Pria Cacat Itu Suamiku

Pria Cacat Itu Suamiku
Pertarungan Rencana


__ADS_3

Sesampainya di rumah Dimas, Kia segera melangkah masuk menuju kamarnya. Saat melewati ruang tamu langkahnya terhenti karna melihat Dimas sedang duduk di sana.


" Kemana saja kamu seharian ini, Apa kamu baru memadu kasih dengan calon mantan suamimu." Selidik Dimas sambil berjalan mendekati Kia.


" Tidak...Aku kerumah Mama Meri, Aku kangen masakannya." Kilah Kia.


" Apa yang sebenarnya kamu rencanakan ." Dimas memajukan tubuhnya membuat Kia mundur.


" Maksudmu.." Tanya Kia gugup.


" Jangan kamu pikir aku tidak tahu apa yang kamu rencanakan." Kia semakin mundur, Tubuhnya membentur tiang penyangga, Dimas mengukungnya dengan kedua tangan di antara kepala Kia.


" Re....re...rencana apa." Kia memalingkan wajahnya dan memejamkan matanya, Ia merasa ketakutan jika Dimas melakukan hal hal yang tidak di inginkan.


" Rencanamu dengan calon mantan suamimu." Bisik Dimas di telinga Kia. Kia mengepalkan kedua tangannya, Ingin sekali Ia menonjok wajah Dimas di depannya.


Hening....


" Puuuuffffttttt." Dimas menjauhkan tubuhnya dengan menahan tawanya. Kia menatap Dimas heran.


" Hhhhhh Wajahmu lucu sekali jika ketakutan seperti itu Hhhhh." Ucap Dimas di sela tertawanya.


" Jangan takut begitu, Tenang saja aku tidak akan melakukan hal buruk kepadamu, Kamu wanita istimewa bagiku, Aku tidak akan merendahkanmu." Sambung Dimas kembali duduk di tempat semula.


" Sebenarnya rencana apa yang kamu maksudkan, Aku tidak ada rencana apapun dengan Indra." Tanya Kia mendudukkan pantatnya di depan Dimas.


" Rencana percerainmu dengan Indra." Ucap Dimas.


" Apa." Pekik Kia.


" Kenapa... Apa kamu berubah pikiran, Apa kamu memaafkan Indra dan mau kembali lagi padanya." Selidik Dimas.


" Eh...e...Tidak tidak bukan begitu maksudku." Dalih Kia agar Dimas tidak curiga.


" Tenang saja, Aku sudah mengurusnya, Sekarang kamu tinggal tanda tangan di sini." Ujar Dimas sambil menyerahkan dokumen kepada Kia.


" Apa ini." Tanya Kia.


" Bukalah." Titah Dimas. Kia membuka map itu dan...


" Surat gugatan cerai.." Gumam Kia.


" Yah.. Kamu harus tanda tangan di sana, Besok akan aku antar ke kantor Indra." Ujar Dimas.


" Apa tidak terlalu terburu buru, Aku masih menunggu waktu yang tepat untuk mencetaikannya." Ucap Kia mencoba mengulur waktu.


" Sekarang waktu yang tepat, Besok acara pelelangan tender proyek itu, Aku ingin pikiran Indra kacau saat itu dan tidak konsen dengan tawarannya." Ujar Dimas menyeringai.

__ADS_1


" Ta...tapi apa tidak setelah acara itu saja, Aku menunggu kehancurannya dulu, Baru menceraikannya." Tawar Kia menatap Dimas, Dimas mengerutkan keningnya.


" Bukankah akan lebih menyenangkan melihat Indra semakin terpuruk, Setelah perusahaannya koleps dia akan semakin hancur dengan perceraian itu bukan, Hhh aku sudah tidak sabar melihatnya." Sambung Kia meyakinkan Dimas. Ia tidak mau rencananya berbalik kepadanya.


" Ternyata kamu pintar juga...Baiklah aku setuju denganmu, Kita akan sama sama melihat kehancurannya.." Ujar Dimas. Kia menghela nafasnya lega.


" Terima kasih, Aku mau ke kamar dulu, Semua foto dokumen sudah aku kirim ke ponselmu." Ucap Kia.


" Ok sudah aku pelajari tadi, Jangan lupa turun untuk makan malam." Ucap Dimas.


" Hmm." Gumam Kia.


Kia segera melangkah menuju kamarnya, Sesampainya di dalam kamar, Kia merebahkan tubuhnya menatap langit langit kamar. Ia memikirkan bagaimana caranya, Rencananya harus berhasil.


"Entah mengapa fellingku mengatakan kalau Dimas sudah mengetahui rencanaku, Dia pasti sedang menyusun strategi lainnya untuk menghancurkan suamiku, Aku harus melakukan sesuatu." Batin Kia. Capek dengan pikirannya sendiri akhirnya Kia terlelap begitu saja.


Di tempat lain,


Rey dan Indra sedang duduk berdua menikmati secangkir kopi dan menikmati indahnya sunshet di balkon kamar sore ini. Mereka membicarakan tentang proyek baru yang akan di lelang besok siang.


" Tumben nih istriku belum calling, Lagi apa ya dia, Udah kangen di hati." Gumam Indra.


" Paling ketiduran, Dia tadi kecapekan mungkin, Habis dari sini juga kan." Ujar Rey.


" Iya juga sih, Menurutmu apa semua rencana Kia akan berhasil, Aku takut semua rencananya justru berbalik padanya." Ucap Indra menghela nafasnya pelan.


" Lo ngremehin kemampuan Kia Broo." Sahut Rey.


" Aku yakin Kia bisa mengatasi semuanya." Sahut Rey.


" Persiapkan semua bukti bukti yang Kia kirimkan padamu, Kita akan membutuhkan semua itu nanti." Titah Indra.


" Siap Broo." Sahut Rey.


Malam hari Kia merasa haus, Ia berjalan ke dapur untuk mengambil minum. Setelah minum Ia kembali ke kamar, Saat akan menaiki tangga, Ia melihat pintu ruang kerja Dimas sedikit terbuka. Ia berjalan menuju ke sana, Saat sampai di depan pintu Kia mendengar Dimas sedang bercakap cakap, Sepertinya lewat telepon.


" Lakukan semua rencana untuk menyerang Indra, Pastikan dia akan kehilangan kehormatannya." Ucap Dimas


................


" Ya aku mengubah rencanaku, Aku tidak masalah jika kalah tender, Tapi aku harus mendapatkan Kiki sebagai wanitaku, Aku yakin Indra dan Kiki sedang merencanakan sesuatu." Ucap Dimas lagi.


.....................


" Dengan penawaran 9T Aku yakin Indra akan bangkrut, Karna Aku hanya akan memberikan penawaran 6T saja, Lakukan apa yang harus kamu lakukan." Dimas menutup sambungan teleponnya.


"Pintar juga dia membaca rencanaku, Kau pikir kau lebih pintar dariku, Mari kita lihat siapa yang akan menang." Gumam Kia.

__ADS_1


Tok..tok...tok...


Dimas membuka pintu dengan lebar, Ia menatap Kia di depannya yang sedang membawa nampan di tangannya.


" Kopi." Kia masuk ke dalam ruang kerja Dimas.


" Kamu belum tidur." Tanya Dimas. Kia meletakkan kopi di meja dekat komputer Dimas.


" Aku baru bangun, Sebenarnya aku mau ambil minum di dapur, Tapi saat aku menoleh ke ruang kerjamu ternyata lampunya masih menyala, Aku yakin kamu masih disini, Ya aku buat kopi saja untukmu." Ujar Kia sambil melirik ke arah komputer yang masih menyala menampilkan folder penawaran pelelangan proyek.


" Wah... kebetulan sekali, Ternyata Tuhan memihakku." Batin Kia.


Kia menatap kopi lalu tersenyum dengan senyuman liciknya, Sedang Dimas duduk di kursi di belakang Kia. Tiba tiba..


" Awh.. panas..panas..panas.." Pekik Kia. Dimas segera bangkit lalu menarik tangan Kia yang ketumpahan kopi. Dimas meniup niup punggung tangan Kia yang kemerahan.


" Dimas.. sakit.. panas..." Rengek Kia.


" Sebentar aku ambil salep dulu." Dimas segera berlari keluar mengambil salep anti luka bakar. Kesempatan itu di gunakan Kia untuk mengotak atik komputer di depannya.


Hap...Berhasil... Ia segera mengembalikan ke folder tadi supaya Dimas tidak curiga. Kia segera duduk di tempat semula.


" Sini tangannya aku Kasih salep." Dimas menarik tangan Kia, Ia menyalepi punggung tangan Kia dengan pelan.


" Ssss." Desis Kia.


" Kamu ceroboh, Bagaimana kalau melepuh... Gak usah bikinin aku kopi lagi jika hanya melukai tanganmu saja." Gerutu Dimas.


" Baiklah maaf." Ujar Kia.


" Selesai." Dimas menutup kembali salepnya, Ia beranjak menuju komputernya.


" Dimas...antar aku ke kamar ya, Aku mau tidur tapi tanganku kepanasan, Mau kan ngipasin tanganku biar aku bisa tidur nyenyak." Ujar Kia.


" Baiklah, Tunggu sebentar aku mau mengirim file dulu." Dimas segera mengirim file yang baru Ia kerjakan. Lalu Ia menelepon Asistennya.


" Halo.. segera Print file yang aku kirimkan padamu untuk pelelangan tender besok, Aku sudah mengirim tanda tangan digitalnya juga." Titah Dimas.


...........


" Tidak perlu aku sudah menelitinya lebih dari tiga kali, Apapun itu sudah menjadi keputusanku." Dimas mematikan sambungan teleponnya.


" Ayo ke kamar, Aku akan mengipasi tanganmu." Ajak Dimas.


" Terima kasih." Ujar Kia dengan senyum mengembang.


" Kena Kau..." Ucap Kia dengan senyum menyeringai.

__ADS_1


**TBC.....


Kira kira apa ya yang Kia lakukan**....


__ADS_2