Pria Cacat Itu Suamiku

Pria Cacat Itu Suamiku
54. Salah Ngomong


__ADS_3

Satu bulan berlalu, keadaan Vanka masih sama. Ia masih sering mual dan pingsan padahal masakehamilanna memasuki bulan ke tiga. Brayen dan Rea masih tinggal di rumah utama untuk menjaga Vanka.


Pagi ini Vanka kembali memuntahkan semua isi dalam perutnya.


Huek... Huek....


Brayen yang mendengar Vanka muntah langsung berlari menghampiri Vanka. Ia memijat tengkuk Vanka dengan pelan. Brayen benar benar seperti suami siaga yang menjaga istrinya. Rea tidak mempermasalahkan semua itu karena Ia sadar akan kondisi Vanka yang memang sangat membutuhkan Brayen. Ia hanya berharap jika Ia hamil suatu saat nanti, Brayen akan sama perhatiannya dengannya.


Huek... Huek....


Lagi lagi Vanka muntah lagi.


" Vanka keadaanmu tidak membaik sampai saat ini, tubuhmu bahakan lemas tak berdaya, aku menyarankan kalau lebih baik kamu menggug**** kandunganmu saja." Ucap Brayen hati hati.


Vanka menatap tajam ke arah Brayen setelah mendengar ucapan Brayen.


" Apa? Menggu****nya? Apa kau gila Kak? Anakku tidak bersalah, dia sehat, aku lah yang terlalu lemah dengan keadaan ini, aku tidak akan pernah menerima saran gilamu itu Kak." Teriak Vanka.


" Vanka tapi aku tidak tega melihatmu seperti ini." Ujar Brayen.


" Kau bukan tidak tega Kak, tapi kau bosan mengurusku selama ini." Bentak Vanka.


" Vanka bukan begitu maksudku." Ujar Brayen.


" Sekarang pergilah Kak, pulanglah ke rumahmu, kau tidak perlu repot repot mengurusku lagi, aku juga sudah tidak membutuhkanmu lagi, aku bisa menjaga diriku sendiri." Ketus Vanka meninggalkan Brayen yang termangu menatap punggung Vanka.


Brayen menyusul Vanka yang sedang berbaring di atas ranjangnya.


" Vanka maafkan atas ucapanku, aku benar benar tidak bermaksud menyinggung perasaanmu, aku hanya kasihan padamu Van." Ucap Brayen.


" Anak yang tidak aku harapkan saja aku pertahankan, apalagi anak yang aku dan Mas Bry nantikan kehadirannya selama ini." Sahut Vanka.


Hati Brayen mencelos mendengar ucapan Vanka. Sindiran Vanka pas mengenai hatinya. Tanpa mereka sadari kalau Rea melihat keduanya sedari tadi. Sadar akan situasi yang mulai memanas, Rea masuk ke dalam untuk menghilangkan ketegangan Brayen dan Vanka.


" Vanka kamu mau makan apa hari ini?" Tanya Rea menatap Vanka.


" Aku sedang tidak nafsu makan Re, aku mau tiduran aja." Sahut Vanka.


" Baiklah, ayo Mas kita keluar, biarkan Vanka istirahat." Ucap Rea menatap Brayen.

__ADS_1


" Baiklah ayo." Sahut Brayen.


" Aku keluar ya Van, kalau ada apa apa panggil aku atau Mas Dirga." Ucap Rea.


" Iya Re." Sahut Vanka.


Brayen dan Rea keluar kamar meninggalkan Vanka sendirian.


" Hiks... Hiks... Hiks..." Isak Vanka sedih.


" Mas Bry kapan kamu pulang? Aku sudah tidak tahan lagi menanggung kerinduan ini Mas, aku sangat tersiksa dengan keadaan ini, jauh darimu, anakmu yang begitu rewel hiks... Jangan sampai Dokter menyarankan seperti apa yang Kak Brayen sarankan kepadaku Mas, aku mohon segeralah sembuh dan pulang menemaniku di sini, aku yakin jika kehadiranmu di sisihku akan menjadi obat untukku, anakmu juga merindukaanmu Mas." Ujar Vanka sedih.


Bayangkan saja selama satu bulan lebih Vanka hidup jauh dari Bryan. Bahkan Bryan tidak bisa di hubungi. Terkadang Vanka berpikir sebenarnya Bryan sakit apa? Apa separah itu penyakitnya sehingga membuatnya tidak bisa di ganggu? Vanka benar benar merasa tidak bisa bertahan hidup lebih lama lagi.


" Sayang tetap kuat di dalam sini ya, apapun yang terjadi kepada Mama, Mama tidak akan membiarkan mereka melenyapkanmu, kamu tidak bersalah hanya kondisi fisik Mamalah yang tidak kuat." Ujar Vanka mengelus perutnya.


Di dalam kamar Brayen, Rea menarik tangan Brayen lalu mendudukkan Brayen di tepu ranjang. Ia menatap Brayen dengan tatapan nyalang.


" Kenapa sayang?" Tanya Brayen tanpa rasa bersalah.


" Kenapa kamu ngomong seperti itu kepada Vanka?" Tanya Rea.


" Ngomong soal apa sayang?" Tanya Brayen memastikan.


" Dua kali kau meminta Vanka untuk menggu***kan kandungannya, apa kamu masih waras Mas? Tidak ada seorang ibu yang mau kehilangan anaknya Mas? Apapun keadaannya, bagaimanapun kondisinya, yang namanya seorang ibu pasti akan melindungi anaknya Mas." Ucap Rea geram.


" Sayang dengarkan aku, aku menyarankan itu demi keselamatan Vanka sayang, kondisinya semakin memburuk setiap harinya, aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada Vanka jika kehamilannya semakin membesar." Ujar Brayen.


" Kenapa kamu peduli? Bahkan aku yakin Vanka pasti akan memilih mati bersama bayinya dari pada dia harus melenyapkan bayinya Mas, sadarlah dan lihatlah dari sudut pandang seorang ibu." Ucap Rea.


" Tapi...


" Stop... Stop sampai di sini, jangan lagi kamu membahas soal itu apalagi kepada Vanka, kamu hanya menambah beban pikirannya saja Mas dan ingat kau tidak berhak atas diri Vanka dan bayinya, tugasmu hanya mengurusnya di sini bukan mengaturnya." Ucap Rea.


" Ah baiklah." Sahut Brayen.


" Minta maaf kepada Vanka, kita harus selalu memberinya support bukan malah membuatnya semakin down seperti ini." Ucap Rea.


" Kau benar sayang, aku tidak berpikir sampai ke situ, aku hanya mengikuti naluriku sebagai kakaknya saja yang merasa kasihan melihat kondisi Vanka seperti ini." Ujar Brayen.

__ADS_1


" Tidak apa Mas yang penting kamu harus meminta maaf padanya." Sahut Rea.


" Baiklah aku akan ke sana." Ujar Brayen.


Brayen keluar kamarnya. Ia membuka pintu kamar Bryan. Ia menatap Vanka yang sedang duduk termenung di atas ranjang. Ia menghampiri Vanka dengan langkah pelan.


" Vanka." Ucap Brayen menyentuh pundak Vanka. Vanka menatap ke arahnya.


" Aku ingin meminta maaf padamu karena telah berbicara yang tidak tidak padamu, lupakan tentang ucapanku tadi ya, aku akan mendukungmu untuk tetap mempertahankan bayimu." Ucap Brayen lembut.


Air mata menetes pada wajah Vanka.


" Hei kamu menangis? Maafkan aku." Ucap Brayen menarik Vanka ke dalam pelukannya.


" Maafkan aku Van, aku tidak bermaksud membuatmu sedih, ku mohon maafkan aku dan lupakan ucapanku ya." Ujar Brayen mengelus punggung Vanka.


" Hiks... Kak... Aku begitu merindukan Mas Bryan, aku ingin bersamanya, aku ingin dia mendampingiku saat ini Kak, sepertinya aku tida bisa bertahan hidup lebih lama lagi." Isak Vanka.


" Sttt jangan katakan hal itu, Bryan pasti akan segera pulang, kamu yang sabar ya, semua ini demi kebahagiaan kalian kan? Bryan pasti sembuh dan kamu juga pasti bisa sehat seperti sedia kala, tetap semangat dan harus optimis ya, kamu bisa menjalani semua ini, ada aku dan Rea di sini." Ujar Brayen.


" Sampai kapan Kak aku menanti Mas Bryan?Sebenarnya Mas Bryan sakit apa Kak? Kenapa pengobatannya lama sekali?" Tanya Vanka.


" Ada semacam cairan pada paru paru dan jantungnya, Bryan tidak mau operasi jadi Bryan menjalani semacam theraphi untuk mengelurkan cairan itu Vanka, Bryan begitu bersemangat untuk sembuh, itu sebabnya dia tidak bisa di ganggu, bersabarlah sebentar lagi Bryan akan pulang." Terang Brayen.


" Kenapa tidak therapi di sini saja Kak? Kenapa harus di luar negeri?" Tanya Vanka.


" Therapis yang menangani Bryan teman Papa, dia sudah terkenal hebat di seluruh dunia, itulah sebabnya Papa memilihnya, sekarang istirahatlah jangan banyak pikiran, itu tidak baik untuk kesehatanmu dan juga bayimu." Ucap Brayen.


" Iya Kak terima kasih, aku juga minta maaf karena telah berlaku kasar kepadamu." Ucap Vanka.


" Bukan salahmu, aku lah yang salah di sini." Sahut Brayen menyelimuti tubuh Vanka.


" Tidurlah, aku akan kemari saat makan siang nanti." Ucap Brayen di balas anggukan kepala oleh Vanka.


**TBC.....


Jangan lupa like koment vote dan hadiahnya ya..


Terima kasih untuk readers yang selalu mensuport author...

__ADS_1


Semoga sehat selalu....


Misa u All**...


__ADS_2