
Sesampainya di rumah sakit, Vanka segera di bawa ke ruang operasi karna ada pendarahan pada otaknya. Bryan berjalan mondar mandir di depan ruangan Oprasi sambil terus merapalkan doa untuk Vanka.
Terdengar langkah orang berlari menghampirinya, Bryan menoleh ke asal suara yang tak lain adalah Mama, Papa dan Brayen.
" Mama." Ucap Bryan memeluk Mamanya.
" Vanka Ma.... Hiks.... Vanka kritis Ma." Isak Bryan dalam pelukan Mamanya.
" Sabar sayang, kita berdoa saja semoga Vanka bisa terselamatkan." Ucap Mama Kia mengelus punggung Bryan. Bryan melepas pelukannya, Ia mengusap air matanya.
Brayen mendekatinya lalu....
Bugh... Bugh....
Brayen memukul wajah Bryan dengan penuh emosi.
" Kalau lo nggak bisa menjaga Vanka, kenapa nggak lo kembalikan Vanka ke gue brengsek." Bentak Brayen menarik kerah Bryan.
" Kalau sampai terjadi hal yang buruk kepada Vanka, gue akan bunuh lo." Bentak Brayen.
" Bray cukup, di di rumah sakit." Ucap Mama Kia memisahkan mereka.
" Ini bukan saatnya untuk bertarung atau saling menyalahkan, kita harus bersatu mensuport Bry dan Vanka." Sambung Mama Kia.
Tubuh Bryan luruh ke lantai. Ia menyesal karna tidak bisa menjaga Vanka dengan baik. Brayen benar, saat Vanka bersama Brayen selama satu tahun, Vanka baik baik saja. Tapi baru beberpaa bulan bersamanya, Vanka sudah mengalami kejadian naas seperti ini.
" Hiks.... Hiks.... Vanka sayang, maafin Mas yang tidak bisa menjagamu, Mas mohon bertahanlah sayang, Mas tidak bisa hidup tanpamu." Isak Bryan menarik kasar rambutnya.
Bryan benar benar terpuruk. Melihat kondisi Vanka, Bryan benar benar kehilangan semangat hidupnya. Jiwanya seolah hilang entah kemana.
" Bry sekarang ganti bajumu dulu, noda darah dalam bajumu hampur mengering." Ujar Mama Kia memberikan paper bag kepada Bryan.
" Nanti saja Ma, aku mau menunggu Dokter selesai melakukan oprasinya, aku mau tahu keadaan istriku Ma." Sahut Bryan.
" Kamu akan menjadi orang pertama yang mengetahui keadaan Vanka Nak, Mama akan mencegah Dokter mengatakannya kepada kami." Ujar Mama Kia paham maksud Bryan.
" Benarkah?" Tanya Bryan menatap Mama Kia.
" Benar sayang, segeralah ganti bajumu dan cuci mukamu biar lebih fresh." Ucap Mama Kia.
" Baiklah Ma." Sahut Bryan.
Bryan berjalan gontai menuju kamar mandi terdekat. Ia mengganti baju dan celananya serta mencuci mukanya. Kini Bryan terlihat lebih fresh dari sebelumnya.
Bryan kembali ke depan ruang operasi.Ia duduk di samping Mama Kia di kursi tunggu. Pikirannya melayang entah kemana.
" Tuan Bryan." Panggil orang suruhan Bryan menghampirinya.
Bryan mendongak menatap ke arah Fadlan.
" Apa yang kau dapatkan?" Tanya Bryan.
__ADS_1
" Ini rekaman cctv di depan restoran tadi Tuan, ternyata mobil itu telah mengincar Nona Vanka." Sahut Fadlan.
" Apa." Pekik Bryan.
Mama Kia, Papa Indra dan Brayen melongo karna terkejut dengan ucapan Fadlan.
" Siapa yang sudah berani melakukan ini pada menantuku Fadlan?" Tanya Papa Indra menatap Fadlan.
" Nona Sherly Tuan." Sahut Fadlan.
Jeduar....
Bagai di sambar petir di siang bolong. Tangan Bryan mengepal erat menahan emosinya. Ia menghampiri Brayen lalu....
Bugh.... Bugh...
" Bry." Teriak Mama Kia.
" Lo yang harus bertanggung jawab atas semua ini brengsek." Bentak Bryan menatap rajam Brayen.
Bugh.. Bugh...
Bryan kembali memukuli Brayen membabi buta membuat Brayen muntah darah.
" Bryan tahan emosimu Nak." Ucap Papa Indra.
" Bryan sudah sayang, Brayen bisa mati Nak hiks..." Ucap Mama Kia menangis karna melihat tubuh Brayen yang sudah tidak berdaya.
" Seharusnya dari awal aku sudah melenyapkannya." Sambung Bryan.
" Bryan." Bentak Mama Kia.
Plak.....
Tamparan keras mendarat ke pipi Bryan dari Mamanya.
" Mama menamparku?" Lirih Bryan.
" Maafkan Mama sayang, Mama tidak bermaksud menyakitimu tapi Mama tidak menyukai ucapanmu hiks...." Isak Mama Kia menyesali perbuatannya.
Selama ini Mama Kia tidak pernah menampar Bryan sekalipun. Tapi hari Ia mengotori tangannya dengan menampar Bryan.
" Apa Mama tahu apa yang Bray lakukan kepada kami Ma?" Tanya Bryan dengan air mata berurai.
" Apapun yang dia lakukan tidak seharusnya kamu berniat melenyapkannya Bry, Mama tida mau mempunyai anak seorang pembunuh hiks.." Mama Kia mengusap air matanya.
" Kalian bersaudara, dulu kalian saling menyayangi tetapi kenapa sekarang kalian saling menyakiti." Ujar Mama Kia.
" Bray yang memulainya Ma, Bray membawa Sherly kemari untuk menghancurkan hubunganku dengan Vanka." Ucap Bryan membuat semua orang menatap ke arahnya.
" Tadi siang Sherly menemuiku dan mencoba membuat kerenggangan di antara aku dan Vanka Ma, Vanka memergoki kami saat Sherly sedang membicarakan omong kospng tentang hubungan kami, aku bersyukur karena Vanka percaya kepadaku, dan saat kami mau pulang tiba tiba mobil Sherly menabrak Vanka Ma." Terang Bryan kembali meneteskan air matanya.
__ADS_1
" Kamu salah paham Bry." Ucap Brayen sambil memegangi perutnya.
" Aku memang menyuruh Sherly untuk membujukmu menerima cintanya, tapi aku tidak tahu kalau Sherly akan melakukan semua ini, aku akan membuat perhitungan kepada Sherly." Sambung Brayen.
Mama Kia mendekati Brayen. Ia berjongkok di depan Brayen dan..
Plak....
Kali ini Mama Kia menampar pipi Brayen.
" Sudah puas kamu menghancurkan keluarga kita hah! Sudah puas kamu merenggut kebahagiaan adikmu sendiri." Teriak Mama Kia sambil menangis.
" Aku tidak percaya kalau ternyata aku melahirkan seorang ibl** sepertimu." Bentak Mama Kia.
" Ma tolong jangan katakan itu... Hiks... Maafkan aku, aku salah Ma." Isak Brayen.
" Aku tidak sudi lagi menganggapmu sebagai putraku, dari kecil kau selalu membuat masalah dan Bry yang selalu menyelesaikannya, bahkan sampai kamu dewasa, sampai saat Vanka datang meminta pertanggung jawaban darimu Bray....." Ujar Mama Kia sedih.
" Saat adikmu dan istrinya bahagia, lalu kenapa kau selalu membawa masalah dalam hubungan mereka, tidak bisakah kau membalas kebaikan adikmu selama ini dengan membiarkan mereka bahagia? Hiks...." Mama Kia kembali menangis.
" Kapan kamu akan menyadari kesalahanmu Bray?..... Apa kamu tidak sadar kalau kamu tidak pantas menjadi suami dari wanita manapun? Apalagi wanita sebaik Vanka, kau tidak pantas untuknya Bray, kau tidak pantas untuknya." Teriak Mama Kia. Ucapan Mama Kia menohok hati Brayen.
" Demi nyawa Mama, apakah kau mau berjanji kepadaku?" Tanya Mama Kia menatap Bray yang menganggukkan kepalanya.
" Setelah Vanka sadar nanti, kau harus pergi sejauh mungkin dari keluarga ini." Ucap Mama Kia memejamkan matanya.
Jeduar......
Tubuh Brayen kaku terasa seperti terkubur dalam salju. Ia menatap tak percaya kearah Mamanya yang sedang menatapnya dengan deraian air mata di pipinya.
" Bagaimana Mama bisa meminta itu dariku? Apa Mama sudah tidak menganggapku sebagai putramu lagi?" Tanya Brayen sedih.
Mama Kia mengehela nafasnya, Ia memejamkan matanya menahan sakit yang Ia rasakan di dadanya.
" Demi kebaikan kita bersama, pergilah sesuka hatimu, Mama dan Papa juga akan pergi dari rumah itu, biarkan Bry bahagia bersama Vanka tanpa adanya gangguan dari manusia sepertimu." Sahut Mama Kia.
" Baiklah Ma.... Aku berjanji padamu tapi bukan demi nyawamu melainkan demi nyawaku sendiri, jika Vanka sudah sadar nanti, aku akan pergi meninggalkan kalian semua" Sahut Brayen sambil menangis.
Huaaaa..... ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜
Sampai di sini dulu ya...
Author tidak kuat nulisnya....
Jangan lupa like dan koment di setiap babnya...
Miss U All....
Selamat malam dan semoga mimpi indah....
TBC ......
__ADS_1