
" Apa apaan kamu Bray? Bisa bisanya kamu mengumbar aib keluarga kita di depan umum, apa kamu tidak bisa berpikir secara rasional hah? Kalau kamu tidak bisa mengendalikan dirimu seperti ini maka semua orang akan tahu tentang aib yang kamu berikan kepada keluarga ini." Ucap Mama Kia dengan suara meninggi. Ia merasa kesal dengan sikap Brayen yang luar biasa.
" Maaf Ma." Ucap Brayen menunduk.
" Maaf maaf, harusnya otakmu di pakai buat mikir Bray jangan asal kalau bertingkah, dulu kamu sendiri yang menolak Vanka dan anak itu tapi sekarang apa yang kamu lakukan, kamu benar benar tidak punya malu." Ucap Mama Kia menoyor kepala Brayen.
Ya saat ini Brayen, Bryan, Vanka dan Mama Kia sedang duduk di ruang keluarga. Mama Kia marah setelah Opa Anton memberitahunya tentang sikap Brayen di rumah sakit. Mama Kia langsung mengumpulkan mereka di sini.
" Apa perlu Mama menyuruhmu pergi dari rumah ini?" Tanya Mama Kia menatap Brayen. Brayen mendongak menatap Mamanya.
" Jangan Ma, aku akan kemana kalau Mama mengusirku dari sini?" Tanya Brayen.
" Kamu tinggal di rumah Oma saja, daripada di sini kamu hanya akan menghancurkan kebahagiaan adikmu saja." Ujar Mama Kia.
" Maaf Ma, gimana kalau aku dan Mas Bryan saja yang keluar dari rumah ini? Kami akan pindah ke apartemen saja Ma." Ujar Vanka menyela ucapan Mama Kia.
" Tidak bisa Vanka, rumah ini milik Bry jadi Bray lah yang akan meninggalkan rumah ini setelah menikah nanti, begitupun dengan Papa dan Mama." Sahut Mama Kia.
" Papa dan Mama?" Tanya Vanka.
" Ya setelah Bray menikah, kami mau hidup di kampung menghabiskan waktu kami hanya berdua saja." Sahut Mama Kia
Sudah menjadi kesepakatan bersama, yang tinggal di rumah ini adalah Bryan, karna Bryan yang meneruskan perusahaan Papanya. Brayen akan pindah rumah setelah Ia menikah nanti. Bahkan Papa Indra dan Mama Kia juga akan pulang ke kampung halaman Papa Indra setelah Brayen menikah. Jadi Bryan tidak bisa meninggalkan rumah ini dan mau tidak mau Ia harus menerima sikap Brayen kepadanya.
" Tenanglah sayang, kita pasti bisa melewati serangan yang Bray berikan kepada kita, anggap saja ini ujian untuk cinta kita." Ujar Bryan menyentuh pundak Vanka.
" Iya Mas, selalu suport aku di saat aku membutuhkannya dan ingatkan aku di saat aku mulai goyah." Ucap Vanka menatap Bryan.
" Tentu sayang." Sahut Bryan sambil tersenyum manis.
Brayen mengepalkan erat tangannya. Ia cemburu melihat kedekatan Vanka dengan Bryan.
" Ma minta Bry untuk menceraikan Vanka Ma, aku akan bertanggung jawab kepada Vanka dengan menikahinya." Ucap Brayen gila.
" Astaga Bray..... Apa otakmu sudah geser atau malah pindah dari tempatnya? Ya ampun Mama tidak menyangka kalau Mama punya anak yang nggak ada ot** kaya' kamu ini." Gerutu Mama Kia.
" Mama malu sendiri Bray sama Vanka, Mama merasa telah gagal mendidikmu untuk menjadi pria sejati uang bertanggung jawab seperti Bry." Sambung Mama Kia menghela nafasnya.
" Ayo sayang kita ke kamar saja, nggak ada gunanya juga kita di sini." Ucap Bryan beranjak dari kursinya.
" Iya Mas." Sahut Vanka.
" Ma kami ke kamar dulu." Ucap Vanka.
" Itu lebih baik daripada harus berhadapan dengan anak gila macam Brayen, Mama juga mau ke kamar, kalau lama lama di sini bisa bisa Mama ikutan gila." Sahut Mama Kia.
Bryan menggandeng tangan Vanka menuju kamarnya begitupun dengan Mama Kia, Ia masuk ke dalam kamarnya sendiri.
" Aku akan merebut Vanka darimu apapun caranya Bry." Teriak Brayen.
__ADS_1
Bryan membuka kamarnya, keduanya masuk ke dalam. Vanka duduk di tepi ranjang menatap luar jendela.
" Apa yang kamu pikirkan hmm?" Tanya Bryan merangkul pundak Vanka. Vanka merebahkan kepalanya di pundak Bryan.
" Aku hanya takut kalau Kak Bray melakukan sesuatu yang bisa memisahkan hubungan kita Mas." Ucap Vanka. Bryan mengelus rambut Vanka.
" Berarti kita harus saling percaya untuk menguatkan hubungan kita sayang, supaya kita tidak bisa di pisahkan oleh siapapun termasuk Bray." Sahut Bryan.
" Iya Mas aku percaya padamu kok, semoga kita berdua tidak mudah goyah dalam menghadapi rintangan yang ada." Ujar Vanka.
" Iya sayang, sekarang istirahatlah! Jangan pikirkan apa apa kita jalani saja mengikuti arus yang mengalir." Ucap Bryan.
" Iya Mas." Sahut Vanka.
Keduanya berbaring di atas ranjang memejamkan mata mereka.
Di dalam kamar Brayen, Ia sedang tidur terlentang sambil menatap langit langit kamarnya.
" Aku harus mendapatkanmu kembali sayang, aku masih sangat mencintaimu, aku tidak mau kehilanganmu, apapun caranya akan aku lakukan walaupun itu akan menyakiti saudaraku sendiri, aku akan membuat Bry sendiri yang melepaskanmu untukku, Vanka aku mencintaimu sayang." Ujar Brayen.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hari hari berlalu sebulan sudah pernikahan Bryan dan Vanka. Hubungan keduanya semakin dekat dan harmonis saja. Benih benih cinta telah tumbuh di hati keduanya. Nama Brayen dalam hati Vanka sudah jelas terantikan oleh nama Bryan seutuhnya. Melihat semua itu Brayen tidak bisa menahan dirinya. Brayen masih sering berbuat ulah hingga menimbulkan keributan di rumah itu. Bahkan Mama Kia sempat menjodohkan Brayen dengan anak temannya, berharap Brayen bisa segera meninggalkan rumah itu tapi Brayen menolaknya.
Malam ini Bryan belum kembali dari kantornya. Padahal waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Vanka berjalan mondar mandir di dalam kamarnya.
" Kenapa kamu belum pulang Mas? Ponselmu juga tidak bisa di hubungi, apa yang terjadi padamu? Ya Tuhan semoga suamiku baik baik saja." Monolog Vanka.
Pet....
" Ya Tuhan lampunya mati." Ujar Vanka.
Vanka berjalan sambil meraba raba untuk mengambil ponselnya.
" Ya ampun aku lupa meletakkan ponselku, karna kesal tadi aku melemparkan ponselku dimana ya?" Ujar Vanka terus berjalan.
Ceklek....
Pintu kamar terbuka, sesosok pria yang Ia yakini suaminya berjalan menghampirinya.
" Mas kamu sudah pulang?" Tanya Vanka.
Grep...
" Aku merindukanmu." Ujar Vanka memeluk Bryan.
Bryan melepas pelukan Vanka. Ia menangkup wajah Vanka dengan kedua tangannya.
" Mas ini kamu kan? Kenapa kamu tidak berkata sepatah pun? Apa kamu sangat lelah?" Tanya Vanka cemas.
__ADS_1
" Hmm." Gumam Bryan.
Vanka merasa ada yang aneh dengan Bryan. Bryan baru pulang kerja tapi Vanka tidak mencium aroma parfum dari tubuh Bryan. Justru Ia mencium aroma sabun. Apakah Bryan sudah mandi di kantor sebelum Ia pulang?
Bryan mendekatkan wajahnya ke wajah Vanka. Ia mencium bibir Vanka lembut. Vanka tidak mampu melihat sorot mata Bryan karna kamarnya benar benar gelap. Vanka menikmati ciuman yang Bryan berikan kepadanya.
" Kenapa aku merasa ciuman Mas Bryan tidak seperti biasanya? Ada apa dengan diriku?" Tanya Vanka dalam hatinya.
Tiba tiba lampu menyala....
Pyar.....
" Apa yang sedang kalian lakukan." Bentak seseorang di ambang pintu.
Vanka menoleh ke arah orang itu, matanya membulat dengan mulut menganga.
" Mas Bryan." Lirih Vanka.
Vanka lalu menatap pria yang berada di depannya.
" Kak Brayen? Apa yang kamu lakukan padaku Kak? Kenapa....
" Kenapa apanya? Kau sendiri yang menarikku ke sini." Ucap Brayen memotong ucapan Vanka.
" Tidak Mas, tadi Kak Brayen masuk ke kamar kita dan aku kira itu kamu karna dia tidak bersuara, kamu salah paham Mas." Terang Vanka.
" Ya... Aku ke sini ingin memberikan lilin untukmu, tapi tiba tiba kau memelukku dan mengatakan kau merindukan aku, kau bahkan membiarkan aku menciummu, akui saja kalau kamu masih mencintaiku Vanka." Ujar Brayen.
" Mas aku benar benar tidak tahu kalau itu Kak Brayen, aku mengiranya itu kamu, aku sudah menanyakan kepadanya Mas, tapi dia hanya bergumam saja, aku benar benar mengira kalau dia adalah kamu Mas." Ujar Vanka menghampiri Bryan.
" Mas..." Vanka hendak memegang tangan Vanka tapi Bryan menepisnya.
Bryan meninggalkan Vanka menuruni anak tangga.
" Mas tunggu Mas, kamu salah paham, percayalah padaku Mas aku tidak mungkin melakukan itu Mas, Mas tunggu aku, jangan pergi dengan membawa kesalahpahaman ini Mas." Ucap Vanka mengejar Bryan yang keluar rumah.
Vanka yang masih berlari menuruni undakan teras rumah tiba tiba tersandung dan.....
" Awh....." Pekik Vanka.
Apa yang terjadi selanjutnya?
Tunggu di bab berikutnya....
Jangan lupa like, koment, vote dan hadiahnya ya biar author makin semangat nulisnya....
Terima kasih untuk para readers yang sudah mensuport author semoga sehat selalu...
Miss U All....
__ADS_1
To Be Continue.....