
Setelah Lia masuk ke kamar mandi, Indra memeluk Kia, Ia tak kuasa menahan tangisnya. Indra sangat takut Kia tidak mempercayainya dan berujung meninggalkannya.
" Say percayalah padaku, aku tidak pernah mengkhianatimu, aku hanya mencintaimu, entah mengapa aku bisa berada di sini." Ucap Indra. Kia mencoba melepaskan pelukannya tetapi Indra justru mempereratnya.
" Jangan tinggalkan aku, ku mohon, aku tidak bersalah." Sambung Indra.
" Mas lepas, pakai kemejanya dulu." Indra melepas pelukannya. Ia mengusap air matanya. Kia segera memakaikan kaos dan kemeja Indra.
" Ikuti permainannya, dan tenang saja aku selalu bersamamu." Kia mencium pipi Indra.
" Kamu....." Indra menatap Kia.
" Aku percaya padamu, dan aku selalu bersamamu, kuatlah..kita hadapi sama sama." Indra memeluk Kia kembali, hatinya merasa lega dan bahagia.
Ceklek....
Kia segera melepas pelukannya, Lia keluar dari kamar mandi, Ia sudah berpakaian rapi. Lia berjalan menuju sofa dan duduk di sana.
" Apa yang akan kau lakukan setelah melihat suamimu berbuat tidak senonoh kepadaku Ki." Kia menatap Lia setelah mendengar pertanyaan konyol menurutnya.
" Apa yang kau harapkan." Selidik Kia.
" A...aku... aku mau kau memaafkan Indra." Celetuk Lia pura pura.
" Sesuai keinginanmu, aku memaafkan suamiku, lagian dia juga tidak sepenuhnya bersalah bukan?. kau yang melayaninya dan menikmatinya, itupun kalau benar Indra melakukannya." Kia menekan kata menikmatinya. Indra melongo mendengar Ucapan Kia, Ia menatap kearah Kia, yang di balas kerlingan mata oleh istrinya, sedang Lia menunduk.
" Tapi... bagaimana kalau aku hamil Ki." Tanya Lia ragu ragu.
" Kenapa kau tanya padaku, yang hamil kan dirimu bukan aku." Ucap Kia santai.
__ADS_1
" Apa kau tidak kasian pada anakku jika lahir tanpa ayah nantinya." Lia menatap Kia.
" Kenapa aku harus kasihan, kau saja tidak kasihan bukan, apa kau tahu siapa bapak dari anak itu... Indra...David... atau yang lainnya." Kia tersenyum sinis.
" Kia jaga ucapanmu... aku memang pernah berbuat kesalahan dengan David, tapi aku tidak hamil dengannya, jika nanti aku hamil berarti itu anak Indra." Bentak Lia.
" Bukan anak Indra, tapi dia anak Dimas." Teriak Kia lepas kendali.
" A...a...aapa maksudmu." Tanya Lia gugup.
" Apa aku harus berbicara sekarang, atau tunggu kamu mengaku Hamil dulu." Sahut Kia mulai terpancing emosi. Lia diam tidak bergeming.
" Kenapa kau begitu yakin kalau kamu akan hamil anak Indra..." Selidik Kia.
" Kenapa Lia." Bentak Kia.
Indra berjingkrak kaget, begitupun dengan Lia.
" Apa maksudmu, aku tidak pernah menjebak siapapun, aku sahabatmu Ki, apa kamu sudah tidak mempercayaiku lagi." Isak Lia.
" Suamiku.... dia tidak mungkin mengkhianatiku, tapi kalau sahabatku dia bisa melakukan apapun untuk membalas rasa sakit hatinya padaku." Tebak Kia.
Deg.... Jantung Lia terasa berhenti berdetak, apa Kia mengetahui semuanya...
" Kenapa kau kaget, apa kau kira aku tidak tahu semuanya." Kia mendekati Lia, Ia mencengkram gaun tepat di Leher Lia.
" Ya...aku memang ingin membalas rasa sakit hatiku kepadamu, kau juga mengkhianati aku Kia, Kau tidak pernah memberi tahu kalau David mencintaimu,Karena kau.. David melecehkanku, Dia menganggapku sebagai dirimu." Teriak Lia sambil menuding wajah Kia.
" Aku tidak memberitahumu karna itu bukan hal penting bagiku, lagian Kau bisa mengatasinya Li, Kau bisa bela diri, dimana kekuatannmu saat itu, Ha." Tanya Kia.
__ADS_1
" A...aku...."
" Kau hanya pasrah, karena kau berharap setelah kejadian itu David mau menikahimu bukan." Sinis Kia. Lia tidak bisa berkilah apa apa karna memang itu kenyataannya.
" Aku tidak akan memaafkanmu, dan Kau bukan lagi sahabatku." Teriak Kia.
Lia tidak bergeming, sejujurnya Ia tidak mau kehilangan sahabat sebaik Kia, tapi rasa sakit yang David berikan membuat Lia ingin membalasnya kepada Kia.
" Sebenarnya aku ingin membantumu mencaritahu siapa ayah anak dalam kandunganmu, tetapi kau sudah mengkhianati maka, kau cari tahu sendiri. Dan aku yakin kau tidak akan pernah menemukan David dimanapun." Ketus Kia.
" Hiks hiks hiks Kia.... maafkan aku....." Lia segera memeluk Kia. Ia menyesal telah berbuat hina di depan sahabatnya.
" Lepas... Jangan sentuh aku dengan tangan kotormu, aku tidak akan pernah memaafkanmu, sebenarnya aku ingin mengikuti permainanmu, tetapi aku tidak tega jika kau terlibat terlalu jauh dengan Dimas dan Rania." Ujar Kia.
" Sayang.... apa maksudmu, kenapa kau menyebut nama Dimas dan Rania." Tanya Indra yang sedari hanya diam saja.
" Dia bekerja sama dengan mereka berdua untuk memisahkan kita, tetapi mereka tidak tahu siapa lawan mainnya." Kia tersenyum smirk.
" Dia tidak tahu betapa kokoh dan besarnya cinta kita say..." Indra memeluk Kia.
" Apanya... kau berjanji bisa menjaga diri tetapi apa, palah berakhir di ranjang bersamanya." Kia mengerucutkan bibirnya.
" Maaf... maafkan aku hmmm." Indra mengendus pipi Kia.
Lia yang melihatnya menjadi semakin malu, ternyata tidak mudah membuat sahabatnya goyah. Kia punya pendirian, prinsip bahkan Insting yang kuat.
" Selamat menikmati kesendiriamu Li, aku berharap Dimas mau memaafkan kegagalanmu." Setelah mengucapkan itu, Kia menggandeng lengan Indra berjalan keluar meninggalkan Lia yang sedang menangisi kebodohannya. Ia tahu kalau dari dulu Kia bukan tandingannya, tetapi Ia nekat. Sekarang bukannya Kia berpisah dari Indra tetapi mereka justru semakin rekat.
**TBC......
__ADS_1
Hai readers makasih udah dukung author... sebenarnya author ingin konflik ini lama terbongkarnya, tetapi author gak tega sama babang Indra. hhhhhh jadi author rubah alurnya.... semoga readers suka dengan alur ceritanya... Love u all**.....