Pria Cacat Itu Suamiku

Pria Cacat Itu Suamiku
10. Kesedihan Bry dan Bray


__ADS_3

" Awh." Pekik Vanka.


Bryan tidak bergeming. Saat ini hatinya sedang di liputi amarah. Bahkan Ia tidak mendengar jeritan Vanka apalagi menoleh ke arah Vanka. Ia masuk ke dalam mobilnya lalu melajukan mobilnya meninggalkan rumah dengan perasaan kecewa. Ia berpikir jika Vanka mulai goyah dan mulai mengkhianatinya.


" Vanka." Teriak Brayen menghampiri Vanka yang terduduk di undakan teras rumahnya sambil memegangi perutnya.


" Awh Kak sakit." Rintih Vanka terus memegangi perutnya.


Brayen melihat ada darah yang mengalir dari sela sela kaki Vanka.


Deg....


Jantungnya berdetak sangat kencang. Ia tidak mau terjadi sesuatu dengan calon anaknya.


" Vanka.... Ada darah." Lirih Brayen.


Vanka menatap ke bawah. Ia meraba cairan merah yang mengalir di sana. Ia merasakan sakit yang luar biasa di bagian perutnya. Bersamaan dengan itu tiba tiba tubuhnya menjadi lemas tak bertenaga.


" Kak anakku... Kak tolong selamatkan anakku Kak, aku tidak mau kehilangannya Kak.. Selamatkan anak kami." Lirih Vanka bersamaan dengan hilangnya kesadarannya.


" Vanka bangun sayang." Ucap Brayen menepuk pelan pipi Vanka.


" Vanka... Vanka bertahanlah sayang aku akan membawamu ke rumah sakit." Ujar Brayen.


Brayen segera membawa Vanka ke rumah sakit terdekat. Lima belas menit Brayen sampai di sana. Dokter langsung menangani Vanka di ruang IGD. Brayen berjalan mondar mandir dengan cemas sambil menunggunya.


" Ya Tuhan lindungi Vanka dan anakku, jangan biarkan terjadi apa apa dengan mereka, aku sangat mencintai Vanka Ya Tuhan... Aku memang pernah menolak anakku tapi kali ini tidak lagi, aku menerima mereka berdua ya Tuhan... Jangan ambil anakku di saat aku sedang memperjuangkannya." Monolog Brayen.


" Vanka maafkan aku, kalau saja aku tidak melakukan itu padamu semua ini tidak akan terjadi, kau dan anak kita pasti baik baik saja, aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri kalau terjadi sesuatu dengan kalian berdua, Vanka aku berjanji aku akan membuatmu bahagia, aku akan memperjuangkanmu lagi, kita akan hidup bahagia bersama anak kita tapi ku mohon bertahanlah sayang." Ujar Brayen.


" Anak Papa sayang, bertahanlah demi mempersatukan hubungan Papa dengan Mamamu sayang." Ucap Brayen menarik kasar rambutnya. Tiba tiba Ia mengingat Bryan.


" Bry... Aku harus menelepon Bry." Ujar Brayen.


Brayen mengambil ponsel di saku celananya. Ia mencoba menghubungi Bryan namun tidak tersambung. Hanya suara operator saja yang menjawabnya.


" Ah dimana kamu Bry, Vanka sangat membutuhkanmu saat ini." Ujar Brayen frustasi.


Setelah hampir satu jam akhirnya Dokter keluar dari ruangan IGD. Brayen segera menghampirinya.


" Bagaimana keadaan mereka Dokter Reni?" Tanya Brayen menatap Dokter yang menangani Vanka.


" Kondisi Nyonya Devanka masih lemah Dokter Brayen, dengan sangat menyesal saya katakan kalau Nyonya Devanka mengalami keguguran."


Jeduarrrrr


Bagai di sambar petir, jantung Brayen serasa berhenti berdetak. Keguguran? Anaknya kini telah tiada?


" Apa Dok? Keguguran?" Tanya Brayen memastikan.

__ADS_1


" Iya Dok, dan kami sudah melakukan kuretasi pada Nyonya Devanka, suster akan memindahkan Nyonya Devanka ke ruang rawat Dok, saya turut berduka atas kejadian ini, saya permisi Dokter Brayen." Ujar Dokter Reni meninggalkan Brayen yang mematung di tempatnya.


Tubuh Brayen luruh ke lantai.


" Hiks.... Hiks... Anakku.... Karna ulahku aku kehilangan darah dagingku sendiri, Hiks... Maafkan Papa sayang yang sebelumnya menolak kehadiranmu, sekarang di saat Papa memintamu untuk menjadi pemersatu hubungan Papa dengan Mamamu kau justru pergi meninggalkan kami, Hiks... Ya Tuhan apakah ini karma untuk pria brengsek sepertiku hiks.... " Isak Brayen memukuli dadanya sendiri.


" Vanka... Maafkan aku." Lirih Brayen.


Brayen mengambil ponselnya, Ia mencoba menghubungi sahabatnya Anggara. Biasanya Bryan berkumpul bersama teman temannya di rumah Anggara.


Tut....


Sambungan telepon tersambung, tak lama Anggara mengangkat teleponnya.


" Halo Bro tumben tengah malam gini telepon, ada apa?" Tanya Anggara di sebrang sana.


" Apa Bry bersamamu?" Tanya Brayen. Anggara melirik Bry di sampingnya.


" Iya ada, kenapa?" Anggara balik bertanya.


" Berikan teleponnya! Aku mau ngomong sama dia." Ujar Brayen.


" Baiklah tunggu sebentar." Sahut Anggara.


Anggara menyenggol lengan Bryan yang sedang berbaring menutup mata menggunakan lengannya. Hari ini Ia sangat lelah dan mengantuk, di tambah lagi masalah dengan hatinya.


" Bray mau ngomong sama lo." Ucap Anggara.


" Aktifkan loudspeakernya saja Ngga, ada hal penting yang ingin aku bicarakan padanya sekarang juga." Ujar Bray yang mendengar ucapan Bryan.


" OK." Sahut Anggara menyalakan loudspeakernya.


" Bry gue tahu lo marah sama gue dan Vanka, tapi Vanka tidak bersalah dalam hal ini, ada sesuatu yang penting sekarang lo datanglah ke rumah sakit xx, Vanka membutuhkan lo." Ucap Brayen.


" Kamu ada di sana?" Tanya Bryan.


" Iya." Sahut Brayen.


" Udah ada lo di sana, kenapa gue harus ke sana." Ujar Bryan yang belum menyadari ucapan Brayen karna Ia merasa sangat mengantuk.


" Vanka membutuhkan lo di sini brengsek, dia mengalami kecelakaan karna mengejar lo tadi." Bentak Brayen.


Bryan beranjak menjadi duduk, rasa kantuk yang di deritanya menguar entah kemana saat mendengar Vanka kecelakaan.


" Apa lo bilang? Vanka kecelakaan?Kecelakaan gimana kalau ngomong yang jelas Bray." Ucap Bryan.


" Dia jatuh saat mengejar lo." Sahut Brayen.


" Jatuh? Vanka jatuh? Bagaimana keadaannya? Apa anakku baik baik saja? Gue akan segera ke sana." Sahut Bryan menutup sambungan ponselnya.

__ADS_1


" Kenapa? Vanka kecelakaan?" Tanya Anggara.


" Iya Ngga katanya dia jatuh saat ngejar gue tadi, gue takut kandungannya kenapa napa." Sahut Bryan sambil memakai jaketnya.


" Gue anter, bahaya kalau ngantuk di paksakan menyetir, entar yang ada kalian berdua masuk rumah sakit bareng." Ujar Anggara.


" Baiklah." Sahut Bryan.


Anggara dan Bryan menuju rumah sakit dimana Vanka sedang di rawat. Jam menunjukkan pukul empat pagi. Anggara dan Bryan berjalan menuju ruang rawat Vanka setelah di beritahu oleh Brayen tadi. Brayen menunggu di kursi tunggu di depan ruangan Vanka sambil menundukkan wajahnya.


" Bagaimana keadaannya Bray?" Tanya Bryan membuat Brayen mendongak.


" Dia keguguran." Sahut Brayen.


Jeduarrrr


Kali ini tubuh Bryan yang kaku seperti tersengat listrik.


" Vanka keguguran? Anak kami tiada begitu maksud lo hah?" Tanya Bryan. Brayen menganggukkan kepalanya.


" Ini semua gara gara lo brengsek." Bentak Bryan menarik tubuh Brayen.


" Tenang Bry." Ucap Anggara.


" Ini semua gara gara lo yang mengganggu istri gue brengsek." Bentak Bryan hendak memukul Brayen tapi di hadang oleh Anggara.


" Tenang Bry ini rumah sakit, Vanka sedang istirahat di dalam." Ucap Anggara.


" Bagaimana gue bisa tenang Ngga, anak gue tiada hiks.... Anak yang gue impikan memanggil gue Papa kini sudah tiada Ngga hiks...." Isak Bryan.


" Lo nggak bisa nyalahin gue gitu aja Bry, ini juga kesalahan lo karna lo main pergi gitu aja, seandainya lo percaya sama Vanka, semua ini tidak akan terjadi, Vanka tidak akan jatuh kana mengejar lo." Ujar Brayen.


" Yah kau benar Bray, kita berdua sama sama salah dalam hal ini, karna kesalahan kita orang yang kita sayangi menjadi korbannya, Vanka sayang maafkan aku." Ucap Bryan.


" Sekarang temani dia Bry, jangan biarkan dia melewati semua ini sendirian." Ujar Anggara menepuk pundak Bryan.


" Gue juga akan menemani Vanka di sini." Sahut Brayen.


" Sebaiknya kita pulang Bray, biarkan Bry menyelesaikan masalahnya dengan Vanka dulu." Ujar Anggara. Brayen sedikit berpikir.


" Iya kau benar, ayo kita pulang saja, aku akan datang lagi ke sini siang nanti." Sahut Brayen.


Anggara dan Brayen meninggalkan Bryan sendirian di sana. Bryan membuka pintu menatap wanita yang Ia sayangi terbaring lemah di atas ranjang. Air matanya kembali mengalir di pipinya.


" Apa yang akan kamu lakukan kepadaku setelah sadar nanti sayang? Apakah kau akan membenciku? Apakah kau akan kembali pada Brayen dan meninggalkan aku? Ah.. membayangkannya saja aku tidak mampu." Batin Bryan.


TBC......


Jangan lupa like koment vote dan hadiahnya ya...

__ADS_1


Terima kasih untuk para readers yang sudah mensuport author... Semoga sehat selalu...


Miss U All


__ADS_2