
Saat Brayen membuka pintu tiba tiba...
Huek... Huek... Huek....
Brayen menatap Rea, untuk sesaat keduanya saling melempar pandangan.
" Vanka." Ucap Brayen bergegas masuk ke dalam.
" Vanka." Panggil Brayen menghampiri Vanka di dalam kamar mandi.
" Astaga Vanka kamu kenapa lagi?" Tanya Brayen memijat tengkuk Vanka dengan pelan.
Rea menatap Vanka dengan iba. Tubuh kurus dan terlihat lemas sekali.
" Kak aku nggak kuat lagi." Lirih Vanka limbung.
" Vanka." Ucap Brayen menopang tubuh Vanka.
" Kamu harus kuat Van, demi Bryan dan calon anakmu, jagalah kesadaranmu." Ujar Brayen menggendong Vanka ala bridal style.
" Sayang tolong tata bantalnya." Ucap Brayen kepada Rea.
Rea menata bantal di atas ranjang lalu Brayen merebahkan tubuh Vanka di atas ranjang dengan pelan.
" Sekarang istirahatlah! Aku dan Rea akan menemanimu di sini." Ujar Brayen.
" Maafkan aku telah merepotkan kalian." Ucap Vanka menatap Rea dan Brayen bergantian.
" Jangan pikirkan itu Rea, fokuslah pada kesehatanmu ya." Ujar Rea mengelus tangan Vanka.
" Makasih Re." Ucap Vanka yang di balas senyuman oleh Rea.
" Kak aku ingin menyusul Mas Bryan." Ucap Vanka.
" Sehatkan dulu badanmu, baru boleh menyusul." Ujar Brayen.
" Benarkah Kak Bray mengijinkannya?"Tanya Vanka.
" Kalau kamu sudah benar benar sehat dan Bry belum pulang, aku yang akan mengantarmu menyusul Bryan." Ucap Brayen.
" Janji ya Kak." Ujar Vanka.
" Aku janji." Sahut Brayen.
Brayen menatap ke arah Rea dan memberinya kode lewat matanya. Rea paham akan kode yang di berikan oleh Brayen.
" Kamu ingin cepat sehat kan?" Tanya Brayen di balas anggukan kepala oleh Vanka.
" Kalau begitu kamu harus makan dulu." Ucap Rea.
" Aku nggak mau makan Re, nanti pasti mual lagi." Ujar Vanka.
" Ya kalau begitu kamu nggak akan sembuh sembuh dan kamu nggak akan menyusul Bry sampai Bry pulang sendiri." Ucap Brayen.
Vanka terdiam, Ia nampak sedang memikirkan sesuatu.
" Gimana mau makan?" Tanya Brayen.
" Ya udah deh Kak, tapi suapi ya." Sahut Vanka.
__ADS_1
Brayen memandang Rea yang di balas anggukan kepala oleh Rea.
" Baiklah aku ambil makanan dulu di bawah, kamu di temani Rea dulu ya." Ucap Brayen.
" Iya Kak." Sahut Vanka.
" Aku ke bawah dulu Yank." Ucap Brayen mengusap kepala Rea.
" Iya Mas." Sahut Rea.
Brayen keluar dari kamar Vanka. Rea menatap Vanka. Vanka yang di tatap seperti itu merasa sedikit tidak enak.
" Apa kamu marah karena Kak Brayen merawatku?" Tanya Vanka.
" Ya aku marah." Sahut Rea.
Deg...
Jantung Vanka berdegup dengan kencang. Rea tersenyum menatap wajah Vanka yang terlihat gelisah.
" Hei jangan takut begitu, aku hanya bercanda." Kekeh Rea.
" Kau membuat jantungku hampir copot Re." Ucap Vanka.
" Awalnya aku memang marah sebelum aku mengerti keadaanmu, aku sempat berpikir kalau Mas Dirga lebih peduli padamu dari pada aku, tapi setelah Mas Dirga menjelaskan semuanya aku jadi menyadari kalau ternyata aku hanya salah paham saja." Terang Rea.
" Aku turut prihatin ya atas apa yang menimpamu saat ini, aku doakan semoga kamu dan Kak Bryan bisa segera pulih, kamu juga sehat sampai persalinan nanti, aku dan Mas Dirga akan menemanimu di sini sampai Papa dan Mama dan juga Kak Bryan pulang, kamu yang sabar ya, semua akan indah pada waktunya." Sambung Rea.
" Terima kasih atas doa dan dukunganmu Re, semoga kau juga selalu di limpahkan kesehatan, dan segera dapat momongan." Ucap Vanka.
" Amin." Sahut Rea.
" Kamu nggak perlu tahu Mas, ini masalah perempuan." Sahut Rea.
" Bisa aja kamu, oh ya kamu juga harus makan, sedari tadi kamu belum makan." Ucap Brayen.
" Atau mau aku suapi? Tapi gantian sama Vanka, tinggal mau siapa dulu yang mau aku suapi?" Tanya Brayen menatap Vanka dan Rea bergantian.
" Kamu suapi Vanka aja Mas, biar aku makan sendiri." Sahut Rea.
" Baiklah sayang, ini untukmu." Ucap Brayen memberikan sepiring makanan kepada Rea.
" Makasih Mas." Sahut Rea menerima piringnya.
" Kamu benerin posisi dudukmu dulu Van, biar enakan buat makan." Ujar Brayen.
" Iya Kak." Sahut Vanka.
Brayen membantu Vanka bersandar pada tumpukan bantal.
" Udah enakan?" Tanya Brayen.
" Udah Mas." Sahut Vanka.
" Di makan sayang makanannya, jangan cuma di lihatin doank." Ucap Brayen menatap Rea.
" Iya Mas." Sahut Rea menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.
" Sekarang tinggal aku suapi Vanka." Ucap Brayen duduk di tepi ranjang sambil memegang sepiring makanan lagi.
__ADS_1
" A' " Ucap Brayen menyodorkan sesendok makanan ke mulut Vanka.
Vanka mulai mengunyah makanan uang ada di dalam mulutnya. Tiba tiba Ia merasakan mual lagi, Vanka segera menutup mulutnya.
" Kenapa? Mual lagi?" Tanya Brayen menatap Vanka. Vanka menganggukkan kepalanya.
" Di lawan Vanka... Ayo coba kunyah dan di telan, kamu harus melawan rasa mual itu supaya ada asupan gizi ke dalam tubuhmu." Ujar Brayen.
" Kamu mau menyusul Bry kan?" Tanya Brayen yang di jawab anggukan kepala oleh Vanka.
" Sekarang kunyah makanannya pelan pelan, tidak usah di rasakan rasanya, lalu telan." Ujar Brayen.
Vanka mengikuti arahan Brayen dengan patuh. Ia mengunyah makanannya lalu segera menelannya.
" Pinter, sekarang a' lagi." Ujar Brayen menyuapi Vanka lagi.
Begitu seterusnya sampai makanan di piring Vanka habis.
" Mau minum?" Tanya Brayen.
" Iya Kak." Sahut Vanka.
Brayen memberikan segelas jus jeruk untuk mengurangi mual yang Vanka rasakan.
" Gimana? Nggak mual kan?" Tanya Brayen. Vanka menggelengkan kepalanya.
" Pinter... Sekarang aku urus dulu istriku yang satunya." Ucap Brayen membuat Vanka dan Rea melotot ke arahnya.
" Apa sayang?" Tanya Brayen menghampiri Rea.
" Bener kan? Aku seperti memiliki dua orang isti dan saat ini aku sedang mengurus mereka." Canda Brayen.
" Mas Dirga jangan bercanda ah, kasihan Vanka noh, wajahnya cemberut tidak terima." Ucap Rea.
" Enggak Van, aku cuma bercanda aja." Ujar Brayen.
" Nggak pa pa Kak, yang penting Rea tidak marah." Sahut Vanka.
" Enggaklah Van, aku percaya pada kalian kok." Ucap Rea.
" Makasih Re." Ucap Vanka.
" Sama sama." Sahut Rea.
" Sini aku suapi, dari tadi makan nggak habis habis." Ujar Brayen merebut piring di tangan Rea.
" Aku bisa sendiri Mas." Ucap Rea.
" Ya nggak pa pa Yank, biar terlihat romantis, ya nggak Van?" Tanya Brayen menoleh ke arah Vanka. Vanka hanya menganggukkan kepalanya.
Brayen menyuapi Rea dengan sesekali menggoda Rea. Alhasil eduanya makan bersama sambil sesekali tertawa bahagia. Vanka menatap bahagia ke arah pasangan tersebut.
" Aku jadi semakin merindukanmu Mas Bry, semiga kamu cepet sembuh biar kita bisa bersama lagi, aku kangen dengan candaan dan kasih sayang yang kamu berikan, cepat sembuh, cepat pulang, kami merindukanmu sayang." Gumam Vanka dalam hatinya.
TBC....
Jangan lupa like koment vote dan hadiahnya ya biar author semangat ngetiknya...
Terima kasih untuk readers yang sudah mensuport author semoga sehat selalu
__ADS_1
Miss U All.....