Pria Cacat Itu Suamiku

Pria Cacat Itu Suamiku
32. Bertemu Dirga


__ADS_3

Vanka baru saja menyelesaikan ritual mandinya, Ia keluar kamar mandi dengan sudah berpakaian lengkap. Ia segera berdandan di depan meja riasnya.


" Sayang kamu jadi mau menemui pria itu?" Tanya Bryan yang baru saja masuk ke kamar.


" Iya Mas, kamu jadi ikut?" Vanka balik bertanya.


" Iya lah jadi, Mas nggak akan membiarkan kamu sendirian menemui pria itu, ya kalau dia benar benar Bray kalau bukan malah bisa bisa dia kepincut sama kamu Dek, terus yang lebih parahnya kamu mau juga sama dia." Ujar Bryan.


" Kamu ini ada ada aja Mas, hatiku udah jadi milikmu seorang nggak ada celah buat orang lain." Kekeh Vanka.


" Iya Mas percaya kok, nggak usah dandan kamu udah cantik Dek." Ujar Bryan.


Vanka berjalan menghampiri Bryan. Ia mengalungkan tangannya ke leher Bryan.


" Aku selalu cantik di matamu Mas, tapi belum tentu di mata orang lain." Ujar Vanka.


" Mas tidak peduli dengan penilaian orang lain sayang, yang jelas Mas sangat sangat mencintaimu." Ucap Bryan mencium Vanka.


Vanka memejamkan matanya sambil sedikit membuka mulutnya. Bryan mengekspos setiap inchinya. Bryan menahan tengkuk Vanka untuk memperdalam ciumannya. Vanka membalas ciuman Bryan. Suara decapan memenuhi ruangan kamar mereka. Bryan melu*** lembut bibir Vanka. Di rasa keduanya kehabisan nafas, Bryan melepas pagutannya. Ia mengusap lembut bibir Vanka dengan jempolnya.


" Manis Dek." Ujar Bryan.


" Jadi berantakan lagi lipstikku Mas." Cebik Vanka.


" Mana ada? Produk mahal kok luntur, entar Mas tuntut perusahaannya." Sahut Bryan.


" Ha ha ha...Ya udah lah ayo berangkat." Ujar Vanka menggandeng tangan Bryan.


Keduanya berjalan menuju rumah padat penduduk. Vanka akan bertanya dimana rumah Rea jika mereka berpapasan dengan penduduk setempat. Setelah mendapat petunjuknya, Vanka segera menuju ke rumah itu.


Di sisi lain, di rumah Rea tepatnya. Dirga sedang memakai pakaiannya. Setelah selesai Ia masuk ke dalam kamar Rea. Ia menatap Rea yang sedang duduk bersandar di atas ranjang. Dirga menghampiri Rea yang terlihat sangat pucat dan rapuh.


Dirga menempelkan tangannya ke dahi Rea untuk mengecek suhu Rea. Rea menatap wajah tampan Dirga tanpa berkedip. Ia menikmati sentuhan tangan Dirga yang entah mengapa terasa begitu menenangkan baginya.


" Udah mendingankan kok Mas, kamu nggak perlu khawatir aku sudah sembuh." Ujar Rea.


Dirga berjalan menuju kamar mandi. Tak lama Dirga keluar lalu Ia menuju almari pakaian Rea.


" Eh eh kamu mau ngapain Mas?" Tanya Rea.


Dirga mengambil baju Rea lalu menunjukkannya pada Rea.


" Eh nggak perlu biar aku sendiri saja yang ambil." Ujar Rea.

__ADS_1


" Oh my god... Oh my god... Dia mengambil baju ganti buat aku, tidak tidak... Dia akan melihat pakaian dalamku, oh my god... Itu tidak boleh terjadi... Aku akan merasa sangat malu." Monolog Rea.


Rea memaksa dirinya turun dari ranjang. Dengan berjalan sempoyongan Rea menghampiri Dirga dan...


Pipi Rea memerah saat melihat Dirga yang sudah memegang pakaian dalamnya.


" Astaga.... Ya Tuhan..... Malu banget aku." Gumam Rea menutup wajahnya dengan telapak tangannya.


Dirga membuka telapak tangan Rea membuat Rea menatap ke arahnya. Dirga menyodorkan handuk ke arah Rea dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya Dirga gunakan untuk mengapit baju ganti Rea. Rea segera mengambil handuknya lalu berjalan ke kamar mandi untuk menghindar dari rasa malunya.


Tiba tiba....


" Awh." Teriak Rea saat kakinya terpeleset membuat tubuhnya terhuyung ke belakang.


Hap...


Dengan sigap Dirga menangkap tubuh Rea sehingga Rea tidak jadi jatuh ke lantai. Rea menatap Dirga dengan jantung yang berdebar kencang.


"Ya Tuhan jantungku..... Apa aku benar benar jatuh hati kepada Mas Dirga? Tatapannya begitu teduh di mataku, senyumnya begitu manis dalam pandanganku, maha sempurna ciptaanmu Ya Robb." Batin Rea.


Tiba tiba Dirga membopongnya menuju kamar mandi.


" Turunkan aku Mas, turunkan! Aku bisa jalan sendiri." Pekik Rea.


Dirga mendudukkan Rea di sebelah wastafel. Rea mengambil nafas dalam dalam melihat sikap Dirga yang sangat perhatian kepadanya.


Dirga menganggukkan kepalanya. Sebelum keluar Dirga meletakkan pakaian ganti Rea di pangkuan Rea. Setelah itu Dirga keluar dari kamar mandi. Rea segera mengunci pintunya dari dalam.


" Kalau begini terus aku semakin tidak bisa menahan diriku, perasaan ini benar benar menyiksaku, aku harus bagaimana? Apa aku harus mengikuti apa kata hatiku untuk memperjuangkannya? Atau aku tetap mengikuti pikiranku untuk tetap membentengi hatiku agar aku tidak semakin jatuh ke dalam pesona Mas Dirga? Ah gila.... Gila... Gila.... Ibu... Anakmu sudah kehilangan kewarasannya saat ini hanya karena pria tampan pemikat hati." Monolog Rea.


Rea segera mandi dengan air hangat yang sudah di siapkan Dirga. Sekitar dua puluh menit, Rea keluar dari kamar mandi.


Ceklek.....


" Astaga." Pekik Rea saat melihat Dirga yang berdiri di samping pintu kamar mandi sambil menyandarkan pundaknya pada dinding.


" Kamu menungguku di sini dari tadi?" Tanya Rea menatap Dirga. Dirga menganggukkan kepalanya.


" Tidak perlu mengkhawatirkan aku sampai begitu juga Mas, aku baik baik saja kok." Ujar Rea berjalan menuju meja riasnya.


Rea duduk di depan meja rias hendak menyisir rambutnya, tapi tiba tiba Dirga mengambil sisir itu dari tangan Rea. Dirga menyisir rambut Rea, sedangkan Rea justru menatapnya melalui pantulan cermin. Tanpa sengaja tatapan mereka bertemu. Untuk sesaat mereka saling menatap lewat cermin.


Jantung Rea kembali berdegup kencang. Ia memutus tatapannya lebih dulu. Rea berdiri meninggalkan Dirga menuju meja makan. Ia marah pada dirinya sendiri karna perasaannya kepada Dirga begitu menyiksanya.

__ADS_1


Dirga berlari mengejar Rea. Ia duduk di depan Rea sambil terus menatap Rea. Rea sibuk mengambil makanan untuk dirinya sendiri membuat Dirga mendekatinya. Seperti biasa Dirga akan berlutut di depan Rea jika Ia melakukan kesalahan. Dirga menundukkan kepalanya membuat Rea menghela nafasnya. Bukankah ini bukan salah Dirga?


" Duduklah kembali, aku tidak marah padamu, aku hanya kesal dengan diriku sendiri." Ucap Rea menangkup wajah Dirga. Dirga tersenyum manis ke arah Rea yang justru semakin membuat Rea kesal.


" Duduklah aku akan mengambilkan makanan untukmu." Ucap Rea.


Dirga menganggukkan kepalanya. Ia kembali duduk di kursinya. Setelah itu mereka makan dengan khidmat. Sesekali Dirga menatap ke arah Rea namun Rea tetap acuh saja. Selesai makan Rea segera mencuci piringnya.


Saat Rea membalikkan badannya, tiba tiba Dirga menyodorkan sebutir obat dan segelas air putih kepada Rea. Rea tersenyum sambil menerima obat yang Dirga berikan. Rea segera meminum obatnya.


" Aku mau jalan jalan, apa kamu mau ikut?" Tanya Rea menatap Dirga yang hanya di balas anggukan kepala oleh Dirga.


" Baiklah ayo kita jalan jalan." Ucap Rea menggandeng tangan Dirga.


Keduanya berjalan menyusuri jalanan setapak menuju ke arah perkebunan. Saat mereka melewati pertigaan jalan tiba tiba ada yang menghentikan mereka.


" Tunggu." Teriak Vanka menghampiri keduanya.


Rea menghentikan langkahnya menatap Vanka yang sedang berjalan ke arahnya. Rea melepas genggaman tangannya.


Vanka menatap Brayen dengan tatapan tak percaya. Ia menangkup wajah Brayen membuat Rea melongo.


" Kak Brayen." Ucap Vanka menatap Brayen yang kini sedang menatapnya juga. Bibir Brayen bergetar seolah ingin mengeluarkan suaranya, Ia menatap wajah Vanka dengan seksama.


Dannnnn....


Dan apa hayoooo?????


Kira kira Dirga mengingat Vanka gak ya????


Atau memang Dirga bukan Brayen????


Penasaran gak?????


Jangan lupa like koment vote dan hadiahnya ya biar author semangat ngetiknya...


Maafin author ya karna baru up date...


Entah mengapa mood author lagi berantakkan nih....


Terima kasih untuk readers yang selalu mensuport author...


Semoga sehat selalu....

__ADS_1


Miss U All....


TBC....


__ADS_2