
" Sekarang ayo kita turun, kita bicarakan ini pada Papa dan Mama." Ucap Bryan lembut.
" Apa Papa dan Mamamu setuju dengan keputusanmu ini?" Tanya Vanka mencekal tangan Bryan. Bryan tersenyum ke arahnya.
" Tenang saja mereka sudah mengetahui keputusanku." Sahut Bryan.
" Ataukah mereka yang memaksamu melakukan semua ini demi menutup aib Brayen? Kalau benar begitu batalkan saja." Selidik Vanka. Bryan menangkup wajah Vanka dengan kedua tangannya.
" Dengarkan! Ini semua murni keputusanku, tulus dari dalam hatiku tanpa paksaan ataupun tekanan dari siapapun, jadi jangan khawatir ya, itu akan berdampak buruk untuk calon anak kita Dek." Ujar Bryan lembut membuat Vanka terpesona seketika dengan kelembutan Bryan.
" Dek?" Ucap Vanka.
" Iya mulai sekarang aku akan memanggilmu Dek dan kamu panggil aku Mas, untuk awal kedekatan kita gimana?" Ujar Bryan.
" Baiklah Mas." Sahut Vanka.
" Kalau kamu mau panggil aku sayang juga boleh." Ujar Bryan mencubit pelan hidung Vanka.
" Apa sih." Kekeh Vanka sambil tersenyum.
" Nah gitu donk, keep smile." Ucap Bryan.
" Makasih Mas udah meringankan bebanku, aku berharap kamu tidak akan berubah." Ucap Vanka.
" Insyaallah akan aku jaga sikapku yang seperti ini." Sahut Bryan.
" Ayo kita ke bawah Mama sama Papa sudah menunggu." Sambung Bryan.
Bryan menggandeng tangan Vanka keluar kamar menuju ruang keluarga dimana Papa Indra dan Mama Kia sudah menunggu mereka. Jangan tanyakan kemana Brayen, karna mereka juga tidak mengetahuinya.
" Sini sayang duduk." Ucap Mama Kia menatap Bryan dan Vanka.
" Sepertinya sudah ada kedekatan nih sampai gandengan tangan segala." Canda Mama Kia
Vanka segera menarik tangannya tapi Bryan justru mengeratkan genggamannya. Bryan menggandeng Vanka untuk duduk di sofa depan Mama dan Papanya.
" Sebelumnya kami ingin meminta maaf padamu atas tindakan anak kami Brayen, kami sangat menyayangkan keputusannya yang lebih memilih kariernya Vanka, tapi kami bisa apa? Mau di paksa kami kasihan denganmu, kamu pasti akan berat menjalani pernikahan yang terjadi dengan setengah hati, karna sesuatu yang di paksakan tidak akan berakhir dengan baik." Ucap Papa Indra.
" Iya Om saya mengerti, ini juga kesalahanku, andai saja waktu itu saya tidak pergi ke acara itu ini semua tidak akan terjadi Om, kami selalu menjaga gaya pacaran kami selama ini, jangankan hal satu itu ciuman pun kami belum pernah sebelumnya." Sahut Vanka.
" Semua sudah terjadi Vanka, tidak baik menyesalinya, yang sekarang harus kita pikirkan adalah gimana kedepannya, Bryan menawarkan diri untuk menikahimu dan Bryan berjanji akan menerimamu dan anak dalam kandunganmu dengan tulus, jika suatu hari nanti Bryan mengingkari janjinya maka saya sendiri yang akan menghukumnya." Ucap Papa Indra melirik Bryan. Bryan membalasnya dengan senyuman.
" Jadi bagaimana keputusanmu Vanka? Apa kamu mau menikah dengan Bryan?" Tanya Mama Kia.
Vanka mengeratkan genggaman tangannya seolah mencari kekuatan untuk menjawabnya. Bryan mengelus tangan Vanka. Vanka menatap Bryan sedangkan Bryan hanya menganggukkan kepalanya saja.
" Aku bersedia Tante." Sahut Vanka memejamkan matanya.
" Alhamdulillah, kami sangat lega mendengarnya, sekarang istirahatlah dulu nanti sore kami akan ke rumahmu untuk melamarmu." Ucap Mama Kia.
" Aku pulang saja Tante, kita bertemu di rumah saja." Ujar Vanka.
" Gimana Bry?" Tanya Mama Kiya menatap Bryan.
__ADS_1
" Bry akan mengantarnya Ma, akan lebih baik jika kita bertemu di rumahnya saja." Sahut Bryan.
" Baiklah hati hati sampai bertemu nanti." Ujar Mama Kia.
" Sebelumnya saya minta maaf karna telah membuat kekacauan di dalam rumah ini, saya permisi Tante, Om." Ucap Vanka.
" Sama sama sayang, kami juga minta maaf." Sahut Mama Kia.
Vanka beranjak menyalami Mama Kia dan Papa Indra dengan takzim.
" Assalamu'alaikum." Ucap Vanka.
" Wa'alaikumsallam." Sahut Papa Indra dan Mama Kia bersamaan.
Bryan menggandeng tangan Vanka menuju mobilnya.
" Mas nggak usah di gandeng kali kaya' mau nyebrang jalan aja." Ujar Vanka.
" Mas hanya memastikan keselamatanmu Dek." Sahut Bryan.
Vanka menatap Bryan dengan tatapan yang sulit di artikan. Andai saja jika di depannya ini Brayen, Ia pasti akan sangat bahagia.
" Dek, masuk." Ucap Bryan membuka pintunya. Vanka tersadar dari lamunannya.
" Ah iya Mas maaf." Sahut Vanka masuk ke dalam mobilnya.
Bryan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju rumah Vanka yang alamatnya sudah di beritahu oleh Vanka. Tepat di lampu merah mobil Bryan berhenti. Di samping kiri jalan, di samping pintu mobil Vanka terlihat penjual mangga segar yang mangkal di atas mobil bak terbuka. Vanka menelan salivanya menatap mangga mangga yang menyegarkan yang tertata rapi di sana. Ia membayangkan bagaimana nikmatnya memakan mangga yang masih ranum dan segar. Tentunya rasa asam dan manis menyatu menjadi satu.
Sadar akan hal itu, Bryan turun dari mobil menghampiri penjual mangga tersebut.
Vanka membulatkan matanya. Bagaimana Bryan bisa tahu keinginannya.
" Buruan Dek, keburu lampunya hijau." Sambung Bryan.
" Mas yang pilih aja." Sahut Vanka.
Bryan memilih mangga hingga mencapai lima kilo. Setelah membayar Bryan kembali ke mobilnya. Ia menaruh sekantong plastik besar mangganya di kursi belakang.
" Mas banyak banget begitu mau buat apa?" Tanya Vanka.
" Buat anak kita." Sahut Bryan kembali menjalankan mobilnya karna lampu hijau sudah menyala.
Vanka tersenyum mendengar jawaban Bryan. Semoga keputusannya tidak salah dengan memilih Bryan sebagai teman hidupnya.
" Mau aku kupasin sekarang? Atau mau kupas sendiri nanti di rumah?" Tanya Bryan.
" Emang kamu bawa pisau Mas?" Tanya Vanka menatap Bryan. Bryan tersenyum ke arahnya.
" Tadi Mas beli mangga sekalian sama pisaunya." Sahut Bryan.
" Apa? Jadi pisau penjualnya juga Mas beli?" Tanya Vanka memastikan.
" Iya sayang, Mas tahu kalau kamu pengin makan sekarang jadi Mas beli sama pisaunya sekalian, Mas nggak mau anak kita nanti ileran." Sahut Bryan fokus pada stirnya.
__ADS_1
Lagi lagi sikap Bryan membuat Vanka terpesona. Kalau begini dapatnya bisa bisa Vanka sehari langsung bisa move on dari Brayen. Pikir Vanka.
" Gimana? Mau sekarang?" Tanya Bryan.
" Iya Mas." Sahut Vanka malu malu.
" Mas pinggirin mobilnya dulu." Ucap Bryan.
Bryan menepikan mobilnya di jalanan yang lumayan sepi.
" Di sana ada tempat duduk, kita duduk di sana aja ya." Ujar Bryan menunjuk tempat duduk yang ada di bawah pohon di tepi jalan.
" Iya Mas." Sahut Vanka.
" Kamu bawa mangganya yang mau di makan aja, biar Mas bawa pisau sama a*uanya buat nyuci mangganya nanti." Ujar Bryan.
" Ok." Sahut Vanka.
Vanka membawa dua buah mangga segar. Keduanya berjalan menuju tempat duduk itu. Dengan telaten Bryan mengupas mangganya, setelah selesai Ia mencuci bersih mangga tersebut menggunakan air mineral yang selalu tersedia di dalam mobilnya.
" A' ." Bryan menyuapkan sepotong mangga ke mulut Vanka.
Tanpa ragu Vanka segera menerimanya.
" Gimana? Enak?" Tanya Bryan.
" Emm... Rasanya seger lhoh Mas, Mas nggak mau nyoba?" Tanya Vanka mengambil sepotong mangga lalu menyodorkan ke mulut Bryan.
" Kalau yang begini bagi Mas masih ada asam asamnya Dek, Mas kurang suka." Ujar Bryan.
" Yah... Padahal aku pengin lihat Mas makan mangga ini." Ucap Vanka sedikit kecewa sambil menurunkan tangannya. Wajahnya berubah menjadi sendu.
Melihat itu Bryan merasa bersalah.
" Baiklah demi buah hati kita maka aku akan memakannya, suapi donk." Ucap Bryan membuat mata Vanka berbinar.
Vanka menyuapi Bryan. Mata mereka saling beradu membuat jantung keduanya terasa berdebar. Secepat inikah jantung Vanka mengkhianati hatinya? Bukan salah Vanka jika jantungnya berdetak saat ini. Wanita manapun akan terpesona dengan kelembutan sikap Bryan.
Author jadi baper sendiri....
TBC.....
Di sini Bryan memiliki sikap penyayang, ramah, lemah lembut dan pendiam ya, jadi beginilah cara dia mengekspresikan sikapnya....
Jangan lupa untuk tekan like koment vote dan hadiahnya buat author recehan ini biar author semangat dan lancar ngehalunya...
*Mana nih pendukung author yang lama yang biasanya selalu koment....
Kok belum muncul ya setelah dua bulan lebih author tinggalin ha ha ha jahat sih authornya main tinggal gitu aja.. Kan jadinya pada move on*....
Balik ke sini lagi ya dan tinggalin jejaknya...
Author ucapakan banyak terima kasih untuk semua reader yang sudah mendukung author semoga sehat selalu...
__ADS_1
Miss U All...