
Setelah turun dari mobil, Brayen menggandeng tangan Rea menuju ruang rawat Vanka. Keduanya nampak antusias ingin menjenguk Vanka dan babbynya. Setelah sampai di depan pintu ruang rawat Vanka, Brayen memutar knop pintunya.
Ceklek....
Brayen membuka pintunya, keduanya menghampiri Vanka yang masih terbaring di atas ranjang, sedangkan Bryan masih menggendong Babbynya.
" Halo Van,gimana keadaanmu saat ini? Sehat kan?" Tanya Brayen.
" Alhamdulillah kami sehat Kak." Sahut Vanka.
" Aku ucapkan selamat ya untuk kalian yang telah menjadi orang tua, semoga kalian bisa menjadi orang tua yang baik seperti Papa sama Mama." Ucap Brayen menatap Vanka.
" Insyaallah, makasih Kak." Sahut Vanka.
" Selamat ya Van, selamat atas kelahiran babby kalian, semoga kelak babby menjadi anak soleh dan buat kamu cepat pulih ya." Ucap Rea.
" Amin makasih Re." Sahut Vanka.
" Sama sama." Sahut Rea duduk di kursi samping ranjang.
Brayen beralih menghampiri Bryan yang sedang menggendong babbynya.
" Anak Papa mana nih? Yuk gendong Papa." Ucap Brayen mengambil alih babbynya Bryan.
" Pelan bro, gue nggak mau babby gue kenapa napa." Ucap Bryan.
" Tenang saja, anak gue nggak akan kenapa napa kok, justu dia akan nyaman di gendong sama Dokter tampan seperti gue." Sahut Brayen narsis.
" Yang ada babby gue malahan eneg bro." Ujar Bryan.
" Ya nggak mungkin lah, lo ini ada ada aja." Sahut Brayen.
" Sayangnya Papa kamu imut banget sih, bikin Papa gemes deh pengin Papa bawa pulang sekarang juga." Ujar Brayen.
" Nggak boleh." Sahut Bryan.
" Kamu juga ganteng banget sayang mirip sama....
" Gue." Sahut Bryan memotong ucapan Brayen. Bryan tahu apa yang akan di ucapkan oleh Brayen.
" Ya mirip gue juga lah gimana sih." Sahut Brayen.
" Ya nggak bisa lah, anak gue ya hanya mirip gue tidak akan mirip orang lain." Ucap Bryan tidak terima.
" Lo sama gue apa bedanya Bry?" Tanya Brayen membuat Bryan mengerutkan keningnya.
" Lo sama gue kan sama, apa lo lupa kalau kita kembar bro, kita punya wajah dan pistur tubuh yang sama, tapi yang jelas lebih tampanan gue ." Sambung Brayen.
Bryan menatap Brayen sambil cengengesan.
__ADS_1
" Ah iya lo bener, kita kembar walaupun tampanan gue di banding elo, dan ya walaupun wajah dan postur tubuh kita sama tapi gue nggak rela kalau anak gue di bilang mirip sama lo, babby gue mirip gue banget titik." Ujar Bryan tidak terima.
" Ya ya terserah lo lah, yang jelas babbynya Papa sangat imut dan sangat tampan, mau mirip siapa terserah yang menilai." Sahut Brayen.
" Ya terserah gue lah, babby gue ini." Sahut Bryan.
" Halo sayang.... Anak Papa yang paling ganteng, bahkan kelewatan gantengnya, namanya siapa nih?" Tanya Brayen mencium babby Bryan.
" Namanya Rayyan Devano Permana." Sahut Bryan.
" Rayyan nama yang bagus, keren juga sekeren anaknya, tapi bentar deh! Panggilannya Rayan atau Rayen?" Tanya Brayen.
" Ya Rayan lah, seperti nama gue Bryan, nanti kalau di panggil Rayen di kira dia anak lo." Sahut Bryan.
" Iya bener." Sahut Brayen.
" Rayyan sayang semoga kamu menjadi anak sholeh, berbakti kepada orang tua, dan kelak akan menjadi orang sukses seperti Papa sama Daddymu ya sayang." Ucap Brayen menciumi pipi Rayyan.
" Amin." Sahut Bryan.
" Sayang kamu mau gendong nggak? Lumayan nih anak pertama kita, hitung hitung buat latihan gendong sebelum anak kita lahir." Ujar Brayen menghampiri Rea.
" Mau donk Mas, sini Rayyan anaknya Mama gendong Mama ya." Ucap Rea mengambil alih Rayyan dari gendongan Brayen.
" Uluh uluh imut banget sih, mirip siapa coba imut gini, pasti mirip Mommy waktu bayi ya." Ujar Rea merasa gemas membuat Bryan dan Brayen membulatkan matanya menatap Rea. Keduanya saling melempar pandangan merasa tidak terima dengan ucapan Rea.
" Mirip kami." Ucap Bryan dan Brayen serempak membuat Vanka dan Rea terkekeh geli.
" Aku jadi nggak sabar Van, pengin cepat cepat melahirkan biar punya babby imut seperti Rayyan yang bisa aku bawa kemana mana tiap hari." Sambung Rea.
" Sabar lah nunggu sebentar lagi." Sahut Vanka.
" Kamu normal kan melahirkannya? Nggak di cesar kan?" Tanya Rea penasaran.
" Alhamdulillah normal Re, kalau nggak normal yang pasti Rayyan nggak langsung di bawa ke sini sama aku kan." Sahut Vanka.
" Ah iya ya." Gumam Rea.
" Ah Rayyan sebentar lagi kamu akan menjadi Abang dari anak Mama." Ujar Rea.
" Jadi abang yang menyayangi adiknya ya." Sambung Rea.
" Itu pasti Re." Sahut Vanka.
" Sayang kamu makan apa nanti aja?" Tanya Bryan menghampiri Vanka.
" Sekarang juga boleh Mas." Sahut Vanka.
" Ya udah Mas suapi ya." Ujar Bryan mengambil makanan jatah dari rumah sakit.
__ADS_1
" Dusuk sini Kak biar enakan menyuapinya." Ujar Rea beranjak dari kursinya.
" Iya, makasih." Sahut Bryan duduk di kursi yang tadi di duduki Rea.
Bryan mulai menyuapi Vanka, sedangkan Rea dan Brayen duduk di sofa sedang asyik mengusili babby Rayyan. Keduanya nampak begitu bahagia seperti menyambut anak mereka sendiri.
...****************...
Hari sudah sore, Brayen dan Rea pun sudah pulang. Sekarang waktunya untuk Vanka mandi. Sedangkan babby Rayyan sudah di mandiin oleh perawat.
" Sayang ayo kita mandi." Ucap Bryan.
" Aku mandi sendiri aja Mas, aku malu kalau kamu yang mandiin Mas." Ujar Vanka.
" Kenapa malu sih Dek? Mas ini kan suami kamu, sudah menjadi kewajiban Mas kan membantu kamu, udah ayo mandi Mas udah menyiapkan air hangatnya." Ujar Bryan.
" Baiklah Mas." Sahut Vanka.
Bryan menggendong Vanka menuju kamar mandi, Vanka membawa botol infusnya menggunakan tangannya.
Setelah sampai kamar mandi, Bryan mendudukkan Vanka pada closet. Ia meletakkan infus Vanka pada tiangnya. Dengan pelan Bryan mulai membuka pakaian Vanka. Lalu Bryan mulai membasahi tubuh Vanka dengan air hangat yang sudah Ia siapkan. Dengan perlahan Bryan menggosok punggung Vanka dengan sabun.
Vanka menahan rasa malunya kepada suaminya. Ia benar benar merasa bahagia memiliki suami seperti Bryan yang memang memperlakukannya bagai seorang ratu.
Dua puluh menit kemudian, Bryan selesai memandikan Vanka. Ia memakaikan baju Vanka dengan penuh kebahagiaan tersendiri. Bryan kembali menggendong Vanka dan membaringkannya di atas ranjang.
" Sekarang Mas sisir dulu rambutnya." Ucap Bryan.
Vanka duduk bersandar membiarkan Bryan menyisiri rambutnya.
" Selesai, sekarang gantian Mas yang mandi ya, kamu kasih minum dedeknya dulu." Ujar Bryan menghampiri Box bayi.
Bryan memberikan Rayyan kepada Vanka untuk di susui.
" Rayyan sama Momny dulu ya, Daddy mau mandi dulu sayang, minum yang banyak biar sehat." Ujar Bryan mencium pipi Rayyan.
" Iya Daddy." Sahut Vanka.
" Mas mandi dulu." Ucap Bryan mencium kening Vanka. Lalu Ia masuk ke dalam kamar mandi.
" Aku sangat bersyukur memiliki kamu Mas, semoga cinta kita akan tetap bersinggah di hati kita selamanya." Monolog Vanka.
TBC....
*Jangan lupa like koment vote dan hadiahnya ya...
Beberapa bab lagi rencana author mau tamat kalau pendapat readers gimana nih????
Terima kasih untuk suport yang telah di berikan kepada author...
__ADS_1
Semoga sehat selalu....
Miss U All*...