
Dokter sedang memeriksa keadaan Dimas saat ini, Candra setia menunggu hasil pemeriksaan yang di lakukan oleh Dokter.
" Gimana keadaannya Dok?" Tanya Candra.
" Tidak ada perkembangan sama sekali." Jawab Dokter sambil menggelengkan kepalanya.
" Apa maksud Dokter?" Selidik Candra.
" Harapan pasien sadar sangatlah tipis Tuan, Karna pasien sama sekali tidak merespon rangsangan yang di berikan, Kondisi seperti ini biasanya terjadi bila ada seseorang yang sedang di tunggunya, Mungkin kekasih atau orang yang di cintainya, Jika ada bawalah orang itu ke hadapannya." Ujar Dokter.
" Seseorang yang di cintainya?" Gumam Candra sambil berpikir siapa seseorang itu?
" Kiki.... Ya pasti orang itu Kiki." Ucap Candra.
" Bawalah dia kemari Tuan, Suruh dia mengajak ngobrol pasien sebagai rangsangan untuk membuatnya sadar, Walau sedikit respon tetap dapat membantu pemulihannya." Saran Dokter.
" Baiklah Dok saya akan mencoba membawa dia kemari." Sahut Candra
" Baiklah kalau begitu saya permisi." Pamit Dokter.
Setelah kepergian Dokter, Candra berpikir tentang bagaimana caranya mengajak Kiki kemari? Setelah apa yang Ia perbuat pada keluarganya. Tapi Candra harus meminta bantuannya, Ia tidak mau kehilangan sepupu yang selama ini banyak membantunya.
Sedangkan di dalam ruang rawat Kia, Rey masih membujuk Kia agar memaafkan Indra dan tidak meninggalkannya.
" Apa kamu tahu kenapa Gea melakukan itu?" Tanya Rey menatap Kia.
" Untuk merebut Indra dariku." Jawab Kia.
" Kau benar tetapi ada alasan yang lain, Ada seseorang yang memanfaatkannya." Ucap Rey.
" Maksudnya?" Kia menatap Rey dengan tatapan menyelidik.
" Ada seseorang yang ingin balas dendam kepada Indra dengan membuatmu meninggalkannya, Dengan begitu Indra akan hancur bukan? Makanya dia memanfaatkan Gea sebagai pionnya." Jelas Rey.
" Siapa orang itu?" Tanya Kia.
" Candra Angkasa." Sahut Rey.
" Angkasa? Apa itu keluarga Dimas Angkasa?" Tanya Kia.
" Ya... Sepupu dari Dimas Angkasa." Jawab Rey.
" Kenapa dia ingin balas dendam kepada Indra? Apa karna masalah Indra mengambil alih perusahaannya?" Kia menatap ke arah Rey meminta jawaban.
" Salah satunya, Dia balas dendam karna menurutnya Indralah yang harus bertanggung jawab atas keadaan Dimas saat ini." Ucap Rey.
" Memang kenapa dengan Dimas Bang? Bukankah dia sudah pergi dari kota ini? Katakan yang jelas jangan membuatku semakin bingung." Keluh Kia.
" Malam sebelum kepergian Dimas dia jatuh dari atas balkon kamarnya." Sahut Rey.
" Apa?..." Kia membulatkan matanya dengan mulut menganga. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.
" Lalu bagaimana keadaannya sekarang?" Tanya Kia.
" Kau mencemaskannya?" Tanya Rey.
" Sedikit.." Sahut Kia.
" Saat ini Dimas dalam kondisi koma, Harapan untuk dia sadar sangat tipis, Itu sebabnya Candra mengirim Gea untuk membalas dendamnya dengan membuatmu meninggalkan Indra agar Indra merasakan bagaimana rasanya di tinggal orang yang dia sayang." Jelas Rey menghela nafasnya.
" Ya Tuhan... Tapi sekarang Indra sudah merasakan kehilangan bukan? Aku jadi merasa kasihan kepadanya, Apa yang harus aku lakukan?" Tanya Kia.
__ADS_1
" Kasihan sama siapa? Dimas atau Indra?" Tanya Rey.
" Dua duanya." Sahut Kia.
" Kalau kasihan sama Indra makanya jangan pernah kamu meninggalkannya, Kalau Dimas tidak perlu di kasihani." Ucap Rey.
" Entah lah Bang aku merasa kasihan aja sama Dimas, Terakhir kami ketemu kami dalam keadaan baik, Dan yang membuatku kehilangan anakku kan karna rencana si Candra, Dimas tidak tahu apa apa." Ujar Kia.
" Kaya'nya kelembutan hatimu sudah kembali lagi, Kamu memang wanita luar biasa." Puji Rey.
" Aku sendiri juga tidak mengerti dengan hatiku Bang, Entah mengapa aku tidak bisa membenci orang walaupun sudah tersakiti." Ujar Kia.
" Berarti kamu nggak benci kan sama Indra?" Tanya Rey.
" Kalau benci enggak Bang cuma lagi kesel aja, Gara gara dia aku kehilangan calon anakku." Keluh Kia.
" Dia tidak sengaja Ki, Dia juga kehilangan sama kaya' kamu, Jadi kamu sudah berubah pikiran kan?" Kia menatap Rey.
" Berubah pikiran gimana?" Tanya Kia.
" Ya nggak jadi minta cerai sama Indra." Ucap Rey.
" Aku sudah memutuskan kalau aku tidak jadi menceraikannya Bang, Aku tidak tega jika harus melihatnya terpuruk seperti dulu lagi, Bagaimanapun dia suamiku jadi aku harus menerima semua sikap baik dan buruknya dia,Tapi aku akan memberi sedikit pelajaran kepadanya agar dia tidak mengulangi kesalahannya." Ujar Kia setelah memikirkan matang matang tentang keputusannya.
" Aku tahu kamu wanita yang baik, Jadi kamu pasti tidak akan mengambil keputusan yang salah." Sahut Rey.
" Hmm.. Cin ngomong kek dari tadi diem aja, Malu sama Bang Rey?" Kia menatap ke arah Cindy.
" Aku takut salah ngomong jadi lebih baik aku diem aja kan, Tapi perlu kamu ketahui Ki, Aku salut dengan kebaikan hatimu ajari aku supaya aku bisa memiliki hati yang baik sepertimu." Sahut Cindy yang sedari tadi hanya menjadi pendengar setia saja.
" Makasih atas pujiannya kalau soal mengajarimu, Aku tidak bisa karna semua terjadi secara ilmiah dari dalam hati kita sendiri." Ujar Kia.
Ketiga orang dalam ruangan menoleh ke arah pintu secara bersamaan.
" Siapa?" Tanya Kia menatap Rey. Rey hanya mengedikkan bahu saja.
" Sebentar aku buka." Ucap Cindy. Ia membuka pintunya.
" Maaf mau cari siapa ya?" Tanya Cindy
" Saya mau cari Kiki." Jawab Candra.
" Kiki?" Cindy mengerutkan keningnya.
" Maksud saya Zaskia." Ucap Candra.
" Oh... Silahkan masuk." Cindy mempersilahkan Candra masuk ke ruangan.
" Ki ada yang nyariin kamu." Ucap Cindy.
Kia menatap ke arah Candra yang sedang berdiri di samping Cindy. Kia menoleh ke arah Rey seolah bertanya dia siapa?.
" Tuan Candra Angkasa... Ada keperluan apa anda sampai di sini?" Tanya Rey.
"Oh jadi ini yang namanya Candra, Mau apa dia kemari?" Batin Kia.
" Iya Tuan Reyhan, Saya ada perlu dengan Nona Kiki." Jawab Candra. Reyhan memutar bola matanya malas mendengar panggilan Kiki.
" Ada perlu apa anda dengan saya?" Tanya Kia yang masih duduk di atas ranjang.
Candra menatap dalam ke arah Kia, Kulit putih bersih, Wajah cantik dan imut dengan bibir tipis membuatnya terpesona.
__ADS_1
"Cantik sekali...Pantas saja Dimas sampai tergila gila padanya." Gumam Candra dalam hati.
" Ehm ehm." Dehem Rey.
" Eh... Nona Kiki."
" Kia saja." Ucap Kia memotong ucapan Candra.
" Eh iya Nona Kia, Maksud kedatangan saya ke sini untuk meminta maaf kepada anda tentang semua kesalahan yang saya lakukan." Candra menghela nafasnya, Sejujurnya Ia malu untuk mengatakan semua ini tapi demi sepupunya Ia harus berani melakukannya.
" Selain itu saya mau meminta bantuan anda Nona." Ucap Candra.
" Bantuan apa?" Tanya Kia.
" Saya yakin anda sudah mengetahui keadaan Dimas saat ini, Saya mohon bantulah saya membuatnya sadar dari komanya, Untuk itu saya mohon temuilah Dimas dan ajaklah dia berbicara, Karna saya yakin jika anda yang mengajakknya berbicara pasti Dimas mau meresponnya." Jelas Candra.
" Atas dasar apa saya harus membantu anda Tuan Candra Angkasa?" Ketus Kia.
" Bushet.. ternyata dingin juga sikapnya." Batin Candra.
" Atas.... Atas... Atas dasar perikemanusiaan." Jawab Candra asal.
" Perikemanusiaan..." Sinis Kia.
" Apakah anda pikir saya akan membantu orang yang telah menyebabkan saya kehilangan calon bayi saya? Bukankah memang seharusnya nyawa di bayar dengan nyawa?." Ketus Kia.
" Apa maksud anda Nona?" Selidik Candra.
" Nyawa anak saya di tebus dengan nyawa Dimas sepupu anda." Ketus Kia.
Deg.... Jantung Candra terasa berhenti berdetak.. Tidak dia tidak mau kehilangan nyawa sepupunya.
" Saya mohon jangan lakukan itu Nona, Dimas tidak bersalah dalam hal ini, Jika kau mau menghukum maka hukumlah aku, Jangan menghukum Dimas." Ucap Candra mengatupkan kedua tangannya.
" Hukumanmu melihat Dimas tiada sama sepertiku melihat calon bayiku tiada." Sahut Kia.
" Itu semua di luar rencanaku Nona, Indra sendiri yang mendorong anda bukan? Aku hanya ingin membuatmu meninggalkan Indra saja bukan membuatmu kehilangan anakmu." Ujar Candra.
" Yah kau memang benar, Tapi jika kau tidak merencanakan semua ini pasti kejadian itu tidak akan pernah terjadi." Keluh Kia.
" Aku mohon Nona jangan menghukum Dimas atas kesalahanku, Dia sudah menerima hukumannya sendiri Nona, Jikapun nanti Dimas sadar dia akan mengalami lumpuh selamanya..Hiks...." Isak Candra.
Kia menatap tidak percaya begitupun dengan Rey dan Cindy. Mereka saling tatap.
" Lumpuh?" Tanya Kia.
" Ya... Dokter mengatakan jika Dimas mengalami lumpuh permanen pada kakinya." Jawab Candra.
" Apa kau tahu Nona? Sebelum dia jatuh dari balkon, Dimas memanggil manggil namamu, Dia tidak mau kehilanganmu, Dia benar benar mencintaimu, Dan setelah itu tiba tiba dia jatuh dari atas balkon, Ku mohon kasihanilah dia Nona, Bantulah aku untuk menyadarkannya, Aku tidak mau kehilangannya." Pinta Candra sambil menangis di hadapan mereka.
Hati Kia mencelos mendengar semua ucapan Candra. Sebesar itukah Dimas mencintainya?
" Aku mohon Nona bantulah aku, Aku yakin kau wanita yang berhati baik, Karna itu Dimas begitu mencintaimu... Ku mohon Nona... Maukah kau membantuku?" Tanya Candra.
" E....aku..
**TBC......
Bagaimana nih apa Kia mau membantu? Lalu bagaimana dengan Indra nih? Tunggu kelanjutannya ya...Jangan lupa like dan komentnya... Kalau suka kasih hadiah untuk author ya biar semangat nulisnya...
Makasih atas suportnya... Miss U All**
__ADS_1