Pria Cacat Itu Suamiku

Pria Cacat Itu Suamiku
Kehancuran Lia


__ADS_3

Huek...huek...huek..


Lia memuntahkan semua isi perutnya, Ia merasa lemas, sudah beberapa hari Ia mengalami seperti ini. Lia kembali ke ranjangnya, sekarang Lia menjadi pengangguran karna Kia memecatnya dari pekerjaannya, tau kenapa kan? Karna Kia tidak suka ada bibit pelakor atau sejenisnya. Di luar itu, Bukankah menjebak Bos juga sudah melakukan pelanggaran kode etik, jadi sah sah saja Indra memecatnya.


" Sial.. bayi ini begitu menyusahkan aku, David sebenarnya kemana kamu, kamu harus tanggung jawab." Lia terlentang menatap langit langit kamarnya.


" Ah iya, coba dekati Dimas dulu, siapa tahu dia mau menikahiku... ya aku harus mendapatkannya, atau kalau tidak aku ke rumah Indra... Ah tidak tidak aku tidak mau berurusan dengan Kia lagi, aku malu dan aku masih sayang nyawaku, Kia kalau sudah marah berubah menjadi hewan buas yang siap menerkam mangsanya, beruntung aku masih di bebaskannya." Monolog Lia.


Lia segera membersihkan diri lalu dandan rapi, Ia akan menemui Dimas di kantornya. Setelah jebakan yang gagal itu Dimas begitu marah padanya, bahkan Ia melampiaskannya pada tubuh Lia. Malam itu Ia benar benar menggagahi Lia dengan brutal. Setelah selesai berdandan, Lia segera menuju taksi yang sudah di pesannya.


Sesampainya di Angkasa Group, Lia berjalan menuju lobby. Ia bertanya pada receptionist di sana.


" Maaf mbak, apa pak Dimasnya ada." Tanya Lia.


" Ada di ruangannya mbak, Apa mbaknya ingin menemuinya." Sahut Reeptionist.


" Ya, katakan padanya Lia ingin menemuinya, ini sangat penting." Ujar Lia.


" Baiklah saya telepon Asistennya dulu mbak." Jawab Receptionist dengan ramah.


Setelah receptionist tadi menelepon, Lia di persilahkan masuk ke ruangan Dimas di lantai 10. Lia menaiki Lift, sampainya di sana Lia mengetuk pintu.


Tok tok tok


" Masuk." Sahut Dimas dari dalam.


Ceklek......

__ADS_1


Lia masuk dan betapa terkejutnya dia melihat Dimas sedang bercumbu mesra dengan Rania. Ia berjalan mendekati Dimas dan Rania yang sedang duduk di sofa, Rania segera turun dari pangkuan Dimas.


" Ada apa kau kemari." Tanya Dimas.


" Aku ingin membicarakan sesuatu padamu, bisakah kita bicara berdua saja." Lia melirik kearah Rania.


" Bicara saja, anggap saja Rania tidak ada." Sahut Dimas.


" Aku ingin meminta pertanggung jawaban darimu." Tegas Lia.


" Pertanggung jawaban yang mana maksudmu." Dimas menatap Lia.


" Karna kau telah menodaiku, aku takut kalau aku hamil." Kilah Lia.


" Bagaimana bisa kau begitu yakin hamil anaku, Bahkan kau sudah tidak p*r*w*n saat aku menyentuhmu, bisa jadi itu anak orang lain." Jelas Dimas santai.


" Apa kau sekarang sudah hamil." Selidik Dimas.


" e.... sepertinya." Gumam Lia.


" G*g*rkan saja, aku tidak menginginkan anak itu, aku hanya menginginkan anak dari Kiki." Tegas Dimas.


" Tidak...aku tidak setega itu, ku mohon nikahi aku, aku tidak mau hamil tanpa suami, tapi aku juga tidak tega membunuh anak ini." Lia bersujud di kaki Dimas. Rania hanya menatap sinis Lia.


" Tidak bisa, aku hanya akan menikah dengan Kiki, Jebaklah pria lainnya, agar dia bersedia menikahimu." Ujar Dimas.


" Kenapa kau tega sekali Dimas, ini anakmu, darah dagingmu." Teriak Lia.

__ADS_1


" Aku tidak peduli, Jika pun itu anakku aku akan tetap menyuruhmu membuangnya, aku tidak sudi anakku terlahir dari wanita rendahan sepertimu, yang rela memberikan tubuhnya demi kepentingannya." Dimas mencengkram dagu Lia dengan kencang.


" Kau sendiri yang mendekat kepadaku, kau sendiri yang menawarkan dirimu untuk rencana itu, dan kau sendiri juga yang menggagalkannya, Sekarang pergi dari hadapanku, aku tidak sudi melihat wajah wanita murahan sepertimu." Dimas melepas cengkramannya dengan kasar membuat Lia kesakitan.


" Dimas ku mohon, Nikahi aku, aku tidak mau membuat kecewa orang tuaku, ku mohon." Pinta Lia sambil menangis meratapi kebodohannya.


" I Dont Care." Dimas segera berlalu dari sana.


"Dimas...Dimas... Hiks...hiks... kau tega Dimas..." Lirih Lia.


" Makanya kalau mau main pilih jalan aman, biar gak kaya' gini jadinya, Lo pikir Dimas mau bertanggung jawab hhhhh b*g* lo, sekarang terima nasib aja deh.. bye..." Rania keluar menyusul Dimas.


Lia menangis tersedu, Ia menyesali perbuatannya yang mau menyerahkan dirinya pada Dimas. Sekarang harapan terakhirnya adalah David. Tapi Ia mau mencari kemana... Kia.. ya Kia.. dia harus menemui Kia. Masa bodoh dengan rasa malu, yang penting Lia punya suami yang mau bertanggung jawab kepadanya.


Lia segera pergi dari sana, Ia menaiki taksi menuju kediaman Indra permana. Ia mau minta maaf sekaligus meminta bantuan Kia untuk mempertemukan dirinya dengan David. Setelah sampai di kediaman Indra, Lia segera memencet bel.


Setelah beberapa saat pintu pun terbuka, Nampaklah Kia berdiri tercengang di sana.


" Maaf tidak menerima tamu..." Kia mencoba menutup pintunya, Lia segera mendorongnya hingga Ia bisa menerobos masuk ke dalam.


" Apa yang kamu lakukan, kau sungguh tidak punya sopan santun." Ketus Kia.


" Siapa Say...." Sahut Indra yang baru turun dari tangga.


" Kamu....


TBC.....

__ADS_1


__ADS_2