aku berjanji akan menjadikanmu yang terakhir." Ucap Vanka memeluk Bryan.
" Jadi sekarang apa kamu sudah siap untuk mengukir kenangan itu?" Tanya Bryan.
" Siap Mas." Sahut Vanka.
Bryan menuntun Vanka ke tepi ranjang. Keduanya saling menatap dalam diam. Bryan mendorong pelan tubuh Vanka di atas ranjang. Ia menindih Vanka dengan bertumpu pada kedua lengannya. Bryan memajukan wajahnya membuat Vanka memejamkan matanya.
Bryan mencecap bibir Vanka membuat Vanka membuka sedikit mulutnya. Bryan menyusupkan lidahnya mengekspos setiap inchinya. Bryan ******* lembut bibir Vanka. Suara decapan memenuhi ruangan kamar mereka. Setelah keduanya kehabisan pasokan oksigen, Bryan melepas pagutannya. Ia mengusap lembut bibir Vanka dengan jempolnya.
Ciuman Bryan turun ke leher, Ia membuat jejak kepemilikan di sana membuat Vanka mendesis. Tangan Bryan bergerilya kemana mana, membuat Vanka seperti cacing kepanasan. Saat Bryan hendak membuka baju Vanka tiba tiba ponselnya berdering.
" Ckkk mengganggu saja, harusnya tadi Mas matikan ponselnya dulu ya." Cebik Bryan.
" Coba di angkat Mas, siapa tahu penting." Ujar Vanka karena ponsel Bryan terus berdering.
__ADS_1
" Baiklah sayang, bersabarlah sebentar lagi." Sahut Bryan yang di balas anggukan kepala oleh Vanka.
Bryan turun dari ranjang, Ia mengambil ponselnya lalu mengangkat panggilannya.
" Halo." Sapa Bryan.
" Halo selamat malam Pak, saya dari pihak kepolisian ingin memberitahukan kalau saudara Brayen mengalami kecelakaan di jembatan xx, tapi maaf kami hanya menemukan mobilnya saja, menurut dugaan yang ada saudara Brayen jatuh ke sungai Pak." Terang Pak Polisi di sebrang sana.
Deg....
Jantung Bryan terasa berhenti berdetak. Apakah ini jawaban dari rasa gelisah dirinya dan Mamanya. Tubuh Bryan terhuyung di atas sofa.
" Pak apa anda masih di sana?" Tanya Pak polisi.
" I... Iya... Pak, kirimkan saja lokasinya saya akan segera ke sana, lakukan pencarian sampai saudara saya ketemu." Ucap Bryan.
" Baik Pak." Sahut Pak Polisi menutup teleponnya.
" Mas ada apa?" Tanya Vanka menghampiri Bryan.
" Bray kecelakaan sayang." Sahut Bryan.
" Apa? Astaga.... Terus bagaimana kondisinya Mas?" Tanya Vanka.
" Polisi belum menemukannya, ada dugaan Bray hanyut di sungai." Ujar Bryan.
" Astaghfirullah Kak Bray." Lirih Vanka.
" Maaf sayang, Mas tidak bisa melakukan ritual malam pertama kita, karena Mas harus ke lokasi sekarang juga." Ucap Bryan.
" Tidak masalah Mas, jangan pikirkan itu kita bisa melakukannya di lain waktu." Sahut Vanka.
" Maafkan Mas ya, Mas telah merusak acara malam kita." Ucap Bryan merasa bersalah.
" Tida masalah Mas, sekarang ayo kita pergi." Ucap Vanka.
" Ini sudah malam kamu di rumah saja." Ujar Bryan.
" Aku tidak akan membiarkan kamu menghadapi semua ini sendirian Mas." Sahut Vanka.
" Baiklah sayang, terima kasih." Sahut Bryan.
Kira kira Brayen ketemu nggak ya????
Atau malah tidak selamat?????
__ADS_1
Jangan lupa like vote hadiah dan komentnya ya...
Miss U All....