
Semua anggota keluarga Permana sedang berkumpul di ruang tamu. Papa Indra, Mama Kia, Bryan dan satu lagi kekasih Brayen yang bernama Vanka juga ada di sana. Mereka semua sedang menunggu kedatangan Brayen dari rumah sakit tempatnya mulai bekerja. Brayen bekerja sebagai Dokter di sana.
Tap tap tap
Suara langkah kaki menghampiri mereka. Jantung Vanka berdetak dengan sangat kencang seolah mau copot dari tempatnya.
Semua orang menatap Brayen dengan tatapan nyalang kecuali Vanka tentunya.
" Apa yang sudah kamu lakukan pada gadis itu?" Tanya Papa Indra menunjuk Vanka yang sedang menundukkan kepalanya. Brayen menatap ke arah yang di tunjuk oleh Papanya.
" Sayang, kamu di sini?" Tanya Brayen menghampiri Vanka. Brayen duduk di samping Vanka sambil menatapnya.
" Sayang, tegapkan kepalamu." Ucap Brayen menyentuh dagu Vanka membuat mereka saling bertatapan.
" Kenapa kamu tidak bilang padaku kalau kamu mau ke sini hmm? Ada apa?" Tanya Brayen lembut.
Lidah Vanka kelu tidak bisa di gerakkan untuk menjawab pertanyaan Brayen. Ada ketakutan dalam dirinya. Ia takut Brayen menolak untuk bertanggung jawab kepada dirinya.
" Kamu belum menjawab pertanyaan Papa Bray." Ucap Papa Indra.
Brayen menoleh ke arah Papanya.
" Ada apa sebenarnya Pa? Apa yang terjadi? Kenapa kalian semua menatapku seperti itu?" Bukannya menjawab Brayen justru balik bertanya.
" Kamu telah menghamilinya Brayen." Bentak Mama Kia.
Jeduarrr.....
Bagai di sambar petir di siang bolong. Tubuh Brayen kaku tak bisa di gerakkan. Ia menatap Mama Kia dengan tatapan terkejutnya.
" Ap... Apa? Ham... Hamil?" Tanya Brayen tak percaya.
" Yah dia hamil anakmu, dan kau harus bertanggung jawab atas semua itu." Tegas Papa Indra.
" Sayang, apa benar kamu hamil?" Tanya Brayen menatap Vanka untuk memastikan jika yang di ucapkan kedua orang tuanya adalah kebenaran.
" Iya Mas, kejadian malam itu membuatku mengandung anakmu." Sahut Vanka.
Deg...
Jantung Brayen terasa berhenti berdetak. Kesalahan satu malam... Ya satu malam...
Keduanya sudah menjalin hubungan selama satu tahun, mereka menjaga kesucian hubungan mereka selama ini. Hingga suatu hari saat Brayen dan Vanka menghadiri pesta ulang tahun teman Vanka, keduanya di jebak menggunakan obat perangsang yang di taruh di dalam minuman mereka oleh salah satu teman Vanka yang tidak menyukainya. Alhasil mereka melakukan one night stand malam itu. Keduanya tidak mengira apa yang mereka lakukan membuahkan hasil seperti sekarang ini. Hasil yang tidak Brayen inginkan.
__ADS_1
" Kamu harus menikahi Vanka secepatnya Bray." Ucap Mama Kia membuat Brayen tersadar dari lamunannya.
" Tidak bisa Ma." Sahut Brayen.
Jeduar....
Kali ini tubuh Vanka yang terasa kaku mendengar ucapan Brayen. Benarkah ketakutannya selama ini? Brayen menolak bayi dalam kandungannya.
" Apa maksudmu Mas?" Pekik Vanka.
" Maafkan aku sayang, aku memang sangat mencintaimu tapi maaf aku menolak anak itu, aku belum siap menjadi ayah dan membina rumah tangga sayang." Ucap Brayen.
" Lalu maksudmu?" Tanya Vanka.
" G*g*rkan kandunganmu." Ucap Brayen.
Plak....
Satu tamparan keras mendarat di pipi Brayen hadiah dari tangan Vanka. Ia tidak menyangka pria yang sangat Ia cintai mampu mengucapkan kata setega itu kepadanya.
" Apa kamu sudah gila Bray? Tidak... Mama tidak setuju jika kamu menyuruhnya untuk menggug*rkan kandungannya, dia anakmu Bray... Darah dagingmu, Astaga apa yang sebenarnya merasuki dirimu saat ini sayang." Ucap Mama Kia.
" Tapi aku tidak menginginkannya Ma, Aku harus apa?" Bentak Brayen membuat semua orang terdiam.
Semua orang menghela nafasnya dalam dalam terutama Vanka. Ia menahan emosi yang bergejolak di dalam hatinya.
" Vanka sayang, ku mohon mengertilah... Ini semua juga demi masa depan kita sayang, aku akan menikahimu setelah aku mendapatkan gelar spesialisku, aku mencintaimu sayang, sangat... Aku sangat mencintaimu, tapi maaf untuk saat ini aku tidak bisa menikahimu, g*g*rkan janin itu dan tunggulah aku untuk beberapa tahun lagi." Ucap Brayen menangkup wajah Vanka.
Air mata mengalir deras di pipi Vanka saat ini. Hatinya sakit mendengar Brayen lebih memilih kariernya daripada anak dalam kandungannya ataupun dirinya. Inikah yang dinamakan cinta? Saat ini Vanka bingung. Ab*rs*?... Bukankah itu sangat beresiko untuknya? Tapi jika Ia mempertahankan anaknya, bagaimana Ia bisa menghadapi masyarakat yang akan mencemooh dirinya karna hamil di luar nikah dan membesarkan anak tanpa adanya suami di sampingnya? Lalu bagaimana jika nanti anaknya menanyakan ayahnya?
" Hiks... Hiks..." Isak Vanka.
" Sayang jangan menangis! Aku tidak tahan melihatnya... Ini suatu kesalahan jadi tidak apa kan kalau kita menghapus kesalahan itu, aku berjanji aku akan menikahimu setelah aku menjadi Dokter spesialis sesuai impianku." Ucap Brayen memeluk Vanka.
" Lepas." Ucap Vanka mendorong tubuh Brayen.
" Sayang." Lirih Brayen menatap Vanka.
" Aku tidak pernah menyangka jika kau akan mencampakkan aku begitu saja Mas, kau lebih memilih kariermu daripada aku dan anakmu, inikah yang kau sebut cinta? Cinta apa yang rela mengorbankan anak demi kesuksesan kariernya." Ucap Vanka mengusap air matanya.
" Sayang bukan begitu." Ujar Brayen.
" Lalu apa hah? Apa kau pikir aku akan menuruti semua perkatanmu begitu? Apa kau pikir aku akan mengg*g*rkan anak dalam kandunganku? Aku tidak seperti dirimu Mas yang tega membunuh nyawa yang tidak berdosa." Bentak Vanka meluapkan emosinya.
__ADS_1
" Dokter spesialis...." Ucap Vanka tersenyum sinis.
" Apa yang kau banggakan dengan gelar itu jika jiwanya adalah jiwa pemb*n*h, sebagai seorang Dokter harusnya kau menyelamatkan banyak nyawa Mas, tapi apa yang kau lakukan? Kau bahkan tega melenyapkan darah dagingmu sendiri, kau tidak pantas menjadi Dokter Mas." Ucap Vanka yang begitu menohok hati Brayen.
" Aku memang mencintaimu tapi saat ini yang ada hanya kebencian dalam hatiku." Ucap Vanka.
" Sayang ku mohon jangan katakan itu, aku tahu kamu sangat mencintaiku begitupun aku, aku sangat mencintaimu sayang." Ucap Brayen hendak memeluk Vanka.
" Jangan sentuh aku." Bentak Vanka menepis tangan Brayen.
" Aku membencimu Mas... Aku membencimu." Teriak Vanka.
" Tidak sayang, ku mohon jangan benci aku." Ucap Brayen memeluk Vanka.
" Lepaskan aku, aku membencimu Brayen.. Aku membencimu, aku membencimu Brayen Dirga." Teriak Vanka.
" Ha......aaaaa" Tangis Vanka pecah dalam pelukan Brayen. Hidupnya hancur sehancur hancurnya.
" Sayang tenanglah, percayalah padaku semua akan baik baik saja jika kau mau menuruti perkataanku." Ucap Brayen.
Vanka melepas pelukan Brayen. Ia menatap nyalang ke arahnya.
" Kau lebih memilih kariermu bukan? Baiklah." Ucap Vanka mengusap air matanya.
" Mulai detik ini hubungan kita berakhir, anggap saja aku tidak pernah hadir dalam hidupmu, jangan pernah menemuiku, jika kita bertemu anggap kita tidak saling mengenal." Ucap Vanka.
" Tidak.. Aku tidak mau hubungan kita berakhir, aku tidak mau kehilanganmu sayang." Ucap Brayen.
" Penolakanmu membuatku sadar akan posisiku di hatimu, aku bersumpah akan membencimu seumur hidupku." Teriak Vanka.
" Sayang jangan pernah mengatakan itu, aku tidak mau... Aku tidak mau berpisah darimu." Ucap Brayen menarik tangan Vanka. Hingga tiba tiba...
Brugh....
Suara apa hayoooo....
Jangan lupa like dan koment di setiap babnya ya...
Terima kasih atas suport yang readers berikan semoga sehat selalu...
Miss U All...
TBC.....
__ADS_1