Pria Cacat Itu Suamiku

Pria Cacat Itu Suamiku
17. Cobaan Bryan


__ADS_3

Sudah sebulan Vanka dalam keadaan koma. Bryan selalu setia menunggunya, Bryan selalu mengajaknya bicara untuk merangsang kesadaran Vanka. Bryan benar benar terpuruk melihat kondisi istri tercintanya.


" Sayang sudah sebulan kamu tidur seperti ini, apa mimpimu begitu indah sehingga kamu tidak mau bangun? Mas kangen banget sama kamu sayang, Mas kangen senyum indahmu, Mas kangen semuanya yang ada pada dirimu." Ucap Bryan mengusap air matanya.


" Apa kamu tahu? Hari pernikahan kita bahkan sudah lewat, apa kamu tidak mau menjadi istri Mas yang sah secara hukum dan agama? Bangunlah sayang, Mas janji jika kamu sadar Mas akan segera menikahimu lagi, tapi Mas mohon bangunlah sayang, sadarlah demi Mas yang selalu mencintaimu hiks..." Isak Bryan.


Bryan menciumi kening Vanka dengan air mata berurai. Ia tidak tahan melihat istrinya yang hanya diam tidak berdaya.


" Ternyata kamu sangat keras kepala sayang, baiklah Mas akan memberikan waktu sebanyak yang kamu mau, Mas akan menunggu sampai kamu bosan tertidur seperti ini." Ujar Bryan.


Bryan memeluk tubuh Vanka dan sesekali Ia mencium pipi Vanka. Air mata Bryan menetes tepat di mata Vanka. Tak berapa lama Vanka menggerakkan jarinya. Bryan menatap jari jemari Vanka untuk memastikan jika yang Ia lihat adalah nyata.


" Sayang kamu menggerakkan jarimu?" Ucap Bryan senang.


" Perlahan bukalah matamu sayang, sebut namaku, Mas Bryan." Ujar Bryan.


Bibir Vanka bergetar seolah hendak membuka kata pertamanya. Bryan terus menatap bibir Vanka berharap Vanka bisa menyebut namanya.


" Ma....s... Bray..."


Jeduarrrrr


Dunia Bryan seolah runtuh mendengar kata pertama yang Vanka ucapkan. Dadanya terasa sesak bagaikan terhimpit bebatuan besar. Pikiran buruk bersarang di kepalanya. Bagaimana kalau Vanka melupakannya? Bagaimana kalau Vanka hanya mengingat Brayen saja? Jantung Bryan berdegup kencang, Ia tidak siap menerima kenyataan itu.


Perlahan Vanka membuka matanya.


" Mas Bray." Lirih Vanka.


Bryan menatap Vanka dengan air mata menggenang di pelupuk matanya.


" Mas Bray, haus." Ucap Vanka.


Tes.....


Air mata menetes di pipi Bryan. Ia segera mengusap air matanya lalu mengambil minum untuk Vanka.


" Minumlah sayang." Ujar Bryan membantu Vanka minum.


Vanka minum dengan sedotan yang di berikan Bryan kepadanya.


" Kamu siapa?" Tanya Vanka selesai minum.


Jeduar.....


Lagi lagi tubuh Bryan bagai di sambar petir. Ia menahan air matanya tapi justru air mata sialan terus menetes membasahi pipinya.


" Aku Bryan suamimu, kamu tidak mengingatku?" Tanya Bryan menatap Vanka. Vanka hanya menggelengkan kepalanya saja.


" Mas panggil Dokter dulu." Ucap Bryan mengusap kasar air matanya.


Bryan berjalan menuju ruangan Dokter yang menangani Vanka. Dokter Andreas namanya. Dokter spesialis syaraf yang profesional.

__ADS_1


Tok tok


Bryan mengetuk pintu, terdengar sahutan dari dalam. Bryan membuka pintu lalu masuk ke dalam ruangan Dokter Andreas.


" Dok istriku sudah sadar, tapi apa yang tejadi dengannya Dok? Istriku tidak mengenalku Dok, dia melupakan aku." Ucap Bryan kembali meneteskan air matanya.


" Hiks.... Hiks... Rasanya sakit Dok." Isak Bryan.


" Tenanglah Tuan Bryan, memang kalau di lihat dari kondisi Nona Devanka ada kemungkinan dia hilang ingatan, atau istilah medisnya amnesia, mungkin itu yang di alami oleh Nona Devanka saat ini, kami ikut prihatin." Terang Dokter Andreas.


" Saya akan memeriksanya dan memastikan apakah amnesia ini permanen atau hanya sementara saja, berdoalah semoga amnesia yang di alami Nona Devanka hanya sementara saja Tuan, jika benar seperti itu masih ada harapan untuk Nona Devanka mengingat anda sebagai suaminya Tuan." Sambung Dokter Andreas.


" Lalu bagaimana kalau ternyata amnesianya permanen Dok? Dia hanya mengingat Brayen bukan aku." Ujar Bryan.


" Yakinlah pada kekuatan cinta sejati Tuan, jika anda benar benar tulus mencintai Nona Devanka, walaupun Nona Devanka melupakan anda tapi hatinya akan berlabuh pada anda Tuan, optimis dan selalu berdoa, saya yakin Nona Devanka akan memilih cinta anda." Ucap Dokter Andreas.


" Semoga Dok." Sahut Bryan.


" Apa anda tahu antara hubungan suami istri terjalin naluri yang begitu kuat? Hubungan pernikahan anda dengan Nona Devanka mampu menarik hati Nona Devanka ke arah anda Tuan, semua hanya butuh waktu Tuan." Ujar Dokter Andreas.


Mendengar pencerahan dari Dokter Andreas, hati Bryan sedikit tenang.


"Mas yakin lambat laun kau akan mengingat Mas sayang, Mas akan selalu bersabar menanti waktu itu tiba." Gumam Bryan dalam hatinya.


" Sekarang saya akan memeriksa Nona Devanka terlebih dahulu, mari Tuan kita ke ruangan Nona Devanka." Ucap Dokter Andreas.


" Iya Dok." Sahut Bryan.


Bryan dan Dokter Andreas berjalan menuju ruang rawat Vanka. Bryan membuka pintunya dan.....


Jantungnya kembali terasa berhenti berdetak saat Ia melihat Vanka yang sedang tersenyum senyum mendengar ocehan Brayen. Ya saat Bryan ke ruangan Dokter Andreas, Brayen datang menjenguk Vanka. Dan alangkah terkejutnya Brayen kala melihat Vanka sudah sadar dan memanggil namanya.


Brayen menoleh ke arah pintu menatap Bryan yang mematung di sana.


" Sini Bry." Ucap Brayen.


Bryan menatap Dokter Andreas yang di balas anggukan kepala oleh Dokter Andreas.


Bryan menghampiri ranjang Vanka di ikuti Dokter Andreas dari belakang.


" Selamat pagi Nona Devanka, saya Dokter Andreas yang akan memeriksa anda." Ucap Dokter Andreas. Vanka menganggukkan kepalanya.


Vanka menatap Bryan yang sedang menatapnya. Ada desiran dalam hatinya tapi entah apa arti dari semua itu, Ia sendiri tidak tahu.


Dokter Andreas memeriksa organ vital Vanka yang hasil semuanya normal.


" Nona bolehkah saya menanyakan sesuatu?" Tanya Dokter Andreas. Vanka menoleh ke arah Dokter Andreas sambil menganggukkan kepalanya.


" Siapa nama anda Nona?" Tanya Dokter Andreas.


" Devanka Rosalina." Sahut Vanka benar.

__ADS_1


" Siapa pria yang berada di samping anda?" Tanya Dokter Andreas menunjuk Brayen.


" Mas Brayen Permana, suami saya."


Jeduar......


Bagai ledakan granat yang tepat mengenai jantung Bryan, lagi lagi air mata menetes di pipi Bryan.


" Lalu apa anda mengenal pria ini?" Tanya Dokter Andreas menyentuh pundak Bryan.


" Maaf saya tidak mengenalnya." Sahut Vanka menggelengkan kepalanya.


" Mas Bray, siapa dia? Kenapa wajahnya mirip sekali denganmu? Bahkan aku sulit membedakan kamu dengannya, tapi aku tetap bisa membedakannya sih." Ujar Vanka menatap Brayen.


" Dia Bryan kembaranku, dan sebenarnya dia suamimu." Sahut Brayen.


" Su.... Suamiku? Bukankah kamu yang menjadi suamiku?" Tanya Vanka mengingat ingat semuanya.


Bayangan pernikahan melintas di kepalanya denga pria yang.... yang..... entah mengapa bayangan pria itu terasa kabur hingga Vanka tidak mampu melihatnya dengan jelas.


" Argh...." Teriak Vanka memegangi kepalanya.


" Sayang kamu kenapa?" Tanya Bryan cemas menyentuh pundak Vanka.


" Minggir... Lepas! Aku tidak mengenalmu." Teriak Vanka membuat Bryan menjauh darinya.


" Argh sakit Dok." Keluh Vanka.


" Tenanglah Nona Vanka, jangan memaksa untuk mengingat semuanya, tenanglah." Ucap Dokter Andreas menenangkan Vanka.


Vanka sedikit tenang. Ia mulai menjauhkan tangannya dari kepalanya.


" Tuan Bryan dan Tuan Brayen, saya perlu bicara dengan anda berdua, ikutlah ke ruangan saya. Ucap Dokter Andreas.


" Baik Dok." Sahut keduanya.


" Kami permisi dulu Nona, anda istirahat saja." Ucap Dokter Andreas. Vanka menganggukkan kepalanya.


Ketiganya berjalan menuju pintu keluar.


" Mas Bray jangan lama lama." Ucap Vanka menghentikan langkah ketiganya.


Brayen menoleh ke arah Vanka sambil tersenyum. Lalu mereka meninggalkan Vanka sendiri di dalam ruangannya.


Gimana? Sedih nggak sih?


Author kok sedih banget ya?


Jangan lupa like dan komentarnya ya....


Terima kasih untuk readers yang selalu mensuport author semoga sehat selalu....

__ADS_1


Miss U All....


TBC.....


__ADS_2