
Sinar matahari menyelinap masuk melalui sela sela korden, Kia mengerjapkan mata, Perutnya terasa berat seperti ada yang menghimpit, ternyata tangan suaminya. Setelah subuh tadi,mereka memang tidur kembali. Kia membalikkan tubuhnya dengan hati hati, agar tidak mengganggu tidur Indra. Ia tatap wajah tampan, hidung mancung, dan tahi lalat tipis di bawah bibir membuatnya semakin manis.
" Terus tatap aku dan resapi perasaanmu, lalu katakan, kau jatuh cinta padaku." Ucapan Indra membuat Kia terkejut.
" Ma...masss, kau sudah bangun." Kia bangun, lalu duduk menghadap Indra yang masih berbaring dengan mata tertutup.
" Hm... aku tahu, dari tadi kamu mengagumi ketampanan suamimu ini," Ujar Indra membuat Kia tersipu malu, pipinya memerah.
" Apa posisi seperti ini nyaman buat tanganmu mas." Tanya Kia hati hati takut Indra tersinggung.
" Dont worry, apapun posisinya, aku selalu nyaman berada di dekatmu." Indra bangun lalu duduk bersandar pada headboard.
" Udah jatuh cinta belum." Sambung Indra.
" Baru berusaha untuk menumbuhkan rasa itu mas, sabar donk, salah sendiri selalu menolak coba aja kalau langsung terima, pasti rasa itu sudah ada saat ini. Aku takut saat aku sudah mencintaimu, kau masih tetap menolakku, kan rugi jadinya, makanya aku akan mulai menyebar benih itu saat kamu sudah menerimaku." Cebik Kia.
" Iya maaf, memang aku yang salah. Aku akan menunggu sampai waktu itu tiba, berapa lamapun kamu membutuhkan waktu, aku akan selalu memberikannya." Indra mencubit hidung Kia, membuat Kia memonyongkan bibirnya.
Indra segera mendekatkan wajahnya lalu mencium bibir Kia. Indra menahan tengkuk Kia untuk memperdalam ciumannya, Kia memukul dada Indra, tapi tak membuatnya bergeming. Indra terus mencecap meresapi manisnya bibir Istrinya. Merasa pasokan oksigen menipis, Indra segera melepas pagutannya. Ia melap bibir Kia dengan jempolnya.
" Mas..." Pekik Kia.
" Apa sayang... kurang?." Indra terkekeh.
" Rese' Ih.. bilang dulu donk, jangan asal main nyosor aja." Kia beranjak menuju lemari menyiapkan bajunya dan baju Indra. Indra segera menyusulnya, Ia memeluk Kia dari belakang, sambil menempelkan dagunya di bahu Kia.
" Jangan marah donk say, aku jadi sedih nih." Ucap Indra.
" Bodo' ah." Ketus Kia.
" Sayang...jangan gitu donk, Maaf deh lain kali bilang dulu, Janji." Ujar Indra.
__ADS_1
" Hm." Indra semakin mengeratkan pelukannya walau hanya dengan satu tangan saja.
" Lepas mas, aku mau mandi dulu, lalu siapin sarapan buat suamiku tercute ini, hm." Indra melepas pelukannya, Ia membalikkan tubuh Kia, Ia tatap mata indah istrinya.
" Kasih senyum dulu donk." Ucap Indra. Kia segera memberikan senyum termanisnya. Indra tersenyum bahagia, lalu mengecup kening Kia.Kia segera mandi dan bergantian dengan Indra. Setelah beberapa saat,
Ceklek... pintu kamar mandi terbuka, menampakkan Indra yang hanya memakai handuk saja menutupi tubuh bawahnya.
" Aaaaaa" Pekik Kia saat menoleh kearah Indra. Ia tutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
" Buka Say, ngapain ditutup segala." Indra membuka telapak tangan Kia.
" Apasih mas, malu tahu, cepat pakai bajunya, tuh diatas kasur." kia menunjuk kearah kasur.
" Pakein donk Say, tangan aku kan gak bisa." Ucap Indra denan nada manja.
" Lalu selama ini." Selidik Kia.
" Manja." Cebik Kia.
" Say...kok gitu sih." Ucap Indra cemberut, membuat Kia gemas melihatnya, kalau seperti ini bisa bisa Kia langsung jatuh cinta padanya.
" He he Maaf, Sini aku bantuin tapi atasanya aja ya, kalau bagian bawah pakai sendiri." Kia melangkah menuju kasur untuk mengambil kaos dalam dan kemeja Indra.
" Sini." Kia mulai memakaikan kaos dalam dengan hati hati, ternyata lumayan sulit juga. Setelah itu Ia memakaikan kemeja dan mengancingkan kancingnya satu persatu. Indra menatap wajah Kia dengan rasa bahagia. Kia belum ada rasa saja udah seperhatian ini, apalagi kalau sudah cinta...
" Sudah mas." Ujar Kia.
" Bawahannya sekalian Say, biar cepet, itung itung latihan liatin si junior." Ucap Indra.
" Mesum." Kia segera melangkahkan kakinya, tiba tiba Indra mencekal tangannya.
__ADS_1
" Morning kiss dulu Say." Indra memajukan pipinya ke depan bibir Kia.
" Tadi sudah lebih sekedar morning kiss." Sahut Kia.
" Ayolah Say, buat semangat menyambut hari ini." Timpal Indra.
Cup cup.. Kia mencium pipi kanan dan kiri Indra, setelah itu Ia segera berjalan keluar kamar untuk menghindari Indra. Ia merasa malu dan canggung dengan kelakuannya yang tanpa ragu mencium pipi suaminya. sedangkan Indra, hatinya berbunga bunga seperti baru mendapat saldo tanpa batas.
Semua sudah berkumpul di meja makan bersiap untuk sarapan, cuma tiga orang sih.
" Mau makan pakai apa mas." Tanya Kia yang sudah siap dengan piring ditangannya.
" Pakai Cinta." Mama tersenyum sedangkan Kia melongo.
" Apapun yang kau berikan pakai cinta, akan terasa nikmat rasanya Say." Indra mengerlingkan sebelah matanya.
" Apa sih mas." Ujar Kia malu malu. Ia segera mengambilkan nasi, sayur dan lauk, lalu Ia letakkan di depan Indra.
" Gak usah malu ki, mama juga pernah muda kok, kuat berapa ronde si Indra tadi malam, mama sudah tidak sabar ingin menimang cucu." Tanya mama Meri blak blakan.
uhuk...uhuk..uhuk... Indra tersedak makanan yang baru saja disuapnya. Kia segera memberikan air putih dan mengelus elus punggung Indra sampai Indra membaik.
" Maaf membuat mama kecewa, Aku belum siap melakukannya ma, aku ingin melakukannya, atas dasar cinta bukan karna nafsu semata." Sesal Kia, Ia memang harus jujur, karna tidak mau membuat mertuanya kecewa pada akhirnya.
" Its OK sayang, tidak masalah jalani aja seperti air mengalir, kalian juga masih muda, masih banyak waktu." Ujar mama Meri.
" Ma kasih ma." Kia memeluk mama Meri, kebetulan mereka duduk berdampingan. Pemandangan itu membuat Indra begitu bahagia bisa memiliki istri sebaik Kia. Cinta pertama, Cinta masa kecilnya, Cinta masa kini dan Cinta masa Depannya.
"I Really Love U forever My Wife." Ucap Indra dalam hati.
TBC.....
__ADS_1