
Satu bulan berlalu sejak kepulangan Vanka dari rumah sakit. Brayen selalu berusaha membujuk Vanka untuk kembali padanya, namun Vanka selalu menolaknya. Bahkan Vanka semakin muak dengan sikap Brayen yang tidak tahu malu. Kini Brayen dan Bryan sering terlibat pertengkaran karena sikap Brayen.
Seperti saat ini, saat di meja makan.
" Vanka ku mohon kembalilah padaku." Ucap Brayen sambil menyiapkan makanan ke dalam mulutnya.
Vanka memutar bola matanya malas.
" Bray berhentilah merengek seperti anak kecil, Papa bosan mendengarnya, risih telinga Papa ini Bray." Ujar Papa Indra.
" Aku tidak akan berhenti sebelum Vanka mau kembali kepadaku Pa." Sahut Brayen keras kepala.
" Kau memang tidak tahu malu Bray." Cibir Bryan.
" Terserah apa katamu, yang jelas aku akan memperjuangkan apa yang seharusnya jadi milikku, kalau perlu aku akan membuat Vanka hamil anakku lagi."
" Brayen." Bentak Bryan.
" Bicaramu sudah keterlaluan, kau sudah melewati batas Bray, aku sudah cukup sabar menghadapimu selama ini, tapi kali ini tidak lagi karna kau sudah merendahkan istriku, kalau kau berani melakukannya maka aku tidak akan segan segan untuk membunuhmu." Teriak Bryan hendak menyerang Brayen tapi Vanka menahannya.
Vanka beranjak dari duduknya.
" Tenanglah Mas." Ujar Vanka.
"Kak Bray mulai sekarang aku tidak mau melihat wajahmu lagi, aku muak dengan semua tingkahmu selama ini bahkan aku merasa jijik dengan sikapmu yang terus memintaku untuk kembali padamu, kau sungguh memalukan." Ucap Vanka.
Ucapan Vanka menohok hati Brayen. Ia menatap Vanka dengan tatapan penuh luka di hatinya.
" Maaf Ma, Pa aku tidak mau lagi makan bersama jika ada Kak Bray di sini, aku permisi." Ucap Vanka meninggalkan meja makan.
" Sayang tunggu." Ucap Bryan menyusul Vanka.
" Apa kau belum puas membuat keributan setiap hari Bray? Mama sampai merasa malu dengan sikapmu yang tidak tahu diri ini Bray, Mama merasa telah gagal mendidikmu hiks... Mama tidak punya muka di depan Bry dan Vanka lagi, Mama benar benar malu mempunyai anak sepertimu Bray." Ucap Mama Kia mengusap air matanya. Ia pergi meninggalkan Papa Indra dan Brayen.
" Apa lagi yang ingin kau lakukan untuk menghancurkan kedamaian keluarga ini? Hancurkan saja semuanya tanpa tersisa Bray, Papa benar benar kecewa sama kamu." Ucap Papa Indra meninggalkan Brayen sendirian.
" Kenapa semua orang tidak mengerti perasaanku? Aku hanya ingin Vanka kembali padaku, aku mencintainya, aku sangat mencintainya, aku tidak mau kehilangannya, aku harus melakukan sesuatu, jika Vanka maupun Bryan tidak mau saling melepaskan maka akan aku buat hubungan mereka menjauh hingga salah satu dari mereka sendiri yang melepas hubungan ini sebelum pernikahan agama mereka terjadi." Monolog Brayen. Ya pernikahan agama Bryan dan Vanka tinggal sepuluh hari lagi. Setelah itu mereka akan menjadi pasangan yang sah di mata hukum dan agama.
Di dalam kamar, Vanka berdiri menghadap jendela. Pikirannya terusik dengan sikap Brayen selama ini. Ia merasa tidak enak hati telah menciptakan keributan dalam keluarga Bryan.
" Apa yang sedang kamu pikirkan hmm?" Tanya Bryan memeluk Vanka dari belakang. Ia menempelkan dagunya ke pundak Vanka.
" Aku merasa telah menjadi sumber masalah dalam keluargamu Mas." Sahut Vanka.
" Kenapa berpikir seperti itu? Jangan hiraukan sikap Bray sayang." Ujar Bryan.
" Apa kita pergi saja ya Mas?" Ujar Vanka.
" Pergi kemana?" Bryan balik bertanya.
" Kita cari rumah sendiri saja Mas, jadi kita bisa bebas dari gangguan Kak Bray." Ujar Vanka.
" Bukankah kamu mendengar senfiri ucapan Mama waktu itu?" Tanya Bryan.Vanka menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
" Bukan Mas tidak mau menuruti keinginanmu sayang, tapi Mas tidak mau membuat Mama tersinggung dengan sikap kita, bersabarlah menghadapi Bray, Mas yakin suatu saat nanti dia akan sadar dengan sikapnya selama ini, anggap saja ini ujian untuk cinta kita." Sambung Bryan membalikkan badan Vanka.
" Tapi aku tidak tahu, apakah kita bisa melewati semua ini atau tidak Mas, aku takut terjadi sesuatu pada hubungan kita Mas." Ucap Vanka menghela nafasnya.
" Percayalah pada Tuhan sayang, jika kita di ditakdirkan bersama maka sekalipun kita berpisah kita pasti akan bersatu lagi, Mas tidak akan meninggalkanmu, kau akan selalu menjadi milikku." Ujar Bryan memeluk Vanka.
" Terima kasih Mas kamu selalu ada untukku." Sahut Vanka.
" Ya sudah Mas berangkat kerja dulu ya, hati hati di rumah." Ucap Bryan mencium kening Vanka.
" Hati hati Mas." Ucap Vanka mencium punggung tangan Bryan.
Setelah berpamitan, Bryan keluar dari kamarnya untuk berangkat ke kantornya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Siang hari Vanka menelepon Bryan untuk mengajaknya makan siang.
" Halo sayang tumben telepon, udah kangen ya?" Tanya Bryan setelah mengangkat sambungan teleponnya.
" Aku pengin ngajak Mas makan siang, mau nggak?" Vanka balik bertanya.
" Bukannya Mas nggak mau sayang, tapi Mas lagi ada janji sama client siang ini, lain kali aja gimana? Atau mau di ganti makan malam saja? Kalau mau Mas akan siapkan makan malam romantis untuk kita berdua." Ujar Bryan.
" Iya deh Mas nggak pa pa." Sahut Vanka sedikit kecewa.
" Maaf ya sayang Mas membuat kamu kecewa." Ujar Bryan merasa bersalah.
" Iya Mas aku maafkan." Sahut Vanka memutus sambungan ponselnya.
Setelah memarkirkan mobil, Vanka masuk ke dalam untuk mencari temannya, tanpa sengaja tatapannya berhenti pada sosok yang sangat Ia kenali. Siapa lagi kalau bukan Bryan suaminya?
Vanka menghampiri Bryan yang sedang duduk bersama seorang wanita cantik. Vanka tidak mau negative thinking kepada suaminya, Ia berpikir kalau itu clientnya Bryan.
Langkah Vanka berhenti saat mendengar ucapan wanita itu.
" Kita bisa melanjutkan hubungan kita Bryan, anak dalam kandungan Vanka sudah tidak ada, jadi kau tidak perlu bertanggung jawab atas dirinya." Ucap wanita itu.
Deg....
Jantung Vanka terasa berhenti berdetak. Dunia terasa berhenti berputar.
Bukankah Bryan mengatakan kalau tidak ada yang boleh tahu soal kehamilan Vanka dengan Brayen? Lalu kenapa Bryan memberitahu wanita itu? Lagi lagi Vanka kecewa pada Bryan.
" Siapa yang mengatakan semua itu padamu Sherly?" Tanya Bryan menatap wanita yang bernama Sherly.
Vanka menatap punggung Bryan yang memang duduk membelakanginya.
" Brayen yang mengatakan semua itu padaku, itulah sebabnya aku kemari dan menginginkan kembali padamu, sudah tidak ada alasan kan untukmu mempertahankan Vanka?" Ujar Sherly.
Vanka merasa lega seridaknya Bryan menepati ucapannya tapi jantung Vanka berdetak kencang menanti jawaban dari Bryan. Ia ingin tahu jawaban apa yang akan Bryan katakan pada Sherly.
" Kenapa kau diam saja? Kau tidak punya alasan apapun kan?" Tanya Sherly.
__ADS_1
" Bryan, lepaskan Vanka dan kembalilah kepadaku, kau pria baik jadi kau harus mendapatkan wanita yang baik sepertimu, biarkan saja Vanka dan Brayen bersatu seperti dulu lagi." Ucap Sherly menggenggam tangan Bryan.
Ucapan Sherly membuat Vanka kehilangan rasa percaya dirinya. Sherly benar.... Bryan harus mendapatkan wanita yang baik. Bukan wanita kotor seperti dirinya. Belum sempat Bryan menjawab tiba tiba....
" Dia benar Mas." Ucap Vanka menghampiri keduanya.
Bryan menoleh ke belakang membuat genggaman Sherly terlepas begitu saja.
" Sayang, kamu di sini?" Tanya Bryan beranjak dari duduknya.
" Duduk saja Mas." Ucap Vanka.
" Kamu salah paham sayang." Ujar Bryan menatap Vanka.
" Tidak Mas, aku sadar kalau aku bukan wanita yang baik untukmu, aku kotor dan tidak pantas untuk hidup berdampingan denganmu...
" Sayang jangan katakan apapun lagi." Ucap Bryan berdiri di depan Vanka.
Tes.... Air mata Vanka menetes di pipinya.
" Sayang, jangan menangis!" Ujar Bryan memeluk Vanka.
" Mas sudah bilang jangan meneteskan air mata karena kesedihan, dan jangan berpikir kalau kamu bukan wanita baik untuk mendampingi Mas." Ujar Bryan mengelus punggung Vanka.
" Tapi kamu tidak punya alasan untuk mempertahankan hubungan ini Mas." Ujar Vanka.
" Siapa bilang?" Tanya Bryan melepas pelukannya.
" Buktinya kamu tidak menjawab pertanyaannya." Sahut Vanka menatap Bryan.
" Mas memang sengaja tidak menjawabnya karna Mas ingin kamu orang pertama yang mendengar ungkapan hati Mas sayang, lagian bagi Mas Sherly bukan siapa siapa, jadi untuk apa Mas memberitahunya." Ucap Bryan menangkup wajah Vanka.
" Mas mempertahankan hubungan ini karna Mas mencintaimu." Ungkap Bryan.
" Me.... Mencintaiku?" Tanya Vanka memastikan.
" Ya... Mas mencintaimu, Mas menyayangimu, Mas ingin menghabiskan sisa hidup Mas bersamamu, kamu lah wanita yang sudah mencuri hatiku sayang, kamu wanita pilihan hatiku, I love you Devanka Bryan Permana." Ucap Bryan mencium kening Vanka.
" I love you too Mas." Sahut Vanka memeluk Bryan.
Keduanya saling memeluk meluapkan rasa bahagia yang sedang mereka rasakan saat ini. Sedangkan Sherly mengepalkan erat tangannya.
" Aku tidak akan membiarkan kalian bersatu, tunggu apa yang akan aku lakukan pada kalian berdua." Batin Sherly.
Kira kira apa yang akan Sherly lakukan untuk memisahkan mereka berdua?
Temukan jawabannya di bab selanjutnya....
Yang minta konflik author kasih konflik, jangan bosan ya.... Karna semua akan indah pada waktunya....
Jangan lupa tekan like, hadiah dan vote biar author tambah semangat ya...
Terima kasih untuk readers yang sudah mensuport author semoga sehat selalu....
__ADS_1
Miss U All...
TBC.....